
Apa yang dikuatirkan oleh presiden dan jajarannya akhirnya terbukti tentang virus kimia itu. Masyarakat mulai mengeluhkan radang tenggorokan dan mudah dehidrasi. Satu persatu dari mereka sudah berkunjung ke rumah sakit.
Untuk meneliti penyebaran virus itu di dalam tubuh pasien, darah mereka di ambil untuk di teliti di bagian patologi secepatnya. Sebagai ahli kimia, Nada yang berada di Amerika sudah menerima sampel darah dari beberapa pasien dengan berbagai usia dan juga pasien yang punya permasalahan penyakit komplikasi.
Nada bersama dengan suami dan si kembar Ghazali dan Ghaida mulai melakukan penelitian untuk menemukan serum yang bisa menyembuhkan penyakit yang terlihat ringan namun cukup menyiksa pasiennya karena mudah menyerang imun tubuh manusia hingga mudah terlihat lelah dan lemah. Saat ini belum ada pasien yang meninggal karena penyakit dari senjata biologis ini yang menyerang manusia melalui virus.
Setiap pasien diatur makanannya dan tidak melakukan kontak dengan keluarga pasien. Tentu dokter, suster dan perawat berada di garda terdepan untuk menjaga para pasiennya selama 24 jam karena kelurga pasien tidak diperkenankan untuk menjaga pasien.
Untuk membuat pasien tidak mudah bosan karena terkurung di dalam kamar dalam waktu yang lama, mereka juga di tanya apa yang menjadi hobi mereka jika berdiam di dalam ruangan dalam waktu yang lama.
Mereka mengemukakan berbagai macam keinginan mereka. Ada yang mau menyulam, menulis, membuat kerajinan tangan yang ringan dan bagi yang punya karier tentu tidak jauh-jauh dengan laptop milik mereka yang tetap bekerja.
Dan selebihnya ada yang ingin nonton atau baca buku dan bermain game. Semuanya sudah dipikirkan psikis pasien untuk tidak terpuruk dalam sakit mereka. Nabilla dan Amran selalu memantau keadaan pasien dari hasil laporan kementrian kesehatan.
Dan suami istri ini mendatangi rumah sakit secara diam-diam agar tidak terekspos media. Mereka menggunakan masker dan menemui CEO rumah sakit dan para dokter ahli di rumah sakit itu untuk memberikan dukungan. Sontak saja kedatangan raja dan ratu Indonesia ini membuat tenaga medis itu terharu.
"Bapak presiden...ibu Nabilla...!" pekik mereka terharu dan berebutan bersalaman dan tidak lupa mengabadikan momen itu. Karena kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat rumah sakit itu tidak tahu harus berbuat apa pada Amran dan Nabilla.
"Maafkan saya karena sudah menyusahkan kalian dan membuat kalian harus berpisah dengan keluarga kalian demi tugas kemanusiaan ini. Gaji dan bonus kalian akan ditingkatkan lima kali lipat di masa pandemi ini," ucap Amran untuk memberikan semangat pada tenaga medis.
"Alhamdulillah bapak. Tanpa dibayar pun, kami tidak masalah pak. Kami sudah kenyang dengan kebaikan bapak dalam empat tahun terakhir ini," ucap mereka haru.
"Benar pak..itu benar...! kami ikhlas menjalankan tugas kami seperti bapak dan ibu yang melayani negara ini tanpa kenal lelah," ucap salah satu dari perawat laki-laki.
__ADS_1
"Ya Allah.. bapak datang mengunjungi kami saja, itu sudah menjadi bayaran tak ternilai untuk kami. Akhirnya bisa foto juga sama bapak presiden," ucap yang lainnya sambil terkekeh karena terlalu bahagia namun air matanya terus berderai.
Nabilla hanya bisa tersenyum dibalik cadarnya dan ikut merasakan kebahagiaan tenaga medis yang begitu bahagia melihat mereka. Banyak suster yang ingin foto dengan Nabilla sambil menempelkan pipi mereka pada ibu negara itu yang nampak akrab.
Ada seorang suster yang senior di tempat itu. Usianya sekitar 50 tahun namun masih terlihat energik. Usianya tidak jauh beda dengan Nabilla yang saat ini memasuki 55 tahun namun masih tetap cantik seperti 30 tahun karena perawatan kecantikan yang dilakukan istri Amran ini bukan perawatan murahan. Di tambah lagi Nabilla selalu menjaga wudhu agar rona wajahnya tetap bercahaya.
Suster senior itu bernama Hilda. Nama yang sama dengan mendiang ibu kandungnya Nabilla. Ia membisikkan sesuatu kepada Nabilla dan Nabilla mendengarkan dengan baik.
"Ibu Nabilla. Sebelum ajalku tiba, bolehkah aku melihat wajahmu sekali saja...!" pinta suster Hilda penuh permohonan.
"Baiklah. Tapi aku harus minta ijin suamiku," ucap Nabilla di angguki oleh suster Hilda.
Beberapa menit kemudian, Amran mengajak dokter dan perawat untuk menemaninya menengok pasien laki-laki agar istrinya bisa memperlihatkan wajah cantik bak bidadari itu di hadapan para tenaga medis wanita untuk membuat mereka semangat.
"Tolong jangan di foto dan disebarkan berita pada yang lainnya. Hanya kalian saja yang boleh melihat wajahku," ucap Nabilla penuh dengan syarat.
Nabilla membuka cadarnya dan memperlihatkan senyum terbaiknya pada tenaga medis itu yang langsung tersihir menatap wajah bak bidadari itu.
"Pantas saja ditutup cadar. Cantiknya seperti bidadari. Ya Allah. Semoga aku bisa hamil anak perempuan dan cantik seperti ibu presiden," ucap suster muda yang belum dikaruniai anak.
Masing-masing mereka memuji kecantikan Nabilla. Istri Amran ini hanya memberikan waktu satu menit untuk 20 orang tenaga medis yang ada di satu lantai saja karena sekitar 40 lantai di rumah sakit itu yang tidak semua mereka kunjungi karena waktu yang terbatas.
"Ok. Apakah sudah puas?" tanya Nabilla pada para tenaga medis itu yang menggelengkan kepala mereka membuat Nabilla hanya bisa terkekeh dan itu makin membuat tenaga medis terpesona dengan kecantikan Nabilla.
__ADS_1
"Kalau pasien yang lihat wajah bidadari ibu presiden, saya jamin semuanya pasti langsung sembuh," gumam mereka.
"Benar. Tidak perlu obat penawar."
"Pantas saja presiden Amran semangat bekerja dan juga awet muda punya ibu presiden seperti ini. Masya Allah. Para pelakor akan pensiun kala melihat wajah ibu presiden," celetuk yang lain.
"Ok. Sekarang temani saya untuk mengunjungi para pasien di sini. Nanti dokter dan suster bergantian temanin saya mengunjungi kamar pasien! Pinta Nabilla yang mengunjungi pasien wanita karena keduanya tidak ingin bercampur saat mengunjungi pasien yang sesuai jender.
Dokter dan suster sangat semangat menemani Nabilla masuk ke kamar pasien. Karena sudah memasuki pukul 3 pagi, kunjungan itu dipercepat.
"Assalamualaikum... selamat pagi!" sapa Nabilla seraya memperkenalkan dirinya pada pasien.
"Waalaikumuslam. Benarkah ini ibu presiden...?" tanya pasien kelas tiga yang terdiri dari lima dan enam orang dalam satu kamar.
"Benar saudaraku," ucap Nabilla yang tidak segan bersalaman dengan mereka semua yang terlihat antusias hingga wajah mereka yang awalnya pucat terlihat merona merah karena euforia pasien saat melihat kedatangan ibu presiden mereka yang bercadar itu.
"Bagaimana keadaan kalian? Apa yang kalian rasakan? Apakah ada keluhan? Bagaimana dengan pelayanan rumah sakit ini?" cecar Nabilla yang dijawab mereka penuh dengan kesan baik sehingga tidak ada komentar tercela yang Nabilla dengar dari para pasien.
"Alhamdulillah. Pelayanan di rumah sakit ini sangat baik. Sepertinya saya sudah sembuh sekarang. Besok saya mau pulang dokter," ucap salah satu pasien yang memperhatikan manik mata Nabilla dengan bulu mata lentik terlihat asli tanpa maskara karena Nabilla tidak sedang dandan usai sholat tahajud langsung ke rumah sakit bersama sang suami.
"Nanti biar dokter yang memastikan kalian boleh pulang atau tidak," ucap Nabilla lalu pamit pada mereka yang menyesalkan terlalu cepat kunjungan Nabilla yang hanya diberi durasi 3 menit untuk mereka bisa melihat sosok ibu negera bercadar itu.
Sementara itu, Amran sendiri yang saat ini berkunjung ke pasien laki-laki di sambut heboh oleh rakyatnya.
__ADS_1
"Masya Allah. Allahu Akbar. Mimpi apa ini bisa bertemu malaikat ini," ucap salah satu bapak-bapak yang sudah sepuh saat bersalaman dengan Amran yang hampir mencium tangan Amran yang buru-buru menarik tangannya karena merasa tidak pantas dicium oleh orang yang lebih tua darinya.
"Jika saya mati hari ini, saya mati dalam keadaan puas karena Allah mempertemukan saya dengan pahlawan masa kininya Indonesia. Inilah pahlawan sesungguhnya," puji yang lain pada Amran.