Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
262. Silahkan Jemput Maut Kalian!


__ADS_3

Alif terkekeh mendengar cibiran pedas Nada yang menggelitik hatinya. Ia tidak begitu peduli dengan penghinaan Nada pada dirinya dan ayahnya.


"Jangan terlalu sinis, cantik! Aku dan ayahku tidak punya lagi urat malu apa lagi takut pada kelurga kalian yang penuh dengan kemunafikan itu. Oh iya, apakah kamu datang sendiri saja? Di mana ibumu yang sok pahlawan itu? Apakah dia takut bertemu dengan ayahku setelah menukar kunci milikku dengan yang palsu?" tanya Alif dengan Nada menghina.


"Mencuri darimu...? Apakah nggak terbalik perkataan itu? Cih....! Yang benar saja. Maling teriak maling. Bukankah ayahmu itulah yang merupakan maling sebenarnya? ups bukan..! maksudku kakek dan ayahmu itu adalah manusia penipu yang menghasilkan anak tidak berguna sepertimu," ledek Nada dengan tersenyum miring dari balik helmnya.


"Untuk apa kamu berdebat dengannya, nak? Bunuh dia...! Urusan kita dengan senjata kimia itu, bukan debat kusir dengan wanita tidak berguna itu," maki Dito yang terlihat panas juga dengan penghinaan Nada yang membawa nama orangtuanya.


Alif melirik lima orang anak buahnya dengan memberi isyarat melalui matanya diikuti wajah yang sedikit tertolak ke arah Nada. Dengan secepat kilat, mereka mengeluarkan samurai yang berada dari balik punggung mereka untuk menghajar Nada yang yang juga mengambil gagang samurai miliknya yang jika di pencet tombolnya, maka bilah samurai itu akan terulur keluar sesuai panjangnya.


Wajah penjahat sempat syok melihat samurai tiba-tiba bermain sendiri di depan mereka tanpa ada yang mengendalikannya karena Nada yang tiba-tiba menghilang di depan mereka.


Akhirnya mereka hanya menyerang samurai itu tanpa pengendalinya. Alif dan ayahnya juga ikut termangu melihat itu semua. Bagaimana mungkin samurai milik Nada bisa bergerak sendiri menyerang anak buah mereka.


"Apakah tadi kita bicara dengan hantu yang ada di rumah ini?" tanya Alif bergidik ngeri.


"Tentu saja tidak Alif karena aku berada di belakangmu," bisik Nada tepat di belakang kuping Alif yang langsung berbalik dengan spontan mengarahkan pistolnya ke dada Nada yang langsung mundur berapa langkah menjauhi Alif yang terlihat murka.


"Ilmu apa yang kamu gunakan hingga menjadi hantu seperti ini, wanita gila?" geram Alif yang menarik pelatuk pistolnya untuk menembak Nada, namun Nada kembali menghilang di hadapannya membuat Alif kelimpungan sendiri mencari keberadaan Nada yang sudah menempelkan punggungnya di atas plafon kamar ayahnya seperti cicak.


"Aku di sini Alif...!" desis Nada memanggil Alif yang menembak Nada membabi buta diikuti Dito yang geram juga dengan Nada yang bisa hilang muncul begitu saja dari hadapan mereka.


Sementara kelima anak buahnya masih menyerang samurai milik Nada yang sudah menyabet tubuh mereka hingga darah segar terciprat di seprei putih kamar ayahnya. Itulah cara Nada memberikan pelajaran untuk Dito, Alif dan anak buahnya.


"Serang wanita itu terus supaya ayah bisa mengambil senjata kimia itu di dalam berangkas ini!" titah Dito pada Alif yang sedang kewalahan menyerang Nada yang sejak tadi terus mempermainkan dirinya.


"Sampai kapanpun, kalian tidak akan bisa menemukan senjata kimia itu, bodoh! Lihatlah isi berangkas itu...!" ucap Nada yang langsung membuka pintu berangkas itu untuk memperlihatkan kepada Alif dan Dito agar kedua penjahat itu percaya perkataannya.


Benar saja berangkas itu benar-benar kosong membuat Dito sangat frustasi karena mereka seperti sedang di jebak oleh Amran dan Nabilla.

__ADS_1


"Sialannn....! Keluarga keparat kalian semua..!" maki Dito dengan darah yang terasa mendidih hingga mengubun.


"Mana ada pemilik rumah mau meninggalkan barang-barang berharganya saat pulang mudik untuk kalian? Bukankah safe deposit box di bank lebih aman untuk kami menyimpan segalanya di sana? Dan mungkin juga senjata kimia itu," ledek Nada untuk mengerjai Dito yang langsung syok dengan permainan Amran kali ini.


"Segera lenyapkan jala**g ini..!" titah Dito segera beranjak keluar dari kamarnya Amran.


Nada memancing Alif dan kelima anak buahnya untuk bertempur dengan dirinya di depan balkon hingga istrinya Ghaishan ini melompat ke balkon saat anak buahnya Alif menyerangnya membuat anak buahnya Alif mengira Nada benar-benar jatuh.


Namun sedetik kemudian, Nada sudah berdiri mengambang di udara bak pendekar wanita Cina yang memiliki ilmu kungfu peringan tubuh seraya bersiul. Tentu saja hal itu membuat para penjahat makin syok melihat ulah Nada yang membuat mereka juga kagum.


"Ayo ... lompat! Serang aku pengecut...!" tantang Nada menyeringai licik tanpa ingin membuka helmnya.


Dorr....dor...dorrr....


Berulang kali mereka menembaki Nada yang tidak mempan tertembus peluru. Hingga peluru di pistol mereka habis dan mereka mulai ketakutan saat melihat selosong peluru mereka tidak tersisa sama sekali di pistol mereka.


"Ayo...!" tinggalkan tempat ini....!" titah Alif ingin kabur dari Nada namun sayang pintu balkon kamarnya Amran sudah tertutup secara otomatis oleh kekuatan Nada.


"Bos...! kita tidak bisa lari dari sini bos," keluh wajah-wajah penjahat yang terlihat menyedikan itu karena tubuh mereka bersimbah darah dengan kulit terkoyak oleh sabetan samurai milik Nada.


Nada mengumpulkan ke-enam orang itu lalu di ikat dengan kekuatannya hingga tubuh ke enamnya menyatu satu sama lain dengan formasi punggung menyatu satu sama lain membentuk lingkaran.


Nada melemparkan tubuh mereka ke atas angkasa sana hingga tubuh itu melayang dengan kecepatan angin yang berhembus kencang membuat wajah mereka tak beraturan. Di saat itulah kuping dan hidung mereka mengeluarkan darah sambil menunggu ajal menjemput mereka karena kebisingan angin yang bisa membakar tubuh manusia di atas ketinggian melebihi ketinggian pesawat yang hanya berkisar 36 ribu kaki dari permukaan laut.


Nada begitu puas menjatuhkan lawannya dengan kekuatan super yang dimilikinya. Kini ia menyusul saudaranya yang sedang bertempur dengan Dito dan anak buahnya di mansion ayahnya di lantai bawah.


"Mau lari ke mana kamu, Dito?" tanya Adam saat melihat wajah Dito yang nampak pucat menuruni tangga karena takut dengan Nada yang dianggapnya hantu di rumah ini.


"Ternyata Ayahmu benar-benar pengecut hingga mengirimkan anak dan menantunya untuk menangkap ku," sinis Dito menikmati pertempuran anak buahnya yang menyerang kelurga Amran.

__ADS_1


"Daddyku tidak perlu melayani penjahat kecil sepertimu. Cukup kami yang akan membuatmu kamu menjemput ajalmu hari ini," sarkas Adam.


"Benarkah begitu?" tanya Dito yang sudah menyiapkan granat dengan menarik sumbunya untuk dilemparkan ke arah Adam dan saudaranya di bawah sana. Bahkan pria ini tidak peduli jika anak buahnya mati bersama dengan kelurganya Amran.


"Rasakan ini badebah...!" ucap Dito seraya melemparkan granat yang ada di tangannya ke arah Adam dan saudaranya namun granat itu tidak bisa ia lemparkan karena granat itu malah lengket di tangannya seperti lem.


"Apa-apaan ini kenapa tidak bisa terlepas dari tanganku?" panik Dito dengan wajah pucat sambil mengebaskan tangannya agar granat itu tidak meledak di tubuhnya.


"Jangan pernah merusak apapun yang ada di dalam rumah kedua orangtuaku dengan tubuh kotormu itu, bajingan...!" bentak Nada seraya menarik tubuh Dito untuk dilemparkan keluar sama seperti nasib putranya Alif dan anak buahnya melalui pintu utama mansion itu.


Tubuh Dito melayang ke udara hingga menembus di atas awan tanpa terlihat lagi oleh manusia bumi. Tidak lama terdengar ledakan dahsyat pada tubuh Dito dengan senjatanya sendiri.


Para penjahat yang tersisa di dalam mansion Amran tercengang melihat bagaimana Nada melewati di atas mereka dengan bisa terbang.


"Sekarang, giliran kalian menyusul bos kalian itu untuk mati bersamanya...!" ucap Nada melakukan hal yang sama pada sepuluh orang anak buahnya Dito yang cukup tangguh juga bertempur dengan para pendekarnya Amran .


Bunga, Cintami dan kedua saudaranya menjatuhkan tubuh mereka karena cukup lelah bertempur dengan para penjahat tadi.


"Apakah kita kembali lagi ke villa malam ini?" tanya Ghaishan dengan wajahnya memerah.


"Sebaiknya begitu. Karena aku tidak kuat berpisah lama dengan istriku," ucap El-Rummi yang kangen dengan Tamara.


"Aku juga," ucap Adam yang tidak ingin berjauhan dengan Syakira yang saat ini sedang manja-manjanya semenjak hamil.


"Baiklah. Ayo kita ke helikopter...!" ajak Daffa.


"Baby....! Gendong....!" pinta Bunga manja pada suaminya yang langsung syok.


"Apakah istriku juga lagi hamil?" batin Daffa yang tidak biasa mendengar rengekan manja istrinya yang tadi bertempur dengan penjahat dengan garangnya dan kini bisa berubah menjadi wanita penggoda dengan sejuta pesonanya membuat otak Daffa sedikit korslet karena sudah berfantasi liar membayangkan percintaan panas mereka nanti di villa rahasia.

__ADS_1


......................


"Hai... kita tamat ya? Mau nggak ...?"


__ADS_2