Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
242. Hukuman Mati


__ADS_3

Dua helikopter mendarat sempurna di atas landasan pacu di area istana. Sambutan para pengawal istana siap menyambut kedatangan putri Zainab dan rombongan keluarga Amran Amran tidak jauh dari helikopter itu berada.


Tidak lama kemudian, turunlah sosok pria-pria tampan yang lebih dulu menjejaki kaki mereka di atas tanah sebelum diikuti bidadari-bidadari yang datang bersama mereka.


Untuk mengimbangi penampilan ibunya dan princess Tamara, Bunga sudah melapisi seragam dinasnya yang super ketat dengan abaya mewah disertai cadar untuk menutupi tubuh yang seksi dan wajah cantiknya.


Begitu pula dengan penampilan Tamara yang sudah kembali menjadi dirinya sendiri sebagai putri pewaris tahta Bahrain yang tampil anggun dengan pakaian mewah yang sengaja dipersiapkan oleh Nabilla untuk gadis ini. Nabilla sudah memperhitungkan semuanya sebelum berangkat ke Riyad.


.


Sekarang saatnya yang turun dari helikopter itu adalah putri Zainab dengan tangan diborgol namun tertutup oleh jilbab panjangnya dan berjalan ke gedung istana dengan wajah tertunduk karena telah menciptakan skandal memalukan untuk kerajaan.


"Dasar wanita sialan..! Mengapa mereka tidak membunuhnya saja di gurun batu sana dengan cukup membawa jenazahnya ke sini?" umpat pangeran Ammar dengan segala macam makian yang tertahan di batinnya didominasi wajah kelam.


"Seret wanita keparat itu dihadapanku..!" titah raja Malik yang merasa kerajaannya tercoreng dengan perbuatan menantu pertamanya itu.


"Baik yang mulia." Dua pengawal kerajaan menghampiri istrinya Ammar itu untuk lebih cepat melangkah menemui raja Malik.


"Maaf. Kami harus membawa tuan putri lebih dulu menghadap raja!" pinta salah satu pengawal utusan raja Malik pada Amran yang hanya mengangguk.


"Hmm!"


"Tolong...! tolong dampingi saya dan meringankan hukuman saya..!" pinta putri Zainab pada Nabilla dengan suara lirih namun tidak ditanggapi oleh Nabilla.


"Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu, puteri Zainab!" timpal Bunga yang menyeringai puas melihat kilatan ketakutan dalam mata putri Zainab yang diseret dengan paksa oleh dua pengawal yang meraih lengannya kasar.


Sementara itu rombongan Amran disambut baik oleh pengawal kerajaan bagian dalam menuju ruang utama istana di mana raja Malik dan para pangeran kerajaan menunggu mereka diikuti istri-istri mereka yang berbaris berderet memenuhi ruangan utama istana itu saking banyaknya jumlah istri yang mereka miliki.


"Silahkan ikuti kami tuan-tuan...!" sambut Panglima kerajaan Ikrimah.


Amran dan keluarganya mengikuti pengawal dalam istana. Tidak lama kemudian mereka sudah dihadapkan dengan para menteri istana yang siap mendengarkan penjelasan Amran dan Nabila yang berhasil menangkap sendiri putri Zainab atas kejahatannya menculik princess Tamara.


Amran memberikan salam hormatnya pada raja Malik dengan menghaturkan ucapan salam. Raja Malik yang sudah mengenal siapa Amran menyambut Amran dengan sangat baik diikuti putranya dan dua menantunya yang berjabat tangan dengan raja Malik.


"Maaf....! kami menyambut kedatangan kalian ditengah suasana memalukan seperti ini," ucap raja Malik terselip rasa kecewa yang amat berat pada menantu pertamanya.


"Tidak perlu sungkan yang mulia. Kami hanya menyelamatkan satu-satunya pewaris tahta kerajaan Bahrain yaitu princess Tamara.

__ADS_1


Dan kami membawa semua bukti atas kejahatannya menantu yang mulia itu agar cerita kami tidak dianggap membual oleh pihak kerajaan," ucap Amran.


Mendengar ucapan Amran wajah pangeran Ammar makin mengeras. Mereka tidak perlu meragukan pengakuan Amran karena tahu siapa Amran dan keluarganya dari intelijen negara tersebut.


"Terimakasih tuan Amran. Kami akan menghukum siapapun yang berbuat salah apalagi sengaja mempermalukan kerajaan ini. Hukumannya lebih berat daripada hukuman pada rakyat biasa," ucap sang raja.


"Terimakasih untuk keadilan yang ditegakkan di negeri ini dibawah panji-panji Islam yang mengikuti langsung hukuman Allah melalui Al-Qur'an," ucap Amran merasa lega dengan janji raja Malik pada mereka.


"Princess Tamara. Apakah ada bagian tubuh anda yang terluka?" tanya raja Malik yang melihat princess Tamara yang duduk dengan tenang disamping Nabilla dan diapit oleh Bunga.


"Hanya sedikit sakit pada leherku yang tadi dicekik oleh putri Zainab yang mulia," ucap Tamara apa adanya.


"Baik. Biarkan dokter istana yang akan menangani keadaan anda princess," ucap raja Malik namun ditolak oleh Tamara.


"Tidak perlu yang mulia. Saya lebih nyaman diperiksa di istana saya sendiri. Kejadian penculikan ini meninggalkan trauma yang mendalam untukku sehingga aku sulit mempercayai siapapun lagi saat ini kecuali keluarga dari calon suamiku yang telah menyelamatkanku hari ini," ucap Tamara langsung pada inti permasalahannya.


Suasana di ruang istana itu langsung heboh mendengar keberanian princess Tamara yang menyatakan perasaannya secara gamblang tanpa sepengetahuan Amran dan keluarganya.


Jantung El berdegup sangat kencang saat ini. Pasalnya dia belum membuat kesepakatan secara resmi di depan kelurganya namun Tamara lebih cepat mendahuluinya. Raja dan pangeran Ammar tersentak mendengar jawaban diplomatis Tamara.


"Apakah princess Tamara menolak perjodohan yang telah disepakati oleh kedua kerajaan kita sebelumnya?" tanya raja Malik.


"Ayah ...!"


"Ibu....!" Pekik Tamara menghampiri ayahnya yang langsung memeluk putrinya penuh rasa syukur.


"Apakah kamu baik-baik saja, nak?" tanya raja Farouk.


"Iya ayah."


Raja Farouk menyalami tangan raja Malik dan keduanya duduk bersebelahan.


"Saya pribadi meminta maaf atas kejadian ini. Ini di luar sepengetahuan kami. Dan kami akan menjatuhkan hukuman berat atas menantu pertama kami.


"Hukuman apa yang akan diterima oleh princess Zainab sahabatku?" tanya raja Farouk ingin memastikan dulu hukuman yang diterima oleh putri Zainab.


"Hukuman pancung," sahut raja Malik.

__ADS_1


"Itu jauh lebih baik. Aku ingin rakyat negara ini tahu bagaimana raja Malik menjatuhkan hukuman yang adil untuk keluarga kerajaannya sendiri," ucap raja Farouk.


Putri Zainab terlihat pasrah karena dia tahu tangisan permohonan untuk diringankan hukumannya tidak akan dikabulkan oleh pihak kerajaan.


"Aku tidak masalah dihukum rajam atau mati sekalipun. Asalkan tidak ada orang yang berusaha merebut tahta kerajaan yang seharusnya menjadi milik putraku. Maafkan aku nak, kamu jadi malu dengan perbuatannya ibu," batin Zainab yang menangis sedih dibalik cadarnya.


"Baiklah yang mulia. Kami sudah menyelesaikan tugas kami di sini karena kami harus bicara dengan yang mulia raja Farouk untuk melamar princess Tamara untuk putraku El-Rummi," ucap Amran untuk mempertegas tujuan lanjutannya.


Tamara tersenyum dalam hati. Ia merasa sangat bersyukur mendapatkan restu kedua orangtuanya walaupun harus ditempuh dengan pengorbanan yang mengerikan yang hampir merenggut nyawanya jika Allah tidak menolongnya.


"Apakah bentuk pengorbanan cinta itu begitu mahal hingga aku harus melalui semua ujian ini?" batin Tamara sambil menarik nafas panjang.


Usai bercengkrama sebentar dengan kerajaan Arab itu, baik Amran maupun raja Farouk langsung pamit dari hadapan raja Malik yang melepaskan kepergian kelurga hebat itu.


Sepeninggalnya kelurga Amran dan Raja Farouk, pangeran Ammar tidak kuat lagi menahan geramnya pada Zainab yang telah menggagalkan rencana pernikahannya dengan Tamara.


"Dasar perempuan laknat....!" pekik Ammar menampar keras pipi istri pertamanya itu hingga tubuh Zainab jatuh tersungkur.


Plakkk ..plakkk..


"Jangan Ayah.....! Jangan pukuli ibu, ayah...!" pekik pangeran Hasbi putranya Zainab yang cacat kakinya karena lumpuh.


"Dia bukan ibumu...! Dia bahkan merendahkan martabatmu sebagai pangeran di istana ini," ucap Ammar pada putranya yang berusia 13 tahun itu.


"Bawa putri Zainab ke penjara istana!" titah raja Malik pada pengawal istana.


"Ibuuu....ibuuu....! Jangan hukum ibuku...!" pinta pangeran Hasbi menangis pilu di atas kursi rodanya.


"Tolong lepaskan aku sebentar....! Ijinkan Aku memeluk putraku untuk terakhir kalinya," pinta Zainab yang merasa sesak melihat putranya yang begitu sakit melihatnya di perlakukan kasar oleh ayahnya sendiri.


Pengawal melepaskan putri Zainab untuk memeluk putranya. Keduanya berpelukan sambil menangis tersedu-sedu.


"Ibu...! Sejahat apapun dirimu, kau tetaplah ibuku. Aku sangat mencintaimu ibu," ucap pangeran Hasbi dengan suara serak.


"Jadilah anak hebat....! Lupakan ibu ..! Selamat tinggal nak...!" ucap Zainab yang sudah siap menerima hukumannya.


"Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu ibuku. Dan semoga doaku meringankan siksaan kuburmu, wahai ibuku yang malang, cahaya hidupku...! Aku selalu mencintaimu seumur hidupku!" ucap pangeran Hasbi sambil terisak membuat suasana menjadi haru.

__ADS_1


Zainab berjalan menuju penjara istana untuk menunggu hukumannya yang mungkin diadakan besok pagi.


"Semoga tidak ada lagi pria yang meremehkan setiap perasaan istri yang tidak rela dipoligami jika dirinya mampu melayaninya," batin Zainab yang muak dengan para pangeran istana yang memiliki banyak istri. Yang menganggap mereka sebagai pemuas kelamin pria.


__ADS_2