
Sekitar lima helikopter mengudara menuju villa tersembunyi milik Amran. Helikopter pertama membawa pasangan Arland, Nadin, Celia dan Reno.
Helikopter kedua membawa Nabilla, Amran, ummi Ambar dan nenek Anisa beserta ketiga bayinya Amran. Sementara itu helikopter lainnya membawa Wira, Devan, Arsen, Lira dan Lea. Terakhir rombongan kakek Abdullah, tuan Rusli dan dokter Mariska. Nyonya Irene tidak ikut karena sedang ada urusan pribadi. Tuan Recky juga sedang mengikuti sidang perceraiannya dengan Arumi yang hari itu diputuskan pengadilan agama.
Saat helikopter itu hendak turun di depan landasan pacu, mata Nadin dan Celia begitu takjub melihat pemandangan villa dari helikopter
"Masya Allah. Ini benar-benar surga dunia," gumam Nadin.
"Apakah kamu ingin punya villa seperti itu, Baby?" tanya Arland yang melihat Nadin yang sedang takjub pesona villa.
"Aku tidak ingin memaksamu, suamiku. Tapi, jika kamu ingin memberikannya, itu sangat membuatku merasa paling berharga untukmu," jelas Nadine.
"Cih ..! perempuan paling pintar merayunya. Tidak memaksa tapi memberikan pilihan. Dasar perempuan, nomor satu perempuan tidak pernah merasa salah, tidak ingin disalahkan dan selalu merasa benar walaupun salah," batin Arland.
"Insya Allah, sayang. Tapi masih tetap cintakan sama aku?" tanya Arland.
"Hanya Allah yang tahu bagaimana aku padamu, Baby," ucap Nadine lalu mengecup bibir Arlan saat helikopternya mendarat sempurna.
Arland hanya bisa tersenyum mendengar ucapan istrinya. Kedua pria itu turun lebih dulu lalu menggendong ratu mereka untuk bisa turun.
Mereka lalu berlari menjauhi helikopter yang kembali mengudara. Tidak lama berselang helikopter yang lainnya saling menyusul bergantian mendarat di tempat itu. Kini semuanya sudah berkumpul di halaman villa di mana lima orang pelayan siap menyambut kedatangan rombongan itu.
Nabilla melihat beberapa tanaman yang pernah ia tanam kini sudah mulai meninggi. Pohon jeruk mandarin dan juga pohon mangga. Bahkan sudah berbuat lebat. Waktu yang tepat untuk panen. Belum lagi beberapa jenis sayuran, cabe, tomat dan ada bumbu dapur yang terdapat di sekeliling villa.
"Silahkan tuan, nyonya!" Sambut bibi Yanti.
"Apakah kamarnya sudah di namakan bibi?" tanya Nabilla.
"Sudah nona. Yang paling spesial tentu saja untuk pengantin baru dan juga nona Nabilla dan tuan Amran," ucap bibi Yanti.
"Terimakasih bibi! maaf ya nanti kami akan merepotkan kalian semua selama di sini," ucap Nabilla.
"Insya Allah tidak nona. Ini sudah kewajiban kami untuk melayani kelurga ini," ucap bibi Yanti.
__ADS_1
Amran mengambil baby Adam yang sudah makin montok saat ini dari gendongan istrinya.
"Biar ketiga bayimu tidur sama ummi saja Nabilla. Ummi kesepian di kamar sendiri," ucap ummi Ambar.
"Ummi tidur sama baby Bunga saja. Adam dan Cintami sama kami," ucap Nabilla.
"Tidak begitu Nabilla, biar Adam sama bunda Riska dan Cintami sama nenek Anisa, itu baru adil karena semuanya dapat momong cucu," ujar nenek Anisa.
"Sayang. Iya in aja. Itu bentuk kode agar kita bisa buat cucu lagi untuk mereka," bisik Amran.
"Ihhh... maunya!" Nabilla masuk ke kamarnya karena malu.
"Tapi, kamu setujukan. Bukankah kamu yang selalu menikmati permainannya?
Ayo baby yang cepat gerakannya. Ahh.. ini sangat nikmat. Teruss jangan berhenti," goda Amran mengulangi kata-kata istrinya saat mereka bercinta membuat Nabilla makin malu.
"Aku nggak begitu. Itu kelakuannya mas Amran," Nabilla mendengus kesal.
Amran meraih pinggang Nabilla membuka cadar dan jilbab istrinya. Hawa dingin di puncak itu membuat mereka harus saling menghangatkan tubuh dengan bercinta.
"Kak Reno. Tolong ajarin Celia apapun tentang masalah ranjang. Insya Allah Celia berjanji akan memuaskan kak Reno. Tolong jangan berpindah ke lain hati jika kak Reno menemukan kekurangan padaku. Lebih baik jujur pada Celia yang kak Reno butuhkan walaupun Celia di minta untuk jadi pelacur buat kak Reno," ucap Celia penuh penekanan pada setiap kalimatnya membuat Reno mengerti bahwa Celia butuh dibimbing olahnya.
"Iya wanitaku. Apapun untukmu aku akan penuhi karena itu adalah rahasia menjaga keutuhan rumah tangga kita. Yang penting kamu harus memberikan aku kesempatan menjadi suami yang baik untukmu karena aku bukan pria suci sesuci tubuhmu dari jamahan pria," imbuh Reno yang tahu Celia trauma dengan perceraian kedua orangtuanya.
"Apakah kamu mencintai aku, kak Reno?" tanya Celia.
"Demi Allah. Aku bersumpah disetiap benihku yang akan tumbuh dalam rahimmu ini. Aku mencintaimu, Celia!" ucap Reno lalu melepaskan benihnya bersama Celia yang mengerang nikmat walaupun masih ada rasa sakit pada intinya setelah sepekan bercinta sejak keduanya menikah.
Saat malam tiba, selepas sholat isya, keluarga nampak berkumpul untuk makan malam. Para pelayan sedang buat barbeque dibantu oleh Nabilla Celia dan Nadin.
Sementara yang masih jomblo saat ini lagi sedang melakukan pendekatan. Yaitu Wira yang masih mengejar Lira yang nampak murung memikirkan perceraian kedua orangtuanya dan juga kekasihnya Darren yang berengsek itu. Begitu pula dengan Lea yang sedari tadi mengusap air matanya.
Devan membiarkan lengannya menjadi sandaran untuk Lea.
__ADS_1
"Lea. Aku memang tidak tahu rasanya ketika kedua orangtua bercerai. Tapi, nasib kita hampir serupa karena ibu kita telah merebut cinta wanita lain demi ambisi mereka dan kita jadi korbannya. Aku dipertemukan dengan saudaraku Nabilla belum lama ini. Begitu juga kamu baru bertemu dengan Amran dan Celia saudara tirimu. Dan itu rasanya sangat bahagia terlepas dari masalah kedua orangtua kita melahirkan kita sebagai anak dari pelakor. Memang ibu kita salah tidak bisa diganggu gugat. Tapi ada yang bertahan sampai saat ini seperti ibuku. Dan ada yang harus berpisah seperti ibumu," ucap Devan.
"Cinta ibumu tulus pada ayahmu, say. Tapi cinta mamaku pada papaku karena harta dan itu sangat menyakitkan, say," ucap Lea yang senang memanggil Devan dengan panggilan Say.
"Kalau ingat sakit hati, yah nggak akan habisnya, Lea. Tapi papamu hebat karena membesarkan putrinya dengan uang yang halal. Itulah mengapa kalian berdua tidak mengalami kebangkrutan moral. Itu yang aku salut pada paman Recky. Walaupun dengan keluarga yang lain dia tidak berlaku adil.
Tapi menjaga kedua anak perempuan dengan jerih payah dan perhatiannya demi menjaga moral kalian ditengah kemewahan dunia yang menggiurkan, iman kalian tidak goyah padahal memiliki kakek seorang konglomerat, itu sangat menakjubkan," hibur Devan.
Sementara itu, Wira yang membawa tisu dan minuman hangat yaitu wedang jahe untuk Lira, duduk di samping Lira sambil menghapus air mata gadis itu yang tidak bisa berhenti. Wira memberikan Lira minuman itu dan Lira meminumnya sedikit.
"Lira. Kalau air matamu bisa aku jual, pasti aku tampung untuk di jadikan parfum. Sayang sekali terbuang terus dari tadi. Matamu sampai bengkak lagi.
Simpan juga buat nanti saat pernikahan kita. Apakah aku tidak memenuhi syarat sebagai kekasihmu, Lira?" tanya Wira.
Lira menggeleng." Lalu apa yang membuatmu tidak mau denganku? apakah karena aku seorang duda dengan anak satu?" tanya Wira lagi.
"Aku hanya seorang putri dari pelakor. Apakah kak Wira masih mau denganku?" tanya Lira dengan suara tercekat.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, sayang. Kamu mau menerima cintaku dari duda lapuk ini saja, aku sudah sangat bersyukur, sayang. Tolong aku Lira! Berikan aku kesempatan untuk membahagiakanmu!" pinta Wira membuat hati Lira menghangat dengan kedewasaan Wira.
Lira mengangguk setuju. Wira mengecup punggung tangan Lira secara bergantian.
"Cie... cie...yang sudah terima cintanya," goda Arsen yang ikut bahagia melihat kebahagiaan ayahnya. Keduanya tersenyum malu-malu.
"Sini Arsen! Tante mau memelukmu!" pinta Lira sambil mengembangkan tangannya memeluk calon anak sambungnya itu.
"Terimakasih Tante Lira. Sudah mau menerima ayah dan aku. Cepatlah kalian menikah biar aku bisa punya ibu untuk aku bisa curhat," ucap Arsen penuh syukur.
"Ayo. Makanannya sudah siap. Kita makan bareng di sini!" panggil nenek Anisa sambil menggendong cucunya Adam.
Keluarga itu makan bersama malam itu penuh kenikmatan. Setiap pasangan itu saling suap satu sama lain. Baik yang sudah halal maupun belum. Di tempat yang berbeda, Arumi sedang menangis penuh penyesalan karena Recky tidak memberikan harta gono-gini padanya.
"Laki-laki sialan! Kamu terlalu kejam menjadi mantan suami," geram Arumi.
__ADS_1
....
Vote & likenya cinta, please!