Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
263. Ceroboh


__ADS_3

Tubuh jenjang mulus itu sudah berada dalam kungkungan sang suami yang tidak membiarkan sedikitpun istrinya mengatur ritme nafasnya karena hisapan lidah keduanya yang menikmati setiap hentakan dibawah sana menjelajahi setiap simpul syaraf gairah yang membuat keduanya membendung lenguhan tenggelam dalam ciuman panas mereka lakukan.


Wanita dibawahnya cukup menggoda minatnya. Membangkitkan jiwa pemangsa yang ganas. Namun dia ingat, kali ini tak perlu buru-buru. Daffa ingin menikmati malam panjangnya bersama sang istri.


Daffa mengabaikan pekikan istrinya yang sudah berkali-kali melakukan pelepasan. Daffa menyeringai, jiwa memburunya tidak ingin segera melepaskan mangsanya. Jadi dia memutuskan untuk kembali memberikan sentuhan pada pusat tubuh wanitanya demi memperpanjang waktu.


Daffa ingin memastikan pasangannya menikmati malam panjang.


"Aku ingin menyentuhmu di sini, sebuah sentuhan surgawi yang basah," desis Daffa.


Daffa tidak ingin menyentuhnya saja. Dia ingin mengobrak-abrik wanitanya yang menatapnya penuh damba karena Daffa memuaskannya tanpa henti.


Dilebarkan lagi kaki wanitanya agar ia bisa membenamkan wajahnya di sana. Menjelajahi tempat lembab menarik minatnya. Tangannya tak mau diam, menggerakkan jemarinya ke setiap inci tubuh istrinya yang nampak pasrah karena sentuhan itu mampu mengantarkan jiwanya ke langit ke tujuh.


"Kau tahu, ini juga hanya sedikit sentuhan," Daffa kembali mengecup leher jenjang Bunga menyusuri area-area yang dapat membangkitkan seorang wanita dalam kobaran gairah.


"Lalu ini juga yang sangat membuatku candu, baby," bisik Daffa begitu lirih dengan suara terdengar sensual.


Genggaman tangannya sudah memenuhi gumpalan kenyal pada dada sekang yang tetap padat yang membuatnya selalu bergairah.


Daffa mencubit puncaknya, membangkitkan reaksi menarik dari wanita yang dia yakini membuat dirinya tak kecewa.


Bunga tahu, kalau suaminya menginginkan dirinya untuk memanjakan bagian tubuhnya yang masih mengeras itu. Bunga mulai menggerakkan tangannya menyentuhnya dengan hati-hati.


Setiap erangan dan nafas berat singgah di telinga Bunga dari Daffa yang menandakan rasa kepuasan hanya dengan gerakan tangan yang dilakukan seorang Bunga.


"Ahhhhkkkkkk.... Ssssttt, baby!" Daffa menarik tubuh polos itu untuk menaiki dirinya dan membiarkan Bunga memegang kendali untuk memuaskannya hingga dini hari.


Gerakan erotis itu tampak sangat seksi dengan sedikit gigitan sudut bibir menikmati setiap hentakannya yang makin menggempur pusaka kokoh menjulang perkasa memperlihatkan kegagahannya. Dengan senyum menggoda seorang Bunga menjerat jiwa sang suami yang ingin melahapnya gemas.

__ADS_1


"Baby....! Kau selalu membunuhku dengan kenikmatan sedahsyat ini . Lebih cepat sayang...!" desis Daffa yang tidak kuat lagi menahan luapan kenikmatan yang mendesaknya untuk menyembur lahar panas ke dalam rahim suci sang istri yang mungkin saat ini sedang hamil benih premium mereka.


De$ahan kepuasan itu tergambar jelas pada wajah keduanya yang sesaat tersenyum penuh gairah dengan tatapan nakal memaksa mereka kembali bercumbu hingga keduanya menggapai puncak kenikmatan bersama.


"Kamu suka sayang, hmm?" tanya Daffa sambil menyanggah kepalanya dengan satu tangannya dalam posisi tubuh yang miring menatap wajah cantik istrinya yang terlihat puas usai bercinta dengannya.


"Lebih dari kata suka," sahut Bunga sambil mengusap rahang tegas milik Daffa yang mengecup telapak tangan ajaib itu yang slalu menyentuh tubuhnya penuh gairah dan juga penuh kelembutan mengusir lelah hati dan lelah tubuh dengan bejibun aktivitas menguras otak dan tenaganya.


"Alhamdulillah. Aku senang bisa melihat mu merasa puas dengan permainanku. Tapi, ada yang membuat aku curiga padamu baby," ucap Daffa sengaja menjeda kalimatnya.


"Curiga apa?" sentak Bunga yang langsung duduk.


"Sepertinya kamu hamil sayang," ucap Daffa sambil mengusap perut Bunga yang masih rata.


"Bagaimana kamu tahu kalau aku hamil?" tanya Bunga seraya merasakan sendiri perutnya yang masih tetap terlihat ramping walaupun sudah melahirkan putra kembarnya.


"Yang ini. Ini tidak mungkin besar dan keras begitu saja dan makin padat kalau tidak ada yang menghuni rahimmu," ucap Daffa seraya menunjukkan bagian bukit kembar milik Bunga yang makin menjulang menatapnya menggoda.


"Cih ..kau ini. Mau melahirkan pasukan perang atau bayi cantik dan manis agar aku bisa bangga pada para sainganku nanti," ucap Daffa membuat Bunga makin geram.


"Melihat tampangmu saja, bisa-bisa anak gadismu bisa jadi perawan tua. Jangan coba-coba galak-galak kalau ada yang berani mendekatinya...!" ancam Bunga.


Tok.... tok....


"Bunga, Daffa..! Ayo kita sholat subuh sayang...!" panggil Nabilla menanti keduanya yang belum muncul juga di mushola.


Mata Bunga melebar melihat waktu sudah pukul 4 lewat 30.


"Ya Allah. Kita bahkan belum mandi," panik Bunga segera beranjak turun dari kasur dengan buru-buru.

__ADS_1


Saat Nabilla ingin mengetuk pintu kamar Bunga lagi, Amran langsung menarik tangannya.


"Kalau sudah tidak dijawab jangan di ketuk lagi. Jangan merusak momen bahagia anak-anak..!" sergah Amran membuat Nabilla tersipu.


"Maaf. Aku lupa daddy...!" ucap Nabilla berlalu pergi menuju musholla kelurga.


Tidak lama semuanya sudah berada di mushola. Bertindak sebagai imam adalah raja Farouk.


Beberapa menit kemudian keluarga berinisiatif melakukan joging pagi menuju arah pantai. Semuanya siap melakukan aktivitas fisik tersebut.


Adam dan Nada menceritakan bagaimana Dito dan putranya Alif sudah di basmi oleh mereka yang sudah mati terbunuh.


"Syukurlah. Kalian sudah membasmi kedua kutu kupret itu. Dengan begitu, hidup kita akan tenang," ucap Amran merasa puas.


"Kamu salah hubby. Justru, hidup kita makin kacau karena jaringan mafia bawah sedang bergerak mencari benda yang sama seperti Alif dan ayahnya incar pada kita karena keduanya sudah menerima uang yang banyak dari para sindikat mafia yang mengincar senjata kimia itu," ujar Nabilla.


"Apaaa ...?!" sentak Amran makin tak mengerti permainan antar para mafia itu luar negeri.


Dito sudah menyebarkan isu keberadaan senjata kimia itu. Tidak tanggung-tanggung, keduanya telah menerima sejumlah uang yang sangat besar dari para mafia yang mengincar senjata kimia itu,"ucap Nabilla yang sudah meretas rekening Dito.


Nabilla memperlihatkan ponselnya di mana rekening milik Dito dengan nama samaran pada suami dan anak-anaknya.


"Astaghfirullah..! Berarti kita di incar lagi orang-orang yang sudah membayar Dito karena senjata kimia itu?" tanya Adam dengan nafas tersendat berat.


"Sudahlah kak. Jangan terlalu di pikirin. Yang penting, kita tetap mengembalikan semua urusan Kita kepada Allah. Mau sebagaimana jahatnya mereka kepada kita, jika Allah belum menentukan ajal kita berakhir, untuk apa kita takut. Matinya kita adalah syahid. Hidupnya kita adalah berkah," timpal Nada.


Nada keluar lebih dulu menemui Ghaishan di depan villa. Sementara Syakira yang berjalan terburu-buru turun dari tangga sambil memanggil suaminya hingga tidak sadar menginjak dress-nya sendiri yang terlampau panjang membuat ia berteriak histeris.


"Adammmmm......!" pekik Syakira mengagetkan Amran dan Nabilla yang cepat berlari ke tangga untuk menangkap tubuh Syakira yang mau jatuh terguling.

__ADS_1


"Syakiraaaa....tidakkkkk...!" pekik Adam yang merasa rohnya ikut keluar dari raganya melihat tubuh Syakira yang sudah melayang di udara.


__ADS_2