Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
300. Masa Depan


__ADS_3

Lima tahun berlalu. Setelah memegang kekuasaan selama dua periode jabatan sebagai orang nomor satu di republik Indonesia, kini Amran dan Nabilla bersiap untuk meninggalkan istana negara dan menghabiskan masa pensiunan mereka di kediaman mereka bersama anak, menantu dan cucu.


Selama dua periode itu, Amran dan Nabilla harus kehilangan orang-orang tercinta mereka seperti ayah kandungnya Amran yaitu tuan Recky dan mantan ibu tirinya.


Begitu pula dengan Nabilla yang kehilangan ayah tercinta yaitu tuan Rusli dan ibu tirinya yaitu dokter Mariska. Begitu pula Wira, Reno dan Nadine kehilangan ibu mereka nyonya Irene.


Amran yang sudah siap menyampaikan pidato terakhirnya dalam mempertanggungjawabkan jabatannya di depan MPR RI yang di saksikan oleh seluruh rakyat Indonesia yang tidak hanya berada di gedung DPR dan MPR itu secara langsung tetapi juga di setiap instansi, rumah dan perumahan, perkantoran, pasar dan di manapun rakyat Indonesia berada ikut menyaksikan pidato terakhirnya Amran itu.


Rasa kesedihan mereka yang mendalam seakan mereka akan menunggu kejatuhan Indonesia pada pemimpin yang tidak tepat yang akan dilantik beberapa bulan ke depannya.


Di tambah lagi para menteri dan jajarannya tidak ingin mencalonkan diri mereka sebagai presiden selanjutnya karena takut tidak bisa amanah seperti Amran.


Bayangkan menterinya Amran sendiri begitu takut untuk mencalonkan diri mereka menjadi orang nomor satu di Indonesia itu, padahal integritas mereka sebagai menteri telah terbukti baik dari periode awal maupun periode berikutnya.


Padahal sebelumnya Amran sudah memaksa mereka untuk bisa maju sebagai presiden berikutnya.


"Jika diantara kalian tidak mau mencalonkan diri sebagai presiden, maka tunggulah kehancuran negeri ini yang tidak lagi sama kepemimpinannya seperti yang selama ini kita perjuangkan," ucap Amran di saat-saat makan malam bersama dengan para menteri kabinet di masa pemerintahannya.


"Kami tidak sekuat anda bapak presiden. Kami begitu takut untuk memimpin negara ini dengan banyaknya fitnah yang pada akhirnya akan melemparkan kami ke jurang neraka," ucap salah satu diantara menteri itu.


"Selama ini kita sudah memotong kangker yang mencekik kehidupan masyarakat, mulai dari kapasitas birokrat, dinasti ekonomi, koruptor dan mereka adalah setan-setan kota yang sudah kita basmi ke akar-akarnya. Bukan tidak mungkin mereka akan muncul lagi menganggu bangsa ini kalau kalian tidak mau masuk dalam dunia politik," ucap Amran.


Para menteri nampak berpikir dan merenungi perkataan Amran namun mereka masih sulit untuk memulai.


"Biarkan rakyat yang akan membela kalian, jika kalian berada di jalan yang benar. Ada Allah yang akan melindungi kalian selama kalian adil dalam memimpin rakyat Indonesia," lanjut Amran.


"Kenapa pak Amran tidak memberikan kesempatan kepada kedua putra anda Adam dan El-Rummi yang sama hebatnya dengan anda memimpin negara ini?"


"Tidak bisa. Negara ini tidak mengusung sistem monarki konstitusional. Di mana aku bisa menunjukkan keturunanku untuk menggantikan diriku setelah masa jabatanku berakhir. Lagipula kedua putraku tidak tertarik sama sekali dengan dunia politik," ucap Amran.


"Kalau begitu, biar kita sama-sama menyaksikan bangsa ini yang akan dipimpin pemerintah zalim. Belum lagi aset negara ini akan di jual oleh mereka untuk memperkaya diri," ucap wakil presiden.


"Semoga saja itu tidak terjadi jika diantara mereka tidak saling mendukung dalam kebatilan," ucap Amran.


"Apakah pak Amran yakin seperti itu?"


"Serahkan urusan negara ini pada Allah. Hanya Allah yang bisa membolak balikkan hati hambaNya saat tergoda akan duniawi," ucap Amran yang saat ini sudah berusia 65 tahun.


"Aaamiin ya Allah."

__ADS_1


Semuanya hanya bisa mendesah dengan sejuta beban berat yang mengganjal di hati mereka kini. Itulah obrolan terakhir Amran dan para menterinya.


Kini dirinya berada di atas podium untuk menyampaikan rasa bangganya telah memimpin rakyat Indonesia yang sekarang sudah sangat sejahtera di masa pemerintahannya.


Jutaan pasang mata sudah mulai menangis duluan padahal Amran belum bicara apapun. Hanya melihat ekspresi sedih wajah tampan Amran dengan sejuta pesona itu saja sudah membuat hati siapa saja yang memiliki jiwa bersih akan merasakan sesak melihat presiden yang mereka cintai akan menyampaikan pesan terakhirnya pada rakyatnya.


Pidato Amran


"Assalamualaikum Warahmatullahi wa barakatuh. Selamat pagi untuk kalian semua dan selamat sejahtera rakyatku di manapun kalian berada.


Wahai rakyatku yang berbahagia, mungkin hari ini adalah hari terakhir aku berdiri di sini di hadapan kalian semua di dalam gedung rakyatku untuk menyampaikan bahwa aku merasa bangga telah melayani kalian seperti seorang ayah pada anak-anaknya.


Memastikan kalian makan dengan kenyang dan tidak tidur dalam kelaparan. Memastikan kalian tetap dalam keadaan aman ketika sedang beraktivitas dan tidak gelisah memikirkan apa yang dilakukan untuk hari esok karena semua kebutuhan kalian sudah aku penuhi.


Memastikan rakyatku tidak perlu bertengkar satu sama lain hanya karena perselisihan dari masalah yang tak berarti yang terjadi diantara kalian hingga aku dengar laporan dari menteri ku bahwa di sepuluh tahun terakhir masa kekuasaanku tidak ada lagi proses hukum karena sepinya kejahatan di bumi ibu Pertiwi tercinta ini.


Memastikan akhlak, sikap dan ibadah kalian pada Tuhan kalian sesuai keyakinan kalian masing-masing untuk menjaga nilai luhur dalam setiap aktifitas kalian agar tetap terkontrol iman kalian jika agama kita jadikan sebagai fondasi dalam setiap aktifitas kita yang akan bernilai ibadah.


Wahai rakyatku, jika masih ada yang kurang dari pelayananku, tolong sampaikan kepadaku dan akan aku tunaikan sebelum ajal menjemputku.


Maafkan atas tutur kataku dan sikapku dan juga istriku yang mungkin pernah membuat kalian terluka. Jika urusan dunia ini belum selesai, tolong katakan saja padaku karena ridho kalian yang menghantarkan aku dan keluargaku masuk ke dalam surganya Allah karena itu adalah tujuan akhir hidup kita sebelum kita dibangkitkan dari kematian untuk menemukan kehidupan abadi kekal selamanya di surganya Allah.


Terimakasih atas kepercayaan kalian kepadaku pada manusia hina ini yang mungkin belum banyak membuat kalian bahagia. Jika ada yang masih mengganjal di hati selama masa kepempimpinan ku sampaikan melalui orang-orang kepercayaanku agar aku bisa tindak lanjuti.


Rakyatku. Tetaplah seperti ini. Jangan pernah kalian berubah walaupun bukan aku sebagai pemimpin kalian lagi. Jika kalian berubah mungkin aku dianggap gagal mendidik rakyatku dengan iman dan ilmu yang menempa kalian untuk menjadi manusia yang berguna bagi sesama dan menjadi hamba Tuhan yang sangat terpuji atas sikapnya saat kalian kembali nanti kalian tidak akan malu padaNya karena kalian sudah dibekali ilmu, iman dan limpahan rejeki yang yang kalian sudah nikmati selama ini.


Jangan mengkhianati Allah agar kalian tidak mengkhianati bangsa ini. Itulah pesan terakhir dariku jika kalian benar-benar mencintaiku sebagai pemimpin kalian.


Mohon maaf atas segala kekuranganku karena kesempurnaan hanya milik Allah. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuh."


Amran menutup pidato terakhirnya dengan meneteskan air matanya membuat rakyatnya ikut meraung dan tidak rela akan kehilangan sosok pria hebat ini. Satu tetes air mata Amran mampu mengoyak jiwa rakyatnya yang menyaksikan presiden mereka yang begitu tawadhu dengan kata-kata yang menggetarkan jiwa mereka.


"Bapak presiden...! Jangan berhenti pak..! Tidak ada lagi pemimpin sebaik bapak. Jangan berhenti.... hiks...hiks...!" pekik mereka dengan segala argumen mereka sampaikan atas kesan mendalam mereka pada presiden dan ibu negara yaitu Nabilla.


Nabilla yang ada di dalam gedung MPR tidak berhenti menangis bukan karena akan berakhir masa pemerintahan suaminya namun rasa sedihnya yang tidak bisa lagi melakukan kebaikan untuk rakyatnya karena keterbatasan kekuasaan nantinya.


Tentunya kebaikan Amran tidak akan berhenti jika ia bisa mensejahterakan sebagian rakyatnya dengan kekayaan yang ia miliki.


Usai mengakhiri pertanggungjawabannya di depan MPR RI, Amran dan Nabilla pamit pulang yang tentu saja menemui rakyatnya terlebih dahulu yang saat ini begitu tertib berdiri teratur di depan gedung DPR MPR untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

__ADS_1


Setiap dari mereka membawa spanduk untuk menyatakan perasaan kehilangan mereka pada figur pemimpin cerdas dan terhormat yang tidak mungkin pernah mereka lupakan jasa baik Amran yang selama ini benar-benar membangun bangsa ini dengan tujuan mensejahterakan rakyat di seluruh pelosok negeri bukan membangun gedung mewah, jalan tol atau apalah yang tidak bisa dinikmati semua kalangan masyarakat bawah.


Amran dan Nabilla melambaikan tangan mereka ke arah warga Jakarta dan mungkin juga warga di luar kota yang sengaja datang langsung ke gedung rakyat itu untuk melepaskan kepergian Amran dan Nabilla yang ingin langsung berangkat umroh.


Ajudan presiden yang sedang menerima pesan dari orang-orangnya merasa kaget. Ia membisikkan sesuatu kepada Amran yang langsung mendekatkan kupingnya kepada ajudannya itu.


Tim sneaker yang tidak lain adalah putra putrinya Amran sendiri yang menjaga keamanan langsung untuk kedua orangtua mereka. Daffa mengerahkan anak buahnya yang siap dengan helikopter di atas udara untuk mengawasi kedua mertuanya itu.


Begitu pula dengan Ghaishan dan Arsen yang sedang mengawasi setiap pergerakan orang-orang yang mencurigakan di depan gedung MPR DPR itu. Keduanya berada di dalam mobil Van tidak jauh dari mobil RI 1 untuk kepresidenan.


"Maaf pak presiden..! Sepertinya bapak tidak bisa pulang dengan mobil karena jalanan kota Jakarta di penuhi lautan manusia.


Bahkan warga Jakarta tidak menggunakan kendaraan apapun karena mereka hanya ingin meluapkan rasa sedih mereka atas masa berakhirnya kepemimpinan anda, bapak," bisik sang ajudan yang juga tidak kuat menahan rasa harunya.


"Baiklah. Siapkan helikopter karena aku harus tiba di rumah untuk mempersiapkan berangkat umroh nanti malam," ucap Amran.


"Siap pak."


Ajudan presiden itu langsung menghubungi helikopter milik pribadi Amran.


Sebelumnya Amran kembali berseru kepada rakyatnya untuk meninggalkan gedung DPR MPR dan juga warga masyarakat yang ada di jalanan untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Selamat siang semuanya rakyat Indonesia. Kepada seluruh warga masyarakat Jakarta maupun sekitarnya, saya mantan presiden kalian menghimbau pada kalian semua agar kembali ke kediaman kalian masing-masing secara tertib.


Jangan melakukan hal-hal yang akan menganggu aktivitas yang lainnya karena kota ini harus terus beraktivitas sesuai dengan kebutuhan waktu yang kalian inginkan. Terimakasih sudah datang untuk ikut melepaskan masa pemerintahan saya. Mohon maaf lahir dan batin," ucap Amran penuh harap.


"Semoga selalu sehat pak Amran."


"Bapak. Jangan berhenti mendoakan kami dan tetap bersilaturahmi dengan kami pak!"


Masih banyak ucapan mereka pada Amran dan ada juga yang nekat untuk salaman dengan Amran namun waktu mereka dibatasi oleh ajudan presiden.


"Bapak. Boleh minta foto bersama tidak?" pinta mereka bersamaan membuat Amran masih mau melayani mereka.


"Waktu kalian hanya 10 menit foto bersama presiden," ucap sang ajudan yang masih kuatir atas keselamatan presiden.


Usai foto bersama dengan presiden secara serentak, Amran kembali meminta warga masyarakat yang ada di gedung MPR DPR itu pulang ke rumah mereka masing-masing.


Mendengar seruan bapak presiden, seperti anak yang penurut, rakyatnya mulai membubarkan diri dengan tertib.

__ADS_1


Amran masuk kembali ke gedung DPR untuk mengambil jalan rahasia di dalam gedung rakyat itu menuju selatan yang biasa di gunakan pejabat penting maupun presiden jika dalam keadaan terjepit seperti ini.


__ADS_2