
Jika Audrey di bawah ke pelabuhan merak, tidak dengan Ghazali yang memang benar di bawah ke pantai Sarinah Ancol oleh penjahat. Bahkan putra dari Nada ini malah di bawa dengan speed boat menuju pulau seribu.
"Om. Katanya mau naik wahana permainan, kenapa di bawah ke laut?" tanya Ghazali dengan tingkah lucunya.
"Kita keliling ke pulau seribu dulu. Kita akan memancing ikan setelah itu baru bisa nonton atraksi lumba-lumba. Bagaimana? Kamu sukakan?" tanya sang penjahat yang bernama Akil mengelabui Ghazali yang dianggap mereka bocah biasa.
"Oh..! Kalau nonton atraksi lumba-lumba, aku sudah sering om karena kita hanya berada di sekitar kolam ikan lumba-lumba. Bagaimana kalau kita nonton atraksi ikan paus, ikan hiu atau ikan lainnya di laut ini....? Oh Itu mereka di sana....! Ayo om kita kejar ikan lumba-lumba itu, sepertinya sangat seru..!" ajak Ghazali lalu bertepuk tangan sambil jingkrak di atas speed boat seperti tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Dasar bocah edan...!" umpat Akil sambil menghubungi bos besarnya.
"Bos. Cucu dari tuan Amran sudah saya amankan bos. Sekarang dia saya ajak jalan-jalan di pantai Ancol. Apa yang harusnya saya lakukan untuk selanjutnya, bos?" tanya Akil pada bos besarnya.
"Foto wajah bocah itu dengan background laut lepas. Dengan begitu aku bisa mengancam kakeknya untuk membuang anak itu di laut jika permintaan kita tidak dipenuhi oleh Amran," ucap sang bos besar di seberang telepon.
"Baik bos."
Akil melakukan apa yang diperintahkan bosnya padanya. Sementara Ghazali merekam semua pembicaraan antara bos besar dan si Akil yang tidak tahu kalau dirinya sebentar lagi akan di kerjain oleh Ghazali.
Akil meminta rekannya yang membawa speed boat itu untuk mengurangi laju kendaraan air itu agar dia bisa mengambil gambar Ghazali yang nampak asyik menikmati laut lepas tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Gambar Ghazali dikirimkan ke bos besar yang menerimanya sambil tertawa terbahak-bahak karena akan merasakan kemenangan besar sesaat lagi dengan menjadikan cucu Amran sebagai alat pertukaran jabatan sebagai penguasa di negara ini.
Di mansion utama milik Amran, kakek yang kaya akan cucu kembar ini nampak menikmati obrolan hangatnya dengan para besan dan adik iparnya yaitu Reno, Devan dan Wira. Tidak lupa sahabat terbaiknya Arland.
Dreeeetttt....
Amran mengambil ponselnya hendak mematikan ponselnya agar tidak menganggu obrolan mereka. Namun jantungnya hampir copot saat melihat cucu kesayangannya Ghazali sudah berada di atas speed boat.
"Saya harap kamu bisa mundur dari capres periode tahun ini atau kau akan melihat mayat cucumu mengambang di atas laut!" ancam sang bos besar namun tidak mempengaruhi Amran sama sekali karena dia tahu cucunya itu memiliki kekuatan.
Walaupun begitu, berada di tengah laut lepas akan beresiko juga bagi cucunya.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun!" desis Amran berusaha tenang agar suasana tidak menjadi tegang nantinya.
__ADS_1
"Apakah anda baik-baik saja tuan Amran?" tanya tuan Darwis melihat wajah Amran tampak pias.
"Iya. Saya baik-baik saja. Silahkan dilanjutkan obrolannya. Saya permisi sebentar karena ada urusan penting yang harus saya selesaikan," ucap Amran berlalu pergi sambil memanggil istrinya.
"Honey...!" Amran menarik tangan istrinya yang langsung menghampirinya tanpa bertanya apa yang terjadi hingga keduanya berada di kamar mereka.
"Sayang. Lihatlah ini!" Amran memperlihatkan foto cucu mereka pada Nabilla yang terlihat syok.
"Astaghfirullah halaziiim!" Nabilla menutup mulutnya setengah terbuka dengan mata melotot.
"Bagaimana bisa Ghazali sudah berada bersama penjahat?" tanya Nabilla.
"Tolong kumpulkan anak-anak dan semua cucuku sekarang!" pekik Amran terlihat sangat gusar membuat Nabilla segera beranjak ke luar kamar.
"Baik hubby."
Amran menghubungi lagi nomor sang bos besar namun tidak lagi aktif.
"Sialannnnn.....! Dasar manusia licik...! Demi jabatan kalian tega memanfaatkan anak kecil untuk mengancam ku. Bagaimana kamu bisa dipercaya untuk jadi capres jika mentalmu saja sudah terlihat sangat tidak manusiawi seperti ini," umpat Amran sambil berkacak pinggang mondar-mandir di dalam kamarnya tak karuan hingga semua anak, menantu dan cucunya berkumpul di dalam kamarnya yang lumayan luas itu.
"Opa. Ghazali di culik sama penjahat dan aunty Cintami lagi mencari kak Audrey yang juga di culik. Ups...! Yah jadi keceplosan deh!" Ghaida menutup rapat mulutnya setelah menjawab pertanyaan Amran.
Saudara sepupunya yang lain tercengang mendengar kedua saudara mereka diculik oleh penjahat namun mereka juga mengulum senyum melihat tingkah Ghaida yang tidak bisa menjaga rahasia.
"Amankan anak-anak dan kalian para laki-laki segera cari Cintami, Nada dan kedua cucuku, cepattt....!" teriak Amran membuat semuanya langsung bersiaga.
"Siap daddy...!"
Di laut lepas sana, terasa panas terik matahari seakan membakar kulit saat ini. Ghazali yang tetap waspada pada sang penjahat yang terdiri dari empat orang dengan sang nahkoda tampak diam dengan pikiran mereka yang sedang mengembara. Melihat Akil dan rekanya yang sedang melamun, membuat Ghazali mulai mengerjai beberapa orang penjahat itu.
Dengan menggunakan kekuatannya, Ghazali memindahkan tubuh para penjahat di atas laut tanpa mereka sadari karena posisi tubuh mereka masih dalam keadaan duduk.
Penjahat itu mengambang di atas udara dengan wajah bengong terlihat sangat menggemaskan bagi Ghazali. Sementara dirinya sendiri masih duduk dengan tenang di atas speed boat milik sang penjahat.
__ADS_1
"Hallo Om semuanya....! Selamat menikmati wahana kolam renang raksasa milik Allah...!" ledek Ghazali pada para penjahat itu.
Ketika kesadaran mereka dibuat pulih oleh Ghazali, para penjahat itu baru menyadari tubuh mereka berada di atas laut di mana ikan pari dan gerombolan ikan lainnya berada dibawah tubuh mereka.
Ghazali masuk ke dalam tempat kemudi speed boat untuk kembali ke pelabuhan sambil menghubungi Ibunya.
Saat speed boat itu meninggalkan para penjahat itu, dalam sekejap keempatnya langsung jatuh kedalam laut sambil berteriak histeris yang sempat terdengar oleh Ghazali yang tertawa cekikikan karena berhasil menjatuhkan musuh dengan sangat mudah tanpa mengeluarkan energi.
"Selamat berenang om-om nakal...he...he ..!"
"Baby...! Di mana kamu sayang?" tanya Nada yang saat ini sedang mengejar mobil truk yang membawa pergi tubuh Audrey.
Gadis cantik putri dari Cintami dan Arsen ini diberi obat bius over dosis membuat gadis ini tidak sadarkan diri hingga tidak bisa melakukan perlawanan pada penjahat yang menculiknya dari kediaman kakeknya sendiri.
Penjahat yang menyamar jadi pahlawan itu, memberikan jus alpukat pada Audrey yang memang suka dengan jus alpukat. Kedua kaki tangan Audrey diikat dengan mulut tertutup lakban.
"Mommy. Aku sudah melenyapkan para penjahat dan sekarang aku sedang menuju pelabuhan Ancol," ucap Gazali.
"Tolong hubungi aunty Cintami karena saat ini aunty Cintami sedang menjemput kamu sayang. Jangan memperlihatkan kekuatan kamu pada siapapun karena rumah Opa akan di kerumunin oleh wartawan...!" titah Nada cukup kuatir dengan putranya yang masih bocah ingusan itu.
"Aku sudah melihat aunty menuju ke speed boat yang dinaiki aku mommy," jawab Ghazali.
"Alhamdulillah. Sekarang kamu pulang dengan aunty Cintami dan mommy sedang mengejar mobil penjahat yang menculik kak Audrey."
"Apakah mommy butuh bantuan Ghazali?" tawar Ghazali dengan santainya.
"Aiss....! Diamlah..! kau akan mommy hukum nanti setelah misi mommy ini selesai. Bisa-bisanya kamu dengan senang hati diculik oleh penjahat," omel Nada penuh geram pada putranya.
"Tenanglah mommy...! Putramu yang tampan dan kuat ini baik-baik saja kok. Sampai jumpa di rumah opa ya mommyku cantik. Selamat berjuang mommy ku hebat...! semangat....!" pekik Ghazali membuat Nada haru bercampur geram.
"Dasar anak mommy...! Semoga Allah menjadikan kamu kelak menjadi orang yang berpengaruh di dunia ini, nak," doa Nada sambil mengusap air matanya.
Mobil Nada saat ini sedang berada di jalan tol menuju pelabuhan merak. Rupanya siang itu kendaraan mobil cukup sedikit namun kecepatan waktu tempuh setiap kendaraan mobil yang ada di tol itu hampir rata-rata mencapai 130/ jam.
__ADS_1
Bersambung....!