Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
212. Pantang Mundur


__ADS_3

Wajah Lucky terlihat pucat karena dia sudah kemakan jebakan Bunga yang ahli dalam ratu drama. Bunga dengan santainya tersenyum kepada Alinskie dan semua anak buahnya yang menatap rumit wajah Alinskie tampak mengeras karena harus tertangkap dua kali dengan orang yang sama.


"Nona Bunga. A...ha...! Pasti kamu tidak lagi nona tapi nyonya karena tubuhmu sekarang lebih berisi dengan wajah cantik seperti biasanya untuk bermain peran menjadi apa saja demi misi kemanusiaan. Apa kabar kakak ipar!" tanya Alinskie yang sudah mengetahui jika Bunga menikah dengan saudara kandungnya Daffa namun beda ayah.


Degggg ...


"Apakah dia sudah mengetahui semuanya dari ..siapa? Apakah dari Bunda Cyra? Apakah bunda Cyra diam-diam menemuinya?" batin Bunga dengan serentetan pertanyaan berkecamuk di hatinya.


"Aku jijik melihat wajah adik ipar yang tidak tahu diri sepertimu. Kau masih saja saja seperti dulu untuk mendapatkan gadis perawan rela melakukan apapun.


Apakah kekayaanmu belum habis setelah menjual organ tubuh manusia? Tapi, kasihan sekali dirimu. Kau bahkan tidak bisa menikmati hidupmu sehingga harus mengandalkan kadal gurun seperti Lucky yang rela menjual istrinya padamu demi mendapatkan recehan darimu. Menjijikkan!"


umpat Bunga yang sengaja bicara banyak untuk mengingatkan pada keluarganya kalau dirinya sudah bertemu dengan target utama.


Nabilla yang mengetahui siapa Alinskie menatap wajah Daffa yang terlihat diam dengan pikirannya saat ini. Daffa harus menangkap adiknya itu antara hidup atau mati. Daffa mengambil sikap tegas untuk urusan misi ini.


"Bunuh dia sayang! Jangan pikirkan hubungan darah antara dia denganku! Kejahatan tetaplah kejahatan. Tidak tega adalah musuh utama penegak hukum yang masih memiliki hubungan darah dengan penjahat," pinta Daffa tegas membuat Bunga dan keluarganya harus mengambil sikap.


Mereka akhirnya nekat menyergap ke dalam unit kamar milik Alinskie, kecuali Nabilla yang ingin tetap menjaga area sekitar parkir.


Saat pintu itu di buka tanpa menekan kode sandi oleh Cintami membuat para anak buahnya Alinskie spontan melepaskan tembakan di depan pintu utama. Hal itu di manfaatkan oleh Alinskie yang melihat Bunga yang sesaat lengah untuk berlari ke arah balkon lalu melompat ke bawah sana karena apartemennya hanya berada di lantai tiga.


"Sial ....!" Bunga menarik kabel internet yang ada di ruangan itu, lalu melilitkan tali itu ke tubuh Lucky lalu berlari ke kaca jendela dan melompat ke bawah dengan menjadikan Lucky sebagai penopang tubuhnya agar tidak jatuh langsung ke bawah.


Amran dan Daffa baku tembak dengan para penjahat sementara Cinta dan Arsen menghajar Lucky dan lainnya yang tidak memegang senjata.


Bunga segera menyusul Alinskie yang tiba-tiba sudah menghilang begitu saja.

__ADS_1


Sementara Nabilla yang sedari tadi waspada di area tempat parkir. Ia melihat sosok seorang pria yang berjalan cepat sambil menyeret kakinya yang pincang menuju mobilnya lalu berhasil kabur.


Nabilla melihat sekitar tempat parkir itu dan ternyata ia menemukan sebuah motor tiger yang bisa ia gunakan untuk mengejar penjahat. Tidak tanggung-tanggung, nenek lincah yang satu ini tidak lagi keluar dari area parkir sesuai jalur.


Ia justru melakukan terjun dari lantai tiga ke kebawah dengan motornya di sisi lain gedung apartemen itu yang langsung ke mengarah ke jalan raya di mana mobil sedang berjalan.


Beruntunglah motornya jatuh tepat di atas atap beberapa mobil bis dan juga kontainer yang berjalan beriringan hingga membuat motornya bisa mendarat stabil hingga ia bisa melewati beberapa kontainer itu dengan mengenakan helm ajaibnya untuk membaca setiap nomor kendaraan yang mungkin saja salah satunya milik Alinskie, putra dari besannya Cyra.


sedangkan Bunga sudah menyusul dengan mobil polisi yang dipinjamnya tadi setelah menunjukkan lencana anggota FBI. Aksi kejar-kejaran yang dilakukan oleh ibu dan anak ini di pukul 1pagi, cukup menegangkan karena harus beradu dengan beberapa kendaraan lain yang melaju kencang yang bisa mereka salip untuk menangkap penjahatnya.


Alinskie yang melihat Bunga dan Nabilla mengejarnya melalui kaca spion mobilnya membuat ia makin menambah kecepatan mobil mewahnya yang merupakan mobil anti peluru. Ia merasa sangat aman karena tahu jika dirinya tak mungkin tertembak. Tapi ia lupa satu hal jika Bunga maupun ibunya memiliki senjata kimia yang bisa melebur biji baja sekalipun.


Alinskie menghubungi helikopter miliknya untuk menjemputnya di area terbuka, tentunya di atas atap hotel tempatnya yang sering dirinya menginap.


"Jemput aku di tempat biasa! Tentunya kamu sudah tahukan?!" titah Alinskie pada co-pilot helikopter miliknya.


Sementara Nabilla dan Bunga sedang mengejar Alinskie, tidak dengan suaminya Daffa, Cintami, Arsen dan Amran yang sedang berperang dengan beberapa orang yang merupakan anak buahnya Alinskie. Mereka bisa menjatuhkan lawan dengan cepat.


"Daddy. Aku akan menyusul Bunga!" pinta Daffa namun di cegah oleh Amran.


"Mereka sudah jauh meninggalkan kita. Jika dikejar dengan mobil, pastinya kamu tidak akan bisa menyusul mereka," ucap Amran sambil melihat ponselnya di mana terlihat ada istri dan putrinya sedang mengejar mobil Alinskie.


"Terus. Kita harus bagaimana Daddy?" tanya Daffa yang tidak ingin istrinya bertindak ceroboh.


"Sebentar lagi helikopter akan datang menjemputmu..! Naik saja ke atas atap apartemen ini. Dan aku akan menangani bajingan itu!" ucap Amran yang ingin mengintrogasi sendiri Lucky.


"Baik daddy." Daffa beranjak keluar dari unit kamar apartemennya adiknya Alinskie menuju pintu lift.

__ADS_1


Sementara Cintami dan Arsen mendekati Lucky yang sudah babak belur di hajar Amran.


"Katakan kepadaku! Mengapa kamu tega membunuh istrimu sendiri Lucky?" tanya Amran baik-baik.


"Bukan aku yang membunuhnya, tuan. Tapi dia sendiri yang bunuh diri," sahut Lucky sambil meringis kesakitan.


"Kau kira aku percaya dengan perkataanmu? Kau mau mengatakan kebenarannya padaku atau kau ingin merasakan penyiksaan yang luar biasa yang akan aku lakukan kepadamu?!" ancam Amran membuat Lucky tidak gentar.


"Aku sudah berkata jujur padamu kalau dia mati bunuh diri..uhuk ..uhuk....!" darah menyembur dari mulut Alinskie yang sudah meminum racun melalui wine yang dia teguk di tempat kasino tadi yang dilakukan oleh musuhnya sendiri.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan memotong alat reproduksimu karena kau telah menghancurkan hidup Hanadiah ..!" Ancam Amran mengeluarkan pisaunya untuk melakukan ancamannya.


"Tuan ...tidakkk ... jangan....ku mohon!" Lucky menangis ketakutan.


"Mau bicara atau tidak?" tanya Arsen yang ikut geram dengan Lucky.


"Aku menikahinya bukan karena cinta. Aku ingin menjualnya pada tuan Alinskie karena aku memiliki banyak hutang pada tuan Alinskie. Karena dia masih gadis dan itu adalah kesenangannya tuan Alinskie. Aku tidak menyentuhnya sama sekali. Sayangnya saat tuan Alinskie ingin menidurinya ia meraih pisau buah yang ada di nakas untuk menusuk tuan Alinskie.


Karena kesal, tuan Alinskie menampar wajahnya hingga ia jatuh dari atas tempat tidur dengan pisau yang tertancap di perutnya. Ia di buang di dekat tempat sampah di daerah yang cukup jauh yang jarang di lalui orang," jelas Lucky membuat keluarga Amran sangat sedih.


Di saat yang sama, Lucky menghembuskan nafasnya yang terakhir karena racunnya sudah menyebar di setiap pembuluh darahnya.


"Daddy ...! Kenapa dia bisa mati?" tanya Arsen.


"Sepertinya ada orang yang sudah meracuninya," jawab Amran.


"Sebaiknya kita tinggalkan dia dan menyusul mommy dan Bunga!" titah Amran pada putri dan menantunya.

__ADS_1


Di atas atap Daffa sudah di jemput oleh helikopter FBI untuk mencari Bunga dan Nabilla yang masih mengejar Alinskie.


__ADS_2