Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
55. Ungkapan Hati


__ADS_3

Untuk mengalihkan kesedihan Nabilla yang merindukan sosok ayahnya, Amran membahas apa yang sedang mereka alami hampir sebulan lebih ini.


"Sayang. Aku sangat bangga dan takjub dengan kehebatanmu mengulas setiap kejahatan para sindikat mafia dengan segala kepiawaiannya dalam merangkai kata. Menjelaskan secara beruntun bagaimana organisasi mereka terbentuk dan hubungan antara mereka satu sama lain. Bahkan komunikasi yang mereka gunakan dengan kode sandi tertentu dalam berinteraksi dan semuanya itu tidak mudah bagi seorang ahli IT sekelas ayahmu sekalipun,". ucap Amran.


"Tunggu mas! Ayah siapa ya? mas sedang menyebutkan ayahnya siapa? bukankah mas tahu kalau ayahku sudah meninggal di hadapan mas sendiri?" tanya Nabilla.


"Apakah kamu yakin bahwa ayahmu yang merawatmu selama ini adalah ayah kandungmu, Baby?" tanya Amran.


"Lho. Kok mas bisa tanya begitu? apakah ada sesuatu yang mas sedang sembunyikan dariku?" tanya Nabilla.


"Tunggu sayang! jangan salah paham dulu! Aku hanya ingin tahu apakah di akte kelahiran dan di buku nikah kita apakah itu nama asli ayahmu? apakah kamu tidak pernah dengar cerita masa kecilmu?" tanya Amran.


"Di akte kelahiran dan ijasahku hanya ada nama almarhum ayahku. Tidak ada lagi. Nama yang sama yang disematkan di buku nikah kita," ucap Nabilla.


"Sayang. Apakah kamu punya nomor ponsel kyaiai haji Rahmat yang menikahkan kita secara siri itu?" tanya Amran.


"Mas sebenarnya mau ngomong apa sih? kok sekarang malah ngurusin almarhum ayahku? emang aku anak haram ya? sampai segitunya mau tahu silsilah kekuargaku," ucap Nabilla sambil cemberut.


"Aku hanya ingin memastikan sesuatu saja sayang. Ok. Lebih baik sekarang kita bahas tentang kasus yang saat ini masih bergulir dan kesaksian kamu masih dibutuhkan saat para penjahat itu disidangkan nantinya. Karena kamu adalah saksi kuncinya," ucap Amran.

__ADS_1


"Mas. Awalnya aku hanya ingin membebaskan kamu saja. Tidak ingin menyentuh mereka. Tapi setelah aku telusuri siapa biang kerok yang menyebabkan kamu bisa ada dipenjara, terpaksa aku mencari ujung benangnya. Ibarat layang-layang nih, saat bisa naik tinggi ke atas awan pasti ada pemainnya dan bagaimana layang-layang mas bisa jatuh karena ada lawan yang ingin layang-layang milik mas jatuh, akhirnya dia gunakan segala cara untuk menjatuhkan mas.


Bagaimana mas bisa jatuh, pasti tali layangan mas masih ada benang sang lawan. Memang sih nggak kelihatan orangnya karena pertemuannya di atas udara dan yang mainnya ada di tempat yang berbeda. Untuk mengetahui siapa lawan mas, tinggal cari benang yang masih tersangkut dilayangan mas, dan kita ikuti benang itu hingga menemukan pelakunya. Analoginya seperti itulah," ucap Nabilla.


"Iya sayang. Tapi kamu sedang mempertaruhkan hidupmu demi untuk membebaskan aku," ucap Amran cemas.


"Demi hidupmu aku rela mempertaruhkan semua itu bahkan dengan nyawaku sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa hidup dan bernafas saat kau tidak ada di sampingku, hmm? Aku bahkan merasa tercekik membayangkanmu tidur dilantai penjara yang dingin. Aku berusaha membebaskanmu bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi untuk calon bayi kita. Untuk orang-orang yang bergantung hidup mereka padamu.


Ribuan karyawan bahkan jutaan karyawanmu bergantung hidup padamu. Kakek sudah terlalu tua untuk menangani lagi perusahaan yang ia besarkan dengan susah payah. Jika kamu jatuh mungkin kakek akan meninggalkan kita karena cucu kebanggaannya yang bisa ia andalkan harus menjadi korban keserakahan manusia berhati iblis itu.


Bagiku, aku hanya inginkan cintamu yang akan mengalir ke dalam darahku. Katakan kepadaku! Apakah aku harus bersembunyi dari manusia-manusia laknat itu dan membiarkan mereka mempermainkan hukum dan keadilan di negeri ini sesuai dengan pesanan penguasa sekelas Mafia hukum?" tanya Nabilla sambil menatap sang suami.


Yang benar menjadi salah karena penegak hukum akan memenangkan yang salah dengan dalih apapun hingga orang yang mengungkapkan kebenaran justru hidup mereka menjadi terancam. Jika masih mau berkibar dengan memperjuangkan kebenaran justru imbasnya pada orang-orang terdekat mereka akan terbunuh atau hidup mereka terus di teror dengan ancaman kekerasan secara verbal ," ungkap Amran.


"Itu karena mereka yang ingin berteriak kebenaran hanya bermodalkan nekat tanpa memiliki strategi untuk menyerang. Mereka minim teknologi, buta hukum dan kurangnya ilmu. Mereka tidak belajar kelemahan lawan. Berkenalan dengan musuh dan orang-orang yang berada di balik musuh yang ingin mereka jatuhkan justru orang yang memiliki kekuatan seperti oknum kepolisian dan oknum para hakim yang bisa disuap. Yang selama ini aku perhatikan seperti itu.


Kasus pembunuhan yang jelas nyata banyak saksi yang melihat pelakunya, tapi mereka bisa membangun opini dengan menggiring opini sesuai dengan keinginan mereka untuk mengecoh masyarakat bahwa mereka punya alasan kuat untuk membunuh.


Mereka pintar memutarbalikkan fakta hanya untuk menjatuhkan mental para saksi dan keluarga korban. Semua karena apa? Kurangnya ilmu, tidak punya koneksi, keuangan yang kurang mendukung dan lemahnya mental.

__ADS_1


Dan aku berani berteriak kebenaran karena aku punya segalanya terutama aku punya suami yang kaya. Aku punya strategi menyerang lawan karena ilmu yang aku kuasai dan kemampuan menghafal setiap kejahatan mereka dengan memperlihatkan semua bukti yang dibutuhkan hukum untuk menghukum mereka sesuai tingkat kejahatan yang mereka lakukan," Tutur Nabila membuat Amran tersenyum.


Bagaimana istrinya mampu memanfaatkan kekayaannya, koneksi dan kekuatan dari para anggotanya yang sudah terlatih untuk menjaga keamanannya, ditambah dukungan perusahaan ayahnya Nabilla yang bergerak di bidang cybercrime makin mengokohkan posisi Nabilla dalam menjatuhkan lawan-lawannya dengan kejeniusannya di hadapan hakim agung yang tidak lain adalah ayahnya Nabilla sendiri. Dan lebih menakjubkan lagi, sidang yang digelar hari ini diliput secara live oleh media dan Arlan mampu menggerakkan media dengan kekuasaannya sebagai asisten Amran.


"Benar katamu sayang, jika ingin menjatuhkan lawan, kita harus punya uang lebih banyak dari musuh. Dengan uang media bisa kita kuasai dan dengan ilmu, negara ini bisa kita lindungi dari para bandit yang berkedok pejabat," tutur Amran.


"Sayang. Kalau kita mampu kenapa kita tidak berani melawan mereka? Kalau Allah memberikan kita kekuatan ekstra untuk membasmi kejahatan mereka hari ini, lalu kapan lagi kita mewakili suara hati rakyat meneriaki kebenaran? jika kita mati untuk membela kebenaran sampai titik darah penghabisan, bukankah kematian kita adalah syahid di sisi Allah?"


Jika para pahlawan yang mau berjuang tapi takut gugur, mungkin negara kita sampai saat ini masih saja di tindas oleh penjajah. Walaupun sekarang kita bebas dari penjajah tapi kita tidak sadar kalau kita masih dijajah tapi bukan lagi melalui kekerasan tapi melalui sistem teknologi.


Jika kita tidak benar mengolah teknologi canggih sesuai dengan kebutuhan yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat, maka kita tidak lebih dari penikmat teknologi sebagai hiburan semata. Dan itulah strategi penjajahan global yang membunuh iman hingga membuat kita lalai karena sudah terlena dengan suguhan yang memukau hati melalui permainan games dan tontonan hiburan yang melalaikan kita menunaikan ibadah khususnya umat muslim.


Dan aku begitu takut jika kita terlalu terbawa arus pada kesenangan semu, bukan tidak mungkin Allah akan mengunci hati kita hingga kita tidak merasakan lagi kemaksiatan itu sebagai bentuk dosa," ucap Nabilla lalu memejamkan matanya karena ia sudah terlalu lelah untuk bercerita pada suaminya.


Amran tersenyum lalu menutupi tubuh istrinya dengan selimut." Tidurlah sayangku! terimakasih untuk ungkapan cintamu malam ini dan sudut pandangmu dalam menyikapi hidup ini. Kaulah guru kehidupanku yang terbaik, Nabilla. Aku bersyukur bertemu denganmu malam itu dan menjadikanmu sebagai Istriku walaupun perjalanan cinta kita berawal tanpa cinta," lirih Amran.


.....


Mohon vote dan like nya say.

__ADS_1


__ADS_2