Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
40. Wajah Yang Sama


__ADS_3

Masalah yang dihadapi Arland saat ini benar-benar membuatnya makin kesal dan juga sumpek. Pasalnya sejak mengetahui Kenzy adalah pengkhianat dalam kubu organisasi mereka, tidak bisa ia temukan pasca tertangkapnya Bianca.


Jika Kenzy bisa kabur dan tidak tahu keberadaannya, otomatis akan menjadi ancaman bagi bisnis transaksi ilegal yang sedang digeluti Amran. Menghilangnya Kenzy saat ini, belum diketahui oleh Amran karena Arland sudah dihadapkan lagi dengan masalah baru atas menghilangnya Nabilla.


Sekarang ditambah lagi dengan menghilangnya Nabilla makin membuat Arland dalam keadaan sesak karena hanya Nabilla yang saat ini bisa membantu mereka untuk mengetahui pergerakan Kenzy dan mempersempit pencarian mereka pada pengkhianat itu.


"Amran benar-benar seorang suami bodoh atau lebih tepatnya idiot. Sudah tahu kalau istrinya itu adalah kunci pengaman bagi organisasinya kenapa malah membuat gadis itu patah hati dan menghilang seperti ditelan bumi," sesal Arland membatin.


Sementara itu, di rumah sakit, Nabilla yang masih belum siuman di jaga sendiri oleh dokter Mariska karena ia tidak ingin Putranya Devan menunggu gadis malang itu karena takut terjadi sesuatu di luar dugaannya. Merasa istrinya tidak pernah pulang selama tiga hari ini, tuan Rusli akhirnya menghampiri istrinya ke rumah sakit.


"Di mana istriku?" tanya Tuan Rusli pada dokter Zian.


"Dokter Mariska berada diruang inap sedang menunggu menantu anda di ruang VVIP tuan," ucap dokter Zian apa adanya.


"Menantu?" sentak tuan Rusli mendengar ucapan dokter Zian yang menyebutkan bahwa ia mempunyai menantu." Sejak kapan aku punya menantu?" batin tuan Rusli.


"Berapa nomor kamarnya, dokter Zian?" tanya tuan Rusli.


"Kamar 489 lantai 7 Tuan," sahut dokter Zian.


"Terimakasih dokter Zian!" Langkah tuan Rusli tergesa-gesa saat tahu kalau putranya diam-diam menikah di Australia dan pulang-pulang membawa menantu untuk mereka.


Setibanya di kamar itu, tuan Rusli membuka pintu itu hendak melabrak putranya Devan.


Cek....lek..


Dokter Mariska dan Devan bergegas bangkit begitu melihat tuan Rusli yang menatap wajah mereka dengan angker.


"Ayahhh....!" sebut mereka kompak.


"Apa-apaan kamu Devan? pulang-pulang membawa istri tanpa kami tahu pernikahan kalian. Apa kamu di luar negeri sedang kumpul kebo dengan....-"


Duarrrr.....

__ADS_1


Mata tuan Rusli mendelik saat melihat wajah Nabilla dengan jantung yang sudah tidak baik-baik saja saat ini. Pasalnya wajah Nabilla sama persis dengan wanita masalalunya.


"Hilda....!" batin tuan Rusli lirih hingga tubuhnya beberapa langkah terhuyung ke belakang.


Dokter Mariska menyangka suaminya syok karena mengira Nabilla adalah istrinya Devan yang sudah hamil besar.


"Ayah. Gadis ini bukan istrinya putra kita Devan ayah. Justru Devan hanya menyelamatkan gadis ini saat ia pingsan di tengah jalan dalam keadaan hujan deras. Dan putramu yang bodoh ini mengaku pada staff kita kalau gadis ini adalah istrinya," jelas dokter Mariska agar suaminya tidak salah paham pada putranya.


Tuan Rusli tidak menanggapi penjelasan istrnya. Justru dia sedang sibuk memikirkan wanita masalalunya yaitu Hilda. Istri sirihnya yang tidak bisa ia perjuangkan untuk masuk ke keluarganya karena kasta mereka yang berbeda. Ia harus kehilangan gadis itu saat Hilda hamil dua bulan. Hilda menghilang karena mengetahui kalau ia dijodohkan dengan wanita pilihan orangtuanya yaitu dokter Mariska, putri pemilik rumah sakit yang sekarang di pimpin oleh dokter Mariska sendiri.


"Ya Allah. Wajah mereka sama persis. Apakah gadis ini adalah putriku? anak dari Hilda?" batin tuan Rusli yang sedang menahan air matanya agar tidak dicurigai oleh istri dan putranya.


"Mengapa tidak mengabari keluarga gadis ini? apakah kalian tidak takut dituduh sebagai penculik?" bentak tuan Rusli saat sudah bisa mengendalikan perasaannya.


"Masalahnya gadis ini tidak memiliki identitas ayah. Dan putramu ini sangat keras kepala untuk menahan gadis ini dan berambisi ingin memilikinya," ucap dokter Mariska.


Duarrrr.....


Mata tuan Rusli melebar mendengar ucapan istrinya." Tidak. Jangan lakukan itu! jangan membuat skandal dengan menyembunyikan istri orang. Ayah akan ke kantor polisi sekarang," ucap tuan Rusli sambil melangkah keluar dengan dada sesak lagi sakit. Bagaimanapun juga Devan dan Nabilla sama-sama anak kandungnya.


"Bunda. Bagaimana ini? aku harus bagaimana?" tanya Devan gelisah akan kemarahan ayahnya.


"Diamlah! biar urusan ini dipermudah oleh ayahmu karena gadis ini sudah tiga hari berada di sini dalam keadaan kritis. Jika terjadi sesuatu padanya, apakah kamu akan bertanggung jawab?" bentak dokter Mariska pada putranya.


"Tapi bunda, gadis ini masih dalam keadaan ...-"


"Itu bukan urusan kita. Yang lebih berhak atas dirinya bukan kita melainkan suaminya. Tugas kita hanya menolongnya. Biarkan ayahmu mendatangi polisi agar polisi segera mencaritahu keluarga gadis ini," ucap dokter Mariska yang sudah ketakutan akan amukan suaminya.


Di apartemen miliknya Amran sedang ada pengintaian polisi untuk menangkap Amran karena pria datanya Amran atas bisnis terlarangnya sudah masuk ke dalam laporan polisi. Yang lebih menyakitkan lagi banyak laporan palsu yang dimiliki oleh polisi untuk menangkap Amran yaitu salah satunya adalah peretasan dokumen negara yang dituduhkan padanya.


"Kalau pagi begini, tuan Amran berada di perusahaannya pak. Kenapa bapak tidak mendatangi tuan Amran ke perusahaannya saja?" ucap satpam apartemen tersebut pada polisi yang menyamar jadi preman.


"Baik. Terimakasih atas informasinya, pak," ucap polisi Akmal.

__ADS_1


Di perusahaannya sendiri, Amran dan Arland masih saja berdebat persoalan Nabilla yang belum bisa mereka temukan." Apakah kamu tidak bisa melacak semua rumah sakit melalui CCTV untuk menemukan istriku?" tanya Amran sudah mulai kesal.


"Masalahnya, hanya ada satu rumah sakit yang sulit sekali diretas olehku karena pengamanannya begitu ketat. Sepertinya pemilik rumah sakit itu sangat cerdik untuk mengamankan teknologi canggih berupa CCTV mereka yang tidak bisa dibobol oleh kamu sekalipun kecuali Nabilla," sindir Arland.


"Sampai kapan kamu terus memojokkan aku atas kehilangan istriku? aku sedang kalut seperti ini, kamu selalu saja menyerang ku. Lantas, siapa pemilik rumah sakit itu?" tanya Amran penasaran.


"Pemiliknya adalah Dokter Mariska. Oh iya, Dokter Mariska adalah istrinya tuan Rusli yang mempunyai perusahaan Cybercrime nomor satu di Asia tenggara. Walaupun kehebatannya belum bisa mengalahkan kehebatan istrimu Nabilla," ucap Arland.


"Sok tahu kamu," umpat Amran.


Tring....Tring....


Bunyi alat penyadap di ponselnya Amran yang seketika terkesiap saat melihat lokasi di mana Nabilla berada. Wajah pria tampan itu berbinar cerah menatap Arland yang melihatnya bingung.


"Ada apa, hah?" tanya Arland agak sedikit jengah.


"Aku sudah menemukan Nabilla. Aku lupa kalau di jam tangan Nabilla sudah aku pasang penyadap," ucap Amran segera bangkit berdiri.


"Lho...! kenapa alarmnya baru bekerja? kenapa tidak dari hari pertama saat dia menghilang?" tanya Arland sambil melangkah mengikuti Amran yang setengah berlari untuk mencapai pintu lift.


"Penyadap itu akan aktif jika arlojinya Nabilla...." kata-kata Amran terhenti saat melihat polisi dan wartawan sudah banyak berkerumun di lobi perusahaannya.


"Ada apa ini, Arland?" tanya Amran yang juga terlihat syok.


"Selamat pagi tuan Amran!"


"Pagi. Ada apa ya pak?" tanya Amran


"Tuan Mohamad Amran Abdullah, Anda kami tangkap atas penyalahgunaan wewenang dalam melakukan peretasan dokumen negara," ucap polisi itu membuat Amran dan Arland menegang.


Duarrrr ....


...----------------...

__ADS_1


Untuk para pembaca yang tidak suka dengan cerita ini tolong hengkang saja dari karya author ini. Karena aku tidak suka dengan komentar sok tahu kalian dengan selera primitif kalian dengan pikiran dangkal yang kalian punya. Jika merasa hebat, buat cerita sendiri siapa tahu kamu langsung mendapat lencana superstar dari novel toon. Tunjukkan bakatmu dengan berkarya bukan dengan menjatuhkan karya author, pahamm!!!!...


__ADS_2