
Memasuki kamar pengantin, Lea meminta tolong Devan untuk melepaskan hiasan bunga mahkota di kepalanya yang dijepit sana-sini diantara jilbabnya.
"Sayang. Pelan-pelan ini sangat sakit," rengek Lea.
"Maaf baby! Aku sudah tidak sabar. Tunggu ya! aku keluarin pelan-pelan," ujar Devan mencabut jarum pentul dari jilbab Lea dan sontak Lea menjerit karena rambutnya ikut ketarik.
"Aduhhhh..! kayaknya berdarah deh. Kamu nggak mau pelan-pelan sih say," gerutu Lea sambil memijit kepalanya yang sakit.
Amran yang sempat berdiri di depan kamar pengantin itu terlihat kesal pada Devan." Cih..! apakah Devan tidak bisa melakukannya secara perlahan? sudah tahu menghadapi gadis perawan, malah seenaknya main tancap aja," umpat Amran yang salah paham apa yang terjadi di dalam sana.
Iapun meninggalkan kamar pengantin adiknya itu dan kini kembali ke kamarnya. Setelah melepaskan semua pernak-pernik di kepala istrinya, kini Devan membuka hijab Lea dan terlihat wajah bidadari didepannya dengan rambut indah yang sengaja Devan lepaskan ikat rambut Lea.
"Wow...! kamu sangat cantik baby!" puji Devan dengan wajah berbinar.
Tangannya kembali bergerak membantu membuka kancing kebaya Lea. Bukit kembar Lea yang masih terbungkus kaca mata penutup berwarna putih itu dilepaskan oleh Devan. Tanpa basa-basi, tangannya memijat lembut squishy padat itu sambil memagut bibir Lea yang masih ada lipstik warna nude.
Dalam sekejap keduanya sudah polos dan Lea ingin lampunya digelapkan. Ia mendorong tubuh Devan dari tubuhnya.
"Matikan lampu dulu kak Devan!" pinta Lea.
"Tidak sayang. Aku ingin menatap milikmu," tolak Devan.
"Aku malu. Dan pasti rasanya akan sakit!" gugup Lea karena tubuhnya sendiri bergetar saat melihat ukuran suaminya yang terlalu besar menurutnya. Devan mengabaikan permohonan istrinya dan mereka saling melakukan pemanasan awal permainan itu.
"Sayang. Sakitnya cuma sebentar. Setelah itu akan nikmat. Aku janji tidak akan membuatmu kesakitan, hmm?" rayu Devan yang sudah diatas puncak karena mereka sudah saling memberikan pemanasan. Lea seperti menimang-nimang dengan nafasnya memburu karena sudah terbakar birahinya sendiri.
"Baiklah. Jika aku kesakitan, tolong dilepaskan!" pinta Lea langsung diangguki oleh Devan yang setuju.
Devan mengukung tubuh polos Lea dengan melebarkan kedua paha mulus itu untuk memasuki miliknya dicelah lembab yang sedari tadi menggoda matanya. Tanpa ingin berlama-lama, Devan menekan tubuhnya dengan kuat membuat Lea menjerit kesakitan dan Devan membungkam mulut itu dengan ciuman panasnya. Dengan cara itu ia bisa mendapatkan kesucian Lea. Jika mengikuti rengekan gadis ini, bisa seminggu dia tidak akan bertamu pada tempat yang masih steril itu.
Kedua tangannya Lea di tahan di atas kepala gadis itu dan Devan mulai memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggantikan kesakitan yang Lea rasakan dengan kenikmatan. Hanya memakan waktu sepersekian menit, Lea merasakan dashyatnya kenikmatan itu. Devan melepaskan pagutannya dan menatap wajah cantik istrinya yang sedang memejamkan matanya meresapi setiap hentakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.
"Bagaimana sayang? nikmat bukan?" goda Devan dengan suara seksi.
__ADS_1
"Hmm!" gumam Lea mengakui kenikmatan yang tiada taranya itu. Setengah jam berlalu keduanya melewati kenikmatan malam pertama mereka dengan kepuasan. Devan tidak memaksakan egonya lagi pada Lea yang baru saja menyerahkan mahkota untuknya. Darah segar mewarnai seprei putih itu. Devan mengecup bibir istrinya yang langsung terlelap.
"Tidurlah manisku! hari masih panjang untuk kita lalui bersama. Terimakasih sudah mengijinkan aku memiliki jiwa dan ragamu," lirih Devan lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
...----------------...
Keesokan paginya, Nabilla mengajak Amran untuk ngobrol hal yang penting karena sifatnya terlalu urgent. Untuk memberitahu hal penting itu Nabilla sengaja membiarkan tubuhnya tetap polos sambil duduk di atas pangkuan suaminya.
"Hubby!"
"Iya sayang!"
"Hari ini aku harus ke Amerika. Apakah helikopter bisa mengantarkan aku ke bandara?" tanya Nabilla.
Amran tercengang mendengar ucapan istrinya." Ada urusan apa ke Amerika, Nabilla?"
"Ini adalah tugas negara. Orang nomor satu RI mengutus aku ke sana menghadap presiden di gedung putih," ucap Nabilla masih menyembunyikan identitasnya.
"Apakah ini ada hubungannya dengan sindikat mafia dan semacamnya?" tanya Amran.
"Baiklah. Aku mengijinkan kamu pergi," ucap Amran sengaja menjeda ucapannya.
"Alhamdullilah. Terimakasih hubby," Nabilla mengecup bibir suaminya.
"Tapi, aku harus mendampingimu," imbuh Amran membuat mata Nabilla melebar.
"Aku suamimu sayang. Walaupun pengawal yang dikirim negara untuk melindungimu, tetap saja kamu adalah tanggung jawabku dunia akhirat. Jadi, dosa jika kamu menolakku karena kekuasaan negara ada dibawah kekuasaanku secara syariat agama atas dirimu. Karena surgamu ada padaku. Ridho suami adalah Ridho Allah," ucap Amran yang sudah mengeluarkan dalilnya dan Nabilla tidak bisa membantah.
Jika dia mati dan suaminya tidak ridho, maka neraka adalah tempatnya kembali. Membayangkan itu saja Nabilla bergidik ngeri.
"Baiklah. Biar kamu tahu sendiri setelah tiba di sana nanti," batin Nabilla sambil tersenyum samar pada suaminya.
"Aku tahu Nabilla. Kamu pasti orang penting. Tidak mungkin negara akan mengirim pasukan elite itu sembarangan jika kamu hanya seorang ahli IT," batin Amran ingin memastikan sendiri kecurigaannya pada Nabilla.
__ADS_1
Nabilla meminta ijin pada kedua orangtuanya dan juga mertuanya. Dia tidak bisa membawa ketiga bayinya dalam misinya saat ini. Semalaman ia memeras ASI miliknya untuk persediaan untuk ketiga bayinya untuk dua hari ke depan. Setelah berpamitan pada semuanya kini Nabilla mencium satu persatu bayinya.
"Mommy will be back soon for you guys. Pray for mommy, honey!" ucap Nabilla menahan air matanya.
"Tolong bertahanlah di sini semuanya, selama aku pergi. Jangan balik dulu ke kota sebelum aku pulang dari Amerika. Hanya ini tempat yang aman untuk keluarga ini. Aku lebih tenang saat kalian bisa kompak berada di sini," ucap Nabilla pada semuanya.
"Hati-hati kak Nabilla!" ucap keempat iparnya.
"Aku titip bayiku pada kalian juga," pinta Nabilla pada keempat iparnya.
Tuan Rusli memeluk putrinya. Membaca doa di atas ubun-ubun putrinya." Cepat kembali nak setelah misimu usai," ucap tuan Rusli.
Satu jam kemudian, helikopter sudah tiba di bandara setempat. Nabilla disambut oleh orang penting militer. penjagaan ketat di sekitar bandara dengan pasukan sneaker.
"Selamat datang nona Nabilla! Pesawat anda siap di kawal oleh pesawat jet tempur kepresidenan," ucap Marsekal TNI AU yang akan melepaskan kepergian Nabilla dan suaminya.
"Terimakasih pak!" ucap Nabilla dengan sikap hormat sempurna.
Amran makin bingung perlakuan negara pada Nabilla." Sepertinya jabatan istriku bukan main-main di negara ini, lalu di Amerika sana, Nabilla sebagai apa?" batin Amran sambil menjabat tangan Marsekal.
Pesawat sudah siap take off menuju Amerika dalam waktu tempuh 8 jam. Namun beda dengan pesawat komersial yang akan memakan waktu tempuh 14 jam jika melakukan transit pada negara tertentu.
Sepanjang jalan, Amran menggenggam tangan istrinya yang tampak biasa saja. Ia tidak merasakan kegugupan pada istrinya. Seolah semuanya sudah terlatih. Dan Amran juga harus terlatih mulutnya untuk tidak kepo pada sang istri. Justru rasa kagumnya makin bertambah pada istrinya yang selalu memberikan kejutan untuk dirinya setiap saat.
"Ya Allah. Setelah ini, apalagi yang akan ditunjukkan istriku kepadaku nantinya," batin Amran.
.....
like and vote nya cinta please!
Visual Lea
__ADS_1
Visual Devan