
Sebelum tangan kotor penjahat itu mampir di pipi mulusnya Nada, gadis ini sudah lebih dulu bersandiwara untuk membenarkan kaca matanya yang bisa mengeluarkan sinar laser untuk menyinari mata penjahat.
"Aduh ....! Aduh....! Kenapa mataku rasanya mau terbakar?" jerit sang penjahat membuat Ghaishan yang tadi ingin menyerang akhirnya tersenyum puas melihat kepintaran istrinya yang memanfaatkan suasana.
"Hei ...! Ada apa denganmu?" seru rekan penjahat itu panik melihat bola mata temannya tiba-tiba berdarah padahal sebelumnya tidak seperti ini.
"Kenapa dengan dia?" tanya teman penjahat yang satunya lagi sehingga konsentrasi mereka tidak fokus lagi pada tugas mereka untuk menjaga para sandera yang sedikit melenturkan badan mereka yang terasa pegal.
Begitu juga dengan Nada yang melirik Ghaishan agar bersiap-siap untuk menyerang para penjahat itu dengan isyarat mata mereka atau gestur wajah mereka.
"Kau di bagian sana dan ini bagianku!" kira-kira seperti itu yang di artikan dari isyarat yang diberikan Nada pada Ghaishan yang mengangguk pelan tanda mengerti.
Ketika konsentrasi para penjahat itu mulai buyar, Nada segera mengeluarkan senjata andalan ibunya yang berupa kumbang bening tak terlihat untuk menyerang para penjahat itu yang memegang senjata.
"Bius mereka sayang..!" titah Nada pada kumbang buatan itu yang langsung terbang mencari mangsa untuk disengat.
Tidak lama kemudian, beberapa diantara penjahat sudah ada yang oleng namun berusaha untuk mengerjapkan matanya agar tetap siaga. Nada menunggu para penjahat itu benar-benar jatuh baru keduanya bertindak. Jika buru-buru, para penjahat itu akan melepaskan lagi tembakan ke sembarang arah dan akan memakan korban selanjutnya.
"Kenapa mataku menjadi sangat sepat?" gerutu penjahat itu.
"Aku juga. Kenapa mataku sangat berat....? Brukkk...
Nada dan Ghaishan mengeluarkan pistolnya sambil mengarahkan pistolnya ke arah para penjahat yang sudah jatuh tidak sadarkan diri.
Para nasabah saling berpandangan satu sama lain. Mereka melihat para penjahat jatuh penuh rasa syukur namun rasa bingung mereka melihat Nada dan Ghaishan memiliki pistol juga.
"Tidak usah takut pada kami. Kami adalah bagian dari penjaga keamanan negara ini," ucap Nada.
"Buka pintu itu dan keluar dengan tertib..! Jangan berebutan keluarnya kalau tidak ingin cedera!" ucap Ghaishan.
"Siapa yang menyuruh kalian keluar?" teriak pria tampan yang awalnya ingin menggoda Nada rupanya bagian dari para penjahat itu.
Nada dan Ghaishan terkejut karena ia menarik anak kecil yang berusia 10 tahun untuk dijadikan sandera.
"Mommy...!" pekik gadis kecil itu ketakutan membuat Nada dan Ghaishan sangat geram.
"Kauu....!" desis Nada menatap horor pria tampan itu.
"Lemparkan pistol kalian atau anak ini akan saya tembak!" ancam pria itu membuat yang lainnya tadi ingin keluar dari gedung itu akhirnya menegang di tempatnya.
Nada dan Ghaishan ingin meletakkan pistol milik mereka di bawah lantai namun penjahat itu meminta nasabah lain agar mengambil pistol dari Nada dan Ghaishan.
"Hei...kau..! ambil pistol dari pasangan itu dan letakkan di depanku!" titah sang pria itu yang tidak lain pemimpin mereka.
__ADS_1
Suasana kembali menakutkan bagi mereka karena pria itu lebih jahat dari teman-temannya yang lain yang sudah terbius oleh kumbang buatan Nada. Kumbang itu tidak bisa lagi di perintah oleh Nada karena setiap kumbang hanya memiliki beberapa CC obat bius yang tersimpan dalam tubuh mereka dan di sengat untuk satu orang.
"Jangan ada keluar dari sini sebelum teman-temanku di dalam sana merampok uang yang banyak dari berangkas Bank. Jika berani melawanku, gadis kecil ini akan mati!" ancam pria tampan itu.
"Keluarkan semua ponsel kalian dan kumpulkan di depanku. Masukkan ke tasku! Hei..milik kalian berdua juga masukkan ponsel kalian di ransel itu. Lakukan satu persatu, cepat!" titah sang bos pada Nada, Ghaishan dan nasabah serta staf Bank.
"Ya Allah. Banyak banget orang munafik di dunia ini. Aku kira tadi dia juga korban ternyata dia juga penjahat," maki Ghaishan.
"Hei...kau! Siapa namamu? Dan sebutkan kesatuanmu!" pekik pria penjahat itu pada Nada.
Nada yang fokus dengan satpam yang di luar sana sebagai penjaga pintu bank ini tetap membiarkan nasabah yang baru datang masuk ke gedung ini seakan tidak terjadi apa-apa. Rupanya dua orang satpam yang ada di luar sana ternyata komplotan penjahat perampok bank ini juga.
Oh ....! Begitu cara mainnya?" batin Nada yang merasa dipecundangi oleh para perampok yang menyamar jadi apa saja di bank ini.
"Berarti mereka bisa melakukan perampokan ini pasti ada orang dalam yang bekerjasama dengan penjahat itu. Tapi, siapa?"
Nada berpikir keras hingga tidak mempedulikan pertanyaan dari sang bos penjahat yang sedang menyandera gadis kecil di depannya ini.
"Hei ...! Aku bicara padamu gadis bodoh!" bentak pria itu sukses membuyarkan lamunan Nada.
"Aku seorang polwan. Aku sedang tidak bertugas. Dan aku punya urusan di sini," ucap Nada ketus.
"Apakah dia suamimu?" tanya pria itu lagi.
Tidak lama kemudian para penjahat yang tadi menguras brangkas bank dengan ransel besar masing-masing diantara mereka yang berjumlah 10 orang, sudah keluar dari dalam sambil mengarahkan pistolnya ke arah staff dan nasabah. Dan yang lebih mengejutkan lagi salah satu teller bank adalah bagian dari komplotan penjahat.
"Ayo kita berangkat....! Ini bagianmu Franco...!" ucap rekan penjahat itu pada salah satu teller bank itu membuat rekan staff bank itu terkejut.
"Kauu ...! Jadi kau juga komplotan mereka?" sentak Caroline yang tidak menyangka teman mereka ikut pura-pura jadi korban kini tersenyum manis pada rekannya Caroline.
"Maaf Caroline...! Aku hanya menyempurnakan permainan ini" ucap Franco membuat Caroline meludahi wajahnya.
"Cuihh...Kau sangat menjijikkan...!" pekik Caroline namun langsung di tembak oleh sang bos yang melihat adiknya di ludahi di depannya membuat Nada, Ghaishan dan para nasabah lainnya syok.
"Bakar tempat ini untuk menghilangkan jejak!" titah sang bos setelah beberapa temannya sudah berhasil masuk ke mobil dengan dua orang satpam bank itu.
Sang bos keluar meninggalkan kantor bank itu dan mengunci pintu kaca bank yang anti peluru itu. Teriakan kegaduhan dari para nasabah saat melihat api yang mudah menyebar dari beberapa tempat yang muda terbakar.
"Diaaamm semuanya...! Apakah kalian hanya bisa berteriak tanpa melakukan apapun hah?" bentak Ghaishan pada para nasabah itu.
Mereka kembali bungkam dengan wajah tegang." Apa yang harus kita lakukan untuk keluar dari sini, hah?" teriak seorang bapak gendut begitu kesal pada Ghaishan yang dianggapnya sok pahlawan.
"Cari alat pemadam kebakaran. ...! Cari sesuatu yang bisa memadamkan api kalau mau selamat dari sini!" timpal Nada.
__ADS_1
"Oh iya, ada alat pemadam kebakaran di belakang. Ayo ikut aku!" ucap teller yang lain semangat melakukan penyelamatan diri.
Nada berusaha meracik beberapa serbuk kimia yang ia selalu bawa untuk menghancurkan pintu kaca itu agar mereka bisa keluar dengan selamat.
"Sayang. Apakah kita bisa keluar dari sini?" tanya Ghaishan.
"Tolong akuuuu....! Aku mau melahirkan," pekik sang ibu hamil membuat Nada bingung sendiri.
"Apakah di sini ada dokter atau bidan?" teriak Nada pada nasabah.
Mereka hanya menggelengkan kepalanya. Nada meminta suaminya menjaga bumbu racikan yang belum rampung itu dan membuka kaos tangannya dan mengambil alkohol untuk melumuri tangannya.
"Tolong ambilkan air panas di dispenser itu dan aku butuh kain yang banyak!" ucap Nada untuk menolong wanita itu melahirkan.
Dalam beberapa menit kemudian, Nada berhasil menolong wanita itu melahirkan. Tidak lama kemudian bayi laki-laki itu berhasil dilahirkan oleh ibunya dan menangis sekeras-kerasnya hingga membuat para nasabah merasa terhibur dan terharu.
"Tunggulah sebentar di sini. ...! Kita akan ke rumah sakit. Yang penting kamu dan bayimu sudah selamat, nyonya," ucap Nada.
"Terimakasih nona...! aku sangat berhutang kepadamu," ucap wanita itu penuh haru.
Nada kembali ke suaminya dan melanjutkan meramu bahan kimia untuk menghancurkan pintu kaca anti peluru itu. Sementara suaminya sedang menyambungkan beberapa perangkat penghubung untuk bisa memberikan sinyal berupa kode Morse ke kepala FBI.
Setelah racikan kimia itu sudah siap. Nada mengoles kaca itu dengan racikan kimia itu. Semua nasabah dan staff lainnya menunggu dengan dengan cemas bagaimana pintu kaca itu bisa hancur.
"Api sudah bisa di padamkan. Mereka tidak bisa lari ke manapun karena jendela dan kaca lainnya di lantai dua juga memiliki kekuatan yang sama dengan kaca utama mengingat ini adalah kantor bank yang harus di jaga keamanannya.
Prankkkkk....
Pecahan serpihan pintu kaca berserakan setelah bereaksi dengan ramuan kimia itu. Seperti biasa polisi dan FBI datang terlambat ke tempat kejadian itu. Tidak lama mobil ambulans juga sudah tiba di tempat itu untuk mengevakuasi korban yang sudah mati dan juga wanita yang baru melahirkan bayi pertamanya.
Mr. M menemui Nada dan menanyakan beberapa hal pada Nada." Maaf Mr. M. Kita bicarakan kasus ini nanti saja. Kami harus mengejar mobil penjahat karena membawa uang bank!" ucap Nada seraya menarik lengan suaminya.
"Apakah kamu tahu mereka pergi ke mana?" tanya mr. M.
"Bisa. Karena mereka membawa ponsel kami yang bisa di lacak GPS nya," ucap Ghaishan.
"Setiap kejahatan tidak akan terencana secara sempurna. Baiklah. Kami akan mengerahkan helikopter untuk mengikuti aksi kalian," ucap Mr. M.
Ghaishan yang sudah mengambil mobilnya menjemput istrinya yang masih ngobrol dengan Mr. M. Nada langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Mr.M dan para anak buahnya yang melakukan penyelidikan di kantor bank itu. Tidak terasa waktu sudah pukul 5 sore.
Nada sibuk melihat ke mana mobil para penjahat bergerak. Ia mengambil ponsel baru yang cukup banyak karena suaminya yang menciptakan ponsel baru setiap bulannya.
"Cepatlah sayang, mobil para penjahat itu menuju pelabuhan saat ini...!" ucap Nada yang sedang mengikuti mobil penjahat melalui CCTV jalanan.
__ADS_1
Tunggu aksi berikutnya ya say!