
Bunga menghadiri pesta ulang tahun nyonya Cyra. Wajah cantik itu terbalut dengan hijab pink dan dress warna marun. Bunga mengenakan sepatu boot silver untuk menutupi kaki jenjangnya. Bunga datang sendiri dengan membawa mobil sendiri.
Jenis mobil keluaran Eropa terbaru berwarna silver yang dipakainya saat ini menunjukkan loyalitas Bunga sebagai agen rahasia FBI yang tidak bisa terbaca oleh musuh. Tentu saja semuanya difasilitasi oleh FBI. Mobil itu dirancang khusus untuk Bunga yang tentunya anti peluru.
Mobil itu bisa menembakkan granat dari jarak jauh yang terletak dekat dengan knalpot mobil hanya saja tersembunyi untuk menghalangi mobil musuh jika ada yang mengejar mobilnya Bunga. Walaupun begitu ada anak buahnya Bunga yang tetap mengawasi Bunga jika mobil itu tertinggal oleh Bunga.
"Selamat malam nona...!" sapa penjaga pintu gerbang pada Bunga yang hanya memberikan undangan khusus dari nyonya Cyra.
"Malam!" santun Bunga lalu melanjutkan menjalankan mobilnya untuk mencari tempat parkir.
Undangan untuk kalangan terbatas, namun banyak sekali orang penting di dalamnya yang ternyata adalah tamu tuan Murrad dari pada tamu nyonya Cyra yang memang sangat sedikit sekali karena pergaulan wanita berusia 45 tahun ini sangat dibatasi oleh suaminya. Jika sekarang ada teman baru nyonya Cyra yang paling muda tentu saja dia adalah Bunga.
Saat Bunga melangkah masuk mencari nyonya Cyra semua mata tertuju kepada Bunga. Nyonya Cyra yang sedari tadi menunggu kedatangan gadis itu hingga meninggalkan tamu suaminya yang sedang ngobrol hangat dengannya.
"Selamat malam Bunga!"
"Malam nyonya...! anda terlihat sangat cantik dan glamor," puji Bunga tulus.
"Justru kamu yang lebih cantik diantara tamu istimewaku malam ini bahkan mengalahkan sinar bintang di atas sana," puji nyonya Cyra sambil cipika cipiki pada Bunga.
"Ini kado untuk anda nyonya. Semoga anda suka," ucap Bunga seraya menyerahkan hadiah berupa songket Bali dan Palembang.
"Aahh......! Kenapa repot-repot memberiku hadiah, Bunga. Kedatanganmu saja sudah menjadi hadiah untukku," timpal nyonya Cyra yang belum mengetahui isi kado yang diberikan Bunga untuknya.
"Itu tidak seberapa nyonya dibandingkan dengan makna dari kado itu sendiri yang menggambarkan bhinneka tunggal Ika. Semoga saja setelah melihat isi kadoku, nyonya ingat akan tanah air Indonesia," jelas Bunga memancing kesedihan mendalam nyonya Cyra.
"Bunga. Ayo...! ikut aku. Kamu belum mengenal suami dan putraku," ucap nyonya Cyra sambil menarik pergelangan tangan Bunga menuju suaminya yang berdiri dengan beberapa kolega perusahaannya.
"Apakah tidak menganggu Tuan dan putra anda, nyonya?" bisik Bunga terdengar segan namun itu yang dia mau dari Cyra untuk bertemu dengan mafia yang selalu menjual organ tubuh manusia itu entah dengan cara seperti apa dan di negara mana ia mendapatkan setiap organ itu.
"Tidak sayang. Ayolah..!" ajak Cyra yang sudah hampir dekat dengan suaminya, tuan Murrad.
Tuan Murrad yang sekarang menyamar menjadi Tuan Ben untuk menghapus jejak masalalunya yang sudah ia rekayasa dengan kematiannya yaitu kecelakaan pesawat jet pribadi miliknya di laut lepas benua Australia. Ini dilakukan agar badan intelijen Amerika yang saat itu sedang mengejarnya untuk berhenti mencarinya karena alasannya saat itu menikahi Cyra yang masih berstatus istri sah Darwish.
"Sayang." Cyra mengusap lengan suaminya yang saat ini ngobrol dengan koleganya untuk melihat dirinya.
Tuan Murrad membalikkan tubuhnya memperhatikan wajah cantik Bunga lalu beralih mengecup bibir istrinya lembut.
__ADS_1
"Kenalkan ini Bunga! gadis ini bekerja di klinik kecantikan sebagai dokter ahli kecantikan di tempat langgananku," ucap Cyra untuk memperkenalkan Bunga dan tuan Murrad yang menatap Bunga tak berkedip hingga tuan Murrad sedang memikirkan seseorang yang pernah ia kenali tapi di mana.
"Ben..!"
"Bunga..!"
Ben ingin menyalami tangan Bunga namun Bunga hanya mengatupkan kedua tangannya yang menandakan dia tidak ingin disentuh kalau bukan muhrimnya. Ben mengerti adab Islam itu. Sementara putranya Alinskie melihat Bunga yang sedang berbincang hangat dengan kedua orangtuanya tergoda juga untuk mengenal Bunga yang terlihat sangat cantik dari gadis-gadis yang datang di pesta ulang tahun ibunya itu.
"Silahkan menikmati pestanya ..! aku tinggal sebentar. Permisi..!" pamit Alinskie pada ketiga orang gadis yang sedang mengerubutinya.
"Ok. Terimakasih tampan..!" ujar salah satu gadis cantik hendak mengecup bibir Alinskie namun tangan satu pria tampan itu spontan mencegah aksi gadis seksi itu untuk menyentuhnya.
Melihat Alinskie berjalan ke arah Bunga, ketiga wanita itu baru paham kalau mainan mereka sengaja diambil Bunga.
"Sialan...! kita harus memberi pelajaran pada wanita ja**Ng itu!" maki Tasya.
"Kita akan ikuti gadis itu saat ia pulang dari sini dengan begitu kita bisa melenyapkannya dengan mudah," timpal Vanea.
"Itu ide yang sangat baik sekali, Vanea," desis Leidena. Ketiganya terkekeh bersamaaan membayangkan Bunga akan mereka permalukan dan juga akan mereka bunuh.
"Bunda. Siapa gadis cantik ini?" tanya Alinskie sambil mengerlingkan mata nakalnya pada Bunga. Bunga memutar bola matanya jengah namun tetap terlihat elegan seperti gadis pemalu.
"Alinskie. Kenalkan ini sahabat baru bunda! Bunga ini putraku..!" ucap Cyra memperkenalkan Bunga dan putranya.
Keduanya menyebutkan nama mereka masing-masing tanpa Bunga mau bersalaman." Cih...! seberapa alimnya gadis ini. Akan ku buat kau jatuh dalam pesonaku dan juga kekayaan yang aku miliki, gadis angkuh," seringai iblis menyeruak dari Alinskie yang tidak menyukai sifat angkuh Bunga padanya.
"Alinskie. Tolong temani Bunga ngobrol! bunda mau menyapa tamu lainnya," ucap Cyra lalu pamit pada Bunga juga.
"Dia aman bersamaku, bunda," tawa kecil Alinskie penuh kemenangan untuk menjebak Bunga.
Bunga pura-pura melihat pesan di ponselnya namun matanya tetap terlihat waspada saat Alinskie mengambil minuman untuknya. Mr. M memberitahukan kepada Bunga apa yang dilakukan oleh Alinskie saat ini.
"Bunga..! berhati-hatilah karena saat ini putranya Murrad sedang memasukan obat perangsang ke dalam minumanmu. Sepertinya dia ingin menjebakmu dalam minuman itu. Hati-hati...!" ucap Mr.M yang tetap memantau Bunga di area pesta itu dari Amerika sana.
"Aku tahu Mr. M," ucap Bunga lalu mengambil obat penawar untuk meminumnya terlebih dahulu sebelum Alinskie mendekatinya.
"Nona Bunga. Aku membawakan minuman untukmu non alkohol. Jilbabmu yang sudah mengingatkan aku bahwa kamu gadis yang pasti sangat taat pada agamamu. Silahkan di minum ...!" pinta Alinskie seraya menyerahkan minuman ringan itu pada Bunga yang menerimanya dengan senang hati.
__ADS_1
"Terimakasih. Ternyata selain tampan anda sangat murah hati pada wanita sepertiku. Padahal banyak sekali gadis cantik dan seksi yang tidak segan memamerkan keindahan tubuh mereka demi mendapatkan perhatianmu," sarkas Bunga sambil meneguk sedikit minuman itu membuat Alinskie kegirangan saat ini.
"Mereka sudah biasa ku pandangi secara gratis tanpa aku memintanya dan semua orang dapat menikmati tubuh mereka karena mereka ingin diperhatikan dengan cara obral. Tapi dengan melihat penampilanmu ditengah wanita setengah telanjang itu, kau terlihat lebih bernilai hingga kami sebagai pria tunduk hormat padamu karena nilaimu yang tak ternilai dengan apapun.
Apakah kamu sudah memiliki kekasih, nona Bunga?" puji Alinskie setinggi langit namun juga rasa penasarannya siapa pemilik hati wanita cantik nan anggun di hadapannya saat ini.
"Aku sudah menikah. Jangan coba-coba menggodaku, tuan Alinskie! Anda memang sangat tampan dan kaya tapi suamiku dan juga aku bukan berasal dari keluarga kere yang akan bertekuk lutut padamu dengan apa yang kamu miliki," angkuh Bunga.
"Seberapa kaya dirimu nona? jika uangmu lebih banyak dariku, mengapa susah payah menjadi dokter kecantikan di klinik negara ini?" tanya Alinskie merendahkan harga diri Bunga yang dianggapnya pembual.
"Kekayaan kelurgaku bisa membeli harga dirimu dan semua aset berharga keluargamu," balas Bunga lalu pura-pura mendesis sakit kepala.
"Auggh..ssstt kepalaku!" Bunga mengeluh sakit langsung direspon oleh Alinskie yang ingin membantunya namun Bunga sudah mengangkat tangannya menahan tubuh putranya Murrad itu yang tinggal satu langkah lagi mendekatinya.
"Aku bisa sendiri dan jangan coba-coba mendekatiku!" sergah Bunga dengan tatapan horor.
"Apakah kamu bisa pulang sendiri?" tanya Alinskie tidak sabaran untuk mendapatkan Bunga.
Bunga tidak ingin menjawabnya karena ia ingin segera meninggalkan tempat itu. Ia hendak menyebrang jalan menuju mobilnya namun ada mobil lain yang datang dari samping kanannya yang hampir menabrak dirinya membuat spontan Bunga jatuh.
Ternyata di mobil itu ada Vanea yang ingin menabraknya. Bunga segera bangkit dan minggir. Ia menghampiri Vanea dan teman-temannya gadis itu yang menertawai dirinya.
"Ini baru peringatan untukmu agar tidak mengambil sesuatu yang bukan milikmu nona!" kecam Vanea sambil menginjak pedal gas mobilnya namun tangan Bunga lebih cepat menjambak rambut Vanea saat mobil sedang berjalan.
Dan Bunga menyesuaikan langkahnya dengan kecepatan mobil Vanea yang sudah hilang kendali dan tidak bisa melihat ke depan. Setelah itu Bunga baru melepaskan tangannya dari rambut Vanea yang berteriak kesakitan.
Mobil Vanea harus menabrak mobil para tamu undangan lainnya membuat tujuh mobil itu berbunyi secara bersamaan karena terseret benturan mobil Vanea. Bunga tersenyum puas melihat ketiga gadis itu yang terlihat syok di dalam sana.
Baru saja Bunga hendak membalikkan tubuhnya, seseorang sudah menutupi matanya dengan plastik hitam membuat berusaha melawan namun ia takut penyamarannya terbongkar dan pasrah menerima perlakuan orang itu yang ternyata anak buahnya Alinskie.
"Bawa dia ke mobilku dan antarkan gadis ini ke markas!" titah Alinskie yang ingin menikmati tubuh Bunga.
Bunga yang pura-pura pingsan mendengar ucapan Alinskie tentang markas membuatnya merasa senang. Akhirnya ia bisa mendapatkan bukti kejahatan tuan Murrad dan putranya.
Dengan begitu ia bisa menangkap keduanya yang menjadi buronan intelijen Amerika sejak lama karena Murrad selalu berpindah tempat dengan beberapa kali melakukan operasi plastik untuk merubah bentuk wajahnya agar tidak tertangkap oleh FBI yang saat ini masih curiga dengan keberadaannya karena motif kejahatan pelaku masih sama.
"Cepatlah berengsek...! aku ingin membumihanguskan markas terkutukmu itu setelah membebaskan orang-orang yang tidak berdosa di dalam sana," batin Bunga dengan tekad yang bulat.
__ADS_1
.........
Vote dan likenya cinta please!