Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
73. Calon Agen


__ADS_3

Nabilla dan tuan Rusli saling menatap. Tuan Rusli yang lebih cepat menguasai kegugupannya lalu menjawab pertanyaan Amran.


"Ayah hanya menanyakan peninggalan ibunya Nabilla yang dulu pernah ayah titipkan untuk memakaikan pada tangan Nabilla jika sudah lahir," ucap tuan Rusli memberi alasan pada menantunya.


"Oh, sejenis gelang ya, ayah?" tanya Amran.


"Iya," jawab tuan Rusli singkat.


Nabilla yang mengetahui gelang itu yang sampai saat ini masih ia simpan tapi ada di apartemen miliknya. Karena mereka tinggal di mansion kakek hanya untuk sementara waktu.


"Ada hubungan apa gelang itu dengan FBI?" batin Nabilla sambil mengikuti langkah kedua laki-laki yang ada di depannya.


"Kak Nabilla. Semuanya sudah pada di mobil untuk berangkat ke pantai," ucap Lea.


"Iya sayang." Nabilla mempercepat langkahnya meninggalkan Amran dan ayahnya yang masih ngobrol tentang sindikat mafia.


Tiga mobil itu sudah berjalan menuju pantai membawa kelurga besar itu tamasya. Di sepanjang jalan nampak deretan pohon kelapa yang tumbuh berjajar di sepanjang jalan itu. Belum lagi pepohonan rindang lainnya memanjakan mata mereka saat ini. Mobil milik Amran yang lebih dulu memimpin dua mobil lainnya menuju pantai.


Tidak lama berselang, mereka sudah tiba di area pantai. Rupanya sudah ada tiga tenda yang di bangun di tempat itu untuk rombongan itu. Mungkin Amran sudah meminta anak buahnya membuat tenda untuk mereka beristirahat.


Kelima gadis itu turun dengan cepat menyapa bibir pantai. Mereka sedikit mengangkat rok mereka agar tidak terkena sapuan ombak. Arsen ikut nimbrung dengan tante-tantenya yang saat ini memendam kedua kaki mereka di dalam pasir merasakan dinginnya air laut.


"Tante Lira. Kita jalan-jalan ke sana yuk!" ajak Arsen.


"Iya sayang." Lira menggandeng tangan calon anak sambungnya berjalan menyusuri pantai.


Wira yang melihat itu tidak ingin ketinggalan. Ia berlari mengejar putra dan wanitanya." Kok main tinggal aja, nggak ngakak-ngajak ayah?" sungut Wira sambil menggandeng tangan putranya. Kini Arsen berada di antara pasangan itu.


"Kalau seperti ini, kita sudah terlihat seperti keluarga bahagia, ayah. Pulang nanti langsung nikah yah!" pinta Arsen.


"Iya sayang," ucap Wira sambil mengerlingkan matanya pada Lira yang tersipu malu.


Amran dan Arland sedang sibuk membahas sesuatu. Kesempatan itu di gunakan tuan Rusli untuk mengajak Nabilla ngobrol. Tuan Rusli menarik tangan putrinya menjauhi ketiga gadis itu.


"Sayang. Ayah ingin bicara sebentar!" pinta tuan Rusli.


"Apakah ayah masih penasaran dengan gelang itu?" tanya Nabilla.


"Iya. Apakah kamu masih menyimpannya, sayang?"


"Masih ayah. Emang ada apa dengan gelang itu?"


"Sebenarnya gelang itu untuk ayah. FBI ingin melacak ayah jikalau ayah berkhianat karena ayah recent dari agen itu," ucap tuan Rusli.


"Lantas ada hubungan apa antara aku dan gelang itu?"


"Sebagai gantinya mereka mengincarmu karena gelang itu ada padamu. Secara tidak langsung mereka mengikuti perkembanganmu. Gelang itu ada pelacaknya. Bukankah kamu menyesaikan pendidikan S2 di usia 15 tahun? dan tiga tahun lebih kamu menjadi agen rahasia dan pulang ke Indonesia baru menetap tiga bulan di kampung karena ayah angkatmu jatuh sakit, bukan?" tanya tuan Rusli.

__ADS_1


"Sebelumnya aku kerja untuk CIA lalu FBI melamarku untuk bergabung dengan mereka," ujar Nabilla.


"Jadi kamu agen lepas yang tetap mereka awasi?" tanya tuan Rusli.


"Iya. Seperti itu ayah," ujar Nabilla.


"Berarti mereka mengetahui kamu putri kandungku. Usia berapa kamu ke luar negeri, Nabilla?"


"Saat usiaku sepuluh tahun aku kuliah di London dan tinggal di asrama karena masih dibawah umur. Di asrama itu semua anak jenius di kumpulkan. Karena aku hobi belajar tidak merasa terkekang dengan aturan itu. Kami tumbuh bersama hingga pendidikan kami selesai. Sampai akhirnya aku dibawa ke Amerika.


Aku belajar banyak hal dan diminta untuk membuat peralatan canggih untuk menunjang kinerja agen satu. Saat aku kembali ke Indonesia, aku masih di minta untuk bekerja untuk mereka namun aku menolak karena aku ingin negaraku juga tahu aku bekerja untuk mereka hingga pada akhirnya dunia memintaku untuk melakukan sesuatu hal yang dibutuhkan mereka berkaitan dengan mafia oknum pejabat atau pendukungnya seperti gangster mematikan yang mengancam masing-masing negara," ungkap Nabilla.


"Good job, baby! jika negara tidak mengetahui tentang kinerjamu untuk negara lain, maka jika terjadi sesuatu padamu, negara asalmu tidak bisa mengusut keberadaanmu," puji tuan Rusli pada putrinya.


"Ayah!" Tuan Rusli dan Nabilla menoleh saat dokter Mariska membawa minuman kemasan dan juga roti burger untuk mereka.


"Terimakasih bunda!" Nabilla menikmati burger sambil melirik ayahnya untuk tidak membahas lagi.


"Nanti malam ada pernikahan dadakan untuk dua pasangan yang masih jomblo itu. Tuan Recky akan datang bersama penghulu teman dekatnya atas permintaan tuan Abdullah. Ini kejutan untuk keduanya. Saat ini dua kamar kosong sudah dihias untuk dua pengantin itu," ucap dokter Mariska.


"Mendadak sekali bunda," ucap Nabilla.


"Tidak mendadak. Semuanya sudah direncanakan para orangtua sebelum kita berlibur ke sini," ucap tuan Rusli.


"Berarti ini pernikahan resmi?" tanya Nabilla.


"Syukurlah. Kalau begitu mama Arumi juga ikut?" tanya Nabilla terlihat kuatir.


"Kabarnya dia ke Belanda untuk menenangkan pikirannya di rumah saudaranya yang ada di Belanda usai perceraian," ucap tuan Rusli.


"Wah keren. Pasti kedua pasangan itu sangat senang mendapatkan surprise ini," ucap Nabilla.


"Keduanya mengenakan kebaya milik Nadine dan Celia. Ummi Arumi yang sudah mempersiapkan untuk Lira dan Lea," timpal dokter Mariska.


"Aku jadi tidak sabar melihat ekspresi mereka nanti setelah mengetahui mereka malam ini menikah," ucap Nabilla.


"Ayah, bunda. Apakah aku bisa meminjam Istriku sebentar?" pinta Amran yang sedari tadi sudah nganggur karena semua pada punya pasangan.


"Silahkan nak Amran!" ujar dokter Mariska.


"Maaf ayah, bunda! Nabilla tinggal dulu."


Amran merengkuh pinggang istrinya membawa Nabilla ke dalam mobilnya. Amran ingin jalan-jalan dengan istrinya menggunakan mobil menyusuri pantai. Keduanya memang sudah berjanji semalam.


Mobil itu mulai bergerak berlawanan arah dengan keempat pasangan yang tadi sudah menyusuri pantai. Sekitar 300 meter, Nabilla melepaskan gamisnya dan juga hijabnya. Kini penampilannya sudah nyentrik dengan kaus nyentrik sangat ketat dengan celana jins. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan kacamata hitam bertengger dihidung mancungnya.


"Sial! kenapa dia sangat cantik dan bukan Nabilla alim yang aku kenal," puji Amran membatin.

__ADS_1


Amran membuka kap atap mobil secara otomatis dan keduanya merasakan angin pantai menerpa wajah mereka hingga mempermainkan rambut panjang Nabilla yang bergerak indah mengikuti alur angin.


Sekitar sudah cukup jauh mereka menempuh jarak dari tenda, Amran menghentikan mobilnya. Keduanya turun dari mobil. Amran menggendong Nabilla yang sudah berkoala dipinggangnya.


Tubuh Nabilla memang lebih semok usai melahirkan. Dan tampilannya makin seksi." Baby. Aku begitu bodoh mengabaikanmu saat itu. Seharusnya kita sudah banyak anak jika kamu tidak kabur dariku saat itu. Aku tidak bisa berhenti bersyukur mendapatkanmu," ucap Amran lalu memagut bibir sang bidadari. Keduanya bercumbu di hamparan pasir putih pantai itu.


Keduanya saling melakukan Selfi untuk koleksi pribadi mereka. Puas bercumbu dan Selfi, mereka kembali berkumpul di tenda untuk menikmati makan siang yang sudah disiapkan oleh dokter Mariska dan ummi Ambar. Kini Nabilla sudah rapi dengan gamis serta hijabnya. Amran tidak berhenti menggoda sang istri karena tidak sabar untuk kembali ke villa. Apa lagi kalau bukan untuk bercinta.


"Wira, Lira, Devan dan Lea. Kalian harus mempersiapkan diri untuk pernikahan nanti malam," ucap kakek Abdullah membuat keempatnya tersedak berjamaah.


Uhuk....uhuk..uhuk...


"Minum.... minum.....!" titah nenek pada kedua pasangan itu.


"Tapi kami...-" Lira belum sempat menjawab, kakek Abdullah langsung menyambung lagi ucapannya.


"Ayahmu sudah mempersiapkan dokumennya untuk pernikahan kalian dan penghulunya juga. Apakah kalian tidak kasihan pada Devan dan Wira yang hanya bisa gigit jari melihat saudara kalian sudah pada menikah dan sedang bulan madu. Lebih baik sah kan malam ini," ucap tuan Abdullah.


Devan dan Wira langsung melakukan tos sambil mengucapkan Hamdallah. Sementara Lira dan Lea hanya saling menatap lalu melihat Nabilla dan Amran yang hanya mengangkat kedua bahu mereka.


Nadin melihat pohon kelapa yang banyak buahnya. Iya meminta suaminya untuk mengambil buah kelapa itu.


"Sayang. Aku mau minum air kelapa dan makan dagingnya. Tolong panjat untukku dan ambil buah kelapa itu," pinta Nadin manja.


"Aku tidak bisa manjat, Nadin," tolak Arland.


"Berarti kak Reno dan kak Wira bisa?" tanya Nadin.


Kedua kakaknya menggeleng kepala mereka. Nabilla yang mendengar itu tidak tega. Ia beringsut berdiri dan berjalan ke mobil suaminya karena tadi ia melihat senjata Laras panjang milik suaminya di bawah jok mobil.


Tanpa banyak bicara, ia menarik pelatuk itu dari jarak yang lumayan jauh dan menembakkan tangkai yang banyak buah kelapa mudanya.


Dorrrr.....


Semua orang pada kaget menembak tembakan bersamaan buah kelapa jatuh kedebuk di atas pasir itu.


"Hahhhh ....?" itu Nabilla yang menembak?" tanya dokter Mariska dan ummi Ambar tidak percaya.


"Tuh Nadin. Kamu bisa minum sepuasnya," ucap Nabilla membuat Amran terkekeh.


"Bini gue maunya yang instan coyy," ucap Amran bangga.


...


Vote and like nya say, please!


__ADS_1


Visual Nabilla


__ADS_2