Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
266. Menjemput Putranya Molly


__ADS_3

Sepekan berada di Indonesia, membuat para besan Amran bersiap bertolak kembali ke negara mereka masing-masing bersama dengan Ghaishan dan Nada yang harus kembali ke Amerika karena baby kembar mereka sudah cukup besar untuk berpergian jauh.


Raja Farouk kembali ke Bahrain, tuan Luciano ke Itali dan tuan Darwis ke Amerika. Ketiga besannya Amran menggunakan pesawat jet pribadi mereka masing-masing.


Ghaishan menumpang pesawat orangtuanya karena mereka harus ke Rusia sebelum ke Amerika. Kesedihan nampak jelas terasa oleh kelurga itu. Amran dan Nabila yang tidak kuat berpisah dengan cucu kembar ajaibnya itu. Sedari tadi ia hanya menggendong baby Ghazali yang merasa kakeknya tidak rela berpisah dengannya.


Walaupun bayi tampan bermata biru ini sudah berulangkali menghibur kakeknya dengan atraksi mereka yang mengagumkan namun tetap saja wajah datar Amran tidak berubah sama sekali.


"Aduh kakek....! Kami ini tidak bisa menjadi amuba dengan membelah diri sendiri atau melakukan kloning memperbanyak diri agar bisa menemani kakek di sini. Di mana ada Daddy dan mommy kami, kami harus selalu bersama mereka," batin baby Al-Ghazali bicara dengan kakeknya.


"Ok Daddy. Kami pamit pulang dulu!" ucap Nada saat mereka sudah tiba di bandara hendak turun dari mobil Limosin hitam itu.


"Bukankah kalian berdua selalu sibuk? Kenapa tidak tinggalkan saja baby kembar bersama Daddy di sini," ucap Amran memberi alasan untuk menahan cucu kesayangannya itu.


"Daddy sebentar lagi akan direpotkan dengan cucu kembar tiga milik kak Adam dan kak Syakira. Jadi fokuslah pada calon cucu daddy untuk mengusik lagi ketenangan daddy dengan lomba paduan suara merdu mereka nanti," ledek Nada menerbitkan senyum pelit Amran.


Keluarga terakhir itu yang akan pulang kembali ke negaranya bersalaman dengan Amran dan Nabilla penuh dengan Isak tangis melepas kepergian besannya tuan Luciano dan nyonya Rosella.


"Berkunjunglah ke Itali...!" pinta tuan Luciano pada besannya.


"Tentu saja..!" ucap Amran sambil menepuk bahu kokoh besannya.


"Kapan-kapan kita harus berkunjung ke Turki untuk berziarah ke makam kakek," ucap nyonya Rosella pada sepupunya Nabilla.


"Baiklah. Kita akan buat jadwal tersendiri untuk itu karena harus bertepatan dengan musim salju agar cucu-cucu kita bisa bermain ski di sana," ucap Nabilla.


Keduanya saling berangkulan sebelum mereka menaiki tangga pesawat. Nabilla mencium gemas cucu kembarnya. Ghaida menatap dalam mata Omanya seakan sedang memberikan kekuatan sedikit pada Nabilla. Sesaat Nabilla merasa waktu terhenti di sekitarnya.


Setelah itu kembali tersadar saat ia tidak merasa kapan baby Ghaida sudah berpindah ke gendongan putrinya Nada yang sudah menaiki tangga pesawat.


Pesawat itu siap meninggalkan landasan pacu bandara tersebut menuju Moskow Rusia. Nabilla baru sadar lagi menemui dunianya. Amran sudah menangis di dalam mobilnya karena harus berpisah dengan putri dan cucu kembar ajaibnya.


"Ini yang aku tidak suka jika berjauhan dengan putri dan cucu-cucuku. Aku ingin mereka berada di hadapanku setiap kali aku bangun tidur dan tidur lagi," keluh Amran hanya dihibur oleh Nabilla yang sabar mengusap punggung tangan kekar itu.

__ADS_1


"Sudahlah...! Empat anakmu sudah berada di Jakarta bersama kita. Cucu kita makin bertambah banyak. Kehilangan satu di depan mata tidak masalah bagimu, bukan?" hibur Nabilla pada suaminya yang berubah menjadi ibu-ibu cerewet.


Amran masih saja belum puas bersama dengan si kembar dari putrinya Nada.


...----------------...


Setibanya di Moskow, mereka harus menumpang helikopter untuk bisa mencapai villa milik Dillon. Sebelumnya itu, Nada sudah menghubungi ibunya Dillon untuk berziarah ke makamnya Dillon dan juga kuburnya Molly yang sengaja di buat berdampingan.


Karena di villa milik Dillon yang hanya mengenal musim salju membuat keluarga kecil Ghaishan itu harus mengenakan jaket dan mantel tebal. Penjaga villa menyambut kedatangan Nada yang sudah mereka kenal itu.


"Selamat datang nyonya...!" ucap pelayan Marco menyambut Nada dan kelurganya di villa milik Dillon.


Nada menahan kesedihannya saat masuk lagi di villa yang penuh kenangan itu.


"Apakah anda mau minum sesuatu nona?" tanya pelayan itu menggunakan bahasa Rusia yang juga dimengerti oleh Ghaishan.


"Berikan kami susu coklat panas...!" pinta Nada.


"Baik nyonya."


"Aku kira kamu akan panjang umur dan memiliki kelurga. Ternyata Allah memanggil kamu lebih cepat dari yang aku duga," ucap Nada tidak kuat lagi menahan rasa sesaknya.


Ghaishan hanya bisa membiarkan istrinya bernostalgia dengan kenangannya. Ia tidak mau menganggu Nada yang terlihat murung yang sekarang sedang beralih menatap foto molly yang pernah foto bersamanya.


"Nyonya Nada. Apakah anda ingin bertemu dengan putranya molly?" tanya pelayan Marco.


"Apakah dia di sini bersama ibunya?" tanya Nada kembali semangat.


"Ibunya juga sudah mati setelah melahirkan bayinya," ujar Marco sendu.


"Baiklah. Aku ingin bertemu dengan bayinya Molly," ucap Nada.


"Tunggu sebentar nyonya!" Marco segera ke kandang belakang di mana bayi molly sedang bermain sendirian.

__ADS_1


Tidak lama keduanya sudah muncul di hadapan Nada yang langsung terpesona dengan bayi lucunya Molly.


Bayi Molly terlihat malu-malu menatap nada yang sedang mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Hai sayang! Apa kabar...! Kenalkan aku mommy Nada!" ucap Nada menggenggam tangan bayinya Molly.


Baby Ghazali dan baby Ghaida menghampiri beruang berwarna emas itu. Bulunya sangat cantik berwarna kuning keemasan atau pirang.


"Siapa namanya Marco?" tanya Nada menggendong bayi molly.


"Kata nyonya besar, biar nyonya Nada yang memberikan putranya Molly nama," ucap Marco.


"Aku suka nama Molly. Aku ingin menamakannya Molly untuk mengenang ayahnya Molly. Tidak apakan aku menamakan dia Molly, sayang?" tanya Nada pada Ghaishan yang mengangguk setuju.


"Terserah padamu sayang karena kamu ibunya," ucap Ghaishan yang juga suka pada Molly junior.


Keluarga itu berjalan ke belakang villa Dillon untuk berziarah di makam Dillon dan Molly. Lagi-lagi, Nada merasakan keberadaan Molly di sampingnya yang saat ini sedang merangkul pundaknya.


"Terimakasih Nada..! Kamu sudah datang menengok kami di sini. Tolong bawa putraku bersama kalian. Putraku akan menemani anak kembar kalian. Biarkan mereka tumbuh bersama," ucap Molly melalui bahasa telepati pada Nada yang tersenyum di sampingnya sambil mengangguk. Setelah itu molly menghilang.


"Apakah anda ingin menginap di sini, Nyonya?" tanya Marco.


Nada melirik suaminya yang tidak mau menginap di villa Dillon. Melihat suaminya menggeleng menolak tawarannya Marco, Nada segera pamit pada Marco sambil membawa molly bersama mereka dengan berbeda helikopter karena Molly harus masuk ke kandangnya sendiri.


Di hari yang sama, pesawat jet pribadi milik Ghaishan yang dari Amerika segera menjemput keluarga kecil itu bersama dengan molly kecil. Tidak lama kemudian, pesawat itu sudah membawa pulang kelurga kecil itu ke New York Amerika.


Satu bulan kemudian, Amran dan Nabilla sedang mengurus ijin pembangunan proyek besar mereka yaitu membangun kilang minyak di pulau rahasia miliknya. Tidak tanggung-tanggung, Amran dan Nabilla langsung menemui presiden untuk membahas proyek besar itu yang akan menjadi sumber pendapatan untuk negara.


"Bagaimana bisa anda mengklaim kalau di pulau kalian ada sumber minyak bumi kalau belum ada penelitian dari pihak negara untuk memastikan bahwa ada sumber minyak bumi di pulau tersebut?" tanya sang presiden membuat Amran sedikit geram.


"Kami bukan orang bodoh yang datang ke sini mengakui sesuatu kepada anda kalau tidak ada bukti. Jika negara ingin membantu proyek besar saya, maka saya akan sangat berterimakasih sekali.


Dan saya tidak akan membiarkan apa yang saya miliki di ambil alih oleh negara," tegas Amran pada presiden yang terlihat kembali terdiam.

__ADS_1


"Apakah kamu punya dana besar untuk membangun kilang minyak di tempat itu dengan infra struktur sebagai mobilitas para staff untuk mengembangkan proyekmu itu?" ragu sang presiden.


"Uangku lebih banyak untuk bisa menghidupi setengah penduduk negara ini, bapak presiden. Jadi, jangan kuatirkan masalah biayanya. Saya hanya butuh ijin anda sebagai kepala negara untuk memberikan saya akses dalam pembangunan proyek kilang minyak di pulau saya," ucap Amran.


__ADS_2