Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
294. Wajah Pucat


__ADS_3

Sekitar pukul lima subuh, tuan Luciano menjemput cucunya dengan helikopter medis agar Ghaida segera ditangani oleh tim medis. Sementara sepupunya ikut dengan mobil bersama sopir pribadi tuan Luciano. Nyonya Rosela memeluk tubuh lemah cucunya sambil menangis.


"Ya Allah. Apa yang terjadi pada cucuku?" keluh nyonya Rosella yang belum tahu pasti keadaan cucunya.


Sementara tim medis berusaha membantu Ghaida dengan memberikan infus kepada Ghaida dan memasang cup oksigen pada hidung gadis mungil itu.


"Tolong baringkan saja pasiennya nyonya! Supaya kami bisa memeriksakan keadaan pasien lebih menyeluruh!" pinta petugas medis.


"Tapi tubuhnya sangat dingin. Aku ingin menghangatkannya," ucap nyonya Rosella nampak sesak melihat wajah pucat Ghaida seperti mayat hidup.


"Kami akan membuat tubuhnya hangat Nyonya. Tolong percayakan pada kami..!" bujuk petugas medis.


Nyonya Rosela membaringkan tubuh Ghaida. Tangannya tetap menggenggam satu tangan pucat dan dingin cucunya.


"Tahu kalau akan berakhir seperti ini, aku tidak akan mengijinkan mereka berlibur di tempat itu. Ghaida, bangun sayang..! Jangan buat hati Oma sedih," ucap nyonya Rosella sambil terisak.


Tiba di rumah sakit, Ghaida langsung ditindak secara medis untuk melihat keadaan tubuhnya. Dokter tidak melihat sesuatu yang rusak di dalam tubuh gadis itu. Bahkan semua organ vitalnya tampak normal dan tidak bermasalah. Hanya tubuhnya saja yang terlihat kelelahan dan lemah. Dokter segera menemui wali pasien.


"Bagaimana keadaan cucu saya dokter?" tanya tuan Luciano.


"Tidak ada yang perlu di cemaskan, tuan. Daya tubuh pasien hanya lemah saja. Cukup diberi cairan infus untuk memulihkan tenaganya. Semua organ vitalnya bagus. Tekanan darah dan nadinya juga bagus," ucap dokter.


"Alhamdulillah," ucap nyonya Rosela menarik nafas lega.


"Oma, Opa. Bagaimana keadaan Ghaida?" tanya Ghazali dan saudara sepupunya yang baru tiba di rumah sakit.


Tuan Lusiano menceritakan apa yang disampaikan oleh dokter pada mereka tentang keadaan Ghaida.


"Alhamdulillah."


Semuanya menarik nafas lega namun tidak dengan Ghazali yang sangat tahu kalau Ghaida telah kehilangan tenaganya dan hanya dia dan ibunya yang bisa memulihkan kembali keadaan Ghaida dengan kekuatan yang mereka miliki.

__ADS_1


"Apakah kami boleh bertemu dengan Ghaida, Oma?" pinta Ghazali.


"Nanti saja kalau sudah dipindahkan ke ruang inap," jawab nyonya Rosella.


"Raffi. Tolong jelaskan kepada Opa...! Kenapa Ghaida bisa sampai pingsan dan mimisan?" tanya tuan Lusiano.


Raffi tidak langsung menjawabnya. Ia menarik tangan opa sepupunya itu agar menjauh dari pasien lain agar tidak terdengar oleh mereka.


Raffi menceritakan bagaimana petualangan mereka hingga berakhir menyedihkan seperti ini. Tuan Lusiano nampak kaget mendengar penuturan Raffi.


"Jadi, Ghaida melindungi kalian dengan kekuatannya?" tanya tuan Luciano cemas.


"Iya Opa. Dan kami ingin tahu apakah opa memiliki hubungan dengan para oknum pejabat yang menjadikan pulau Kirrin sebagai proyek ilegal?" selidik Raffi.


"Ceritanya tidak seperti itu. Pulau itu hanya dijadikan markas latihan militer untuk menjaga keamanan negara dari serangan rudal kendali jarak jauh yang dilakukan oleh negara lain. Seperti pangkalan angkatan Laut. Dan tempat itu dibuat rahasia agar tidak terendus oleh negara lain," ungkap tuan Luciano sesuai dengan apa yang dipinta bapak wakil presiden saat itu.


"Dan Opa percaya begitu saja dengan ucapan mereka?" tanya Raffa.


"Yah memang seperti itu makanya diatas markas itu dibangun kolam air yang terlihat seperti danau untuk menghalau musuh," ucap tuan Luciano.


"Belum. karena opa bukan bagian dari mereka walaupun mereka membangun' pangkalan angkatan laut secara rahasia di pulau milik Opa," jelas tuan Luciano.


"Opa terlalu naif. Bagaimana mungkin orang sejenius Opa bisa dikadali para buaya darat itu," ledek Ghazali terlihat geram.


"Maksud kalian apa? Lagi pula apa yang kalian dapatkan dengan menyelidiki markas militer itu?" tanya tuan Luciano tidak mengerti dengan ucapan cucu laki-lakinya itu.


"Markas militer hanya sebuah kedok untuk menutupi kejahatan mereka. Mereka itu tidak lebih dari maling Opa. Kami punya bukti kejahatan mereka," ucap Hanin.


"Bukti kejahatan? Kalian ngomong apa sih?" geram tuan Luciano.


Raffi menyerahkan ponselnya dengan sejumlah data kejahatan mereka dengan bukti yang sudah mereka dapatkan. Tuan Luciano mengerutkan dahinya sambil membaca setiap laporan rekapan kejahatan pelaku yang berani meretas bank dunia demi meraup keuntungan untuk golongan tertentu diantara para pejabat publik.

__ADS_1


"Astaghfirullah halaziiim. Ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan kejahatan tersembunyi di tanah milikku? Baiklah.


Aku akan menuntut mereka langsung pada bapak presiden," geram tuan Luciano begitu kecewa pada sahabatnya yang memanfaatkan kebaikannya.


"Opa ku yang tampan. Melawan orang-orang licik itu tidak cukup dengan mengandalkan wajah beringas, Opa saja. Jika mereka bisa licik pada Opa, Opa juga harus membalas perbuatan mereka dengan lebih cerdik dan gentleman lagi," nasehat Ghazali.


"Maksudnya apa?" tanya tuan Luciano.


"Buat strategi penyerangan tepat di titik vital kejahatan mereka," ucap Audrey.


"Bagaimana caranya?" tanya tuan Luciano.


"Kami sudah meliput kegiatan ilegal mereka di sertai bukti kejahatan mereka. Kalau Opa mau menghadap presiden harus mengundang wartawan untuk melakukan konferensi pers guna mengungkapkan kejahatan mereka secara langsung.


Tapi, konsekuensinya adalah negara ini akan mempertanggungjawabkan perbuatannya para oknum pejabat yang telah mencuri uang yang ada di bank dari sejumlah bangkir dari berbagai negara," ucap Dinar.


"Itu terserah negara. Yang jelas, Opa harus membersihkan nama baik Opa dari serangan cyber sialan itu," umpat tuan Luciano dengan darah mendidih.


"Tapi, mereka akan melenyapkan tempat itu opa dengan cara menarik katup air danau di atasnya agar peralatan kegiatan mereka akan rusak dengan begitu mereka bisa menghapus bukti kegiatan ilegal mereka," ucap Ghazali.


"Sergap pulau itu dengan bantuan FBI. Dengan begitu, negara ini tidak akan bertanggungjawab pada kejahatan oknum pejabat dengan mengembalikan uang milik bangkir yang mereka curi. Kecuali Daddy aku yang akan mengembalikan semua hasil curian pada para bangkir itu dari setiap rekening tabungan para oknum pejabat itu," ucap Ghazali.


"Iya sayang. Tapi sebelum dikembalikan, kita harus membekukan rekening mereka terlebih dahulu agar mereka sulit melakukan transaksi baik untuk yang masuk maupun untuk uang yang keluar," ucap tuan Luciano.


"Berarti kita harus kirim surat terbuka pada bank dunia untuk melakukan itu ya Opa?" tanya Ghazali.


"Tentu saja sayang. Dengan begitu setiap bank dunia menggantikan kode akses untuk menyerang para peretas dengan virus," ucap tuan Luciano.


"Orang-orang begitu kita buat mereka harus kapok dengan menghapus data pribadi mereka dengan dianggap mereka sudah mati oleh negara. Jadi, saat mereka melakukan perjalanan ke manapun, data mereka sudah tidak tersimpan karena negara sudah menganggap mereka mati. Mau lari ke mana saja sudah tidak diakui di manapun karena sudah dianggap mati," ucap Audrey.


"Boleh juga tuh idemu. Jadi sebelum mereka tertangkap, sebaiknya kita lepaskan mereka begitu saja. Dengan begitu kehidupan mereka merasa terombang-ambing karena nama mereka sudah di blacklist oleh negara maupun di dunia," timpal Dinar.

__ADS_1


"Rasanya itu adalah hukuman yang paling menyakitkan yang akan mereka terima. Mereka bebas hidup di luar tapi mereka tidak diakui lagi oleh negara karena data pribadi mereka sudah dihapus oleh negara.


Dengan cara itu mereka tidak bisa mengambil uang hasil kejahatannya mereka sendiri," ucap Raffi yang cukup masuk akal mendengar ide gila saudara sepupunya yang memiliki hukuman tersendiri untuk para oknum pejabat yang membuat mereka menjadi hidup segan mati tak mau.


__ADS_2