Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
146. Sudah Berakhir


__ADS_3

Cintami dan Arsen menautkan jemari mereka memohon pertolongan Allah menghadapi binatang buas itu. Arsen memberanikan diri untuk bicara pada kawanan serigala yang sedari tadi terus menyalak kini diam menatap nanar seakan siap mencabik tubuh mereka.


"Hei...kau yang bernama makhluk Allah...! jika kematian kami ada di tangan kalian, itu adalah cara Allah menjadikan ajal kami dimakan oleh kalian.


Namun jika ajal kami bukan bagian dari santapan kalian, demi Allah. Enyalah dari hadapan kami atas nama Tuhan kita yang menciptakan kalian dan kami. Demi Allah, kematian kami adalah kehendak Allah bukan karena kalian. Apakah kalian ingin menentang Allah, hah?" bentak Arsen yang bernegosiasi dengan kawasan binatang buas itu sepenuh hati setelah berdialog dengan Allah.


Atas ijin Allah, kawanan serigala itu akhirnya membalikkan tubuh mereka dan berlari menuju tempat mereka bernaung. Cinta langsung menjatuhkan tubuhnya diatas tumpukan salju sambil menangis haru karena sangat lega terbebas dari kepungan satwa liar itu.


Ia duduk memeluk kedua lututnya sambil meraung. Ia memikirkan bagaimana mungkin ia bertarung seorang diri tanpa bantuan keluarganya dan sekarang suaminya sendiri menjadi pelindungnya saat ini.


"Ya Allah. Apa jadinya jika aku bertempur sendirian dengan para penjahat dan jika bebas berhadapan dengan makhluk mengerikan ini," lirih Cintami.


"Sayang. Alhamdulillah. Kita bisa mengatasinya. Jika dalam keadaan sempit kemampuan manusia tak lagi bisa berpikir maka, gunakan batinmu untuk menjangkau pintu langit agar bisa menyampaikan segala permohonanmu.


Allah mendengar jeritan doa tulus hambaNya yang teraniaya. Dengan begitu Allah tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya yang datang padanya tanpa daya dan upaya sebagai makhluk yang paling lemah di muka bumi ini," tutur Arsen penuh makna sambil melingkarkan lengannya memeluk wanitanya.


Cintami membalikkan tubuhnya dan masuk dalam pelukan suaminya sambil menangis melepaskan bebannya yang sedari tadi terus menerus membuatnya menegang. Arsen merenggangkan pelukannya memegang kedua sisi bahu istrinya.


"Kau sangat pemberani, baby. Aku adalah pria paling beruntung memilikimu. Jenius dan pemberani. Kamu sudah berhasil menyelamatkan mereka." Arsen meraih dagu istrinya dengan dua ujung jarinya.


Memagutnya dengan penuh kehangatan. Tidak ada hasrat di sana. Keduanya melakukannya penuh kasih sayang. Menyalurkan kerinduan mereka yang hampir dua bulan terpisah di saat bunga cinta mereka baru saja dipetik putik sarinya.


Dreeeetttt....


Ponsel Cintami berdering.


Ciuman terlepas. Cintami meminta ijin pada suaminya untuk menerima telepon dari Sofia." Sebentar kak..! ada telepon masuk. Aku terima telepon sebentar ya...!" pinta Cintami.


Panggilan dari Sofia." Cinta...! kalian di mana? kami sekarang sudah berada di camp," imbuh Sofia terdengar bahagia.


"Kami akan menyusul kalian. Istirahat saja di camp. Aku dan suamiku masih ada urusan," ucap Cintami.


"Masalahnya. Teman-teman kita ini otaknya belum bereaksi seperti orang normal. Mereka sulit di ajak komunikasi," ujar Sofia.


"Mereka hanya tahu kalimat perintah. Suruh saja mereka makan lalu suruh mereka tidur. Lakukan secara terpisah sesuai gender...!" pinta Cintami.


"Baiklah. Kami menunggumu. Kalian lebih mengerti menangani mereka," ucap Sofia lalu mengakhiri teleponnya.


Cintami dan Arsen melanjutkan lagi perjalanan mereka ke arah camp. Sepertinya keluarga mereka di dalam sana masih bertempur dan tidak begitu butuh bantuan mereka berdua. Cintami hanya mengirim pesan pada Adam kalau ia telah berhasil membebaskan para sandera.


"Sebentar lagi helikopterku akan tiba di lokasi kalian berada. Biar aku yang tangani penjahatnya dan kamu urus saja para sandera untuk memulihkan lagi kondisi mereka. Lakukan dengan pendekatan hati. Kamu adalah seorang guru agama. Kamu dan Arsen lebih hebat menangani mereka secara spiritual sesuai dengan keyakinan mereka.

__ADS_1


Cukup kenalkan kebesaran Allah pada mereka tanpa mendoktrin mereka dengan agama kita karena Allah tidak meminta kita untuk memaksakan orang yang sudah beragama masuk ke dalam agama kita kecuali dengan hidayah-Nya. Cukup memperkenalkan bagaimana keimanan kita pada Allah," tulis Adam.


"Baik kak," tulis Cintami.


Sekitar satu jam lagi, helikopter Adam baru bisa mencapai laboratorium raksasa itu. Cintami dan Arsen sudah meninggalkan tempat itu terlebih dahulu. Sementara di dalam laboratorium itu pertempuran sengit telah terjadi. Diantara kubu Nabilla dan musuh sekuat mungkin tidak menggunakan senjata api saat saling menyerang. Jika nekat, mereka akan mati terbakar di dalam laboratorium yang menggunakan cairan kimia yang sangat berbahaya jika ada letusan peluru jatuh di tempat itu.


Dari kubu Nabilla, satu orang harus meneladani tiga atau lima orang sekaligus. Keluarga Nabilla mencari lawan yang tangguh di tengah perkelahian itu. Permainan pedang, pisau dan dan besi bukan lagi hal yang baru bagi keluarga itu. Daffa juga demikian.


Hanya saja pria ini agak kesulitan juga saat di keroyok 8 orang musuh sekaligus. Saat Daffa sudah menjatuhkan 7 orang musuh, satu musuh masih kuat bertahan menyerang Adam. Pertempuran mereka secara terpisah terlihat sangat seru dan memukau.


Bunga yang fokus melawan musuhnya tetap memperhatikan anggota keluarganya. Jika ia melihat semuanya bisa diatasi baru ia mengerahkan tenaganya untuk menjatuhkan lawan lebih cepat. Bunga menendang kaki musuh dari samping maupun belakang. Jika sudah jatuh, Bunga tidak segan menotok aliran pembuluh nadi di sekitar leher untuk melemahkan lawan.


Jika sanggup bertahan mereka bisa selamat. jika tidak kuat mereka akan muntah darah karena aliran darah tidak bisa lagi memompa ke jantung dan meneruskan ke seluruh tubuh untuk mengirim oksigen ke otak.


Namun, konsentrasinya hilang, saat mendengar teriakan Nada yang melihat Daffa yang sedang mempertahankan gagang pisau panjang milik musuh yang hendak menusuk matanya.


"Kak Daffa awas....!" pekik Nada di tengah pertarungannya karena keduanya bertarung saling berdekatan.


Bunga yang berada di lantai dua, mengambil pisaunya melempar ke arah musuh tepat menancap di bokong musuh, hingga genggaman pisau ditangannya untuk menancap ke wajah Daffa melemah.


Awalnya Daffa memang tidak bisa bergerak karena kedua pahanya dikunci dengan kedua dengkul oleh musuh tadi. Namun kini Daffa bisa mendorong tubuh musuh itu membuat pisau itu lebih dalam menancap bokong si musuh.


Kini giliran El yang terdesak saat tubuhnya hendak di dorong oleh musuh dari lantai dua itu. Ia terjebak karena lehernya di cekik dengan kuat oleh musuh menekan punggungnya diatas pagar balkon itu. Gedung laboratorium itu di rancang membentuk model bangunan atrium dengan pembatasnya semua terbuat dari kaca tebal yang di atasnya diberi penyangga besi stainless yang sangat mengkilap. Jadi dari tiga lantai itu bisa melihat langsung ke lantai bawah atau lantai satu.


"Allahuakbar..!" pekik El-Rummi dalam hatinya sambil mengumpulkan sisa tenaganya untuk menggerakkan dengkulnya menghantam ke organ int*m sang musuh membuat sang musuh menjerit kesakitan saat alat produksinya itu terasa sangat ngilu. Disaat musuh lengah, El menarik tubuh musuh menjatuhkannya ke lantai satu.


"Akkhhh....!" teriak musuh itu yang melayang ke udara lalu jatuh dengan kepala yang mendarat duluan. Darah segar kembali terlihat dengan bagian tubuh musuh itu berbunyi dengan beberapa tulangnya yang patah.


Sementara itu, Nabilla yang ingin menangkap tuan Vadim dihalangi oleh anak buahnya dosen itu membuat Nabilla mempercepat pertempurannya dengan pedangnya untuk mengiris bagian-bagian tubuh mereka dengan luka yang cukup serius namun tidak mengenai pembuluh arteri mereka.


Nabilla melihat tuan Vadim sudah berhasil kabur dan berada di lantai bawah. Tanpa membuang waktu, Nabilla melompat ke arah lampu gantung yang modern dengan tali kabel terbungkus memanjang. Kini tubuhnya bergelantungan di atas sana lalu menjatuhkan tubuhnya tepat di kedua pundak tuan Vadim yang tidak siap menahan bobot tubuh Nabilla hingga keduanya hendak jatuh ke belakang.


Ketika melihat kepala istrinya yang hampir membentur lantai, Amran berlari sambil menjatuhkan tubuhnya terseret tepat dibawah lantai untuk menyambut setengah tubuh Nabilla membuat tengkuk istrinya jatuh menimpa di atas perutnya.


Bunga, El dan Nada tersenyum melihat kekompakan kedua orangtuanya yang masih saja terlihat romantis di usia mereka. Namun ketiganya kembali fokus untuk menjatuhkan musuh yang sudah kewalahan menghadapi keperkasaan keturunan Amran dan Nabilla ini.


Saat tuan Vadim kembali bergerak, Nabilla mempelitir leher Vadim dengan kedua kakinya yang masih menjepit leher dosen gadungan itu hingga terdengar bunyi pada tulang lehernya..


Krekkk...


Nada buru-buru menyuntikkan bius pada tuan Vadim agar pria sadis ini tidak berusaha melarikan diri. Namun ketika semuanya dalam keadaan lengah, nyonya Louis yang sedari tadi bersembunyi diam-diam mengarahkan pistolnya ke arah Nabilla.

__ADS_1


Namun Daffa reflek melompat dengan melakukan salto di udara sambil menggulingkan tubuhnya dengan spontan mengambil ancang-ancang satu lututnya ditekuk seperti berlutut dan satu lagi ditekuk dengan dengkul mengarah lurus ke depan sambil menarik pelatuknya menembak nyonya Louis tepat di tengah dahi wanita berusia 32 tahun itu. Wanita itu tumbang terjerembab ke belakang dengan posisi tubuh lurus mencium lantai.


Brukkk...


Teman-temannya Cintami berkumpul bersama keluarga itu dengan wajah kelelahan mereka namun senyum kepuasan penuh rasa syukur atas pertolongan Allah tergambar jelas di wajah yang terlihat memerah itu.


Daffa memeluk istrinya sementara Amran menggendong tubuh Nabila membawa masuk ke mobil. Baru saja mereka menyelesaikan misinya, Adam baru datang bersama dengan anggota CIA langsung mengamankan para penjahat itu.


"Tangkap mereka semua...!" Seru Adam pada anak buahnya yang langsung membekuk para penjahat itu. Bos-nya Adam yang tidak tahu jika keluarga Adam ikut andil menumpas kejahatan yang dilakukan bertahun-tahun oleh para petinggi oknum pejabat negara itu merasa bahwa, itu adalah hasil kerja kerasnya Cinta dan anak buahnya.


Namun merasa tidak asing dengan penampilan seorang wanita bercadar, Roy berhenti sebentar lalu menatap dalam mata indah milik Nabilla yang merupakan kawan lamanya dan juga mantan rekan kerjanya. Walaupun sudah lama tidak bertemu, Roy masih hafal dengan mata indah meneduhkan itu.


Sikap Nabilla yang tegas tidak mudah luluh dengan rayuan lelaki yang mencoba mendekatinya saat istrinya Amran itu masih muda, membuat para pria tampan nan lajang saat itu tidak berani mendekati Nabilla.


"Ternyata singa betina ini punya pawang juga," desis Roy melihat Nabilla dalam pelukan suaminya. Nabilla yang masih duduk di dalam mobil sana dengan pintu mobil masih terbuka.


Roy yang berdiri tepat di sisi mobil itu sambil bicara dengan Adam yang minta ijin bicara dengan keluarganya.


"Tuan Roy. Cinta tidak menumpas para penjahat itu sendirian karena kelurgaku ikut membantunya. Kenalkan ini mommy dan Daddyku!" ucap Adam.


"Aku sangat mengenal ibumu, Adam, kecuali ayahmu dan saudaramu yang lain," ucap tuan Roy dengan menjaga kharismatiknya terlihat berwibawa di hadapan Nabilla.


"Benarkah...?" sentak Adam.


Roy mengulurkan tangannya pada Amran yang turun dari mobil itu." Amran, ayahnya Cintami dan Adam. Suami dari Nabilla," ucap Amran ramah memperkenalkan dirinya pada bos kedua anaknya.


"Roy. Bosnya Cinta dan Adam," ucap Roy.


Baru saja mereka ingin keluar dari dari laboratorium itu, bunyi ponsel Nabilla yang mampu mendeteksi adanya bom terdengar jelas membuat Nabilla langsung terperanjat.


"Mas. Ada bom di dalam laboratorium ini," ucap Nabilla membuat Adam dan Amran seketika terhenyak.


Duaaarrr.....


"Apaaaa.....?"


.......


.......


Vote dan like nya cinta, please!"

__ADS_1


__ADS_2