Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
70. Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Usai menggelar pesta pernikahan antara Arland, Nadine, Reno dan Celia, yang berhasil di gelar dalam satu waktu, kini kedua pasangan itu ingin melakukan perjalanan bulan madu.


Nabilla mengingatkan mereka untuk menunda rencana bulan madu mereka saat ini karena situasi tidak kondusif. Kedua pasangan itu mengerti keadaan yang akan mengancam keamanan mereka. Nabilla yang lebih cerdik dari mereka semua, menjadi tempat tumpuan yang harus mereka percaya karena Nabilla tahu apa yang dilakukan untuk keamanan seluruh keluarganya tanpa terkecuali.


Nabilla tidak mungkin bisa mengetahui semuanya kalau tidak dibantu oleh orang-orang terkait di jaringan internasional. Itulah keuntungan Nabilla, jika dia bekerjasama dengan negara luar atas ijin pemerintahnya sendiri, maka mudah baginya mengakses jaringan internasional karena diberikan wewenang itu.


Saling menguntungkan, kata yang tepat untuk Nabilla dengan negara-negara berpengaruh di dunia ini. Mereka selalu meminta jasa wanita super jenius ini untuk menelusuri kasus negara yang berbelit-belit yang tidak bisa mereka selesaikan, namun bisa di atasi oleh Nabilla dalam sekejap dan imbal baliknya Nabilla meminta keamanan untuk keluarga besarnya dengan menukarkan informasi dari mereka.


Tentu saja keluarganya tidak boleh harus tahu termasuk suaminya Amran sendiri karena itu adalah bagian dari sumpahnya. Nabilla tetap tampil apa adanya tanpa menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya pada keluarga terdekatnya.


Bayarannya memang tidak sedikit yang diterimanya dari beberapa negara itu, namun Nabilla selalu mengalokasikan lagi upahnya itu kembali pada orang-orang yang membutuhkan. Jadi kesannya dia tetap menjadi seorang wanita yang terlihat sangat miskin dan tak berdaya agar tidak dicurigai. Itulah sebabnya saat menjadi istrinya Amran, Nabilla membuang ponsel pintarnya setelah kembali ke model pabrik agar rahasianya tidak terbongkar.


Karena tidak ada ponsel, Nabilla tidak sempat mencaritahu tentang Amran kecuali sangat sedikit sekali karena Amran memberinya ponsel tapi juga memasang penyadap. Itulah mengapa Nabilla meninggalkan ponsel pemberian Amran kala ia kabur dan bekerja di kediaman Wira. Menyamar adalah bagian pekerjaan Nabilla.


Jika ia menggunakan uang itu dengan hidup bermewah-mewah sebelumnya tanpa terlihat seperti orang bekerja, maka akan mudah dicurigai oleh orang-orang terdekatnya. Jadi intinya gadis ini akan menggunakan uangnya hanya dalam keadaan urgent saja.


Saat ini, kedua pasang pengantin itu sedang berkumpul di rumah besar kakek Abdullah untuk merencanakan bulan madu yang aman dan damai. Amran akhirnya yang buka suara untuk membantu kedua pasangan itu.


"Begini saja Arlan, Reno, kalau kalian ingin melakukan bulan madu, silahkan pergi ke villa pribadiku, bagaimana?" tawar Amran.


"Maksudnya ke puncak?" tanya Nadine yang belum tahu surga terpencil milik Amran.


"Kamu akan tahu Nadine setelah suamimu membawamu ke sana karena akses ke sana hanya bisa menggunakan helikopter," ucap Amran.


"Kedengarannya keren. Aku jadi penasaran," ucap Nadine.


"Begini saja, semua keluarga kita akan berlibur ke sana untuk melepaskan kepenatan. Villa itu sangat besar, jadi kita semua akan ke sana agar lebih ramai, itupun kalau Arland dan Reno tidak keberatan," ucap kakek Abdullah yang sangat merindukan tempat itu.


"Wah...!ide bagus tuh. Aku setuju kakek," timpal Amran.

__ADS_1


Reno dan Arland tidak punya pilihan karena itu milik kakek Abdullah." Tidak usah kuatir Reno, kami paling tiga hari di sana. Selebihnya milik kalian," ucap Amran.


Sebenarnya Reno juga punya villa sendiri di Bali, hanya saja keamanannya tidak terjamin karena villanya sudah terdaftar sebagai tempat liburan para turis yang ingin menyewa villanya. Tidak seperti milik Amran yang dirahasiakan dari dunia luar.


"Hanya itu pilihan kita sayang. Karena kita tidak perlu di awasi setiap saat oleh para pengawal. Kamu maukan?" tanya Arland pada Nadine.


"Emang keren tempatnya?" tanya Nadin yang membayangkan villa itu seperti rumah hantu di tengah hutan belantara karena disebut villa rahasia.


"Kamu bisa lihat sendiri nanti. Jika tidak suka, kita bisa balik pulang dan bulan madu di apartemen kita sendiri, bagaimana sayang?" tanya Arland.


"Baiklah. Aku terima tawaranmu. Lagian perginya ramai-ramai, pasti lebih seru. Kapan lagi gelar pesta sama kelurga sendiri di villa terpencil," ucap Nadin.


"Aku jamin, kamu pasti akan betah di sana, Nadin," ucap Arland.


Wira dan Devan berencana ikut juga di rombongan itu karena Lira dan Lea ikut serta. Kesempatan bagi Wira untuk mendekati Lira. Walaupun dia tahu presentase keberhasilannya pasti kecil, tapi dia tidak ingin menyerah begitu saja.


Setelah membahas rencana bulan madu yang sudah mencapai kesepakatan, pengantin baru dan keluarga lainnya kembali ke tempat mereka masing-masing. Kini tinggal penghuni rumah kakek Abdullah yang sudah ada di kamar mereka masing-masing.


"Baby! apakah aku boleh tahu, kamu bekerja untuk siapa?" tanya Amran karena Nabilla bersandar pada dadanya sambil main laptop.


"Untuk membantu negara ini dan juga untuk keluarga kita sayang. Aku masih penasaran dengan putranya mbak Tiar yang sedang disembunyikan oleh anak buahnya Dito," imbuh Nabilla.


"Di mana Dito sekarang, sayang?" tanya Amran.


"Di Wina Austria," ujar Nabilla.


"Mungkin saja putranya di sana. Dito belum memiliki anak dengan istri sahnya. Itulah sebabnya dia mengambil putranya dari tangan Tiar. Dia tidak mungkin menitipkan darah dagingnya pada siapapun karena seorang ayah akan menyelamatkan darah dagingnya juga jika dirinya saat ini terancam," jelas Amran.


Nabilla baru paham dengan asumsi suaminya." Itulah gunanya berbagi, kejeniusan manusia tetap saja tidak sempurna karena manusia adalah makhluk sosial," batin Nabilla yang mengakui kehebatan suami mafianya.

__ADS_1


"Terimakasih mas. Bagaimana caranya kita mengambil putranya mbak Tiar sementara Dito juga ayah kandungnya. Jika anggota mas Amran bisa menyusup ke sana, Dito akan tahu bahwa selama ini dirinya tetap di intai oleh kita?" tanya Nabilla.


"Kita manfaatin orang yang sama," ujar Amran.


"Maksudnya?" tanya Nabilla.


"Dito menjadikan Tiar mata-mata, maka kita menjadikan pelayannya di sana sebagai mata-mata untuk kita. Berikan lokasi persembunyiannya Dito dan kita bisa pelajari lokasi persembunyiannya. Tidak adanya CCTV di lokasi persembunyiannya, memudahkan kita untuk mengambil anak itu," ujar Amran.


Sebenarnya Nabilla bisa memanfaatkan otoritas negara itu untuk mengambil putranya Tiar, hanya saja rahasia dirinya akan terbongkar oleh suaminya. Namanya juga sumpah, ya harus dipegang teguh sampai Nabilla mati walaupun Nabilla sangat mencintai Amran tidak berarti ia harus mengabaikan sumpahnya demi kata cinta. Itu sudah menjadi urusan Nabilla dengan Allah. Itu prinsipnya Nabilla.


"Baiklah mas. Aku serahkan putranya mbak Tiar kepadamu. Tolong ambil lagi putranya dan setelah itu, mbak Tiar akan kita sembunyikan di villa rahasia. Tapi ngomong-ngomong, apakah Dito tahu villa rahasia itu?" tanya Nabilla.


"Dito tidak mengetahuinya karena villa itu tidak tercatat sebagai aset milik kakek yang terdaftar di negara ini. Karena itu adalah tempat persembunyian yang sekarang dibangun ulang oleh aku menjadi tempat yang mempesona untuk aku hadiahkan kepada istri dan anakku kelak dan kamu adalah wanita beruntung itu," ucap Amran.


"Alhamdullilah sayang. Sudah memilih aku sebagai bagian perjalanan sejarah hidupmu," timpal Nabilla sambil menutup laptopnya dan meletakkan di meja nakas. Kini ia sudah duduk di atas pangkuan suaminya sambil berkoala.


Ia tahu milik Amran sedari tadi ingin mendesak masuk namun Nabilla masih tanggung dengan pekerjaannya. Saat tubuh Nabilla sudah menghadapnya otomatis senjata Laras panjang milik suaminya langsung masuk ke sarung miliknya.


"Akhhhhkkk....mas!" desis Nabilla kala Amran menekan pahanya untuk menancapkan miliknya lebih dalam lagi.


Setelah menyatu, keduanya mengatur nafas dan membiarkan milik Amran di dalam sana merasakan kehangatan sarang sempit Nabilla. Dan keduanya tetap ngobrol santai.


"Nabilla. Jangan pernah tinggalkan aku lagi! aku menyerah dan mengakui kehebatanmu, baby. Tapi aku ingin tahu, jika kamu bisa menguasai persenjataan apapun dan bisa beraksi di lapangan tembak, apakah kamu juga bisa menguasai ilmu bela diri, baby?" pancing Amran.


"Aku hanya bisa mengusai arena permainan ranjang, sayang. Dan bersedia menerima tembakan darimu dengan senjata Laras panjangmu seperti saat ini. Bisaku hanya memuaskan dirimu, baby," ucap Nabilla sambil meliukkan tubuhnya dengan mengaduk pinggulnya agar mengalihkan perhatian suaminya untuk mengetahui rahasia besarnya.


Amran begitu menikmati gerakan liar istrinya yang membuatnya merem melek sambil meracau dengan kata-kata fulgar untuk membangkitkan gairah keduanya. Keduanya saling berpacu untuk berbagi keringat malam itu.


....

__ADS_1


vote & like, cinta, please!


__ADS_2