
Untuk memuaskan keingintahuannya tentang Molly, Nada meminta bantuan Cintami yang saat ini sedang menjenguknya di kediaman kedua orangtua mereka. Nada menarik tangan Cintami sambil melirik kiri kanan untuk memastikan tidak ada yang mendengar mereka bicara.
"Ada apa ...?" tanya Cintami bingung dengan sikap aneh Nada.
"Cintami. Aku mau minta tolong padamu!"
"Minta tolong apa, Nada?"
"Belakangan ini aku sering bermimpi tentang Molly. Aku ingin tahu hewan peliharaannya Dillon. Tolong tanyakan pada Dillon tentang Molly! Aku hanya ingin memastikan apakah dia baik-baik saja atau tidak," pinta Nada cemas.
"Kenapa kamu tidak menghubungi sendiri Dillon? Kenapa harus aku?" Cintami merasa keberatan.
"Ghaishan itu beda sama suami kalian. Apa saja dia cemburuin. Aku hanya mimpi molly, dia juga cemburu. Jadi, aku mohon kamu mau menolong aku, Cintami. Kalau aku yang hubungi Dillon, yang ada kami hanya berantem karena ponselku sudah disadap oleh Ghaishan," ucap Nada memberi alasan.
"Baiklah. Aku nanti akan menghubungi Dillon," ucap Cintami.
"Jangan nanti, tapi sekarang! kamu harus hubungi Dillon di depanku. Mumpung Ghaishan lagi keluar dengan Arsen," pinta Nada.
"Astaghfirullah. Kamu ini tidak sabaran sekali. Baiklah. Aku akan menghubungi Dillon sekaligus mengabari kamu baru melahirkan bayi kembar," imbuh Cintami seraya menyalakan ponselnya.
Sudah tiga kali panggilan dari Cintami, nomor kontak milik Dillon tidak aktif. Akhirnya Cintami menghubungi orang-orang KGB salah satu yang ia kenal.
"Hallo Cintami! Apa kabar..!" sapa Sarah.
"Alhamdulillah. Aku baik Sarah. Maaf. Aku ada perlu penting denganmu," ucap Cintami tanpa ingin basa-basi lebih lama.
"Katakan! apa yang bisa aku bantu sobat?" tanya Sarah yang merupakan mantan teman kuliahnya Cintami.
"Kamu kenal Dillon-kan?" tanya Cintami serius.
"Dillon agen KGB?" memastikan lagi.
"Iya Sarah. Benar. Itu dia," jawab Cintami.
"Dillon sudah meninggal sekitar 5 bulan yang lalu saat sedang melakukan misinya di Swiss," ucap Sarah membuat kedua saudara ini terperanjat.
__ADS_1
"Apaaa....?" sentak Cintami dan Nada bersamaan.
"Apakah kamu mengenalnya?" tanya Sarah penasaran.
"Iya. Aku mengenalnya. Maaf. Sudah merepotkan mu, Sarah," ucap Cintami mengakhiri obrolannya.
"Baik. Tidak masalah. Sampaikan salam ku untuk keluargamu, Cintami," ucap Sarah.
"Terimakasih."
Nada menangis sedih. Ia tidak menyangka Dillon meninggal saat menjalankan misinya. Itulah sebabnya dia mimpi Molly yang ingin memberitahukan tentang kabar kematian tuannya dengan caranya.
"Jika Dillon meninggal, bagaimana dengan molly? Apakah dia akan kembali ke hutan ke habitatnya lagi? Apakah molly juga sakit?" tanya Nada yang terlihat sangat syok mendengar berita tentang kematian Dillon.
"Syukurlah Nada. Kamu tidak jadi dengannya. Kalau tidak kamu sudah menjadi janda. Ambil hikmahnya saja," ucap Cintami.
"Aku ingin menemui Molly. Aku ingin tahu keadaan Molly," ucap Nada sedih.
"Kalau kamu memang penasaran dengan molly, aku akan hubungi keluarganya Dillon. Mungkin ada cerita lain tentang Molly," ucap Cintami.
Nyonya Alekendra menerima panggilan telepon dari Cintami dan Cintami memperkenalkan dirinya dan menceritakan bagaimana dirinya mengenal sosok Dillon sekaligus menyampaikan rasa duka mereka atas kematian Dillon. Hal ini membuat nyonya Alekendra terkesiap.
"Apakah kamu adalah saudaranya Nada?" tebak nyonya Alekendra membuat Cintami mengerutkan keningnya.
"Bagaimana nyonya mengetahui adik saya?" tanya Cintami.
"Saya sudah dengar tentang kalian semua terutama tentang Nada. Sebelum putraku meninggal ia mengatakan kepadaku untuk menyampaikan kepadamu kalau dia sudah memeluk Islam.
Dan kami meminta tolong jamaah mesjid di kota ini yang biasa Dillon datangi untuk belajar Islam," tutur nyonya Alekendra sedih.
"Alhamdulillah. Aku senang mendengarnya, nyonya. Tapi aku ingin tahu, bagaimana kabar Molly?" tanya Cintami lebih lanjut.
"Ini yang membuat aku tambah sedih Cintami. Sejak Dillon meninggal, molly tidak percaya kalau tuannya sudah meninggal. Dia selalu menunggu kedatangan Dillon yang selalu mengunjunginya di villa setiap akhir pekan. Kami sudah mengantarnya ke makam Dillon agar dia mengerti kalau tuannya sudah meninggal. Tapi, dia selalu saja menatap ke atas langit kalau-kalau helikopter milik tuannya datang.
Tapi, saat melihat kami yang datang, dia masih berharap Dillon turun dari helikopter itu. Dan saat ini molly jatuh sakit karena terlalu merindukan putraku Dillon. Jika berkenan, apakah Nada bisa datang melihat keadaan Molly?" pinta nyonya Alekendra penuh harap.
__ADS_1
"Maaf nyonya. Adikku Nada baru melahirkan bayi kembarnya. Dia tidak mungkin ke sana untuk melihat Molly. Lagi pula bagaimana nyonya tahu kalau Nada bisa menghibur Molly?" tanya Cintami penasaran.
"Karena molly selalu memegang foto Nada yang di gantung di kamarnya Dillon," ucap nyonya Alekendra.
"Kalau begitu, kenapa kita tidak menggunakan video call saja. Siapa tahu Molly sedikit terhibur," tawar Cintami.
"Baiklah. Aku akan menghubungi pelayanku yang saat ini sedang merawat Molly," ucap nyonya Alekendra sedikit bernafas lega.
Ia ingin sekali melihat Molly sembuh karena baginya molly adalah harta berharga yang ditinggalkan putranya untuk menghibur mereka.
Tidak lama kemudian, sambungan telepon Cintami dan pelayannya nyonya Alekendra tersambung. Cintami memanggil Nada agar menghibur Molly. Nada sulit menghentikan air matanya saat melihat Molly terbaring lemah di tempat tidurnya.
"Hei Molly! apa kabar! Apakah kamu masih mengingat aku?" tanya Nada saat molly menatap wajahnya intens.
Jika dia bisa bicara dia akan mengatakan kalau saat ini dia sangat merindukan Nada karena Dillon sudah meninggalnya.
"Apakah kamu merindukanku?" tanya Nada yang hanya di angguki Molly. Nada tersenyum dengan air mata berderai.
"Molly. Allah sudah memanggil tuanmu agar kembali kepadaNya. Dia sudah bahagia di sana. Tolong jangan lagi menunggunya pulang karena dia tidak akan pernah pulang untuk melihatmu," ucap Nada sedih.
Mendengar itu, wajah Molly merasa tidak suka. Ia merasakan kalau Dillon masih hidup. Nada tidak bisa lagi menghibur Molly.
"Baiklah. Kalau kamu masih keras kepala, jangan pernah lagi merindukan aku. Apa lagi berani datang dalam mimpiku," omel Nada.
Molly menggeleng dan berharap Nada tidak serius dengan ancamannya. Molly lantas menanyakan bayi kembarnya Nada dengan memperagakan menggendong bayi.
"Bagaimana kamu bisa mengetahui aku baru melahirkan bayiku? Berarti kamu memimpikan aku saat aku melahirkan bayi kembarku?" tanya Nada. Dan Molly mengangguk.
Cintami membawa salah satu bayi perempuannya Nada. Molly begitu bahagia melihatnya. Ia lalu kembali berbaring dengan tubuh yang terlihat makin lemah.
"Molly. Apa yang terjadi pada Molly?" tanya Nada panik saat melihat Molly seakan sudah melepaskan kerinduannya pada Nada.
"Maaf nona....! Molly sudah mati. Dia memang sangat merindukan nona. Dia ingin mati di hadapan nona. Sekarang impiannya terwujud. Dia sudah menyusul tuannya. Terimakasih nona sudah memenuhi permintaan terakhirnya Molly," ucap pelayannya Dillon yang terlihat sedih.
"Mollyyy....!" Nada makin histeris membuat bayinya kompak menangis.
__ADS_1
"Nada. Nada...sayang! Kendalikan dirimu. Binatang itu tahu hatimu sangat tulus menyayanginya. Itulah sebabnya dia ingin mati dengan melihat wajahmu untuk terakhir kalinya," ucap Cintami menghibur adik bungsunya ini.