Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
160. Bertemu lagi


__ADS_3

Tiga bulan kemudian, setelah pulang dari Istambul Turki, Amran dan Nabilla ingin menggelar resepsi pernikahan untuk kedua putri mereka secara bersamaan karena keduanya belum sempat melakukan resepsi pernikahan karena terhalang oleh panggilan tugas mereka yang penuh dengan dramatis.


Apalagi saat ini keduanya belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan membuat mereka tidak begitu berharap memiliki momongan secepatnya karena masih banyak hal yang harus mereka kerjakan.


Cinta kembali terjun di dunia pendidikan sebagai guru dan sekaligus kepala sekolah di sekolah yang ia bangun sendiri dengan hasil kerja kerasnya. Begitu pula dengan Bunga, Nada dan El rummi dengan perusahaannya.


Sementara Amran di bantu oleh putra pertamanya Adam yang mengelola perusahaannya. Apalagi Arland saat ini sudah memiliki perusahaan sendiri dan tidak bisa lagi membantu Amran.


Arland membangun perusahaannya sendiri dari hasil kerja kerasnya selama menjadi asisten pribadinya Amran. Sementara Nada tetap bekerja di rumah sakit milik dokter Mariska, walaupun ia juga memiliki perusahaan sendiri.


Kembali lagi ke resepsi pernikahan Bunga dan Cinta yang akan digelar di Uluwatu Bali. Keluarga besar itu menginap di resort milik ayahnya Arsen yaitu Wira.


Tamu undangan di seleksi sedemikian rupa. Banyak sekali protokoler yang harus dilalui oleh para tamu karena Bunga dan Nada merupakan agen FBI dan CIA. Tidak lupa Nabilla mengundang kelurga dari pihak ibunya yaitu kakek Salim dan keluarganya. Hanya saja besannya tuan Darwish, Nyonya Cyra dan nyonya Nayla datang sehari menjelang acara tersebut berlangsung.


Saat yang dinantikan telah tiba. Semuanya sudah berada di resort di Bali tiga hari sebelum acara resepsi pernikahan itu berlangsung tertutup untuk awak media.


Kini mereka hanya menunggu kelurga kakek Salim." Nabilla. Apakah kamu tidak melewatkan tamu undangan dari pihak sahabatmu?" tanya ummi Ambar.


"Tidak ada ummi. Aku selama ini memiliki sahabat hanya bisa dihitung dengan jari," canda Nabilla.


"Memang sahabatmu tidak banyak. Tapi, yang kamu selamatkan hidup orang lain lebih dari jari tangan dan kakimu," balas ummi Ambar pada menantu kesayangannya itu.


"Ayo kita lihat Bunga dan Cinta dulu ummi!" ajak Nabilla.


"Baiklah. Ummi akan ke sana setelah mengatur perhiasan ini," ucap ummi Ambar yang memegang perhiasan kedua cucunya itu.


Saat Nabilla hendak masuk ke kamarnya Bunga, ia mendapat telepon dari kakeknya." Hallo assalamualaikum kakek!" sapa Nabilla.


Nabila. Kakek sudah memasuki halaman resort. Kamu di mana nak?" tanya kakek Salim.


"Baik kakek. Aku akan menjemput kakek di lobi. Tunggu saja di situ. Barang-barangnya biar pelayan resort yang bawa ke kamar kakek dan kak Mariam," ucap Nabila sambil berjalan cepat menuju lobi.


Rupanya kakek Salim tidak datang dengan Mariam dan Segaf saja, ada lagi dua orang cicit ponakannya yang lain yang ikut rombongan itu. Kakek datang di saat semuanya ingin ke restoran resort yang menghadap ke arah pantai.


"Kakek...!" panggil Nabilla sambil merentangkan tangannya memeluk kakeknya.


Yang lain ikut menyalami kakek uyutnya dan Nabilla memperkenalkan kelurga besarnya yang belum bertemu dengan kakek. Saat tiba yang terakhir memperkenalkan diri yaitu giliran tuan Rusli yang sekian lama tidak bertemu dengan ayah mertuanya itu terlihat gugup dan lebih banyak diam.


Kakek yang duduk di kursi rodanya menatap nanar wajah menantunya itu.


"Apakah kamu terlalu takut untuk menghampiriku, menantu kurangajar?" bentak kakek pada tuan Rusli yang nampak canggung berjalan menghampiri mertuanya.


"Bapak ...!" tuan Rusli menjatuhkan tubuhnya menyalami tangan keriput mertuanya sambil menangis penuh penyesalan.


"Tenagaku sudah tidak tersisa untuk membunuhmu karena sudah meninggalkan putriku," omel kakek Salim terdengar parau.


Dokter Mariska ikut merasa bersalah dan juga sangat malu pada kakek Salim. Karena dirinyalah yang menjauhkan suaminya dari ibunya Nabila. Rasa ingin mengusai lelaki itu seorang diri membuat Hilda meninggal dalam kerinduannya pada suaminya hingga dibawah mati.

__ADS_1


"Kakek. Itu istriku Mariska. Sayang. Kenalkan ini kakeknya Nabila," ucap tuan Rusli menarik tangan istrinya yang nampak malu-malu dan juga takut. Dokter Mariska mencium punggung tangan kakek Salim penuh takzim.


"Hiduplah bahagia dengan anak dan cucu-cucu kalian. Aku rasa kebahagiaanku sudah lengkap. Usai acara ini, aku ingin berkunjung ke makam Istriku Raden ayu Dewi Kusuma," ucap kakek Salim.


"Iya kakek. Nanti kita ke batu Malang karena nenek di makam di sana bersama dengan paman Ridwan Amir," ucap Nabilla.


Usai acara perkenalan keluarga besar itu, Amran meminta mereka segera ke restoran outdoor yang tidak jauh dari lobi resort. Segaf mencari salah satu saudara sepupunya yang sedari tadi belum datang juga. Sementara yang lainnya sudah duduk di kursi mereka masing-masing.


"Ada apa Segaf?" tanya Nabilla pada Segaf yang masih berdiri.


"Ghaishan. Sepupuku Gaishan belum datang juga," ucap Segaf.


"Apakah dia nyasar?" tanya Nabilla.


"Dia sudah tahu alamat resort ini. Mana mungkin seorang mafia bisa nyasar," celetuk Segaf membuat Amran, Reno, Arland dan Wira termangu.


"Wah. Hidup kita tidak jauh-jauh dengan keluarga mafia," ucap Reno sambil mengulum senyumnya.


"Ayo. Kita makan duluan. Nanti juga dia pasti datang!" ajak Nabilla kepada keponakannya Segaf.


Saat semua asyik menikmati makan malam mereka yang terasa hangat penuh persahabatan itu, Gaishan baru muncul sambil mengucapkan salam. Suara bariton itu terdengar khas dengan tampilan kharismatik yang terlihat mempesona.


"Selamat malam semuanya!" ucap Gaishan seakan meminta perhatian anggota keluarga besar itu.


"Selamat malam!" jawab yang lain.


Nada yang sedari tadi sibuk menatap ponselnya tidak berkenan melihat wajah sepupunya itu. Namun Gaishan tidak lepas menatap nada yang cuek padanya.


Nada menyendok lagi nasi dan lauk ke mulutnya tanpa memperhatikan wajah tampan yang sekarang duduk di hadapannya karena Nada sedang mengenakan head set sambil makan dan menatap ponselnya.


Kirana menyikut lengan Nada karena sedari tadi dipanggil oleh ibunya Nabilla." Nada ..! lihat ibumu memanggilmu," ucap Kirana.


Nada buru-buru mengangkat wajahnya hendak menatap wajah Ibunya, Nabilla. Tapi seketika ia langsung tersedak saat melihat wajah tampan pria yang telah berani menculik dan menciumnya.


Uhuk ...uhuk ..uhuk...


Kiran segera memberikan Nada minum.


"Pelan-pelan kunyahnya!" ucap Kiran sambil mengusap punggung Nada.


"Astaghfirullah...! kenapa pria brengsek ini bisa ada di sini? atau aku sedang mengalami delusi saat ini?" batin Nada dengan wajah bersemu merah.


Gaishan mengulum senyumnya hampir tak terlihat. Pria ini ingin ngakak tapi tetap menjaga wibawanya di hadapan keluarga paman dari kakek uyutnya.


Amran menangkap gestur tubuh putrinya dan Gaishan terlihat berbeda. Ia kemudian berdehem lalu melanjutkan lagi makan.


"Nada. Ini cucu keponakannya kakek Salim. Namanya Gaishan. Sapa tamunya!" pinta Nabilla.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" sapa Nada dengan wajah datar.


"Waalaikumuslam!" ujar Gaishan tersenyum samar pada Nada yang langsung menunduk.


Merasa gugup, Nada mengakhiri makannya dan bergegas berdiri." Permisi. Aku mau ke toilet sebentar!" pamit Nada.


Merasa tidak ingin di tinggal oleh wanitanya, Ghaishan ikut bangkit berdiri dengan alasan mau menelpon seseorang. Nada berjalan cepat menuju kamarnya di ikuti oleh Ghaishan yang mengekori Nada.


Nada bersembunyi di balik tembok sambil menunggu Ghaishan lewat. Karena kurang fokus, Ghaishan langsung di serang oleh Nada dengan tendangan.


Ghaishan langsung jatuh tersungkur hampir mencium lantai namun segera bangkit menghadapi serangan lanjutan dari Nada. Ghaishan hanya menangkis tanpa ingin membalas. Padahal tendangan dan pukulan yang diberikan Nada sangat keras. Nada ingin membalas sakit hatinya pada Ghaishan yang pernah melecehkan dirinya walaupun itu hanya sebuah ciuman.


Serangan bertubi-tubi dari Nada, sama sekali tidak dibalas oleh Ghaishan karena hatinya sudah tersangkut pada gadis muda itu." Kenapa tidak membalasku, brengsek!" maki Nada.


"Aku ingin membalasmu tapi dengan ciuman," ledek Ghaishan sambil menatap wajah cantik Nada.


Pria blasteran Turki dan Italia ini mengagumi kecekatan ilmu bela diri Nada. Mata birunya yang mendominasi ditambah pahatan rahang kokoh yang sempurna tapi perlakuannya yang tidak senonoh pada Nada membuat apa yang dimiliki pria tampan itu sana sekali tidak membuat hati Nada kepincut. Bagi Nada yang masih belum move on dari Dillon membuatnya tidak mudah begitu saja memberikan perhatiannya pada Ghaishan.


Suara deheman Amran membuyarkan pertarungan sengit keduanya yang seketika mengambil sikap diam.


"Daddy...!" tegur Nada.


"Apakah kalian berdua sudah saling kenal?" selidik Amran sambil menatap wajah keduanya saling bergantian.


"Tidak ..!" ujar Nada.


"Iya...!" jawab Ghaishan.


"Yang mana yang benar?" tanya Amran.


"Nada, daddy."


"Ghaishan om."


"Nada ...!" Amran menatap wajah putrinya yang langsung mendengus kesal lalu meninggalkan ayahnya dan Ghaishan yang berdiri tegap tanpa ada raut wajah takut pada Amran.


Amran yang melihat sikap tegas Ghaishan seperti dirinya muda dulu. Angkuh dan cuek.


"Apakah kamu menyukai putriku?" tanya Amran pada Ghaishan.


"Bukan hanya menyukainya om, tapi aku sangat mencintai putrinya om yang bernama Nada," ujar Ghaishan tegas.


"Kalau begitu, menetaplah di Indonesia karena aku tidak mau kau membawa pergi putriku jauh dariku ke negaramu!" pinta Amran serius membuat wajah Ghaishan tercengang.


"Hahhh...?"


......................

__ADS_1


Vote dan likenya cinta please!"


__ADS_2