
Setibanya di hotel, Alinskie buru-buru menaiki lift menuju lantai terakhir agar bisa kabur dari kejaran Bunga dan Nabilla. Alinskie yang merasa ketakutan yang sudah mengubun merasa pergerakan lift begitu lama.
"Mengapa benda ini lamban sekali pergerakannya?" omel Alinskie terdengar gusar.
Padahal ia sudah menghubungi anak buahnya yang lain untuk menghadang pasukannya Nabilla. Ghaishan dan El menghadang penjahat yang sudah lebih dulu menghalangi jalan motornya Nabilla.
"Mau ke mana kalian?!" tanya salah seorang penjahat pada Nabila dan Bunga dengan gagahnya seakan sedang menghadapi wanita lemah.
Bunga turun dari mobil polisi itu. Tanpa banyak bicara, ia menembaki para penjahat yang mengira dua orang perempuan ini tidak membawa senjata. Jadilah keduanya saling baju tembak dengan anak buahnya Alinskie.
"Bunga, sayang. Kamu harus kejar Alinskie..! Biar mommy yang menghadang mereka!" titah Nabilla pada Bunga yang langsung mengambil alih motor dari ibunya.
Tanpa pengaman helm, Bunga naik ke motor itu lalu balik arah. Beberapa menit kemudian Bunga kembali lagi ke tempat penjahat tadi dan langsung melakukan cross motor bagaikan seorang pembalap akrobat yang melompati beberapa mobil penjahat hingga para penjahat nampak bengong menatap ke atas udara di mana Bunga bisa melewati mereka semua lalu jatuh lagi ke atas aspal tanpa terpeleset sedikitpun.
Di saat itulah Nabilla menjatuhkan satu persatu anak buah Alinskie. Bunga yang sudah tiba di hotel menyusul Alinskie saat melihat pergerakan Alinskie menuju atap.
"Kali ini, kau tidak akan ku biarkan hidup Alinskie! Dasar penjahat kelamin! Kau hanya salah menumpang di rahim bunda Cyra dari benih keparat ayahmu si Murrad itu!" maki Bunga sambil melihat pergerakan Alinskie di ponselnya yang sudah mencapai di atas atap hotel menunggu kedatangan helikopternya.
Alinskie menghampiri helikopternya dengan berlari cepat saat pintu helikopter sudah terbuka secara otomatis untuk menyambutnya.
"Akhirnya, aku bisa bebas dari singa betina itu. Gumamnya sambil naik ke atas helikopter. Tepat di saat pintu helikopter itu di tutup, pintu lift di atas atap itu terbuka.
Alinskie melambaikan tangannya ke arah Bunga sambil terkekeh penuh kemenangan.
Melihat itu, Bunga tidak tinggal diam. Ia dengan secepat kilat berlari mengejar helikopter Alinskie lalu melompat dari pinggir atap hotel itu agar bisa berpegangan di kaki helikopter tanpa takut akan jatuh dari atas lantai 50 itu.
"Bos ..! Sepertinya gadis itu bergelantungan di kaki helikopter," ucap co-pilot.
"Biarkan saja dia ikut. Kita bawa singa betina itu ke pantai dan jatuhkan dia ke tengah laut!" titah Alinskie.
__ADS_1
Angin yang cukup kencang menerpa tubuh Bunga namun ibu dari Rafa dan Raffi ini tetap stabil menggenggam kuat besi dari kaki helikopter itu. Ia mengambil sesuatu dari dalam kantong mantelnya yang merupakan bom yang ia tempelkan ke kaki helikopter yang terus berjalan itu.
Sementara dari kejauhan helikopter milik FBI di mana ada Daffa di dalamnya sedang mengikuti helikopter Alinskie.
"Itu istriku..! Ya Allah. Kenapa dia nekat bergelantungan seperti itu di kaki helikopter?" keluh Daffa yang tidak tega melihat wanitanya berjuang menangkap penjahat dengan mengorbankan nyawanya.
Bunga melihat ke bawah di mana mereka sedang membawanya ke arah pantai. Sementara helikopter FBI mengikutinya dari belakang. Bunga melihat waktu di arlojinya.
"Ok. Sepuluh menit lagi bom ini akan meledak. Selamat jalan adik iparku...! Kejahatanmu di dunia ini sudah berakhir. Saatnya kau harus menjadi sapi panggang," ujar Bunga seraya melepaskan pegangannya dari besi kaki helikopter.
"Bungaaaa....!" pekik Daffa saat melihat istrinya sudah kecebur ke dalam laut.
"Cepat tuan...! Aku harus selamatkan istriku. Di bawah sana sangat gelap," pinta Daffa pada co-pilot.
"Baik Tuan."
Melihat yang Bunga yang sudah menjatuhkan tubuhnya ke dalam laut membuat Alinskie tertawa terbahak-bahak.
Daffa turun dari helikopter dengan mengenakan tali pengaman. Ia turun dengan cepat untuk menyelamatkan istrinya karena takut kebawa oleh arus laut.
Sinar terang dari lampu sorot helikopter memudahkan Bunga untuk bisa melihat di sekitarnya. Ia mengulurkan tangannya untuk mencapai kaki suaminya.
"Aku sudah mendapatkanmu sayang...!" ucap Daffa lalu mencium bibir istrinya sekilas. Keduanya segera naik lagi ke atas helikopter saat alat pengaman di pasang dengan benar di tubuh Bunga.
"Tarik kami ke atas!" titah Daffa melalui alat penghubung pada co-pilot helikopter yang dengan cepat menarik tubuh keduanya naik ke atas helikopter.
Sebelum Daffa dan Bunga mencapai helikopter, terdengar ledakan dari arah helikopter Alinskie yang begitu dahsyat seperti bom membuat Bunga tersenyum puas.
"Rasakan pembalasanku, bad boy!" ledek Bunga sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh suaminya.
__ADS_1
Daffa yang belum sempat bertemu langsung dengan adik kandungnya itu hanya bisa bergumam dalam hati.
"Dari awal hidupku, aku tidak pernah merasa memiliki saudara kandung. Sampai aku mengetahui kalau aku punya saudara kandung dan itupun aku tidak merasakan keberadaanmu.
Dan sekarang kau pun pergi menemui ajalmu karena balasan dari perbuatanmu sendiri. Dan aku tidak merasa kehilanganmu karena kau tidak pernah aku inginkan sebagai saudara kandungku. Selamat jalan adik khayalan...!" batin Daffa sambil menatap kepulan asap yang masih bisa mereka lihat dari kejauhan.
Helikopter FBI membawa pasangan itu langsung ke markas FBI. Sementara Amran dan lainnya sudah kembali ke mansionnya Nada. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Semuanya masuk ke dalam kamar mereka masing-masing agar penghuni yang lain tidak mengetahui keluarga itu sedang melakukan misi besar.
Amran memeluk erat tubuh istrinya. Keduanya sudah saling berciuman mesra tidak kalah dengan pasangan yang muda.
Sementara di rumah sakit sana Adam sedang menunggu istrinya yang belum siuman karena baru menerima donor ginjal milik Hanadiah.
"Sayang. Semuanya sudah berlalu. Saat ini kamu hidup kembali setelah hampir saja Allah mengambil kamu dariku. Alhamdulillah, rencana Allah sangat indah untuk perjalanan cinta kita yang penuh liku.
Aku tidak mengira kalau kita berdua akhirnya bersatu dalam ikatan suci pernikahan. Terimakasih Syakira atas keyakinanmu yang tidak pernah goyah hingga akhirnya, atas nama cinta kita karena Allah. Aku mencintaimu karena Allah Syakira...!" gumam Adam lirih.
"Aku juga sangat mencintaimu, Adam karena Allah...!" balas Syakira dengan mata yang masih terpejam dengan senyuman manis terlihat di wajah cantiknya.
"Hmmm...! Nakal ya sekarang. Diam-diam menguping ucapanku," ucap Adam lalu menatap dalam wajah Syakira yang terlihat kembali segar.
"Cepatlah sembuh, sayang...! Supaya kita bisa pergi bulan madu," pinta Adam.
"Tapi, aku ingin kita bulan madu di Indonesia. Tapi, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Siapa yang telah mendonorkan ginjalnya kepadaku?" tanya Syakira.
Adam menceritakan semuanya kepada Syakira tanpa ada yang ia tutupi. Syakira yang mendengar itu sangat terharu.
"Alhamdulillah. Allah sangat baik kepadaku hingga menitipkan ginjal dari wanita Sholeha seperti Hanadiah. Semoga Allah membalasnya dengan naungan cahaya surga di dalam kuburnya dan terhindar dari siksaan kubur hingga Yaumil akhir....aaminn. Apakah dia memiliki keluarga?" tanya Syakira.
"Keluarganya yang baik itu adalah ayah kandungnya yang saat ini tidak punya pekerjaan karena bisnisnya hancur. Dan adiknya bernama Fitri masih duduk di bangku SMP dan saat ini mereka menginap di rumah adikku Nada," tutur Adam.
__ADS_1
"Kalau begitu, biarkan ayahnya Hanadia mengelola perusahaanku karena aku ingin tinggal di Indonesia bersamamu," ucap Syakira.