Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
69. Aku telah Membuangmu Seperti Sampah


__ADS_3

Ketiga mobil itu melaju beriringan menuju butik setelah Arland meminta anak buahnya membawa penjahat itu ke markas mereka. Dan yang sudah tewas langsung dibawa ke rumah sakit dan dikuburkan oleh petugas rumah sakit setelah membayar administrasinya.


Dua jam kemudian, dua ratu yang bakal bersanding di pelaminan nampak anggun dengan gaun pengantin mereka membuat dua lelaki di hadapan mereka nampak terpana saat tirai itu di buka.


"Masya Allah cantiknya!" puji keduanya penuh decak kagum. Kedua gadis itu tersipu malu.


Foto prewedding indoor dilakukan oleh dua pasang calon pengantin itu sedang berlangsung. Kamera sang fotografer profesional mengambil setiap view yang sesuai dengan latar yang diinginkan oleh calon pengantin sesuai konsep yang mereka usung.


Sementara Amran yang ingin melihat Nabilla dengan gaun pengantin yang sangat seksi yang model kemben hingga memperlihatkan tonjolan bukit kembar Nabilla yang begitu mekar sempurna karena ada ASI makin membuat Amran gelisah. Karena Nabilla tampil hanya didepan suaminya, terpaksa mereka melakukan pemotretan di area tertutup oleh fotografer wanita yang disewa khusus Amran karena segera dicetak dan tidak boleh menyimpan file foto itu.


"Kenapa wanita ini cantik sekali? apakah dia keturunan peri atau bidadari semacamnya?" batin sang fotografer yang terus mengagumi kecantikan Nabilla yang menurutnya lebih dari kata sempurna. Kulit bak porselin mahal yang begitu mulus dan selembut kulit bayi.


"Beruntung sekali tuan Amran mendapatkan wanita ini," batin Windi.


"Tuan Amran. Tolong lihat hasilnya! foto mana saja yang ingin anda cetak saat ini?" tanya Windi sambil memperlihatkan file foto di laptop miliknya pada Amran.


"Cukup dua saja. Pertama foto istriku sendiri dengan gaya sensualnya dan foto kami berdua!" pinta Amran menunjukkan foto mereka berdua di mana tangan nakalnya menyentuh cup bukit kembar cantik milik Nabilla.


"Cih.. bisa-bisanya dia minta cetakan foto dengan tangan mesumnya," umpat Windi pada Amran.


Foto itu akan Amran pajang di ruang ganti dan kamar tidurnya di apartemennya sendiri. Usai melakukan pemotretan, kini keduanya mengganti baju mereka dan menunggu sang calon pengantin selesai. Amran meminta flashdisk miliknya yang sudah dipindahkan file foto milik mereka berdua dari Windi.


"Kamu tidak mencopy filenya kan?" tegas Amran sambil melirik Nabilla yang ikut memastikan sendiri profesional cara kerjanya Windi sambil mengutak-atik laptop milik Windi.


"Tentu saja Tuan. Aku tidak berani melakukannya," ucap Windi ketakutan.


"Aman mas. Ayo kita pulang karena aku sudah kangen dengan ketiga anak kita," ucap Nabilla.


"Baiklah. Kita tunggu mereka dulu sebentar!" Amran masih kuatir dengan adiknya.


Tidak lama kedua pasangan calon pengantin itu sudah menggantikan baju mereka." Nadin mau mampir ke rumah nenek Anisa?" tanya Nabilla.


"Iya mbak. Di rumah sepi. Oma dan Arsen nggak ada di rumah. Mau balik ke perusahaan sudah malas," ujar Nadin yang bekerja di perusahaan Wira.


"Baiklah. Kita sholat ashar di rumah kakek saja," ucap Nabilla.


Ketiga mobil itu sudah meninggalkan butik milik desainer terkenal di tanah air ini. Sepanjang jalan ketiga mobil mereka diawasi oleh anak buahnya Reno dan Amran. Kejadian hari ini hampir membatalkan rencana pernikahan mereka yang akan di gelar dua pekan lagi.

__ADS_1


...----------------...


Di kediaman Reno, yang saat ini sedang melangsungkan pernikahannya Nadin dan Arland di mana Wira sebagai wali hakim untuk adik tercintanya. Nadin didampingi Celia dan Nabilla menuju meja penghulu di mana Arland menunggunya. Kebetulan Nadin menggunakan hijab saat ijab qobul membuat kecantikannya makin terlihat lebih beda.


"Masya Allah!" puji Arland saat Nadin sudah berdiri di sampingnya siap untuk mendampinginya.


Nabilla dan Celia kembali ke tempat duduk mereka bergabung dengan nyonya Irene dan keluarga yang lainnya. Semua anggota keluarga dan kerabat Amran hadir di pernikahan itu. Hanya satu nama yang tidak hadir yaitu nyonya Arumi karena ia tidak tinggal serumah lagi dengan tuan Recky karena sedang menunggu hasil sidang perceraiannya.


Mata Reno, Devan dan Amran tidak terlepas menatap bidadari mereka. Amran yang kesal dengan kedua pria yang menatap kedua adiknya begitu kesal.


"Jaga tuh matanya! belum halal. Entar bisa mabuk. Kasihan tuh burung perkututnya, entar ngamuk nggak ada sarangnya. Kalau aku dan Arland sudah halal karena nanti malam kita pesta," ledek Amran sambil senyum smirk.


"Sial ..! Minggu depan aku juga melepas masa lajangku dan kamu tidak bisa meledek aku lagi," umpat Reno kesal.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nadine Alexandra binti Berland Mahardinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Arland dengan suara lantang.


"Bagaimana dengan saksi?" tanya penghulu.


"Sah ..sah .!" ucap Tuan Rusli dan kakek Abdullah bersamaan sebagai saksi kedua mempelai.


Prosesi sungkeman terlihat Melo pagi itu. Nadin menangis memeluk ibunya. Demikian Arland yang merupakan pria yatim piatu menyalami nenek Anisa dan kakek Abdullah sebagai pengganti kedua orangtuanya.


Di saat itu ada yang menarik pemandangan pagi itu. Lira yang tampak menggendong Baby Cintami ditemani oleh Arsen yang sangat senang dengan Baby Cinta nampak akrab. Wira mengambil foto ketiganya dan juga merekam interaksi itu.


"Tante Lira masih kuliah ya?" tanya Arsen.


"Masih Arsen. Karena Tante ngambilnya hukum, jadi agak lama untuk menyelesaikannya," ujar Lira.


"Jadi kalau sudah wisuda langsung nikah ya Tante?" selidik Arsen yang ingin agar Lira menjadi ibunya karena ayahnya sangat mencintai gadis cantik nan ayu yang duduk didepannya saat ini.


"Insya Allah. Kalau kami berdua berjodoh," ucap Lira.


"Semoga aja kalian tidak berjodoh," batin Arsen.


"Tunggu sebentar ya Arsen, Tante mau baringkan Dede bayi di kamar dulu ya!" ucap Lira yang ingin membaringkan keponakannya di kamar tamu yang sudah dipersiapkan oleh keluarga Wira.


"Iya Tante. Silahkan!" ucap Arsen.

__ADS_1


Saat Lira masuk ke kamar itu hendak membaringkan baby Cintami, Wira juga ikut masuk kedalam kamar itu. Lira yang tidak mengetahui kalau itu Wira dan mengira itu Nabilla membuat ia terus mengoceh.


"Baby Cintami udah bobo kak Nabi..-"


Lira mengerutkan keningnya melihat wajah tampan Wira yang sedang menatapnya.


"Maaf mas Wira tidak baik berada di kamar ini berduaan saja karena kita bukan muhrim," ucap Lira sambil menundukkan pandangannya.


"Aku tahu Lira tentang norma itu. Tapi ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu tentang rahasia besar kekasihmu yang kamu menantikan dirinya dengan setia tapi dia telah mengkhianati dirimu," ucap Wira.


"Maksudnya mas Wira apa ya?" tanya Lira masih tidak mengerti.


Wira mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan rekaman di mana kekasihnya Lira sedang bercumbu di restoran mewah yang ada di New York.


Lira mengambil ponsel itu hati-hati dan membuka rekaman itu.


Baru saja ia melihat awal rekaman itu Lira membekap mulutnya sambil menangis. Belum selesai ia melihat itu tubuhnya mulai goyah dan ponsel milik Wira hampir terlepas dari tangannya jika tidak ditangkap oleh Wira.


"Tidak mungkin. Astaghfirullah..!" Lira duduk di pinggir tempat tidur karena terlalu syok.


"Apakah kamu masih berharap pria seperti ini menjadi suamimu, Lira?" tanya Wira lalu meninggalkan kamar tamu itu setelah berhasil menunjukkan bukti perselingkuhan Darren.


Lira membenamkan wajahnya di atas bantal dan menangis di sana sejadi-jadinya.


Sementara di luar sana, tuan Recky juga tidak mau kalah dengan Wira yang ingin mendekati lagi ummi Ambar yang sedang makan kue sambil memainkan ponselnya.


"Ambar..!" sapa tuan Recky gugup.


Ambar sontak berdiri hendak menghindari kontak mata dengan Recky namun Recky lebih dulu meraih pergelangan tangannya Ambar.


"Ambar. Aku masih mencintaimu. Bisakah kita mulai lagi dari awal setelah perceraianku dengan Arumi selesai?" tanya Recky.


Ambar hanya melirik genggaman tangannya Recky pada pergelangannya sesaat lalu berkata" Apa katamu? kamu bilang masih mencintaiku? hello ..tuan hakim Recky yang terhormat. Selama ini kamu tidak pernah mencintaiku. Kamu hanya melihatku sebagai wanita pemuas na*sumu saja selama kehidupan pernikahan kita.


Kau bahkan ingin menyingkirkan aku secara perlahan dan kini aku sudah membuangmu seperti sampah. Dengan begitu aku tidak perlu lagi mengingat jejakmu bahwa kamu pernah ada dalam kehidupanku!" bentak Ambar lalu menghentakkan tangannya dari genggaman Recky.


Glekkkk....

__ADS_1


..... .


Vote dan like nya Cinta, please!


__ADS_2