
El-Rummi cukup kewalahan saat ini. Menangani penjahat yang sedang mengejar mereka saat ini dan ketakutan princess Tamara padanya. Ia juga harus memahami gadis ini karena sering mengalami penculikan seperti ini.
Walaupun selalu gagal. Berulang kali Tamara hampir saja diculik dan selalu gagal dilakukan oleh penjahat.
"Tenanglah Tamara....! Aku ingin melindungimu. Aku tidak punya motif apapun untuk menculikmu kecuali menculikmu untuk menikahimu jika kerajaan tidak setuju dengan hubungan kita," jujur El membuat tangisan Tamara yang tadi ketakutan padanya menjadi terdiam.
Dadanya naik turun tidak karuan seakan sedang mendapatkan kembali apa yang menjadi mimpinya beberapa pekan ini. Tapi, ia tidak mau percaya El begitu saja karena identitas El sebagai apa di kerajaannya saat ini hingga orang kerajaan mengijinkan El membawanya pergi jalan-jalan.
"Tidak...! Aku tidak boleh masuk dalam jebakannya. Bisa jadi mereka menginginkan nyawaku dan mengirim El membawaku pergi dengan cara menjerat aku dengan cintanya. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh ditangan seorang pecundang? Jangan gegabah menilai kebaikan seseorang," batin Tamara tetap waspada pada El-Rummi.
"Jika kamu benar-benar orang baik, maka bawa aku pulang kembali ke istana dalam keadaan selamat!" titah Tamara tegas pada El.
"Baiklah princess. Aku janji akan melindungimu dengan nyawaku," ucap El, mencari jalan yang cukup sepi untuk melenyapkan penjahat yang sedari tadi menutupi jalan-jalan utama untuk mereka lalui menuju istana.
"Bersiaplah...! Kita akan berperang dengan mereka," ucap El Rumi namun Tamara tidak lagi merespon perkataan El karena pikiran gadis ini sudah diliputi ketakutan yang luar biasa pada El-Rummi yang dianggapnya penjahat.
Beruntunglah El membawa sendiri mobil ibunya yang pernah dipakainya saat mereka berperang dengan penjahat beberapa waktu yang lalu. Dan sekarang mobil ini sudah dikuasai oleh El dalam penggunaannya dengan cara menekan beberapa tombol pada panel komputer mobil yang menyediakan beberapa jenis senjata yang terdapat di body bawah mobil untuk menembaki mobil musuh.
Tamara dibuat terkagum-kagum dengan kecanggihan mobil milik El. Hatinya mulai menebak-nebak siapa El sebenarnya hingga memiliki mobil super canggih yang seharusnya menjadi milik kerajaan dan kepresidenan untuk melindungi mereka dari serangan musuh.
Sudah 2 mobil musuh yang terpental jauh hingga menimbulkan ledakan dahsyat dari tembakan El. Dan kini tinggal dua mobil lagi yang sudah sejajar dengan mobilnya El. Benturan demi benturan yang dihantamkan oleh mobilnya penjahat ke mobilnya El yang tidak terlihat ringsek sama sekali.
Justru semakin mereka membenturkan mobil mereka ke mobil El, maka semakin ringsek mobil mereka sendiri karena mobil mereka biasa saja. El melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar menghindari mobil penjahat untuk tidak lagi membenturkan mobil mereka ke mobilnya dari sisi kiri dan kanan. Akibat benturan itu, mobilnya sendiri sering mengalami guncangan dan itu membuat Tamara ketakutan dan terlihat sangat syok hingga tubuhnya gemetar.
__ADS_1
"Tamara ...! Tamara ..!" panggil El pada gadis itu tanpa embel-embel princess lagi. Ia tidak mau membuat Tamara pingsan karena syok.
"Jangan pingsan Tamara! Aku janji akan mengantarkan kamu pulang ke istana tanpa terluka sedikitpun," ucap El menguatkan hati Tamara.
"Baiklah. Kita akhiri permainan ini," ucap El seraya menambah lagi kecepatan mobilnya hingga kedua mobil penjahat itu tetap mengimbangi kecepatan mobilnya El agar tetap sejajar dengan mobil mereka.
Sedari tadi mereka terus menerus melepaskan tembakan ke mobilnya El walaupun mereka tahu peluru dari senjata mereka itu terpental lagi dari mobilnya El.
El mendeteksi kedua mobil yang ada di samping kiri kanan mobilnya melalui layar komputer mobil dengan kecepatan tinggi, ia lantas menekan pedal mundur hingga mobil penjahat melaju ke depan dengan kecepatan tinggi dan mobilnya sendiri mundur kebelakang dengan kecepatan yang sama.
Setelah itu, El melepaskan tembakan rudal kendali tipe kecil dari bawah mobilnya ke arah kedua mobil musuh yang melaju kencang di depan mobilnya dan tiba-tiba penjahat itu menginjak rem mobil mereka secara mendadak begitu tidak melihat lagi mobil El.
Di saat yang sama dua rudal kendali yang dilepaskan El tadi meledakkan kedua mobil penjahat yang tidak bisa mereka hindari. El memastikan mobil musuh yang lainnya yang mungkin saja masih mengikuti mobil mereka. Tapi tidak terdeteksi lagi dari layar komputer mobilnya.
Sementara itu nafas Tamara terdengar terengah-engah karena sangat syok melihat bagaimana El melumpuhkan mobil penjahat. El menepikan mobilnya untuk melihat keadaan Tamara.
Sedetik kemudian, El terpukau melihat wajah cantik Tamara secara langsung. Setelah itu ia kembali ke niatnya untuk membantu gadis itu.
"Minumlah sayang! Maafkan aku...!" ucap El. Tamara meneguk air putih itu pelan-pelan. Setelah itu ia terbatuk-batuk sambil menangis. El memeluknya erat untuk menenangkan Tamara yang baru sadar dari syok-nya.
"Mereka sudah tewas semua. Kita bisa pulang sekarang. Jangan takut lagi ya..!" bujuk El.
Tamara mendorong tubuh El untuk menjauhinya. Ia tidak mau diperlakukan El seperti itu karena ia masih menjaga dirinya dari sentuhan lelaki.
__ADS_1
"Menjauh dariku...! Kita bukan muhrim," ketus Tamara.
"Baik. Maafkan aku..!" El merasa serba salah dengan sikap Tamara saat ini. Ia akhirnya bisa bernafas lega dan siap mengantar pulang Tamara ke istana gadis itu.
Dalam perjalanan, keduanya terlihat diam membisu. Hingga tiba di istana yang yang langsung dibukakan pintu gerbang setinggi 4 meter itu, tetap saja Tamara tidak ingin bicara pada El hanya untuk mengucapkan terimakasih pada El-Rummi.
Tepat di depan teras utama istana itu, Tamara turun dari mobil El ketika prajurit istana membukakan pintu mobil untuk princess Tamara, gadis ini turun dan berlalu begitu saja dari hadapan El yang sempat termangu dengan perubahan sikap Tamara padanya.
"Mengapa dia menjadi sangat marah padaku? Bukankah aku sudah mengantarkan dia pulang dalam keadaan selamat? Apakah dia mengira aku ini penculik atau penjahat?" batin El begitu kecewa dengan sikap Tamara.
El yang ikut turun dari mobilnya di sambut oleh pelayan. Bodyguard Tamara menanyakan princess mereka pada putra bungsunya Amran ini.
"Ada apa dengan princess? Apakah kalian sedang bertengkar?" tanya salah satu bodyguard itu.
"Ada sedikit masalah di jalanan. Kami hanya terlibat salah paham saja. Nanti juga reda sendiri," ucap El yang tidak ingin berkata jujur pada bodyguard Tamara karena ia sekarang mencurigai semua penghuni istana. El juga sudah menghapus rekaman CCTV jalanan agar tidak terdeteksi oleh otoritas negara tersebut.
"Apakah kamu yakin tuan? Apakah ada kendala di luar sana yang menyebabkan princess kami marah pada anda?" cecar sang body guard.
"Kalian bisa mencaritahu sendiri pada princess kalian. Maaf. Aku masih punya pekerjaan," ketus El enggan meladeni pertanyaan kedua bodyguardnya Tamara.
Di kamar, Tamara menangis seorang diri. Hatinya menjadi bimbang pada El rummi yang dianggapnya baik ternyata sama bajingan-nya yang menginginkan nyawanya juga.
"Kenapa dia sangat misterius? Siapa sebenarnya El. Mengapa penjahat itu bisa mengetahui aku bersama dengannya kalau dia orang biasa. Aku tidak mau lagi jalan berdua dengannya," batin Tamara yang sempat merasakan hembusan nafas El tepat di wajahnya.
__ADS_1
Apalagi melihat mata, hidung dan bibir El tadi sempat membuatnya hampir masuk dalam jebakan setan.
"Ya Allah. Ampunilah aku karena tergoda dengan bujuk rayuan setan padaku," lirih Tamara.