Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
124. Tidak Bisa Bersama


__ADS_3

Bunga mengangkat wajahnya dari dada bidang Daffa. Menatap mata tajam bak elang itu. Daffa memang jarang tersenyum tapi juga tidak bersikap dingin bak seorang mafia. Ia selalu bersikap sesuai yang dibutuhkan. Mungkin karena profesinya sebagai perwira negara. Kadang bisa menghangat tiba-tiba dan kadang membuat sekitarnya beku dan menakutkan.


"Kau masih bisa menggodaku disaat darahku juga habis terhisap karena ketakutan akan aksi nekatmu, hhmm?" omel Bunga penuh rasa sayang namun sekuat mungkin ia menahan rasa haru.


"Aku tidak mungkin membuatmu menjanda sebelum aku menikmati semua yang kamu miliki sebagai suamimu," Daffa berusaha mengusir ketegangan yang ia ciptakan.


"Cih...! tidak tahu malu. Kau masih belum diakui untuk masuk dalam daftar menantu hebat," remeh Bunga membuat senyum Daffa mengembang sempurna dan itu sangat disukai Bunga menikmati momen langka ini.


Menyadari Bunga menatapnya dengan intens makin membuat Daffa ingin meraup wajah cantik itu untuk ia kecup namun ia menahan dirinya agar tidak melewati batasnya sebagai pria normal karena Bunga bukan wanita gampangan walaupun gadis ini kadang labil di hadapannya.


"Apakah aku terlalu tampan, baby?" ledek Daffa membuat wajah cantik itu bersemu merah dan langsung membuang wajahnya ke segala arah.


Bunga ingin membalikkan tubuhnya dan Daffa segera meringis kesakitan." Auuuhhhh...sssttt...! tanganku..!" desis Daffa membuat Bunga kembali kalap.


"Sayang ..! apakah tanganmu kesakitan? apakah jahitan terasa nyeri. Apakah biusnya sudah hilang saat di jahit tadi? tunggu...! aku akan memanggil dokter untuk melihat tanganmu," sewot Bunga seperti ibu-ibu yang ketakutan anaknya kesakitan.


Ocehan Bunga seperti nyanyian indah di tengah malam yang beranjak larut seperti ini menjadi hiburan tersendiri bagi Daffa yang menatapnya gemas.


Bunga meraih tombol nurse call yang tergeletak di samping Daffa, namun tangannya langsung dicegah oleh Daffa dan membawanya ke bibirnya untuk ia cium. Bunga menegang ditempatnya berdiri merasakan kelembutan bibir seksi Daffa menyetrum tubuhnya.


"Jangan berpindah dari hadapanku tanpa ijinku. Aku tidak butuh dokter atau suster untuk memberikan obat penghilang rasa sakit karena kamu adalah obat bius itu. Jangan mengalihkan wajahmu dari pandanganku. Aku rela mati hanya untuk bisa menatap lukisan hidup dihadapanku saat ini," tutur Daffa penuh puja terdengar tulus terlahir dari sanubarinya.


Tidak ada gombal di dalamnya karena pria tampan ini sudah membuktikannya beberapa jam yang lalu." Aku jadi takut padamu, Daffa. Setiap bisikan kalimatmu seakan menjerat jiwa mudaku membangkitkan setiap simpul syaraf bagaimana buasmu di ranjang nanti," batin Bunga yang menelan salivanya dengan gugup, namun itu yang dia inginkan. Membayangkannya saja sudah membuatnya merinding.


"Aku hanya menunggu lampu hijau dari ayahmu saja Bunga. Aku rela melakukan apapun untuk bisa menikahi mu. Kesabaranku rasanya tidak bisa ku atasi karena pesonamu," batin Daffa membawa tangan Bunga di dadanya.


"Tidurlah Daffa! Jangan melantur terus! ini sudah larut malam. Aku akan menunggumu di sini. Aku tidak akan ke manapun, hmmm!" bujuk Bunga menenangkan kekasih hati yang terlihat gelisah ketakutan ia pulang meninggalkan dirinya sendiri di kamar VVIP yang di kemas bak kamar hotel bintang lima.


"Harusnya kamu tidur di sampingku Bunga jika kita sudah sah menjadi suami istri. Semoga Allah memudahkan niat baik kita agar cepat halal di hadapanNya.. aamiin! Daffa menuruti kata-kata wanitanya karena ia memang masih ngantuk. Ia ingin menghibur Bunga agar gadis ini tidak merasa bersalah atas aksi heroiknya tadi.


Bunga tidur di kursi disamping brangkar Daffa. Sementara tangan lembutnya itu masih dalam genggaman tangan kekar Daffa yang begitu takut Bunga meninggalkannya.


Nyonya Nayla dan Nabilla masuk ke kamar itu. Menatap sepasang muda-mudi ini yang tengah kasmaran hingga mengabaikan nyawa karena cinta yang begitu besar. Jika Bunga diminta hal yang sama seperti Daffa, mungkin gadis ini rela mengakhiri hidupnya jika tidak mendapatkan pria impiannya ini menjadi suaminya.


"Ijinkan mereka menikah nyonya Nabilla ..! Daffa bukan putra Gavin dan juga bukan putraku. Dia hanya putra seseorang yang menjadi korban keegoisan hidup dua wanita penuh masalah. Walaupun begitu dia tetap putraku. Aku adalah Ibunya," lirih Nayla mengecup kaki Daffa dengan lembut lalu membelai kening Bunga yang terlelap di samping putranya.


"Mereka bisa menikah, jika kedua orangtuanya Daffa ditemukan. Aku mengijinkan hubungan mereka hingga status Daffa jelas," ucap Nabilla tegas lalu meninggalkan kamar inap Daffa.

__ADS_1


Nayla hanya bisa menarik nafas berat. Menjadi bagian dari hidup Gavin membuat hidupnya serba salah. Walaupun pria itu sudah mati, tetap saja terus membawa masalah dalam hidupnya seakan ia dan putranya ikut diadili dunia karena perbuatannya Gavin walaupun mereka sudah bercerai jauh sebelum Gavin meninggal dunia.


...----------------...


Pernikahan seyogyanya yang diinginkan Bunga bersanding di pelaminan bersama dengan saudara kembarnya harus pupus sudah. Ia harus merelakan Cintami menikah terlebih dahulu karena tangan Daffa belum begitu pulih untuk melakukan gerakan. Daffa juga harus ambil cuti satu bulan untuk mengembalikan kekuatan tangannya karena kenekatannya atas nama cinta.


Sebenarnya bukan hanya alasan itu yang menjadi pertimbangan Daffa dan Bunga gagal menikah melainkan saat ini Nabilla dan Amran ingin mengetahui kejelasan kedua orangtuanya Daffa yang belum mereka temukan.


Itulah sebabnya kedua keluarga itu, antara keluarga Daffa dan juga keluarga Bunga sepakat untuk menunda pernikahan keduanya walaupun Daffa belum tahu kejelasan statusnya sebagai anak adopsi yang sengaja ditukar.


Sampai saat ini urusan pernikahan Daffa dan Bunga dipending sampai waktu yang bisa ditentukan berdasarkan pertimbangan kedua belah pihak secara rahasia. Walaupun begitu hubungan keduanya sudah direstui namun tetap pada koridor aturan agama yang tetap dipegang teguh keduanya.


Pagi itu acara ijab qobul digelar penuh hikmah. Arsen tampak gagah dengan beskap putihnya begitu pula dengan Cintami yang mengenakan gaun pengantin putih berupa dress panjang menjuntai indah. Arsen sudah meminta Cintami untuk mengenakan cadar agar hatinya tidak panas dingin saat mata para tamu tertuju pada istrinya daripada dirinya yang mungkin hanya para tamu wanita lajang yang mengagumi ketampanannya. Arsen menjabat tangan Amran untuk mengucapkan ijab qobul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Queenara Cintami Magnolia binti Mohammad Amran Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Arsenal Naransyah Wirya Pratama lugas.


"Sah...!"


"Sah...!"


Kedua saksi yaitu Arland dan Devan menjawab dengan kata sah untuk pernikahan pasangan pengantin itu.


Melihat ketiga bidadari itu, membuat para tamu tentu saja berdecak kagum. Ada yang berbisik ingin memilih salah satu putri Amran yang belum memiliki pacar yaitu Denada. Bahkan relasi Amran mencari cara untuk menjodohkan Denada dengan putra-putra mereka.


"Sepertinya dia masih sekolah. Nanti saja kalau dia tamat SMA baru kita melamarnya," ucap salah satu istri dari relasi perusahaan Amran yang tidak tahu kalau Denada saat ini seorang dokter muda di usianya yang sebentar lagi mencapai 17 tahun.


Begitu juga Bunga yang mereka mengira baru masuk perguruan tinggi tidak terlepas dari buah bibir di kalangan para tamu. Daffa yang ikut duduk diantara para tamu hanya bisa meremas ponselnya menahan geram karena wanitanya ikut menjadi sasaran yang ingin menjadi calon mertuanya, Bunga.


"Dasar bodoh...! Bunga itu adalah wanitaku. Apakah aku harus memamerkan kepada kalian semua kalau dia adalah calon istriku," batin Daffa yang harus berperang dingin dengan ucapan tamu.


Saat melakukan acara sungkeman mata Daffa terus mengawasi gerak-gerik Bunga. Ia mengikuti langkah Bunga yang sedang berjalan ke arah ruangan lain di mana ada banyak makanan.


Bunga memindahkan banyak kue di dalam piringnya sementara mulutnya sudah mengunyah beberapa potong kue." Makanlah yang banyak sayang..! Pasti tubuhmu makin berisi di malam pengantin kita dan itu terlihat sangat seksi," tegur Daffa membuat Bunga tersedak.


Uhuk...uhuk...uhuk...


Daffa meraih gelas yang sudah berisi air putih dan membantu Bunga untuk minum karena kedua tangan gadis itu memegang ponsel dan piring kue.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya sayang...! baru digoda begitu saja langsung tersedak..!" acuh Daffa yang puas mengerjai wanitanya.


"Apakah kamu tidak ada kerjaan lain selain....-"


"Kehadiranku di sini memang untuk menggoda kekasihku dan itu kerjaanku. Ayo kita pergi dari sini...! aku tidak ingin ada yang menggerubuti kamu seperti semut. Sedari tadi mereka sedang mengincarmu.


Nggak tua nggak muda, memiliki misi yang sama untuk mendapatkanmu dan tidak akan aku ijinkan mereka menanyakan apapun padamu walaupun itu hanya sekedar basa-basi tidak jelas," ucap Daffa menarik pergelangan tangan Bunga keluar dari pintu dapur mengarah ke taman belakang mansion yang sangat luas itu.


"Daffaaaa...! itu acaranya belum selesai," protes Bunga.


"Yang pengantin itu Cintami bukan kamu. Lagian kamu hanya sebagai pelengkap di dalam sana," gerutu Daffa tidak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


Daffa menyuapi setiap potong kue ke mulut Bunga. Ia sengaja melakukan itu supaya Bunga tidak banyak protes. Bunga hanya menerima suapan demi suapan dari sang kekasih. Daffa yang masih kesal, menghapus lipstik di bibir Bunga dengan jempolnya.


"Siapa suruh kamu mengenakan lipstik? mau mencari perhatian siapa? apa tidak cukup aku yang menatapmu dan menjadi obyekmu saat ini?" gerutu Daffa posesif.


"Lipstik ini warnanya tidak mencolok Daffa. Kalau hanya pakai bedak nggak pakai lipstik aneh dandanannya," protes Bunga tidak mau kalah.


"Tanpa mengenakan make up itu kamu sudah sangat cantik, apa lagi....-"


"Iya, aku akan dandan untuk kamu saja," potong Bunga agar Daffa bungkam.


Drettttttt....


Drettttttt.....


Ponsel Bunga dan Daffa menyapa bersamaan. Melihat panggilan tugas dari bos mereka masing-masing membuat Bunga dan Daffa saling menjauh.


"Bunga...! segera ke Amerika sekarang. Satu jam lagi Helikopter akan menjemput ke kediamanmu. Ada tugas baru untukmu," ucap Mr. M.


"Daffa. Tolong dampingi agen satu FBI ke Amerika sekarang!" titah bosnya membuat Daffa bingung karena ia masih dalam masa cuti.


Rupanya panggilan itu berlaku juga untuk Cintami dan Adam karena mereka adalah agen CIA yang harus ke Virginia Amerika serikat.


"Bagaimana keseruan mereka...? tunggu siang ini..!


.....

__ADS_1


Vote dan like nya cinta please!


__ADS_2