Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
190. Membasmi Hama


__ADS_3

Pasangan bahagia ini terpaksa melakukan cek-in hotel untuk menuntaskan birahi mereka karena hujan tidak kunjung reda di luar sana membuat mereka harus bermalam di hotel yang ada di kawasan pantai Ancol itu. Keduanya sudah menghabiskan beberapa makanan kuliner dari bakso beranak hingga seafood yang ada di restoran Raja seafood.


Hujan yang makin deras di luar sana seakan mengiringi percintaan panas pasangan ini yang sudah berapa ronde mereka lewati untuk menikmati kenikmatan surgawi itu. Keduanya sedari tadi sudah bermandikan peluh. Bahkan cap merah di sekujur tubuh mereka seakan menyaingi tubuh macan tutul.


Dari berbagai posisi mereka sudah melakukannya, namun masih juga belum puas mereguk kenikmatan. Mungkin setelah ini tubuh mereka akan pegal semua dan butuh tukang urut.


"Mengapa kamu selalu membuatku tidak ingin berhenti untuk menjamahmu, sayang, hmm..!" desis Daffa yang terus menggesek miliknya dalam lorong sempit milik istrinya.


"Daffa....! Uhmmm!" rengek manja Bunga saat getaran kenikmatan itu sekian kalinya membuat ia puas. Inilah yang disukai Daffa saat Bunga merengek meminta dirinya untuk memuaskannya. Agen rahasia satu ini terkenal binal juga di atas ranjang.


Mungkin karena sumber cairannya Daffa dan Bunga yang sudah habis atau tenaga mereka yang sudah berkurang hingga keduanya akhirnya terkulai lemas dan tertidur saling berpelukan.


Beberapa jam kemudian, Bunga yang lebih dulu mengerjapkan matanya. Ketika melihat jam di ponselnya ternyata sudah pukul satu pagi.


"Sayang. Kita harus pulang! Aku tidak mau si kembar bangun kita tidak ada," bisik Bunga seraya mengecup kening suaminya.


"Hmm!" deheman Daffa yang masih sulit untuk membuka matanya.


Merasa tidak ada lagi bantal hidupnya di sampingnya, Daffa mengerjapkan matanya dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Bunga yang sedang mandi meminta Daffa untuk tidak menyentuhnya lagi.


"Kita pulang sayang. Jangan bercinta lagi!" cegah Bunga yang sudah kelar lebih dulu.


"Kenapa tidak menunggu besok pagi atau subuh sekalian pulangnya, sayang?" tanya Daffa.


"Kalau tunggu pagi, kita akan terjebak macet. Besok kamu masih harus kerja dan anak-anak sekolah. Aku ada meeting pagi dengan para pemegang saham. Ayo, cepatlah sayang...!" desak Bunga sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


"Baiklah. Tapi area Jakarta Utara rawan begal jika kita nekat pulang jam segini," ucap Daffa.


"Itu lebih baik. Sekalian kita basmi hama kampret itu!" timpal Bunga yang tidak takut apapun.


Beberapa menit kemudian, keduanya sudah berada di atas sepeda motor yang akan membawa mereka pulang ke rumah. Benar saja apa yang di duga Daffa sebelumnya akhirnya terjadi juga. Saat keduanya melintas di jalan yang sangat sepi, ada beberapa mobil yang terlihat sangat aneh mengendarai mobil mereka dengan kecepatan tinggi hingga hampir menabrak motor mereka.


Daffa terpaksa menghentikan motornya lalu bergumam. Kenapa tiga mobil itu jalannya seperti tidak fokus?" tanya Daffa membuat Bunga ikut menoleh.


"Di lihat dari gelagatnya, sepertinya ada yang berontak dalam mobil itu. Ayo, sebaiknya kita ikuti mobil mereka!" pinta Bunga pada suaminya.


"Sayang. Katanya mau pulang? Kenapa harus mengurus mereka?" protes Daffa


"Tidak jadi. Kita harus tolong mereka yang mungkin sedang terjadi penculikan di dalam mobil itu," ucap Bunga.


"Kenapa tidak hubungi saja polisi untuk mengurus mereka, sayang?" pinta Daffa.

__ADS_1


"Apakah kamu ingin besok sudah ada berita di temukan mayat si A dan si B karena pemerkosaan?" tanya Bunga


"Bagaimana kalau tiga mobil itu adalah oknum polisi. Mafia polisi. Bukankah selama ini mereka yang lebih mudah memiliki akses untuk berbuat kejahatan yang lebih besar lagi untuk mempermainkan payung hukum?" tanya Bunga.


Daffa hanya menarik nafas panjang. Ia sudah tahu otak istrinya yang sengaja cari mangsa untuk ia kebas. Rasanya tidak afdol kalau tidak menembak kaki penjahat atau membuat orang lumpuh. Hampir kelima anak Amran dan Nabilla itu satu pemikiran. Yang ada di dalam pikiran mereka hanyalah membasmi hama kejahatan yang masih berkeliaran di muka bumi ini.


"Ya Allah. Ada-ada saja ini istri," keluh Daffa yang siap mengejar rombongan tiga mobil yang melaju tak stabil itu.


Bunga sudah menyiapkan cakramnya untuk dilemparkan ke ban mobil penjahat itu agar kempes. Dengan begitu pergerakan laju mobil akan terasa lebih berat.


Bunga sengaja melemparkan cakram itu di mobil yang paling depan.


"Sekarang. Hadang mobil mereka yang ada paling depan sana agar mereka menginjak rem secara mendadak dengan begitu ban mobil mereka akan kempes dengan sendirinya ketika cakram itu beradu dengan aspal..!" titah Bunga pada Daffa.


"Sayang. Itu sangat berbahaya..! Bagaimana kalau kita ketabrak?" keluh Daffa.


"Itu tidak mungkin suamiku..! Karena Allah akan menolong kita ketika kita sedang mencegah nahi mungkar," sahut Bunga setengah berteriak.


"Ok. Bersiaplah. Aku akan akan melakukan manufer untuk menghadang mobil di depannya!" ujar Daffa mengikuti alur permainan istrinya yang memang hebat dalam membasmi hama. Motor itu meleset dengan cepat hingga tidak disadari oleh penjahat di dalam sana yang sedang melecehkan para gadis muda yang masih berusia antara 17 dan 18 tahun itu.


"Lepaskan aku...! lepaskan aku...! Aku tidak mau di jual. Tolongggg....!" pekik salah satu gadis yang berusia 18 tahun itu.


"Cuih....!" gadis itu meludahi muka salah satu penjahat itu.


"Kurangajar. Gadis sialan..plakkk..!" tamparan keras menghujam di pipi mulus gadis itu.


"Aakk...!" pekik gadis itu kesakitan.


"Tidakkkk....! Kenapa mobilnya tiba-tiba jadi oleng begini," panik seorang penjahat yang sedang menyetir karena merasa pergerakan mobilnya terasa aneh.


Belum saja ia menyelesaikan ucapannya tiba-tiba ia di kejutkan dengan motor milik Bunga yang sudah menghadang jalan mereka di depan sana. Dalam jarak yang cukup dekat membuat sang sopir tidak bisa membanting stirnya ke kiri maupun ke kanan. Satu-satunya yang harus ia lakukan dengan menginjak rem mobil secara mendadak.


Drettttttt...


Bunyi deritan ban mobil dengan aspal terdengar nyaring.


Dua mobil rekannya yang ada di belakang sana menabrak mobil itu secara beruntun hingga mobilnya ikut kedorong ke depan. Sementara Bunga dan Daffa sedang mengambil posisi ancang-ancang sambil mengarahkan pistol mereka ke depan sana untuk menembak penjahat.


"Sial...! Siapa kedua orang itu? Berani sekali mereka menghalangi jalanku!" teriak sang bos yang merasa kesenangannya terganggu oleh kehadiran Daffa dan Bunga.


"Bos. Sepertinya mereka orang penting. Lihatlah mereka bersenjata!" ucap anak buahnya.

__ADS_1


"Kita bisa gunakan gadis-gadis ini sebagai sandera. Seret ketiga gadis itu keluar sambil menodongkan senjata ke leher mereka..!" titah sang bos pada ketiga anak buahnya yang menuruti perkataan sang bos.


"Tapi bos...!"


"Kau mau yang lebih dulu ku tembak, hah..!" bentak bos penjahat itu.


"B- baik bos..!" tiga penjahat itu turun dari mobil pertama sambil menyeret ketiga gadis malang yang terlihat penampilan mereka berantakan dengan bagian tubuh yang terlihat bagian pembungkus dada mereka. Begitu pula dua mobil lainnya melakukan hal yang sama pada gadis-gadis lainnya yang akan mereka jadikan pelayan birahi mereka.


"Siapa kalian...?! Teriak sang bos sambil memegang pistolnya.


"Tidak perlu tahu siapa kami. Lepaskan mereka tuan Adiaksa Kusuma!" ucap Daffa yang bisa membaca semua identitas para penjahat dan juga gadis-gadis itu melalui helm antik itu.


"Bagaimana dia tahu namaku? Sedangkan mereka mengenakan helm tertutup," tanya sang bos merasa ngeri sendiri.


"Tunggu apa lagi? Apakah aku harus mengirimkan data kejahatan kalian pada kesatuan kalian?!" ancam Daffa.


Bunga berjalan menghampiri penjahat itu untuk menghajar mereka.


"Jangan mendekat! atau aku tembak para gadis ini..!" ancam sang bos.


"Aku tidak begitu peduli dengan hidup para gadis itu yang tidak bisa menjaga diri mereka hingga mereka tertangkap oleh kalian. Yang aku inginkan adalah kalian yang akan menjadi korban pagi buta ini," tutur Bunga.


"Geovani Diandra. Benikno Tristan. Alfredo Fredrik. Putra petinggi pejabat..!" Ucap Bunga membaca nama mereka masing-masing dengan nama ayah mereka.


Tambah bingung para penjahat itu dengan Bunga yang begitu lugas mengungkapkan identitas mereka bahkan menyebutkan alamat rumah mereka masing-masing.


"Tidak mungkin mereka itu cenayang atau iblis. Bagaimana mungkin mereka bisa mengetahui semua tentang kita?" bisik-bisikan itu terlontar dari mulut penjahat. Wajah mereka sudah mulai pucat bahkan genggaman pistol mereka seakan melemah.


"Lepaskan para gadis itu! atau ku kirim mayat kalian ke alamat kalian masing-masing, hah..!" bentak Bunga makin mengintimidasi para penjahat itu.


"Tidak bisa...! Jika kami mati ditangan kalian, maka gadis-gadis ini harus mati ikut mati bersama kami!" teriak sang bos mempengaruhi teman-temannya.


"Tidakkkk...! tolong..! Aku tidak mau mati!" tangis salah satu gadis itu ketakutan pada Bunga yang terlihat cuek.


"Baiklah. Itu lebih baik. Mari kita bunuh mereka semua sayang...!" titah Bunga pada suaminya seraya melepaskan tembakan membabi buta ke arah penjahat dan gadis itu.


"Tidak. Kenapa istriku jadi gila begini?!" desis Daffa melihat cara Bunga menembak. Pria beranak dua ini lebih syok daripada beberapa orang penjahat itu.


............


Vote dan likenya Cinta please!

__ADS_1


__ADS_2