
Amran dan Arland seketika saling bertatapan saat polisi memberitahukan alasan mereka menangkap Amran.
"Mohon maaf pak polisi. Apa ada surat perintah untuk penangkapan saya dan apa alasan saya melakukan sesuatu yang tidak pernah saya lakukan untuk mengkhianati negara saya sendiri?" tanya Amran dengan tetap memperlihatkan wibawanya di hadapan para staffnya dan juga media yang berebutan mengambil gambarnya.
"Ini surat perintah penangkapannya. Anda bisa menjelaskan atau menanyakan apapun di kantor polisi. Anda berhak didampingi oleh pengacara anda dalam proses selama penyelidikan berlangsung nanti," ucap polisi Edo seraya menyerahkan surat perintah penangkapan pada Amran.
"Maaf pak! saya ingin menyampaikan sesuatu pada asisten saya dulu. Apakah boleh? cukup satu menit saja!" pinta Amran.
"Baik. kami tunggu!" ucap polisi Edo memberikan waktu untuk keduanya berbicara.
Amran membisikkan sesuatu pada Arland yang mendengarnya dengan seksama." Carilah dia untukku dan jangan sampai media mengetahui aku kehilangan Nabilla. Aku tidak mau keadaan ini di manfaatkan media atau siapapun untuk mengeruk keuntungan dan menjatuhkan mental Nabilla yang saat ini sedang hamil.
Cari pengacara handal dengan bayaran termahal untuk menuntaskan kasus ini. Saat ini kita sedang dijebak. Minta bantuan Reno dan juga Wira!" ucap Amran.
"Di mana aku harus mencari nona Nabilla, tuan?"
"Di rumah sakit yang tidak bisa kita retas CCTV nya. Ancam mereka jika mereka menolak memberi tahukan keberadaan istriku!" ucap Amran.
Amran yang ingin memberikan ponselnya pada Arland langsung dipinta oleh polisi bahkan ruang kerjanya digeledah untuk menemukan bukti-bukti yang akan digunakan polisi untuk menuntut Amran.
"Berikan ponsel anda pada kami tuan sebagai alat bukti kejahatan anda!" titah polisi Edo membuat Amran mau tidak mau menyerahkan ponselnya pada polisi.
Kedua tangannya diborgol dihadapan para karyawannya. Amran sedikitpun tidak terlihat gentar karena ia yakin kalau dirinya dijebak. Para staffnya terlihat syok namun tetap kagum pada sosok Amran yang memiliki sejuta pesona hingga penangkapan itu tidak menurunkan sedikitpun kharismatiknya.
Rasa rindunya pada istrinya menusuk disela-sela sanubarinya. Ia harus menerima ujian ini ditengah kehilangan istrinya, entah itu sedang bersembunyi seperti empat tahun yang lalu atau ada suatu peristiwa yang membuat Nabilla tidak bisa ditemukan oleh mereka. Yang jelas ia yakin Nabilla dirawat di RS di mana titik sinyal terakhir keberadaan Nabilla ia temukan di ponselnya.
"Nabilla. Aku baru menyadari arti hadirmu disisiku jika sudah terjebak seperti ini. Jika kamu ada, aku tak butuh pengacara untuk membelaku dan membuktikan bahwa aku tidak bersalah karena kamu akan membuktikan bahwa aku dijebak oleh si Kenzy sialan itu," batik Amran sedih saat berada di dalam mobil polisi menuju kantor polisi setempat.
Mobil berhenti di depan kantor polisi. Amran di bawa masuk ke dalam kantor itu untuk memberikan laporan kepada polisi atas tindak kejahatannya dan juga menggali informasi data pribadinya.
Ketika duduk bersama dengan tamu yang sedang melaporkan kepentingan mereka pada polisi, Amran tidak sengaja mendengar percakapan tuan Rusli dengan polisi yang sedang mengetik laporannya.
"Apa keperluan anda tuan Rusli?" tanya pak polisi itu setelah menulis data diri pelapor.
"Begini pak. Tiga hari yang lalu, putra saya tidak sengaja menemukan seorang wanita hamil yang pingsan di tengah jalan. Di tempat kejadian itu memang sepi dan tidak ada lampu penerangan. Jadi putra saya langsung membawanya ke rumah sakit milik istri saya. Karena kami tidak menemukan identitas pribadinya, jadi kami kesulitan untuk menghubungi pihak keluarganya gadis itu.
__ADS_1
Menunggunya sadar untuk mengetahui identitasnya, tidak bisa karena keadaannya masih kritis sampai saat ini. Di tambah lagi ia mengandung bayi kembar tiga," ucap tuan Rusli membuat mata Amran melebar dengan pompa jantung yang tidak bisa lagi di perkirakan kecepatannya.
Waktu seakan berhenti sesaat di hadapannya. Rongga dadanya mengkerut menyisakan nyeri hingga air matanya luruh dengan lidahnya yang sulit untuk ia gerakan. Namun tatapannya mampu menggambarkan bahwa dia adalah pemilik jiwa raga wanita yang sedang dilaporkan oleh tamu yang berada di sampingnya.
Ketika polisi yang tadi menanyakan tuan Rusli berdiri mengambil sesuatu, Amran segera menanyakan tuan Rusli.
"Tuan. Apakah wanita hamil yang Anda ceritakan itu mengenakan pakaian syar'i dan cadar!" tanya Amran setengah berbisik.
"Aku tidak tahu banyak karena saat ini dia mengenakan pakaian pasien milik rumah sakit tanpa hijab apa lagi cadar. Lagian saat ini tubuhnya dipenuhi alat medis untuk menunjang kehidupannya. Sebentar! kenapa anda menanyakan wanita itu. Apa hubungan anda dengannya?" tanya tuan Rusli.
"Karena saya adalah suaminya. Saya sedang mencarinya dan sulit menemukannya," ujar Amran.
"Tapi, mama mungkin kamu...-"
"Tuan Amran. Silahkan ikut denganku ke ruang interogasi!" pinta polisi Kamal.
"Tuan. Asisten pribadi saya akan menjemput istri saya Nabilla di rumah sakit itu karena kami...-" kata-kata Amran terhenti karena tubuhnya sudah diseret ke dalam ruang interogasi.
Tuan Rusli yang masih bengong dengan pikiran yang mulai semrawut melihat keadaan Amran." Apakah itu menantuku? kenapa dia berada di sini dengan tangan diborgol?" tanya tuan Rusli tidak melanjutkan lagi laporannya. Ia segera meninggalkan kantor polisi itu untuk menemui asisten pribadinya Amran dirumah sakit milik istrinya.
"Maaf pak. Kami ingin mengetahui kasus tuan Amran. Apakah beliau yang telah meretas dokumen negara?" tanya wartawan senior yang sudah akrab dengan para polisi di tempat itu.
Tuan Rusli yang mendengar sekilas kasus Amran, segera masuk ke mobil saat asistennya menjemputnya.
"Kita kembali ke rumah sakit istriku!" titah tuan Rusli.
"Baik Tuan."
Mobil mewah itu melesat dengan cepat menuju rumah sakit. Tuan Rusli mencari tahu artikel kabar terbaru tentang berita Amran yang sudah tersebar di media.
"Mohamad Amran Abdullah. Oh jadi ini naka lengkapnya, suami dari putriku. Jadi putriku mengenakan pakaian syar'i? aku harus cepat ke rumah sakit sebelum asisten suaminya putriku menemuinya," batin tuan Rusli.
"Bunda. Tolong pakaikan lagi jilbab gadis itu! Seseorang akan menemuinya dan tahan jangan sampai orang itu bertemu dengan Nabilla sebelum ayah datang!" titah tuan Rusli melalui sambungan telepon.
Langkah tuan Rusli begitu cepat menuju kamar putrinya. Ia ingin mencari tahu semua informasi tentang Nabilla dari asistennya Amran yaitu Arland.
__ADS_1
"Hilda. Terimakasih sayang. Kamu menempati janjimu jika kamu melahirkan bayi perempuan akan diberi nama Nabilla. Nama pilihanku karena bayi laki-laki kamu yang akan memberikan nama untuknya," batin tuan Rusli yang sudah menemukan titik terang kalau Nabilla benar-benar putri kandungnya.
Setibanya di depan kamar putrinya, tuan Rusli melihat istrinya sedang bicara serius dengan Arland. Iapun mendekati keduanya.
"Permisi. Apakah kamu Arland?" tanya tuan Rusli tanpa basa-basi.
"Ia Tuan. Saya sudah mengetahui kalau istrinya tuan saya nona Nabilla dirawat di rumah sakit ini. Apakah saya boleh menemuinya?" tanya Arland ingin memastikan keadaan Nabilla.
"Bunda. Apakah bunda sudah mengenakan hijab pada gadis itu? karena suaminya mengatakan kalau Nabilla mengenakan pakaian syar'i. Berarti, gadis itu tidak boleh dilihat pria lain yang bukan muhrimnya," ucap tuan Rusli membuat Arland kesal.
"Sudah ayah. Setelah ayah mengabari ada asisten suaminya ingin menemui gadis itu, bunda langsung memakaikan jilbabnya," ujar dokter Mariska.
"Apakah Devan masih ada di dalam sana?" tanya tuan Rusli.
"Devan sedikitpun tidak mau meninggalkan gadis itu karena rasa kuatirnya begitu besar pada kandungannya gadis itu," ujar dokter Mariska.
"Silahkan masuk tuan Arland!" pinta dokter Mariska.
Arland menemui Nabilla yang saat ini masih dalam keadaan kritis. Namun wajah Arland mengeras saat melihat pria lain yang terlihat sinis menatapnya kesal.
"Apakah ini putra anda yang menemukan nona Nabilla?" tanya Arland pada dokter Mariska yang sudah banyak bercerita padanya tentang kondisi Nabilla dari awal ditemukan hingga saat ini.
"Iya tuan Arland," ucap dokter Mariska.
"Apakah putramu melihat wajah istri dari tuanku Amran?" tanya Arland sinis.
"Kalau dalam keadaan syar'i, tidak dipermasalahkan, seseorang melihat wajah wanita bercadar" ucap dokter Mariska yang juga berhijab ini.
"Jika suaminya mengetahuinya ada pria lain yang menikmati kecantikan istrinya, pasti kepalamu sudah ia kuliti," ucap Arland begitu kesal melihat tampang tengil Devan.
"Tidak usah kuatir tuan Arland karena Nabilla dan Devan keduanya adalah anak kandungku dan tidak ada larangan bagi Devan untuk melihat wajah saudara kandungnya sendiri," ucap tuan Rusli membuat ketiganya berseru bersamaan dengan mata melotot.
"Apaaaa....?"
.......
__ADS_1
Mohon like dan vote nya say!