
Hakim Recky merasa tidak enak hati atas permintaannya yang terlalu menggebu-gebu membuat Nabilla menjadi sedih.
"Maafkan Abi, nak Nabilla! semoga Allah memberikan pahala yang setimpal kepada kedua orangtuamu atas amal jariyah mereka dari segi ilmu yang sangat bermanfaat yang telah kamu berikan kepada negara ini," ucap hakim Recky.
"Tidak apa Abi," ucap Nabilla sambil menarik nafasnya dalam.
Karena sudah memasuki waktunya makan siang, kakek Abdullah mengundang semuanya untuk menikmati makan siang di rumahnya.
Sementara Amran mengelus kepala istrinya yang tinggi sedadanya yang saat ini berada dalam pelukannya.
"Maafkan ayah ya sayang. Dia terlalu bangga padamu hingga lupa kalau dia harus menanyakan kepadaku terlebih dahulu sebelum bicara padamu," ucap Amran.
"Tidak apa mas. Ayo kita pulang. Semuanya sudah menuju ke rumah kakek. Hari ini acara makan siangnya pasti ramai karena ada keluarganya Reno juga datang," ucap Nabilla.
"Siapa yang mengundang mereka?" tanya Amran.
"Kakek. Karena Reno dan Wira juga ikut membantumu dalam kasus mas. Ada lagi tuan Rusli yang juga membantu mas dengan alat canggih yang ia punya. Aku juga ingin sekali punya perusahaan Cybercrime seperti miliknya tuan Rusli itu. Terlalu terlihat sangat keren," ucap Nabilla.
"Benarkah. Kalau begitu minta istrinya juga ikut makan siang bersama kita. aku ingin berkenalan dengan keluarga tuan Rusli dan ingin mengucapkan terimakasih kepada dokter Mariska yang sudah merawatmu selama di rumah sakit," ucap Amran.
"Baiklah."Nabilla mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter Mariska dan putranya Devan.
Setibanya di mansion kakek Abdullah, Nabilla dan Amran masuk ke kamarnya Amran yang masih bujang dulu. Amran sudah tidak tahan lagi ingin melihat wajah istrinya dan tentu saja mengabsen aset berharga Nabilla satu persatu sekalian temu kangen dengan ketiga bayinya. Alasan keduanya pada keluarganya mau menunaikan sholat dhuhur. Tapi sholat dhuhur yang hanya butuh waktu sekitar 5 sampai 10 menit itu ternyata hampir 30 menit lamanya, pasangan itu belum juga keluar kamar sementara tamu sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati makan siang.
"Kenapa kak Nabilla dan kak Amran sholat dhuhurnya lama sekali, apakah mereka ketiduran nenek?" tanya Celia yang ingin bertemu dengan kakaknya karena ia belum sempat bertemu dengan Amran karena ada ujian.
Celia yang baru beranjak memanggil kakaknya di cegah oleh neneknya.
"Sholat dhuhur itukan harus diawali dengan sholat sunah qobliyah dan berakhir dengan Sunnah ba'diah. Jadi waktu yang dibutuhkan mereka sangat lama," ucap nenek Anisa memberikan alasan yang cukup masuk akal agar Celia paham.
Reno yang mendengar percakapan nenek dan cucu itu tersenyum geli melihat Celia yang terlalu polos menurutnya. Ia akhirnya ingin menjahili Celia ketika nenek Anisah berlalu pergi.
"Eh bocah. Makanya pacaran, biar tahu hubungan orang dewasa kalau sudah menikah tuh gimana," sindir Reno.
"Cih ..! kamu di sini juga? jadi tamu ko nggak tahu diri banget. Datang-datang nguping pembicaraan pemilik rumah. Itu namanya nggak sopan, tahu," gerutu Celia sambil mencebikkan bibinya.
"Yang nggak sopan itu kamu. Masa kakaknya lagi main masih mau diganggu," ucap Reno frontal.
"Main apaan? emang mereka bocah SD masih mau main? lagian keduanya tidak begitu suka dengan permainan game," balas Celia.
"Mainan orang dewasa sesuai umur mereka. Kamu datang dari planet mana? istilah halus untuk suami istri aja kamu nggak ngerti. Mau aku ajarin cara main orang dewasa?" ledek Reno.
__ADS_1
"Emang mainnya kayak gimana? emang kamu bisa?" tantang Celia membuat Reno makin gemas dan juga geli.
"Astaga. Sebegitu polosnya ini bocah. Dia kira kata main orang dewasa kayak ngajarin main petak umpet, apa?" batin Reno.
"Sudahlah. Kamu juga tidak bisa ngajarin aku, sok ngatain orang," ujar Celia lalu ke kamarnya Amran.
Tok...tok ...
Amran membuka pintu kamarnya dalam keadaan sudah rapi namun Nabilla belum mengenakan hijabnya karena rambutnya masih dibungkus dengan handuk.
"Ada apa Celia?" tanya Amran. Namun Celia tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya karena mata Celia sibuk memperhatikan leher Abangnya yang terdapat beberapa titik merah.
"Itu kak. Semuanya sudah pada kumpul. Sepertinya mereka sudah mau makan duluan," jawab Celia.
"Yah sudah. Kakak turun dulu. Kamu turun bareng sama Nabilla," ucap Amran.
"Iya kak." Nabilla masuk ke kamarnya Amran menemui Nabilla yang sedang mencari jilbabnya.
Lagi-lagi Celia memperhatikan leher jenjangnya Nabilla yang juga punya titik merah yang sama dengan Amran dan di dada atasnya Nabilla banyak sekali terdapat kissmark hasil karya Amran.
"Kak Nabilla. Ditunggu sama nenek dan umi. Ada dokter Mariska juga dan kak Nadin," ucap Celia yang sudah berkenalan dengan tamunya.
"Oh iya dek. Tunggu aku pakai cadar dulu ya," ucap Nabilla.
Keduanya sudah bergabung sama tamu lain dengan posisi tempat duduk yang sudah diatur sedemikian rupa hingga Celia bengong karena tempat duduknya harus bersebelahan dengan Reno. Mau tidak mau ia harus duduk di sebelah Reno.
"Apa yang kamu lihat tadi di kamar kakakmu?" tanya Reno menggoda Celia.
"Tidak ketemu apapun kecuali melihat banyak polkadot merah di leher dan di dada mereka," ucap Celia setengah berbisik membuat Reno mengulum senyumnya.
"Itulah hasil permainan mereka. Kamu mau coba?" tanya Reno lagi.
"Emang itu permainan bentuk hukuman ya?" tanya Celia.
"Ya kira-kira begitu," ujar Reno.
"Berarti kamu itu kurangajar. Mana mungkin aku harus buka jilbabku untuk kamu buat polkadot seperti kakak iparku itu," geram Celia membuat Reno terbahak.
Saat Celia dan Reno asyik ngobrol, tidak dengan kakek Abdullah yang sedari tadi memperhatikan tuan Rusli. Ia merasa kalau wajah Nabilla dan tuan Rusli ada kemiripan.
"Tuan Rusli. Jika kamu tahu kalau cucu menantuku ini sangat mirip dengan wajahmu. Hanya saja dia mengenakan cadar jadi tuan tidak bisa mengetahuinya," ucap kakek Abdullah membuat tuan Rusli dan istrnya tersedak saat masih mengunyah makanan mereka. Begitu pula dengan Arland.
__ADS_1
"Uhuk..uhuk...uhuk...
"Kenapa kalian bertiga bisa kompak sekali saat tersedak?" tanya nenek Anisa.
Sementara itu, tuan Rusli dan istrinya saling bertatapan dan tuan Rusli meminta istrinya untuk tidak mengatakan kebenarannya dulu pada Nabilla karena kondisi kehamilan Nabila yang takut syok dan itu akan mempengaruhi janinnya. Apalagi keluarga itu baru saja terlepas dari beban ujian berat yang menyita pikiran. Apa lagi tubuh mereka terlihat masih lelah.. Tidak mungkin membuat pengakuan saat ini..
"Itu nenek, masakannya pedas juga," ucap Arland bohong.
"Oh iya. Bagaimana dengan pengacara Dito. Apakah kalian tidak berencana melaporkan dia ke polisi?" tanya Wira.
"Iya benar. Kenapa kalian belum melaporkan dia?" tanya hakim Recky.
"Sepertinya Nabilla yang lebih tepat untuk menjelaskannya, paman," ucap Arland.
"Sayang. Apa yang kamu rencanakan, hmm?" tanya Amran.
"Saat ini saya sengaja melepaskan pengacara Dito begitu saja karena saya ingin menjadikan dia sebagai umpan," ucap Nabilla sengaja menjeda ucapannya.
"Umpan?" tanya hakim Recky belum paham dengan penjelasan menantunya ini.
"Sindikat mafia yang telah kita dapatkan dan koruptor lainnya juga saat ini sudah di amankan oleh pihak kepolisian.
Sementara sindikat mafia ini bekerja secara global dan teroganisir. Mereka tidak bekerja sendiri di bawah satu negara. Mereka bekerja dengan para mafia di luar negeri dan hampir setiap negara memiliki gangster yang sangat kejam yang siap membantai siapa saja yang menghalangi aksi mereka. Saat ini yang sudah ditelusuri oleh saya hanya melalui jejak teknologi. Tapi, ada diantara mereka yang bekerja tanpa terjaring teknologi. Permainan mereka bergerak lebih dalam tanpa terdeksi oleh CCTV walaupun kita bisa meretasnya.
Dengan membiarkan Dito bebas berkeliaran, ia pasti akan menemui orang-orangnya Nadim yang berada di luar negeri. Dengan begitu kita akan terus membaca pergerakannya di manapun dia berada," ucap Nabilla.
"Bagaimana kita tahu keberadaannya Nabilla? sementara dia pasti sudah membuang semua peralatan komunikasi miliknya dan mungkin juga benda-benda yang dipakainya sebelumnya dan pasti dia sudah membuangnya karena dia pasti sudah curiga kalau kita sudah memasang penyadap, bukankah dia sudah mengetahui cara kerja kita selama ini?" tanya kakek yang banyak memberikan arahan pada Dito tentang peretasan.
"Sebelum dia di pecat, aku sudah menyuruh Arland untuk mengundangnya ke perusahaan mas Amran. Di saat itu Arland mencampurkan obat tidur ke dalam minumannya. Setelah ia tertidur, saya sudah memasang chips di batang lehernya dengan cara tembak seperti pemasangan ring pada pembuluh jantung melalui proses kateterisasi. Dengan alat itu kita bisa mengetahui pergerakan dirinya di manapun berada. Saat dia bicara dengan siapapun, chips itu akan merekam pembicaraannya dan langsung terkirim melalui aplikasi yang saya sudah ciptakan dengan begitu akan langsung tercetak percakapannya di aplikasi tersebut saat dia membahas sesuatu dengan sindikat mafia yang bekerja anti teknologi. Dengan cara itu kita bisa mengetahui markas mereka.
Walaupun mereka berada di banker sekalipun, chip itu masih bisa terdeksi oleh radar aplikasi ciptaan saya. Untuk memudahkan rencana itu, saya sudah menciptakan aplikasi baru," ucap Nabilla sambil menyuapi anggur ke mulut suaminya membuat para jomblo yang ada di situ langsung melengos.
"Wah ..! keren sekali kamu Nabila," puji hakim Recky.
"Tapi, bagaimana bisa kamu menciptakan alat itu Nabilla?" tanya kakek Abdullah.
"Jika kakek menonton film 007, aku adalah Mr. Q yang menciptakan alat-alat canggih untuk menjaring musuh," ucap Nabila langsung dipahami oleh tuan Rusli.
Deggggg...
"Apakah putriku juga mantan seorang agen FBI?" batin tuan Rusli.
__ADS_1
....
Mohon like dan vote nya cinta. Terimakasih...