Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
243. Ghena Berulah


__ADS_3

Dua pesawat jet pribadi milik Amran dan juga kerajaan Bahrain sudah mendarat di bandara setempat yaitu ibu kota Manama. Keluarga Amran menginap di hotel mewah di kota itu.


Padahal raja Farouk sudah meminta mereka menginap di istananya, namun Amran menolak dengan halus kebaikan raja Farouk yang bakal menjadi calon besannya.


Amran dan Nabilla sedang mempersiapkan beberapa perlengkapan sebagai penghantar pernikahan ke istana kerajaan Bahrain itu. Mereka harus melakukannya dengan cepat mengingat dua hari lagi akan memasuki bulan Ramadhan.


Keluarga itu memang berniat untuk menunaikan ibadah umroh di awal bulan ramadhan usai menikahkan putra bungsu mereka. Sore itu istana kerajaan raja Farouk nampak terlihat lebih cantik karena dihias beberapa ornamen dan bunga-bunga nan indah yang dilakukan oleh beberapa desain istana untuk menyambut kedatangan keluarga calon besannya. Raja Farouk dan istri nampak berbahagia saat mengetahui calon menantu mereka berasal dari keluarga bangsawan juga.


Rombongan keluarga besar Amran yang ada di Jakarta semuanya datang ke Bahrain untuk menyaksikan kebahagiaan Amran yang menikahkan putra bungsunya. Tidak ketinggalan juga Nada yang membawa bayi kembarnya serta dan Syakira yang saat ini sedang hamil.


Tiba di istana itu kelurga besar Amran di sambut dengan tarian dan nyanyian bernuansa Islam yang disesuaikan dengan adat setempat. El nampak gagah bak seorang pangeran karena mengenakan baju kebesaran Kerajaan Bahrain.


Suara para wanita istana nampak riuh mengabarkan kedatangan calon pengantin prianya kepada princess Tamara yang masih berada di kamarnya sedang mengenakan mahkotanya.


"Pengantin prianya sudah datang princess. Dia sangat tampan," ucap saudara sepupu Tamara dari bagian ibunya.


Tamara tersenyum malu. Rasanya hatinya ingin meledak saat ini karena jiwanya sudah dipenuhi dengan cintanya El-Rummi. Begitu pula El-Rummi yang tampak gugup hingga tangannya terasa sangat dingin saat digenggam oleh ayahnya Amran.


"Daddy tidak pernah gugup saat menikahi mommy kamu dulu. Kamu sangat payah menghadapi situasi pernikahan ini. Biasa saja tidak usah setegang itu," hibur Amran pada putranya yang langsung memutar mata malas.


"Jelas saja Daddy tidak gugup, orang Daddy nikahin mommy pingin dapat harta kakek uyut, ditambah Daddy tidak melihat wajah cantik mommy saat itukan?" ledek El-Rummi yang sudah tahu sejarah pernikahan orangtuanya.


"Itu hanya gosip murahan. Kenapa kamu sangat percaya?" kesal Amran yang terlihat sangat malu mengingat kejadian itu.


Kelima anaknya Amran memang sudah mengetahui cerita itu dari Arland yang saat itu masih menjadi asisten pribadinya Amran.


"Ini pasti ulahnya Arland sialan yang mencuci otak anak-anak gue. Tunggu saja pembalasanku," geram Amran membatin.

__ADS_1


Kini, El-Rummi di arahkan ke depan penghulu oleh panglima Yusuf. Raja Farouk yang akan menikahkan sendiri putrinya dengan El-Rummi. Sementara pengantin wanitanya tidak diperbolehkan turun dari kamarnya sebelum dinyatakan sah pernikahan mereka oleh saksi dan para tamu undangan.


Tidak lama kemudian pembacaan ijab qobul telah di mulai. Suasana seketika terdengar hening. Hanya terdengar suara raja Farouk yang di sambut oleh El-Rummi yang mengucapkan ijab qobul itu dalam satu tarikan nafas tanpa melakukan kesalahan. Kedua saksi dari pihak pengantin mengatakan sah.


Ratu Hanifa meminta pelayan Ghena agar menjemput putrinya untuk turun menemui suaminya El-Rummi. Karena gaun sang mempelai wanita terlalu berat membuat Ghena membantu putri majikannya itu memegang ujung gaunnya. Namun siapa sangka wanita ini masih berniat jahat pada Tamara karena dirinya yang sampai saat ini belum ketahuan sebagai mata-mataya Zainab.


Ia sengaja menahan gaun pengantin Tamara yang saat itu sedang menuruni tangga. Tamara akhirnya jatuh terpeleset dari atas tangga, namun Nada begitu sigap melompat ke arah tangga untuk menahan tubuhnya Tamara agar tidak jatuh terguling dari tangga yang cukup tinggi itu.


"Tamaraaa...!" pekik El-Rummi histeris, namun hatinya lega karena saudara kembarnya lebih dulu menangkap tubuh Tamara karena posisi Nada dekat dengan tangga.


Para tamu mulai bingung melihat kecepatan Nada yang bisa melompati tangga yang cukup tinggi itu dari samping dengan kecepatan sepersekian detik.


Jangankan para tamu undangan, bahkan keluarganya sendiri tidak menyangka kecepatan Nada yang terlihat sangat ajaib tiba-tiba bisa menahan tubuh Tamara agar tidak jatuh.


"Nada...?"


lirih Ghaishan yang merasa tidak percaya Nada bisa memiliki ilmu meringankan tubuh.


"Sepertinya ada yang tidak beres dengan gadis itu. Aku harus mencari tahunya secara diam-diam. Jika terlalu gegabah menuduhnya jahat maka akan menimbulkan fitnah," batin Nabilla.


Setelah melakukan ritual salaman dengan kedua orangtuanya mempelai pengantin, kini El dan princess Tamara duduk di singgasana kerajaan untuk melangsungkan resepsi pernikahan.


Nada yang masih geram dengan Ghena mendekati gadis itu secara diam-diam. Saat Ghena meninggalkan tempat resepsi, Nada mendorong dada Ghena hingga gadis ini mundur beberapa langkah.


"Eits...mau ke mana kamu, pelayan?": tanya Nada dengan nada remeh


"Apakah ada yang bisa saya bantu, nona?" tanya Ghena pura-pura terlihat polos.

__ADS_1


"Kamu kira aku tidak tahu niat jahat-mu tadi yang sengaja mencelakai princess Tamara?" tanya Nada sambil melangkah mendekati Ghena yang terus mundur menjauhi Nada.


"Apa maksudmu nona? Maaf anda di sini hanya tamu dari kelurga mempelai pria, tolong jaga sikap anda di kerajaan negara ini," tegas Ghena membuat Nada tersenyum smirk.


"Cih...! Kau tampil seperti pelayan setia tapi memiliki racun mematikan untuk menghabisi nyawa princess Tamara. Apa kamu kira aku bodoh?" sarkas Nada menatap mata Ghena hingga gadis itu merasakan lehernya tercekik hingga pijakannya seakan melayang padahal Nada tidak melakukan apapun kecuali menatap tajam mata gadis itu.


"Tolong lepaskan aku...! Ku mohon...! Tolong aku ..!" pinta Ghena merasa udara di rongga dadanya makin menipis.


Nabilla menepuk bahu putri bungsunya ini yang tiba-tiba memiliki kekuatan supranatural. Nada tersentak dan Ghena terjatuh dengan tubuh lemas sambil memegang lehernya yang terasa sangat sakit dan panas.


"Sayang. Kembali ke tempatmu. Belum saatnya dia mendapatkan hukuman," ucap Nabilla lembut dengan bahasa Indonesia supaya Ghena tidak memahami ibu dan anak ini membicarakannya.


"Tapi dia sangat berbahaya mommy," imbuh Nada yang belum puas menyakiti Ghena.


"Cara menangkap pengkhianat seperti dia tidak seperti itu. Lagi pula saudara kembarmu akan mengawasi istrinya sendiri selama 24 jam. Jadi, biar El yang akan menghukumnya," timpal Nabilla.


"Baiklah mommy."


Nada mengalah untuk menjaga nama baik saudara kembarnya karena Ghena adalah pelayan di istana itu. Sementara Ghena yang masih terduduk dilantai mengumpat Nada karena sudah menyakiti dirinya.


"Apakah wanita itu seorang iblis? Tubuhnya jauh dariku tiga langkah, tapi kenapa leherku seperti dicekik olehnya?" gumam Ghena dengan nafas memburu.


Nabilla menanyakan Nada yang kini sedang menikmati kuliner Bahrain di tempat pesta yang di gelar di aula istana itu.


"Sayang."


"Iya mommy."

__ADS_1


"Bagaimana bisa kamu memiliki tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh?" selidik Nabilla yang merasakan keanehan pada diri Nada.


"Aku ..? Apakah seperti itu mommy?" tanya Nada lagi yang tidak mengerti atas dirinya.


__ADS_2