
Malam itu juga, saat yang lain sedang berkumpul, Nabilla mendapati gejala asmara pada putrinya membuat ia terdorong ingin mengetahui siapa Daffa. Penelusuran yang terkait dengan Daffa pun di mulai dalam laptopnya.
Semua identitas Daffa diretas oleh Nabilla berdasarkan silsilah keluarga atau keturunan.
Hampir saja ia menemukannya tiba-tiba, pintu kamar Nabilla dibuka membuat Nabilla spontan menutup laptopnya.
"Sayang. Apakah tidak bisa kamu bersenang-senang dengan kami di luar sana?" sindir Amran yang selalu cemburu dengan perangkat teknologi milik istrinya, jika Nabilla selalu menempatkan pekerjaannya di waktu yang salah.
"Maaf hubby! aku hanya memastikan sesuatu. Baik. Aku akan ikut denganmu," ucap Nabilla langsung menutup laptopnya.
"Tinggalkan juga ponselnya! semua keluarga ada di sini, siapa yang ingin kamu hubungi, Baby? ini masih dalam suasana lebaran. Jangan lewatkan waktu yang berharga karena anak-anak kita dan juga keponakan kita akan kembali belajar di luar negri setelah liburan ini," sergah Amran.
"Ok. Maafkan aku!" Nabilla keluar meninggalkan kamarnya. Amran merengkuh pinggang istrinya kembali berkumpul dengan yang lain. Rupanya malam itu, Cintami yang sedang berdiri sendirian karena menunggu Arsen yang masih ada di dalam kamarnya untuk mengambil cincin yang akan ia kenakan pada jemari tangan Cinta.
Bimo nampak tertegun melihat Cintami sedang berdiri di anjungan kapal pesiar milik Arsen. Ia menghampiri saudara kembarnya Bunga.
"Ehmm...!" sapa Bimo menyadarkan Cintami yang spontan berbalik mengira itu adalah Arsen. Saat melihat Bimo, suasana hatinya berubah dengan wajah tenang namun terkesan dingin.
"Kak Arsen...! marsekal...?" heran Cintami menyebutkan nama Arsen berganti Bimo yang dipanggil Cintami marsekal.
"Sorry...! Apakah aku boleh temanin kamu, dek?" sopan Bimo.
"Maafkan saya...! saya tidak bisa menerima pria lain selain kekasih saya," sahut Cintami tanpa basa-basi.
"Kekasih...? apakah kamu sudah memiliki kekasih?" lirih Bimo menahan hatinya yang kecewa.
"Assalamualaikum..!" sapa Arsen ramah pada kedua orang di depannya.
Menyadari kalau posisinya tidak penting untuk Cintami, Bimo berusaha basa-basi dengan Arsen yang nampak tenang namun sangat cemburu.
"Maaf bro,..! apakah saya menganggu kencan kalian?" canda Bimo.
__ADS_1
"Sejujurnya ya. Tapi tidak apa karena anda belum tahu kalau saat ini saya dan Cinta adalah sepasang kekasih," ucap Arsen.
"Ok. Saya minta maaf. Good lucky..!" Bimo meninggalkan pasangan itu hendak mencari Daffa.
"Apakah dia menganggumu, sayang?" tanya Arsen.
"Tidak. Dia hanya menyapaku. Kami belum sempat mengobrol," jelas Cintami.
"Bagus. Jangan memberi celah pada pria lain untuk mendekatimu, kecuali aku. Jangan memberikan senyuman kamu pada mereka kecuali rasa hormat dan santunmu sebagai manusia. Mulai saat ini dan untuk seterusnya, kamu adalah milikku. Will you marry me, Baby?" Arsen melamar Cinta secara pribadi.
Cintami tersenyum melihat kotak cincin yang diperlihatkan Arsen dengan gaya lamaran ala pria Hollywood.
"Insya Allah. Aku siap menjadi istrimu, kak!" balas Cinta.
Arsen menyematkan cincin berlian bermata biru itu pada jari manisnya Cinta. Tidak lama kemudian lampu tembak di sorot ke arah keduanya. Keluarga besar itu bertepuk tangan sambil berjalan menuju pasangan itu.
Cinta tidak mengetahui kejutan itu dan mengira jika Arsen hanya melamarnya seorang diri. Semuanya mengucapkan selamat pada pasangan itu. Wira dan Lira mendampingi keduanya dan melamar Cinta secara resmi pada Nabilla dan Amran. Kedua kelurga itu langsung menentukan tanggal pernikahan yang akan digelar tiga bulan lagi dari sekarang.
...----------------...
Keesokan paginya, keluarga kembali berkumpul untuk sarapan pagi. Detik-detik perpisahan kembali dirasakan oleh Daffa dan Bunga. Hampir setiap saat keduanya menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan gusar. Waktu begitu pendek untuk keduanya memadu kasih. Bunga mengirimkan pesan ke Daffa untuk bertemu dengannya di tempat semalam mereka bertemu.
Tanpa pikir panjang, Daffa segera menyusul ke tempat itu. Bunga berdiri memegangi pagar pembatas kapal sambil menatap laut lepas. Jemari indahnya meremas dengan kuatnya pada pagar pembatas kapal pesiar itu menyalurkan kesedihannya yang begitu berat saat ini.
"Aku belum pernah merasakan berpisah dengan seseorang sesakit ini walaupun melaluinya dalam sekian waktu. Mengapa pertemuanku dengan Daffa yang baru sehari semalam, tapi ada kekuatan besar yang mengikatkan jiwaku dengan jiwanya," lirih Bunga terdengar oleh Daffa yang langsung merengkuh pinggang Bunga.
Otak gadis ini yang sebelumnya dipenuhi prinsip dan aturan didikan akhlak yang cukup kuat, seakan didobrak oleh sepenggal kisah cinta yang menyingkirkan semua nilai itu. Ia membiarkan Daffa memeluknya. Pelukan hangat untuk menyalurkan rasa cinta mereka bukan karena hasrat syahwat.
"Aku mencintaimu....aku mencintaimu...aku mencintaimu wahai hatiku, jiwaku, gadisku dan segalanya bagiku, Bungaku," ungkap Daffa membaui leher jenjang Bunga yang menerima itu dengan senang hati.
Bunga yang hendak membalikkan tubuhnya, ditahan oleh Daffa." jangan berbalik baby! ataukah bibir merekah milikmu itu akan menerima keganasan bibirku. Tolong aku ..! jangan menggodaku lebih dalam," serak Daffa menahan gejolak jiwanya sekuat mungkin agar tidak melakukan lebih dari sekedar mencium leher jenjang Bunga yang dari semalam ditahannya.
__ADS_1
Namun tidak untuk detik perpisahan mereka yang ingin ia tinggalkan satu gigitan kecil di pangkal leher jenjang Bunga." Aku tidak apa Daffa. Cium bibirku. Apakah kamu tidak ingin merasakannya?" tawar Bunga tidak terkendali.
"Jangan. Jangan menghancurkan yang lebih dalam! cukup leher ini menjadi jajahan kecilku," bisik Daffa menekan kuat tubuh Bunga ke pagar pembatas agar gadis ini tidak berbalik menghadap tubuhnya.
Tidak lama terdengar suara helikopter datang ke arah gladak kapal untuk menjemput kedua marsekal itu. Jantung keduanya berpacu seirama baling-baling helikopter itu karena perpisahan segera tiba.
"Kau akan pergi. Kau akan meninggalkan aku, Daffa," lirih Bunga menahan tangisnya.
"Tidak...aku tidak akan meninggalkanmu. Ini hanya sebentar saja. Kita akan bertemu lagi. Jangan terlalu sedih, hmm? negara mana yang akan kamu tuju? aku akan menyusulmu nanti," bisik Daffa merenggangkan pelukannya.
Bimo memanggil Daffa yang sudah menyatakan perasaannya pada Bunga. Daffa berjalan mundur meninggalkan Bunga yang tidak mau mengikuti langkah kaki Daffa. Ia tidak sanggup melihat kekasihnya pergi. Bunga menangis sendirian di tempat itu.
Sementara Daffa hanya berjalan mundur sambil melambaikan tangannya ke arah Bunga. Saat ia hendak berbelok mengikuti sudut kapal, Nabilla mencegat langkah Daffa.
"Marsekal Mohammad Daffa Nugraha Bramantyo!" Panggil Nabilla membuat Daffa berbalik menghadap kearah Nabilla yang berdiri bersedekap.
"Iya Tante," sopan Daffa mengangguk hormat pada Nabilla namun juga merasa gugup karena takut jika Nabilla melihat dirinya berani mencium tengkuk leher jenjang putrinya, Bunga.
"Apakah kamu adalah putra kandungnya dari mantan polisi Gavin Bramantyo?" Selidik Nabilla membuat Daffa terhenyak.
Duarrrr....
Belum sempat Daffa menjawab pertanyaan Nabilla, Bimo sudah memanggilnya karena mereka harus kembali ke helikopter yang berada di daratan sana.
"Dengar anak muda! Jauhi putriku Bunga karena kelurga kami tidak menerima seorang keturunan pengkhianat negara," sarkas Nabilla membuat Daffa makin gugup.
"Tapi aku dan Bunga..-"
"Jauhi putriku secara diam-diam! Masa depannya masih panjang dan masih ada laki- laki keturunan baik-baik di luar sana menjadi menantuku. Selamat jalan marsekal muda Daffa Bramantyo. Titip salamku untuk ayahmu!" lanjut Nabilla lalu meninggalkan Daffa yang masih termangu di tempatnya berdiri.
......
__ADS_1
Vote dan like nya Cinta please!