
Alam seakan ikut merasakan bagaimana ketulusan cinta seorang Daffa pada Bunga. Hujan yang tiba-tiba turun deras tanpa ada gejala alam yang sebelumnya datang bersama hembusan angin dingin dan disertai kilat di angkasa.
"Daffaaaa....!" pekik Amran dan Nabilla bersamaan mengundang penghuni di dalam sana berhamburan keluar menyaksikan apa yang terjadi pada Daffa saat ini.
Wajah Bunga nampak menegang hingga rasa sedih yang menggumpal di dadanya bergelayut sakit tak berdarah. Gadis ini kehilangan kata-katanya seakan terserang gagu namun tidak mampu mengundang air matanya untuk melampiaskan sakit yang bergemuruh didadanya kini.
"Panggilkan Denada, cepat!" pekik Amran namun Denada sudah siap dengan peralatan medisnya dan juga kain kasa dan obat lainnya untuk menghentikan pendarahan di tangan Daffa.
Denada begitu tenang menjalankan tugasnya memberi pertolongan pertama pada Daffa agar bisa dievakuasi ke RS milik neneknya Dr. Mariska.
"Dia butuh cairan infus dan transfusi darah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit eyang!" titah Nada tetap tenang walaupun batinnya juga menjerit karena tidak tega melihat kakaknya yang masih mematung duduk di lantai sambil melihat darah yang mengalir.
"Sebegitu dalamkah cinta yang kau punya untukku hingga mau saja menerima tantangan konyol mommy aku?" batin Bunga seakan ikut mati rasa saat ini.
Amran, El dan Adam segera mengangkat tubuh Daffa membawanya ke dalam mobil. Sang sopir langsung tancap gas menuju rumah di sakit kelurga. Nada sudah menghubungi rumah sakit agar menyiapkan darah yang dibutuhkan oleh Daffa saat ini.
Namun ketika ditanya jenis golongan darah Daffa, Denada baru bingung untuk menjawabnya." Baiklah. Nanti saja sampai di rumah sakit baru kita mengetahuinya," ucap Dokter Nada.
Sebenarnya ia bisa saja menyuruh saudaranya meretas identitas milik Daffa di kesatuan angkatan udara, namun saat ini semuanya nampak serius dan panik bahkan tidak ada yang berani berkomentar.
__ADS_1
Apalagi melihat ayahnya Amran hanya memeluk ibunya yang membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya yang tampak menenangkannya. Bahkan Amran berulang kali mengecup bibir lembut istrinya yang sedari tadi hanya menangis merasa bersalah karena menantang pria tampan yang menjadi kekasih putrinya, Bunga.
Sementara Bunga dan Cinta membawa mobil sendiri ke rumah sakit mengikuti mobil besar ayahnya yang membawa Daffa ke rumah sakit. Cinta sesekali melirik ke arah Bunga yang tampak diam membisu dengan raut wajah dingin menakutkan.
"Bunga. Menangislah...! Kamu butuh air mata saat ini untuk mengobati hatimu yang sedari tadi ingin disembuhkan dengan air mata itu," pinta Cinta tetap fokus menyetir mobilnya.
"Apa yang harus aku katakan? apa lagi untuk menangis jika nasib cintaku begitu tragis dan rumit. Jatuh cinta pada anak musuh orangtua. Kenapa tidak salahkan Allah saja yang memberikan aku perasaan cinta ini. Lebih parahnya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku sudah menghindarinya saat itu. Tapi aku dipertemukan dengan dirinya hingga ketiga kalinya. Jika semua sudah menjadi bagian takdir hidupku, kenapa aku tidak diijinkan untuk tidak memiliki disaat hatiku benar-benar butuh? aku mencintainya. Sangat mencintainya. Bahkan untuk bernafas saja aku harus membayangkan wajahnya. Aku tergila-gila padanya. Mengapa cintaku diuji seperti ini? sementara kamu terlihat sangat mulus tanpa ada kendala apapun, Cinta," protes Bunga penuh luka.
"Saat ini, mungkin itu adalah bagian ujian yang harus kamu jalani. Sepertinya adegan cinta dramatis yang harus kamu perankan. Tapi bagaimana dengan aku nantinya, mungkin ujian yang akan Allah berikan lebih menyakitkan lagi. Bukankah setiap ujian yang diberikan Allah kepada kita itu sesuai dengan kadar keimanan kita, Bunga? jika pertama kedua kamu bisa lewati dengan mudah, kadarnya akan bertambah dan kamu butuh ilmu yang lebih tinggi untuk melaluinya," nasehat Cintami.
"Ilmu...? ilmu seperti apa yang harus aku pelajari, Cinta agar bisa keluar dari kemelut ini, Cinta?" keluh Bunga makin parau terdengar pedih.
"Ilmu ikhlas. Ilmu yang sulit dimiliki oleh manusia namun dituntut oleh Allah. Kembalikan semuanya kepada Allah, pemilik hati dan cintamu! Katakan kepada Allah bahwa apakah kamu pantas untuk mendapatkan Daffa atas ijinnya atau tidak? jika untukmu, mintalah untuk diringankan.
Keduanya turun sambil memegang payung untuk melindungi tubuh mereka dari hujan yang cukup deras itu. Keduanya berjalan saling berpelukan di bawah payung itu menuju lobi rumah sakit.
Mengetahui siapa kedua gadis itu, satpam langsung menunduk hormat. Bunga dan Cinta tetap mengangguk hormat pada satpam yang begitu kagum pada cucu bos-nya ini.
"Assalamualaikum mang...! apakah mobilnya Daddy sudah tiba di sini?" tanya Cintami begitu lembut.
__ADS_1
"Sudah neng. Sekarang ada di ruang IGD," ucap satpam itu.
"Terimakasih mang. Semoga selalu sehat ya mang!" ucap Cintami penuh doa.
"Ya Allah. Sudah cantik, baik kaya. Sedikitpun keduanya tetap menghargai orang kecil seperti aku. Didikan ibu yang hebat. Tidak seperti gadis kaya yang melewati aku seakan menganggap aku tidak ada," batin satpam Gani.
Baru saja Cinta dan Bunga tiba di ruang IGD, seorang wanita paruh baya menangis histeris mendengar keadaan Daffa. Wajah Bunga dan Cinta kembali panik melihat ibunya Daffa meraung-raung membuat Bunga segera mendekati ibu dari kekasihnya itu.
"Tante....!" sapa Bunga menahan tangisnya.
Nayla menghentikan tangisnya menatap wajah cantik Bunga yang menatapnya penuh tekanan." Begitu berharga dirimu hingga nyawa putraku harus dikorbankan untuk mendapatkanmu, hmm?" lirih Nyonya Nayla terlihat frustasi.
"Tante, apa yang terjadi pada Daffa? kenapa Tante menangis?" cecar Cintami ikut penasaran.
"Aku tidak bisa membantu putraku. Karena darahku tidak cocok untuk bisa mendonorkan darahku untuknya. Yang lebih menyakitkan lagi dokter di dalam sana mengatakan Daffa bukan putra kandungku.Ucapan keji seperti apa yang mereka berikan kepadaku? mana mungkin mereka bisa mengatakan hal bodoh seperti itu. Anak yang aku lahirkan penuh darah dan air mata melewati sakit yang luar biasa hingga aku hampir mati malah di bilang Daffa bukan putra kandungku. Ini sangat membuatku murka, Bunga. Kamu Bungakan?" tegas nyonya Nayla membuat Bunga cepat mengangguk.
"Benar Tante. Aku Bunga. Maaf ..! memperkenalkan diriku dalam keadaan seperti ini," tutur Bunga dengan bibir bergetar.
Ia memberanikan diri masuk ke ruang IGD untuk melihat apa yang saat ini terjadi pada sang kekasih." Apakah ada yang bisa aku bantu, dokter?" tanya Bunga.
__ADS_1
"Dia butuh darah B-. Sementara darah itu sangat langka. Sementara ibunya tidak sama darahnya dengan Daffa," ucap Dokter Suti.
Degggg....