Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
85. Mantan Kekasih Keparat


__ADS_3

Keluarga besar kakek Abdullah kembali lagi ke Jakarta dan melanjutkan aktivitas mereka seperti biasa. Celia, Lea dan Lira kembali lagi ke tugas mereka sebagai mahasiswa. Celia dan Lira tinggal bersama di kediaman Wira karena keduanya sudah sah menjadi istri Wira dan Reno. Mereka tidak ingin membeli rumah lagi karena rumah itu sangat luas dan mewah yang merupakan peninggalan ayah mereka. Apa lagi masih ada ibu mereka yang harus mereka urus.


Sementara Nadin tinggal di apartemen miliknya Arland. Lea tinggal bersama kedua mertuanya tuan Rusli dan dokter Mariska. Sedangkan Nabilla tetap bertahan di rumah kakek Abdullah karena ketiga bayinya butuh perhatian nenek Anisa dan ummi Ambar yang tidak ingin berpisah dari cucu mereka.


Walaupun begitu mereka sering berkumpul setiap kali memasuki weekend. Rasanya tidak ada hiburan lain selain berkumpul dengan keluarga besar. Apalagi menyaksikan pertumbuhan tiga bayi kembar Nabilla yang sekarang sudah memasuki usia lima bulan lebih.


Lira sedang mengunjungi perpustakaan nasional. Ia sedang mencari buku-buku yang berhubungan dengan hukum. Saat mengambil buku yang lebih tinggi dari tempatnya berdiri membuat Lira sedikit berjinjit. Belum juga tangannya menggapai buku tersebut, seseorang sudah mengambilnya terlebih dahulu membuat Lira lega.


"Terimakasih..!" ucap Lira sambil menatap wajah orang yang sudah menolongnya. Wajah Lira terlihat syok.


"Sama-sama Lira," ucap pria tampan itu membuat Lira menatap wajahnya pria yang ada dihadapannya penuh murka.


"Oh kamu, Darren," ucap Lira nampak santai walaupun hatinya menahan letupan amarah yang sangat sesak, namun sebisa mungkin ia menahan diri karena tidak ada alasan baginya untuk melabrak pria bajingan yang ada dihadapannya kini.


"Lho! kok kamu sambut aku biasa saja Lira, setelah sekian lama kita tidak bertemu. Padahal aku ingin memberimu kejutan dengan mengikuti kamu pulang kuliah tadi," ucap Darren terdengar mesra.


"Terus, saya harus bagaimana Darren?" santai Lira sambil mencari tempat duduk untuk membuka buku yang ingin ia salin dengan laptop miliknya.


"Apakah aku harus mengajari kamu dulu bagaimana cara menyambut seorang kekasih penuh kerinduan setelah sekian lama berpisah. Dan kenapa kamu tidak pernah lagi menghubungi aku dan kamu tega blokir nomor kontak aku. Kenapa Lira?" kesal Darren.


"Apakah itu sangat penting untukmu, Darren?" tanya Lira sambil membuka tiap halaman buku itu sambil menyimaknya.


"Tentu saja penting Lira. Apakah kamu tidak tahu bagaimana diriku sangat merindukan mu dan aku selalu berusaha setia padamu walaupun godaan di negara penuh kebebasan itu selalu menggoda imanku setiap saat. Demi kamu sayang, aku memilih setia. Dan itu sulit bagi laki-laki normal seperti aku yang menahan diri dari godaan wanita seksi," ucap Darren terlihat seperti pria setia. Lira yang mendengar pengakuan Darren hanya mencebikkan bibinya.


"Benarkah?" sindir Lira tanpa ingin melihat wajah Darren.

__ADS_1


"Apakah kamu masih meragukan kesetiaan aku, sayang? atau jangan-jangan kamu sudah selingkuh dariku dan memilih pria kaya dariku?" selidik Darren yang tidak tahan lagi dengan sikap Lira yang acuh tak acuh padanya.


"Aku yang selingkuh? kenapa kamu malah melemparkan tuduhan menjijikkan itu padaku? apa nggak terbalik kalau kamu yang telah mengkhianati aku? tanyalah pada dirimu sendiri, Daren. Aku memang tidak melihatmu Darren. Tapi Allah sudah menunjukkan kebenaran kepadaku bahwa siapa yang selingkuh? kamu atau aku?" tanya Lira.


"Jangan ngaco kamu Lira. Pasti ada yang sudah menghasut kamu untuk meragukan kesetiaan aku bukan?"tanya Darren.


"Kita ini kuliah di bagian hukum, Darren. Tidak ada orang yang menghukum seseorang berdasarkan opini dari saksi karena saksi bisa saja berbohong demi menjatuhkan lawannya atau sebaliknya. Namun aku lebih percaya dengan bukti daripada sekedar ucapan manusia yang bisa jadi biang propaganda untuk menghancurkan hubungan kita demi kepentingannya," timpal Lira masih menahan diri agar tidak mempermalukan dirinya di depan orang banyak.


Lagian ia lebih memikirkan status dirinya yang sudah bersuami. Walaupun rasa kecewanya pada sang mantan saat ini yang mengaduk perasaannya karena kesetiaannya yang buta pada cinta yang penuh pamrih dari pria di depannya ini.


Darren sedikit gugup kala Lira menyebutkan sebuah bukti namun ia sedang memikirkan hubungannya sama Nicole yang selama ini sangat privasi. Ia tidak pernah memamerkan hubungan mereka pada teman-temannya. Namun ia merasa perkataan Lira hanya sebuah jebakan.


"Lira. Tolong jangan bercanda sayang. Kamu hanya menakuti aku bukan?" tanya Darren dengan senyum yang terlihat canggung.


Tanpa banyak bicara lagi, Lira memperlihatkan hasil rekaman perselingkuhan Darren di mana pria itu bercumbu mesra dengan kekasih selingkuhannya Nicole. Darren mengusap mulutnya dengan tungkai kakinya terasa lemah hingga tubuh pria tampan itu terhuyung ke belakang sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


"Tidak perlu Darren. Tidak ada lagi yang perlu kamu perjuangan hubungan kita," ucap Lira yang mengambil lagi ponselnya dari tangan Darren.


Ia mengembalikan buku itu ke petugasnya. Lira segera meninggalkan perpustakaan. Darren terus mengikuti langkah kaki jenjang Lira.


"Lira. Tunggu sayang! aku mohon dengarkan penjelasan aku dulu. Itu hanya sebuah kesalahpahaman saja karena Nicole yang sudah merayu aku hingga dia hamil," Darren masih bisa berkelit walaupun sudah jelas melihat buktinya.


"Maaf Darren....! aku tidak cukup bodoh dan lemah seperti yang kamu bayangkan. Hubungan kita sudah selesai karena saat ini aku sudah ....-"


"Babyyy...! apakah kamu sudah selesai sayang?" tanya Wira yang langsung memeluk pinggang istrinya dari balik punggung Lira sambil mengecup pipi Lira.

__ADS_1


Merasakan itu adalah pelukan suaminya, membuat Lira memperlihatkan sisi keromantisannya yang selama ini tidak pernah ia perlihatkan kepada Darren karena Lira begitu menjaga dirinya untuk tidak disentuh oleh Darren walaupun hubungan mereka berjalan sudah tiga tahun saat itu.


"Hei ..! siapa kamu, hah? dan kenapa kamu berani sekali mencium pipi kekasihku?" bentak Darren pada Wira.


"Ayo kita pulang, hubby!" ajak Lira.


"Dasar gadis ja**Ng! kau yang berselingkuh tapi aku yang di tuduh. Wanita munafik!" bentak Darren murka.


"Hubby. Ayo kita pulang. Aku rasa kepalaku sangat pusing saat ini!" ajak Lira memeluk tubuh kekar Wira dan membenamkan bibirnya sesaat pada bibir suaminya lalu menempelkan kepalanya di dada bidang Wira.


"Mau aku gendong, Baby?" tawar Wira.


"Hmm!"


"Apaaaa...? hubby....? Sialan. Jadi dia sudah menikah?" lirih Darren.


Mobil mewah milik Wira sudah berhenti di depan Wira yang sedang menggendong Lira. Sang asisten membuka pintu mobil untuk pasangan itu. Darren tersentak melihat merk mobil itu yang harganya lebih dari 7 miliar. Jenis mobil Anti peluru itu yang sangat diimpikan oleh Darren selama ini, walaupun itu tidak mungkin ia bisa beli.


"Jadi, karena kekayaan pria itu Lira tega meninggalkan aku?" sangkal Daren yang masih belum terima kesalahannya.


Sebenarnya Wira sangat cemburu melihat istrinya bicara dengan mantan. Tapi, ia tidak ingin memperlihatkan sisi posesifnya karena takut gadis ini tidak terima dengan perlakuannya. Wira memperlihatkan perhatiannya penuh cinta pada Lira dengan caranya sendiri untuk memenangkan hati wanitanya.


"Lira. Aku bersumpah padamu sayang. Kau tidak akan pernah mengingat tentang apapun pada mantan kekasih mu yang keparat itu. Baik kenangan manisnya bersamamu maupun luka yang telah ia torehkan dihatimu. Hanya ada aku yang akan mengisi hari-harimu. Cintaku lebih pantas bertahta di hatimu, istri kecilku," batin Wira mengusap punggung Lira yang mendekap di dadanya dengan mata terpejam sambil menahan bulir beningnya yang ingin tumpah saat ini.


.......

__ADS_1


Vote and like nya cinta, please!"


__ADS_2