
Setiap anggota keluarga Amran, melakukan terjun payung dari atas pesawat jet pribadi milik Amran untuk menggapai tempat terpencil itu di mana sepeda motor mereka sudah menunggu karena armada itu sudah lebih dulu disiapkan oleh timnya Amran di balik bukit tidak jauh dari tempat laboratorium raksasa yang tersembunyi di dalam perut bukit itu. Hanya Daffa dan Bunga membawa helikopter untuk di bawa ke tempat itu yang sudah tiba lebih dulu di area itu.
Setelah anggota sudah terkumpul, anak buah Amran yang menyambut keluarga itu di mana kemah mereka sudah dibangun semalam yang atapnya sudah tertutup salju. Bisa dibilang itu bukanlah tenda, melainkan pondok kecil yang di dalamnya di bagi menjadi tiga bilik sesuai kebutuhan pemilik di dalamnya
"Apakah pondok ini sudah aman?" tanya Nabilla yang saat ini mengenakan celana panjang model celana tentara dengan mantel tebal dengan bulu menutupi leher jenjangnya. Ia tidak mengenakan cadarnya karena tergantikan oleh syal yang menutupi setengah wajahnya dari halaunya dingin yang bisa membuat bibir mereka membiru. Topi khas Rusia yang dipakai mereka menjadi kombinasi lengkap penampilan mereka pagi itu.
"Masuk dulu sayang! Dan letakkan barang bawaan kita. Kita briefing sebentar baru melanjutkan penyerangan," ucap Amran mengajak ketiga anaknya dan juga dua menantunya masuk ke dalam gubuk itu mengikuti Nabilla yang lebih dulu ada di dalam sana.
Nada menatap sekelilingnya dan sangat kagum dengan cara kerja anak buah ayahnya yang membangun pondok itu dalam waktu 2 hari. Ukuran pondok itu dengan lebar 4 meter dan panjang 10 meter. Quinzhee adalah tempat perlindungan salju berbentuk kubah, mirip bentuknya dengan igloo, tetapi jauh lebih mudah dibangun. Salju pasti pas untuk membangun igloo, sementara anak buahnya Amran dapat mengemas sebagian besar jenis salju untuk quinzhee.
Nabilla menyalakan mesin penghangat ruangan agar mereka bisa beristirahat sebentar sambil menikmati makanan yang mereka bawa untuk dipanaskan lagi oleh Nabilla terlebih dahulu di atas dua kompor portabel.
Lima orang anak buahnya Amran sudah berpencar menjaga kelurga itu dari musuh atau binatang buas seperti serigala maupun beruang yang hidup di daerah sekitar tempat mereka bernaung saat ini.
"Perut kita tidak boleh kosong karena kita berada ditengah salju," ucap Nabilla menyajikan makanan dengan dua kompor yang tetap menyala agar makanan yang mereka makan tetap dalam keadaan hangat.
"Mommy. Ternyata asyik juga kita melakukan misi ini sambil menikmati kemping dadakan sepeti ini," ucap El yang tidak kaget lagi dengan acara kemping kelurga karena sedari kecil kedua orangtuanya selalu mengajak mereka melakukan kemping. Namun baru kali ini merasakan kemping ditengah salju dengan alat seadanya.
Bunga dan Daffa menikmati makanan mereka saling suap-menyuap membuat Arsen sangat iri. Dia yang pengantin baru duluan tapi Daffa dan Bunga yang lebih menikmati kebersamaan mereka.
"Satu jam lagi kita bergerak. Satu motor untuk dua orang. Arsen sendiri karena tempatnya akan diduduki Cinta nanti," ucap Amran usai makan.
"Iya Daddy," ujar mereka bersamaan.
Satu jam kemudian semuanya sudah siap dengan peralatan perang mereka dengan senjata yang terselip di kedua kantong celana mereka yang terdapat di samping kedua paha. Amran, Daffa dan El yang membawa motor dengan pasangan mereka dibelakangnya kecuali si kembar yang sangat piawai dalam menjalankan misi ini untuk pertama
kalinya bagi mereka.
Sesuai dengan rencana, mereka akan berhenti dititik kumpul 2 km dari terowongan yang akan memasuki gedung laboratorium raksasa.
"Kita akan menunggu kedatangan mobil mereka dari dalam laboratorium itu untuk kita sergap karena kita tidak punya kendaraan untuk masuk ke dalam sana," ujar Nabilla melalui alat penghubungnya pada keluarganya.
"Siap mommy..!" ujar yang lainnya kompak.
"Jam berapa mobil mereka biasa lewat?" tanya Amran.
Nabilla melihat lagi ponselnya meretas CCTV di dalam terowongan itu.
"Sekitar setengah jam lagi mobil mereka keluar untuk menjemput angkutan makanan yang dibawa oleh helikopter," ucap Nabilla.
"Bagaimana caranya kita mendapatkan mobil itu?" tanya Amran.
"Aku yang akan menghadang mereka sayang. Kamu tenang saja," ucap Nabilla.
Amran yang sudah tahu cara Nabilla menjebak penjahat tentu saja dengan kecantikannya untuk membuat musuhnya kehilangan fokus jika menatap kecantikan istrinya ini yang tidak sedikitpun berubah.
Setelah melihat kedatangan mobil dari dalam terowongan sana dan menunggu mereka mengambil makanan yang dibawa oleh helikopter itu. Setelah setengah jam kemudian, Nabilla berlari ke tengah jalan itu dan langsung menghadang mobil Van itu sambil melambaikan kedua tangannya untuk menghentikan laju mobil itu.
Seketika sang sopir menginjak rem mendadak sambil mengumpat Nabilla yang nekat menghalangi jalannya.
__ADS_1
"Sial...! siapa jal**Ng itu?" umpat sopir lalu membuka pintu mobilnya diikuti dua orang temannya.
"Hei....! siapa kau ...? kenapa menghadang jalan kami?"
"Maaf tuan. Sepertinya saya tersesat. Apakah saya boleh menumpang dengan kalian untuk mencapai kota?" tanya Nabilla sambil mengatupkan kedua tangannya.
Melihat wajah cantik Nabilla membuat ketiganya saling menatap bergantian.
"Dia seperti bidadari. Tidak rugi juga kalau kita membawanya," bisik temannya sang sopir dengan wajah mesumnya.
Ketiganya setuju menerima Nabilla dengan maksud jahat." Tentu saja cantik. Kamu boleh ikut kami," ucap sang sopir sambil mengulur tangannya hendak menyentuh pipi mulus Nabilla.
Nabilla menendang sopir itu tepat di tulang keringnya membuat sang sopir melompat-lompat karena kesakitan.
"Hei...! kenapa kamu sangat kasar pada temanku?" ucap rekannya yang ingin mencengkeram tubuh Nabilla, namun sudah diserang oleh Amran membuat ketiganya nampak kaget dan tidak sempat membalas karena Amran menghantam tengkuk mereka dengan ujung senjatanya.
Dan ketiganya seketika pingsan dengan leher mereka diputar oleh Daffa dan Arsen yang sudah datang membantu.
Tubuh ketiganya di buang sejauh mungkin agar tidak terlihat oleh rekan mereka yang lainnya.
"Ayo. Semuanya masuk ke mobil!" titah Amran. Arsen yang membawa mobil itu lalu masuk lagi ke dalam terowongan itu.
Nabilla fokus menatap ponselnya. Sementara El sudah mengeluarkan drone berupa kumbang untuk melihat keadaan sekitarnya di mana kamera itu terletak pada mata kumbang itu. Saat mengetahui keadaan aman di dalam gedung sana, El memanggil lagi drone itu masuk ke dalam ranselnya.
Karena mereka mengenakan seragam yang sama dengan sang sopir dan dokter di tempat itu, membuat keluarga ini tidak di curigai saat mengikuti gerak gerik setiap anggota dalam laboratorium itu.
Sementara di ruang tahanan, temannya Cinta berhasil memadamkan listrik di dalam gedung itu membuat sekitarnya langsung gelap.
Aku akan meminta bagian operator untuk menyalakan gensetnya," ucap anak buahnya.
Tuan Vadim menyalakan lampu senter ponselnya untuk memonitor sekitarnya. Sementara, Cinta sudah berhasil membuka pintu sel itu dengan menempelkan ponselnya untuk membaca sandi.
Mereka sangat lega saat berhasil keluar dari dalam tahanan itu.
"Tetap berjalan berdampingan...! Jika tertangkap kita masih bisa bersama," bisik Cinta.
"Bagaimana kalau lampu ini kembali menyala dan mereka menyembunyikan alarm peringatan jika ketahuan kita kabur?"
"Tenang saja. Alarmnya sudah di matikan oleh saudaraku," ucap Cintami saat mengetahui keluarganya sudah berada di dalam gedung itu.
"Kita ke mana sekarang?" tanya Marco yang mulai bingung mencari jalan keluar.
"Ikuti saja aku untuk menemui kelurgaku," ucap Cintami.
"Kita tidak akan tertangkap lagikan, Cinta?" tanya Sofia gadis Maroko itu.
"Insya Allah. Tetaplah berdoa," ujar Cinta sambil berjalan beriringan.
"Bos. Gensetnya rusak bos dan sulit sekali untuk diperbaiki dalam keadaan gelap begini," ucap anak buahnya tuan Vadim.
__ADS_1
"Sialan. Apakah kalian sudah melihat mengapa listrik tiba-tiba padam?" tanya tuan Vadim dengan bentakan menggema di dalam gedung itu.
"Sudah tuan. Ternyata travo gardunya terbakar dan butuh waktu dua hari untuk memperbaikinya. Lagi pula kita harus memanggil teknisi listrik untuk memperbaikinya."
"Sial ...! mana mungkin bekerja dalam gelap seperti ini dengan mesin penghangat ruangannya mati. Kita bisa mati beku di dalam sini," ucap tuan Vadim.
"Sebaiknya tuan kembali ke kota hingga listriknya menyala," saran sekertarisnya tuan Vadim yang bernama nyonya Louis.
"Tidak mungkin aku tinggalkan tempat ini karena alat-alat canggih yang diciptakan oleh para ilmuwan itu 10 persen lagi hampir jadi," gerutu tuan Vadim yang harus bertanggungjawab lagi pada bos besar yang merupakan salah satu menteri riset dan teknologi di negara tersebut. Karena dia adalah otak dari penculikan para mahasiswa muda yang memiliki tingkat kejeniusan di atas rata-rata.
Para mahasiswa itu terlihat seperti orang sinting namun otak kecerdasan mereka tidak terganggu. Hanya otak mereka yang terprogram membuat metabolisme tubuh mereka sulit peka pada sekitarnya. Saat ini mereka digiring masuk ke dalam ruang tahanan lalu di kunci lagi oleh petugas keamanan atas perintah tuan Vadim.
Sementara Cinta yang sudah bertemu dengan keluarganya di dalam satu ruang kosong itu saling berpelukan satu sama lain.
"Sayang. Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Nabilla sambil mencium pipi putrinya.
"Alhamdulillah mommy. Berkat doa mommy dan Daddy, Cinta selalu dalam lindungan Allah," ucap Cinta yang belum tahu suaminya ikut dalam rombongan itu karena Nabilla sengaja merahasiakannya dari Cinta sebagai kejutan ulang tahun untuk Cinta.
"Sayang. Daddy senang melihatmu baik-baik saja," peluk Amran seraya mendaratkan kecupannya di kening Cintami.
Arsen yang melihat istrinya tidak mampu menahan rasa harunya berjalan mendekati wanitanya secara perlahan. Saat berada dibalik punggung Cintami, Arsen memeluk tubuh istrinya dari balik punggung Cintami." Apakah kamu tidak merindukan aku, baby?" bisik Arsen tepat di telinga istrinya.
Cinta tersentak dengan matanya melebar mendapat kejutan liar biasa ini"Kak Arsen...!" suara lembut itu terdengar parau menahan haru.
"Iya sayang. Aku datang menjemputmu," ucap Arsen.
Cinta membalikkan tubuhnya menghadap suaminya." Tapi tugasku belum selesai karena belum membebaskan yang lainnnya," ucap Cinta.
"Kita lakukan bersama-sama untuk menyelamatkan mereka, baby," ucap Arsen.
"Alhamdulillah. Kalian semua di sini. Aku senang sekali. Tapi, ko Bunga dan Daffa kenapa terlihat sangat mesra, baby?" tanya Cintami saat melihat pasangan itu saling merengkuh pinggang mereka.
"Mereka sudah menikah. Nanti saja ceritanya sayang," ucap Arsen.
"Oh iya. Ini adalah teman-temanku," ucap Cinta memperkenalkan kelurganya pada teman-temannya." Hei teman-teman...! ini kedua orangtuaku, saudara kembarku dan adik kembarku serta adik ipar dan pangeran tampanku yaitu suamiku," ucap Cintami.
Semuanya saling berkenalan hingga terdengar suara keributan di dalam sana." Perhatikan semuanya ....! tahanan kita kabur!" teriak para penjaga saat melihat ruang tahanan yang dihuni Cinta dan teman-temannya sudah kosong.
"Mereka pasti masih ada di dalam gedung ini. Cepat tangkap mereka semua! dan jangan bunuh mereka karena mereka adalah aset perusahaan ku," ucap vadim.
"Ayo cepat...! kita harus sembunyi sambil melumpuhkan mereka satu persatu! jangan ada yang menembak karena di dalam sini banyak cairan kimia yang memicu kebakaran," ucap Cintami.
"Gunakan pisau atau benda tajam lainnya untuk melumpuhkan mereka tapi jangan sampai mereka mati!" titah Nabila.
"Siap...!"
Semuanya berpencar secara berkelompok di ikuti teman-temannya Cintami untuk menghadang musuh.
.......
__ADS_1
.......
Tolong baca karya baru author menolak pinangan sang sultan. Jika kalian tidak baca, author tidak dapat reward kontrak say. Author mohon banget ya karena mau bayaran kuliah putrinya author, please!"