
Pagi cerah. Panorama keindahan villa dengan aroma alam yang begitu harum bagaimana pohon Pinus di hutan sana menyemburkan aroma khas tubuhnya tertiup angin segar ke villa itu mengisi rongga paru-parunya penghuni villa.
Keluarga besar itu nampak duduk santai di pekarangan villa dan berfokus pada tingkah lucu nan manja pada tiga boneka kecil menggemaskan dengan switer yang mereka kenakan saat ini sambil bercanda dengan nenek-nenek mereka yang menggoda mereka pagi itu. Suara tawa cekikikan membuat yang lainnya ikut terkekeh.
Nabilla yang hanya memakai gamis dan hijab saja diminta oleh Amran untuk tidak memakai cadar karena ia ingin bebas menikmati wajah cantik istrinya tanpa polesan itu karena bibir Nabilla sudah terlihat ranum. Hanya karena permintaan suaminya, Nabilla mau melakukannya.
Saat ini, Nabilla adalah orang yang paling terakhir bergabung dengan keluarganya karena dia baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai ibu yang menyusui ketiga bayinya, membuat ia baru bisa mengurus diri sendiri.
Semua mata tertuju pada Nabilla yang sedang menghampiri keluarga besarnya yang duduk di taman menatap wajah cantik bak boneka Barbie itu. Wira, Reno, Arland belum bisa move on dari pesona kecantikan istrinya Amran itu.
"Masya Allah. Betapa sempurnanya ciptaanMu ya Allah," tutur Wira lalu bangkit mengalihkan pandangannya sekejap saja lalu beralih menatap ke arah Lira yang tidak mempersalahkan sang kekasih menatap wajah Nabilla karena ia sebagai wanita saja mengagumi pahat cantik itu.
"Sayang. Apakah pagi ini kita jadi ke pantai?" tanya Celia yang sudah berdiri mengalihkan pandangan suaminya kepada Nabilla. Gadis cantik ini juga tidak begitu cemburu karena ia tahu itu hanya bagian nilai kagum manusia karena tidak bisa membohongi mata pada keindahan ciptaan Allah.
"Iya sayang. Tapi kita harus sarapan dulu baru berangkat bersama rombongan. Lagian mobilnya masih di panaskan dulu karena jarang digunakan. Kata Arland begitu," ujar Reno menatap sang istri.
"Baiklah. Apakah aku sudah terlihat cantik, kak Reno?" tanya Celia.
"Sangat cantik, baby! puji Reno.
"Apakah kak Reno hanya menjadikan aku sebagai objek pemandangan paling indah di sini hanya cukup aku saja?" bujuk Celia.
"Sayang. Maafkan aku karena tadi aku hanya kaget saja melihat Nabilla tidak mengenakan cadarnya. Hanya itu," tutur Reno memberi alasan.
"Mengagumi tidak berarti sukakan? aku sangat mempercayaimu kak karena aku juga sebagai wanita sangat suka menatap kecantikan kak Nabilla, apalagi kalian lelaki. Allah memberikannya kesempurnaan fisik dan wajah yang sangat cantik dan kak Nabilla menyembunyikan kecantikannya agar wanita lain tidak merasa kecil pada pasangannya.
Mungkin ia membukanya karena permintaan kak Amran yang iri dengan kalian pria yang menatap pasangannya tanpa perlu terhalang cadar. Kita harus hargai usaha kak Nabilla untuk menyenangkan suaminya," ucap Celia bijak.
"Terimakasih Celia. Kamu memang istimewa. Jangan ragukan cintaku, sayang," ucap Reno.
Amran menghampiri istrinya lalu merengkuh pinggang Nabilla posesif. Mungkin dirinya merasa paling bangga saat ini memiliki kecantikan istri di atas rata-rata." Kamu sangat cantik sayang," puji Amran.
"Terimakasih, mas! Apakah kamu tidak kasihan dengan pasangan yang lain, mas. Aku jadi nggak enak sama yang lain," gugup Nabilla yang tidak biasa tampil tanpa cadar di depan pria lain sekalipun mereka sudah bagian dari keluarga.
"Kamu lakukan ini hanya untuk aku sayang. Dan isya Allah adik-adikku sangat mengerti dan tidak akan cemburu padamu," ucap Amran meyakinkan istrinya.
__ADS_1
"Nona Nabilla. Sarapan sudah siap. Silahkan masuk untuk sarapan bersama," ucap bibi Yanti.
"Baik bibi. Tolong beritahukan yang lain dan kita sarapan bersama pagi ini. Apakah bibi juga sudah menyiapkan bekal untuk kita tamasya ke pantai nanti?" tanya Nabilla.
"Sudah nona." Bibi Yanti memberitahukan anggota keluarga yang lainnya.
Sesaat kemudian, semuanya sudah berkumpul di halaman belakang untuk sarapan pagi karena di sana sudah di siapkan meja panjang agar muat untuk menampung anggota keluarga besar itu. Masing-masing wanita melayani suami dan kekasih mereka. Sementara ummi Ambar hanya menggoda ketiga cucunya yang sedang berbaring di stroller baby itu.
"Oma makan dulu ya. Kalian main dulu sendiri," ucap ummi Ambar.
"Biar Arsen yang mengawasi mereka Oma," ucap Arsen yang paling senang bermain dengan ketiganya.
"Kamu juga harus makan Arsen. Nanti lagi main dengan mereka. Bibi Yanti tolong awasi cucu-cucuku!" pinta ummi Ambar.
"Baik nyonya." Bibi Yanti menarik stroller baby dan menjaga ketiga bayi itu sambil mengajak ketiganya ngobrol. Bayi berusia empat bulan ini seakan mengerti apa yang sedang dibicarakan bibi Yanti dengan mereka.
"Makan yang banyak. Setelah itu kita ke pantai!" titah nenek Anisa.
"Kita buat rujak ya untuk di bawa ke pantai," pinta Nadine pada keempat iparnya yang duduk tidak jauh darinya.
"Emang kamu sudah ngidam Nadine?" tanya dokter Mariska karena Nadine yang saat itu lebih dulu menikah.
"Siapa tahu saja langsung tokcer," ucap dokter Mariska.
"Benarkah?" Arland terlihat berbinar cerah.
"Tunggu seminggu lagi dan coba kalian lakukan dengan tes sederhana dengan testpack," timpal dokter Mariska.
"Kalau hasilnya cuma satu janin, berarti benihmu belum unggul menyaingi aku karena aku masih jadi pemenangnya karena benihku berebut untuk menjadi anakku, tuh buktinya langsung tiga," ucap Amran dengan angkuh.
"Cih. Sok pamer. Aku juga bisa mengalahkan kamu. Aku nanti langsung empat," sindir Reno yang ingin juga istrinya cepat hamil.
Celia mencubit perut suaminya." Jangan sesumbar begitu, kak. Nanti terjadi beneran lagi, kak Reno," Celia terlihat manyun.
"He...he ..aku hanya ingin menjatuhkan keangkuhan abangmu yang reseh itu. Sok pamer," ucap Reno cengengesan.
__ADS_1
"Tidak usah didengerin. Mas Amran suka ngaco," timpal Nabilla.
Drettttt ....
"Kode panggilan merah(red dialing code)" ucap operator ponsel pintar milik Nabilla membuat tuan Rusli mengangkat wajahnya menatap Nabilla penuh tanya.
"Bukankah itu panggilan untuk agen tingkat dua?" batin tuan Rusli menghentikan sarapannya.
"Mas. Nabilla terima telepon sebentar, ya baby," ucap Nabilla lalu mengecup pipinya Amran sambil membawa ponselnya menjauhi keluarganya.
Tuan Rusli penasaran mengikuti langkah kaki putrinya. Ia ingin mendengar pembicaraan putrinya dengan seseorang di seberang sana.
"Agen dua. Anda di minta ke gedung putih dua hari lagi. Apakah anda siap. Kami sudah minta ijin pada otoritas pimpinan satu untuk mengirim anda dengan pengawalan pasukan berani mati untuk anda. Apakah anda siap?" tanya tuan M.
"Aku memiliki tiga bayi yang tidak bisa aku tinggalkan dalam waktu yang lama. Dan aku belum membuka jati diriku pada suamiku. Bagaimana aku harus melakukannya?" tanya Nabilla bingung.
"Baik. Akan kami urus dengan menghubungi orang nomor satu RI untuk mengurus keberangkatanmu," ucap tuan M.
"Siap Mr. M." Nabilla mengakhiri panggilannya.
"Apakah kamu adalah agen FBI, Nabilla?" tanya tuan Rusli.
Deggggg...
Nabilla membalikkan tubuhnya sambil melihat ke kanan dan kiri." Ssssttt...! bagaimana ayah menuduhku seperti itu?" tanya Nabilla dengan jantung hampir terlepas.
"Setiap agen punya kode tersendiri. Ayah tahu betul-betul kode-kode itu, Nabilla. Karena ayah juga mantan agen itu walaupun bukan bagian lapangan tapi bagian IT sama sepertimu, tapi tunggu! Apakah saat kamu masih bayi atau balita mengenakan gelang tertentu yang diberikan ibumu?" tanya tuan Rusli.
"Gelang....? ada apa dengan gelang itu ayah...?" tanya Nabilla.
"Jawab saja pertanyaan ayah. Apakah kamu memilikinya?" desak tuan Rusli.
"Memiliki apa ayah?" tanya Amran yang sudah ada di belakang mereka.
Deggggg....
__ADS_1
......
Vote dan like nya Cinta, please!