Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
125. Masih Punya Waktu


__ADS_3

Bunga dan Daffa saling menghampiri dan hendak mengatakan kepentingan mereka masing-masing. Melihat wajah Daffa yang terlihat lebih mendesak, Bunga sengaja menunggu kekasihnya ini mengatakan lebih dulu apa yang disampaikan Daffa padanya.


"Sayang. Aku ada tugas penting ke Amerika, mungkin dua hari lagi aku balik atau menunggu sampai tugasku usai. Aku harus ke bandara sekarang," ucap Daffa seraya menggenggam kedua tangan Bunga.


"Baik. Kabari aku kalau sudah tiba di Amerika," basa-basi Bunga untuk menutupi identitasnya agar Daffa tidak mengetahui tugasnya itu adalah mengawal kekasihnya.


Daffa berjalan setengah berlari sambil melepaskan dasinya menunju mobilnya. Ia segera berangkat ke bandara. Baru sepuluh menit Daffa pergi, helikopter milik RI satu sudah menjemput Bunga. Beruntunglah landasan pacu di mansion kakek berada di belakang jauh dari letak mansion dan agak tertutup dengan pepohonan hingga tidak terlihat oleh para tamu.


Bunga sudah pamit kepada kedua orangtuanya. Dan seperti biasa Nabilla membekali putrinya dengan persenjataan teknologi canggih ciptaannya karena ia masih bekerja untuk FBI sebagai agen 2. Kebetulan Bunga yang terpilih menjadi agen satu atas rekomendasi komandan FBI dan Mr. M. Jadi, mudah bagi Nabilla menjelaskan cara kerja alat-alat hebat itu.


Bunga sudah menggunakan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya. Ia menaiki helikopter itu yang langsung membawa dirinya ke Bandara.


Setibanya di bandara, Bunga berbincang sebentar dengan komandan angkatan udara itu.


"Maaf agen satu. Kita tunggu pengawal yang akan mengantar anda ke Amerika. Sebentar lagi dia tiba," ucap komandan Baratayudha.


"Siap pak!" ucap Bunga yang sudah tahu kalau pengawalnya itu adalah kekasihnya sendiri.


"Geli juga sih bisa berduaan lagi dengan Daffa tapi pura-pura tidak saling kenal," batin Bunga yang ngikik sendiri dalam hatinya.


Sepuluh menit kemudian Daffa sudah datang dengan motornya. Ia segera berlari menghampiri Bunga yang sedang memberikan laporan kepada komandan untuk tugasnya ke Amerika. Begitu pula Daffa yang ikut melapor menjalankan tugasnya untuk mengawal agen satu FBI yang tidak lain kekasih hati. Jika hari ini keduanya jadi menikah, mungkin rasanya beda saat menjalankan tugas negara.


"Silahkan nona..!" santun namun tegas ucapan Daffa pada Bunga yang sedang menaiki tangga pesawat diikuti oleh dirinya.


Aroma parfum yang menguar dari balik jubah abaya itu membuat Daffa merasa ada yang menganggu dirinya.


"Mengapa gadis ini mengenakan aroma parfum yang sama seperti Bunga?" batin Daffa yang merasa rindu pada Bunga.


Pesawat jet milik RI satu angkatan udara siap take off. Bunga duduk santai membuka laptop miliknya dan belajar apa saja yang menyangkut tentang misinya kali ini.


Sementara di kediaman Amran, Arsen merasa sedih harus merelakan kepergian istrinya demi tugas itu. Ia tidak bisa protes karena ia sudah sepakat menerima keadaan Cintami sebagai agen CIA.

__ADS_1


"Sayang...! tidak usah sedih. Masih ada waktu untuk kita melakukan ritual ibadah suami istri," jelas Cintami yang sedang menunggu suaminya melepaskan semua pernak-pernik yang menempel di tubuhnya hingga hijab itu siap dibuka oleh Arsen yang menatap kagum mahkota istrinya.


"Masya Allah..! puji Arsen yang menatap sesaat wajah Cinta lalu menempelkan bibir mereka untuk saling berpagut. Keduanya ingin menuntaskan hasrat mereka untuk melepaskan masa lajang mereka sebagai perawan dan perjaka tulen.


Entah bagaimana caranya keduanya nampak polos dan saling bergumul untuk menyentuh aset berharga mereka dengan penuh puja. Cintami sedikit gugup memegang milik Arsen yang tampak kokoh untuk ia manjakan dengan mulutnya.


Ini untuk pertama kalinya ia menatap daging tanpa tulang itu dan harus ia nikmati dengan instingnya. Materi pembelajaran bagaimana memuaskan suami sudah ia kuasai dan sekarang tinggal prakteknya.


Arsen mengajari istri kecilnya itu penuh sabar dan Cintami menerima itu sebagai tuntutan tugas sebagai istri yang berbakti kepada suaminya. Menyenangi suami dan memuaskannya ditempat tidur akan berpahala besar. Pergumulan itu mulai memanas hingga akhirnya menjebolkan pertahanan Cintami yang memekik kesakitan namun diredam oleh Arsen dengan memagut lagi bibir indah itu.


"Kak...! sakitttt..!" rengek Cintami namun Arsen mengabaikannya. Ia malah makin semangat menggapai sesuatu yang maha dahsyat nikmatnya hingga tak terlukiskan di bawah sana.


"Nanti kamu akan terbiasa dengannya sayang. Terimalah dia sebagai tempat pemuasmu untuk mengukuhkan cinta kita," rayu Arsen sambil memompa tubuhnya pada milik wanitanya yang lambat laun ikut menikmati rasa itu.


Arsen menunggu wanitanya merasakan nikmat hingga memanggil namanya dengan syahdu." Kak Arsen..! aku mau nyampe," lirih Cintami mendes*h nikmat sambil menggigit pundak suaminya menyalurkan rasa sakit dan nikmat yang datang secara bersamaan.


"Kita lepaskan bersama, baby...!" desis Arsen dan diangguki Cintami dengan wajah kuyup.


Keduanya tersenyum lalu berpelukan dengan bermandikan peluh yang sudah lengket di tubuh mereka. Arsen melepaskan miliknya perlahan dari cela sempit sang istri yang baru ia bertamu dengan stempel halal.


Senyum bangga menghiasi wajahnya tak kala mendapati kehormatan istrinya yang terjaga untuk dirinya berupa darah. Rasa lelah itu baru saja reda, namun tiba-tiba bunyi panggilan tugas dari ponsel Cintami membuat Cintami meminta ijin pada Arsen yang mengangguk pasrah.


"Sayang. Helikopter sudah datang menjemputku. Aku harus berangkat," ucap Cintami dan keduanya kembali berciuman.


"Kita mandi sama-sama lalu sholat isya berjamaah. Setelah itu kamu boleh berangkat sayang," pinta Arsen penuh wibawa membuat Cinta tak mampu bergeming. Ridho suami ridho Allah. Itu yang ada dalam pikiran Cinta.


Adam yang masih dibawah kepengurusan sang mommy, nampak gagah saat menerima wejangan dari Nabilla dan Amran. Ketampanan yang diwarisi sang ayah yang tercetak jelas di hadapan Nabilla saat ini seakan berhadapan dengan suaminya ketika masih muda dulu.


"Ingat sayang. Jangan ceroboh. Ini adalah tugas kelima kamu. Biasanya tugas yang selanjutnya akan lebih berat lagi. Jangan terpancing sama musuh. Senjata yang paling ampuh dari lawan, adalah wanita.


Jangan terkecoh dengan kecantikan wanita dan jangan minum apapun yang diberikan oleh mereka sekalipun itu adalah air putih," nasehat Nabilla lalu membekali beberapa persenjataan kimia untuk putra pertamanya, Adam.

__ADS_1


"Insya Allah mommy. Doakan Adam agar bisa menyelesaikan misi ini," ucap Adam lalu memeluk Nabilla.


"Mommy yakin kamu bisa, sayang karena Daddy kamu sudah melatihmu banyak hal. Jangan cepat iba pada orang lain karena bisa jadi itu jebakan musuh. Tetap menggunakan penghubungmu dan arloji ini sudah banyak menyimpan data para penjahat yang bisa terbaca olehmu," pesan Nabilla untuk terakhir kalinya.


"Ingat Allah saat kamu dalam keadaan tersudut dan tetap menunaikan sholat fardhu sekalipun tubuhmu tak bisa tegak berdiri maupun duduk. Jika kamu mati, Allah sudah menjanjikan surga untukmu. Jika misi yang bertentangan dengan keyakinanmu, tinggalkan itu dan tolak dengan tegas," nasehat Amran.


"Insya Allah, Daddy." Adam memeluk ayahnya sambil menahan rasa haru yang mendalam.


Cintami sudah turun dengan pakaian syar'i lengkap dengan cadarnya sebagai bagian dari penyamaran. Arsen menitipkan istrinya pada adik iparnya itu.


"Jaga dia untukku Adam karena kalian satu misi!" pinta Arsen dengan berat hati.


Cintami mencium tangan dan pipi Amran dan Nabila. Setelah itu berjalan menuju teras depan menaiki mobil siap menuju ke landasan pacu yang berada di belakang rumah mereka.


"Kak Cinta...!" teriak Nada saat Cinta masuk ke mobil.


"Ada apa Nada?" tanya Cintami berdiri lagi di pintu mobil.


"Ini ada senjata kimia yang baru aku buat beberapa bulan yang lalu dan ini juga ada kalung pendeteksi kedatangan musuh. Bandulan kalung ini bisa membedakan mana lawan dan mana kawan. Karena di rancang berdasarkan poligraf atau alat pendeteksi kebohongan," ucap Nada yang membahas sedikit cara kerja dua alat ciptaannya untuk kedua kakaknya itu.


Kejeniusan Nada yang bisa menciptakan alat-alat canggih dan juga bahan kimia berupa senjata kimia yang bisa melumpuhkan musuh tanpa membuat mereka mati. Nada dan Alif belum mendapatkan tugas mereka karena masih harus melewati beberapa tahap penilaian dari FBI maupun CIA.


Hanya putra-putri Nabilla dan Amran yang boleh masuk ke dunia agen rahasia itu. Sementara keponakan mereka tidak diijinkan oleh otoritas pemerintah Amerika. Entah apa alasannya.


Beberapa menit kemudian, Adam dan Cintami sudah meninggalkan landasan pacu menuju bandara dan siap terbang di kawal ketat oleh jet tempur Angkatan udara Indonesia menuju Virginia Amerika Serikat.


Di dalam pesawat sana, Bunga dan Daffa seperti orang bodoh yang saling kirim chating padahal duduk berhadapan. Kadang keduanya senyum-senyum sendiri walaupun Daffa tidak bisa melihat senyum Bunga karena tertutup cadar.


Bunga pingin ngakak membaca chatting lucu Daffa yang ternyata pintar memilih kata-kata humor berbau romantis. Beruntunglah, Bunga menggantikan ponselnya agar tidak dicurigai oleh Daffa.


.....

__ADS_1


Vote dan like nya cinta please!


__ADS_2