Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
110. Drama Bunga


__ADS_3

Hari kemenangan dirayakan dengan penuh suka cita di villa itu. Keluarga besar itu berencana untuk berlayar dengan kapal pesiar milik Arsen. Sejatinya kapal pesiar itu hendak ia hadiahkan untuk Cintami saat mereka akan menikah nanti. Namun ia mengganti momen lain dengan melamar gadis itu diatas gladak kapal secara personal.


Tiga hari menghabiskan liburan di villa, mereka kembali ke Jakarta untuk melakukan perjalanan liburan dengan kapal mewah milik Arsen tersebut.


Semuanya sudah berkemas dan masuk ke dalam mobil mereka masing-masing menuju pelabuhan Tanjung Priok.


Hanya satu orang gadis yang selalu membuat masalah karena harus ke perusahaannya dulu karena ada peninjauan ulang produk kosmetik yang akan ia launching bulan depan. Bunga memang sedikit tomboi.


Ke mana-mana selalu menggunakan motor. Jarang sekali ia menggunakan mobil untuk urusan penting karena tidak terlalu suka dengan suasana macet.


"Bunga. Kamu mau ke mana lagi?" tanya Cintami yang melihat Bunga sedang mengenakan mantel hitamnya dengan kaca mata dan masker. Tidak lupa helm ajaib hasil rancangan ibunya sendiri yaitu Nabilla.


"Kalian berangkat saja duluan. Aku bisa nyusul nanti. Aku mau ke perusahaanku dulu. Ada masalah dengan peluncuran produk," ucap Bunga.


"Nanti lama lagi berangkat ke luar negerinya kalau menunggu kamu," kilah Cinta.


"Atau begini saja, aku akan meminta co-pilot helikopter yang akan mengantar aku ke kapal kekasihmu itu, bagaimana?" pinta Bunga.


"Baiklah. Jangan lama-lama!" Ucap Cintami.


"Hmm! maafkan aku. Karena ini masih suasana lebaran, karyawan banyak yang masih libur. Melibatkan mereka dengan urusan perusahaan dalam suasana liburan pasti mereka akan meminta bayaran lembur. Mending aku ngerjain sendiri saja," ucap Bunga.


"Kamu ini kelewatan pelit atau tidak mau karyawanmu melakukan kesalahan atau bagaimana?" ledek Cintami yang tahu sekali sifat Bunga yang selalu perhitungan kalau sudah menyangkut uang.

__ADS_1


"Anggap saja begitu. Sudah dulu ya, aku mau jalan dulu sampai ketemu di kapal pesiar," ucap Bunga sambil cipika cipiki dengan kembarannya.


Bunga menaiki motor besarnya dengan celana jins ketat membalut tubuhnya. Dalam sekejap ia sudah terbang di jalanan dengan gagahnya. Apa lagi saat ini jalanan ibu kota tampak lengang karena setengah warga Jakarta sedang mudik lebaran.


Saat sedang asyiknya berkendara, tiba-tiba saja segerombolan pria berandalan ada yang sedang merampok tas ransel dua orang bapak-bapak yang ternyata pegawai bank yang sedang menuju ke ATM untuk mengisi uang di mesin ATM.


Rupanya penjahat itu sudah mengincar kedua bapak-bapak itu sejak berangkat dari Bank menuju ATM di sebuah komplek ruko.


Saling rebutan tas itu terjadi di depan mata Bunga. Bunga yang tidak tega melihat rombongan perampokan itu berhasil merebut tas uang itu, mengejar penjahat itu untuk merebut kembali tas itu. Ia ingin mendahului para perampok itu untuk menghadang motor perampok yang berjumlah lima motor itu. Perampok itu berjumlah sepuluh orang.


Bunga berbalik arah melakukan manuver dengan mengebut dalam keadaan kencang motornya lalu melepaskan kedua tangannya dari stang motor kemudian naik di atas motonya dengan posisi berdiri dan ia melakukan lompatan salto ke udara dan membiarkan motornya terseret menghadang motor para penjahat dalam keadaan kencang itu, terutama yang membawa tas uang itu yang di taksir sejumlah setengah miliar.


Sementara Bunga jatuh dalam posisi berdiri tepat di samping pria yang mengambil tas itu. Bunga berhasil merebut kembali tas uang itu dan memakaikan dengan menyelempang ke tubuhnya. Para penjahat itu yang jatuh dari motor mereka secara beruntun karena di hadang oleh motor besar milik Bunga segera bangkit untuk menyerang Bunga.


Para penjahat itu tidak tahu jika mereka sedang berhadapan dengan seorang wanita karena Bunga mengenakan helm khusus yang tertutup yang dirancang khusus untuk bisa membaca data wajah orang-orang yang ia temui.


Bunga mengabaikan teriakan penjahat itu karena ia sedang mengangkat motor besarnya. Belum sempat motornya berdiri, penjahat itu menyerangnya. Perkelahian pun tak bisa di hindari. Kesepuluh penjahat itu menyerang Bunga dari berbagai arah untuk merebut kembali tas uang dari Bunga.


Ada yang diantara mereka membawa samurai, besi panjang dan pistol. Pertempuran di jalan yang cukup sepi itu, membuat pergerakan penjahat leluasa mengeroyok Bunga. Tidak jauh dari tempat pertempuran itu, ada seorang pengendara mobil mewah yang sedari tadi mengikuti aksi Bunga yang hanya bisa mengamati dari jauh. Rasa kagumnya pada Bunga membuat ia asyik merekam pertempuran seru itu.


"Siapa gadis itu...? Tidak mungkin dia seorang pria karena bodynya tidak bisa di bohongi walaupun ia mengenakan mantel panjang," lirih pria tampan itu.


Tapi ia juga tidak tega melihat Bunga yang kalap melawan sendirian dengan para penjahat itu. Walaupun sebenarnya Bunga sudah hampir berhasil memukul mundur lawan. Karena melihat ada seorang pria yang mengeluarkan pistolnya, untuk menembak Bunga, pria tampan ini dengan cepat melajukan mobilnya untuk menabrak pria itu.

__ADS_1


Saat pria itu menarik pelatuk pistolnya, Bunga yang sudah tahu karena pemberitahuan helm ajaibnya, langsung menundukkan tubuhnya hingga peluru itu meluncur cepat menembus leher rekannya. Jadilah, dua-duanya mati bersamaan karena si penembak berhasil di tabrak oleh si pria tampan itu. Sementara teman-temannya yang ingin menyelamatkan diri, dilumpuhkan kembali oleh Bunga dengan cara berlari ke arah penjahat itu sambil melompat ke atas dengan gerakan memutar hingga kaki jenjangnya menjatuhkan lima orang penjahat itu sekaligus.


Pria tampan itu turun dari mobilnya sambil menghubungi polisi yang sudah ia hubungi sebelumnya. Sambil menunggu kedatangan polisi, pria tampan itu menghampiri Bunga.


"Kamu tidak apa nona?" tanya pria tampan itu.


"Saya tidak apa. Terimakasih sudah membantuku," ucap Bunga yang tidak ingin membuka helmnya. Saat mendengar sirine mobil polisi, Bunga menyerahkan tas uang itu pada pria tampan itu. Ia tidak ingin identitasnya diketahui oleh polisi maupun pria tampan itu.


"Tolong amankan uang ini Tuan. Saya percayakan tas uang ini pada anda. Serahkan alat bukti ini kepada polisi. Maaf saya tidak bisa ikut ke kantor polisi karena ada yang harus saya kerjakan," ucap Bunga yang langsung naik motor besarnya.


"Hei... tunggu! Siapa namamu?" pekik pria tampan itu namun Bunga sudah melejit dengan motornya meninggalkan pria tampan itu yang hanya tercengang melihat kepergian Bunga.


Lima mobil polisi berhenti di lokasi kejadian dan langsung mengamankan pelaku dan barang bukti.


"Mereka merampok tas uang dari pegawai Bank pak. Tolong aman mereka dan tas uang ini..!" ucap pria tampan itu.


Polisi yang mengenal siapa pria tampan itu, mengucapkan terimakasih pada pria tampan itu yang sudah memudahkan pekerjaan mereka.


"Terimakasih tuan Daffa...!" ucap polisi Roni.


"Maaf saya harus buru-buru pak karena ada tugas penting," ucap Daffa.


"Baik. Kami akan mengurus bandit-bandit sialan ini. Mereka adalah residivis yang selama ini kami cari. Terimakasih atas partisipasinya dalam membasmi kejahatan," ucap polisi Roni yang mengira kalau Daffa yang melumpuhkan para penjahat itu.

__ADS_1


Daffa yang sedang diburu waktu, tidak bisa menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Ia buru-buru masuk ke dalam mobilnya hendak ke bandara.


vote dan like nya cinta please!"


__ADS_2