
Mobil iring-iringan polisi yang melintas di jalanan ibukota Jeneva yang awalnya dikira Adam adalah mobil polisi dan musuh yang sedang mengikuti mereka ternyata sedang mengawal presiden menuju Bandara.
Adam dan kedua temannya bernafas lega sambil melirik dokter Mignolet yang masih terbaring lemah karena masih dibawah pengaruh obat bius.
"Kita harus secepatnya ke bandara sebelum istrinya menyadari kalau kita telah menculik suami bajingannya ini!" titah Adam.
"Baiklah. Sekitar 10km lagi kita sudah sampai di bandara. Apakah tidak sebaiknya kita mengganti mobil saja sesuai dengan rencana awal?" jelas Michael.
"Ok. ikuti rencana awal..! dan tinggalkan mobil ambulans milik rumah sakit bajingan ini!" titah Adam.
Mobil mereka memasuki sebuah gedung tua di mana tidak ada aktifitas di sekitar area tersebut. Hal pertama yang mereka lakukan adalah memindahkan tubuh dokter Mignolet ke dalam mobil milik CIA.
Mobil mereka kembali ke jalanan setelah keadaan terasa aman. Namun saat memasuki bandara, ada pemeriksaan sepanjang jalan oleh polisi setempat membuat kedua rekan Adam terlihat gugup.
"Ada apa...?" tanya Adam yang sempat terpejam saat merasakan laju mobil mereka diperlambat.
"Di depan sana ada pemeriksaan. Bagaimana ini Felix?" tanya Daniel gelisah.
"Emangnya ada pemeriksaan apa? apakah mereka sedang mencari si kunyuk sialan ini?" tanya Adam geram.
"Mungkin saja Felix," ujar Michael gusar.
"Biar aku yang urus mereka. Kalian tenang saja!" Adam mengeluarkan senjata milik ibunya berupa sengatan lebah yang berisi cairan obat yang bisa membuat orang hanya menuruti kata-katanya. Seperti orang yang dihipnotis.
"Kamu pindah ke belakang, biar aku saja yang menyetir mobil...!" titah Adam pada Daniel.
Keduanya berganti posisi duduk di dalam mobil itu. Hanya Adam yang tetap bersikap tenang. Ia harus melanjutkan misinya sampai berhasil atau ini akan menjadi aib internasional karena sudah menangkap dokter mafia ini untuk dikembalikan ke negara asalnya Amerika.
Adam membuka jendela mobilnya lalu menerbangkan beberapa lebah miliknya. Karena suasana malam memudahkan lebah itu bisa menyesuaikan dengan situasi saat ini.
Begitu seorang polisi menghampiri mobilnya, lebah itu sudah menyengatnya lebih dulu walaupun rasanya seperti gigitan semut, namun tidak membuat polisi itu kehilangan fokusnya. Dan kebetulan polisinya seorang wanita membuat Adam merasa lebih aman kini.
"Selamat malam, tuan..!" sapa polisi wanita cantik tersebut yang usianya lebih tua dari Adam dua tahun.
"Malam..!" balas Adam tetap tenang dan terkesan dingin.
__ADS_1
"Boleh lihat identitas dan SIM anda?" tanya polwan cantik itu.
"Baik." Adam mengeluarkan dokumen pribadinya dan juga paspor miliknya dan juga milik kedua temannya. Tidak lupa ia juga memberikan milik dokter Mignolet tapi sudah di palsukan namanya.
"Apakah kalian turis?" tanya polwan itu sambil membuka dokumen pribadi milik Adam.
"Bukan. Kami sedang melakukan perjalanan dinas," ujar Adam setia dengan wajah datarnya.
"Ok. Boleh buka bagasinya?" titah polwan itu yang diikuti oleh Adam.
"Siap...!" ujar Adam.
"Silahkan lanjutkan! mohon maaf atas ketidak nyamanannya dan hati-hati...!" ucap polisi itu sambil melirik wajah Adam penuh kekaguman.
"Terimakasih...!" ucap Adam memberi hormat pada polwan itu.
Setelah memastikan tidak ada yang bisa mereka temukan, polwan itu meminta Adam melanjutkan perjalanannya. Adam menarik nafas lega begitu juga kedua rekannya yang sedari tadi hampir saja pipis di celana.
Mereka akhirnya melanjutkan perjalanan dan Adam menambah kecepatan mobilnya agar cepat tiba di bandara. Setibanya di bandara, mobil mewah itu langsung masuk ke dalam pesawat di mana kap belakang pesawat sudah di buka oleh co-pilot.
Adam dan kedua rekannya merilekskan tubuh mereka dan memilih untuk beristirahat sambil menanti pesawat mereka tiba di Virginia Amerika.
...----------------...
Saat ini Bunga menjalankan misinya yaitu menyamar menjadi seorang dokter kecantikan yang melayani langsung tamu VVIP di klinik kecantikan yang ada di kota Istanbul Turki. Kini ia sudah lebih dekat dengan seorang nyonya besar yang merupakan istri dari tuan Murrad.
Kedekatan Bunga dengan nyonya cantik itu bukan tanpa alasan. Kebetulan sekali nyonya itu berasal dari Indonesia saat mengetahui Bunga adalah orang Indonesia.
Keduanya saling ngobrol usai Bunga memberikan treatment kecantikan pada nyonya itu yang tidak lain adalah ibu kandungnya Daffa yaitu Cyra.
"Bunga. Minggu depan adalah ulangtahunku. Aku akan merayakannya hanya dikalangan terbatas. Apakah kamu mau datang ke pesta ulangtahunku?" tanya Cyra.
"Dengan senang hati nyonya. Aku pastikan datang menghadiri pesta ulang tahun anda, nyonya," ujar Bunga antusias.
"Aku memiliki seorang putra yang sangat tampan. Usianya 20 tahun. Aku akan mengenalkannya padamu," ucap Cyra terlihat semangat namun matanya menyimpan kesedihan mendalam.
__ADS_1
"Apakah nyonya hanya memiliki satu putra?" tanya Bunga.
"Aku memiliki putra lain dengan suami pertamaku hanya saja dia meninggal saat aku melahirkannya," bohong Cyra.
"Berapa kira-kira usianya seandainya dia masih hidup, nyonya?" tanya Bunga.
"23 tahun." Nyonya Cyra mengusap air matanya. Bukan menangisi putranya yang meninggal, tapi ia sangat merindukan putranya yang sebenarnya masih hidup.
"Bunga. Apakah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya nyonya Cyra.
"Sudah nyonya. Mungkin tahun depan kami akan menikah. Dia seorang perwira angkatan udara, marsekal muda. Dia sangat tampan. Apakah nyonya ingin melihat wajah kekasihku?" tawar Bunga dengan senyum mengembang sempurna.
"Bolehkah aku melihatnya, Bunga?" wajah antusias Cyra begitu bahagia saat Bunga menyerahkan ponselnya di mana foto pangerannya dengan seragam angkatan udara terlihat gagah.
Cyra mengambilnya dari genggaman tangan Bunga dan memperhatikan wajah itu dengan ekspresi wajah berubah pias. Tangan mulus itu seketika gemetar saat melihat tampang Daffa yang sangat mirip dengan suami pertamanya Darwis.
"Apakah dia putraku? wajah mereka sangat mirip," batin Cyra lalu menyerahkan ponsel milik Bunga.
Raut wajah yang awalnya terlihat syok berubah sendu. Ia berdiri dan pamit kepada Bunga karena tidak kuat menahan kerinduan pada putranya karena selama ini ia tidak punya keberanian untuk mencari keberadaan putranya sejak ia diculik dan dinikahi oleh Murrad.
"Bunga. Aku tunggu kedatanganmu di pesta ulangtahunku. Aku pamit dulu karena suamiku pasti saat ini sedang menungguku," ucap Cyra lalu mengecup pipi Bunga.
"Apakah anda baik-baik saja nyonya?" tanya Bunga yang bisa menangkap ketidakberesan perasaan nyonya Cyra saat ini.
"Tidak apa, sayang. Sampai jumpa lagi..!" ucap Cyra lalu meninggalkan Bunga di klinik kecantikan itu.
"Hati-hati nyonya..!" Bunga membereskan peralatannya lalu membuka ponselnya untuk melihat pergerakan visual Cyra hingga ke rumah calon ibu mertuanya itu.
Setiba di kamar, Cyra membenamkan wajahnya di atas bantal. Mengenang lagi putranya yang ia tukar dengan bayi orang lain." Ya Tuhanku. Akhirnya aku menemukan putraku setelah sekian lama terpisah. Apakah aku berjodoh dengan gadis itu hingga melalui dirinya aku bisa bertemu dengan putraku yang malang.
Terimakasih sayangku..! kamu sudah tumbuh dengan baik. Maafkan bundamu, sayang. Bunda harus memberikan kamu pada ibu lain untuk melindungi kamu dari kejaran musuh yang ingin membunuhmu jika ketahuan kamu adalah anak dari petinggi badan intelijen Amerika batin Cyra sambil meraung seorang diri di kamarnya.
Cyra adalah sekertaris Murad. Ia seorang informan Darwis yang saat itu sedang mencaritahu keberadaan Murad. Darwis menikahi Cyra di Indonesia secara diam-diam agar tidak ketahuan Murrad.
.....
__ADS_1
Vote dan likenya cinta, please!