
Ghaishan tersenyum puas saat calon ibu mertuanya yaitu Nabilla membantunya dengan beberapa komponen yang tersusun sesuai dengan sistem satelit bumi itu akan memancarkan kekuatan signal untuk kepentingan mobilitas manusia bumi.
Kini saatnya mengeluarkan alat itu untuk di pasang di atas planet Pluto itu.
Ghaishan mengucapkan beribu terimakasihnya pada Nabilla yang sudah memberikan kontribusinya pada pekerjaan sang calon menantu.
"Selanjutnya itu adalah tugasmu dan juga tim kamu untuk memasang alat itu. Tapi alangkah baiknya dilakukan bersama-sama agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Apakah kamu bisa menghubungi tim kamu untuk turun ke planet itu?" tanya Nabilla.
"Iya Tante. Aku sudah menghubungi timku. Sebentar lagi mereka akan ke sini. Hanya jaraknya terlalu jauh untuk mendekati pesawatku. Nanti aku kabarkan lagi. Aku matikan sambungnya ya!" ucap Ghaishan.
"Jangan Ghaishan! apakah aku boleh melihatmu secara langsung saat kamu memasang satelit pemancar itu?" pinta Nada karena perasaannya tidak enak saat ini.
"Tidak bisa sayang! mana bisa bawa kamera untuk mengambil gambar di luar angkasa. Lebih baik kamu baca doa agar pekerjaanku cepat selesai," ucap Ghaishan bohong.
"Jika aku tidak bisa menghubungi kamu, itu berarti aku sedang sibuk. Jadi, tolong jangan terlalu banyak berharap," lanjut Ghaishan.
Sebenarnya dia bisa saja memenuhi permintaan kekasihnya, hanya saja ia kuatir misi ini belum tentu berjalan mulus. Semuanya bergantung pada faktor luck. Terpaksa Nada mengalah. Ia berusaha tenang dan mengambil wudhu untuk melakukan sholat magrib.
Rekan Ghaishan sudah menyambungkan lagi kapsul pesawat milik Ghaishan dengan pesawat induk itu. Mereka melakukan briefing sebentar untuk menurunkan alat pemancar itu yang akan di pasang di planet Pluto itu.
"Apakah kamu yakin kita bisa melakukannya, Ghaishan?" tanya Andrew kurang percaya diri.
"Dengar! kamu memilih menjadi astronot NASA karena keinginanmu sendiri bukan? itu berarti kamu harus siap mati sebagai pahlawan. Dan di agamaku mati sebagai seorang syuhada. Jadi, jangan hanya jadikan cita-cita mu sebagai ajang pamer tapi nyalimu sudah ciut duluan sebelum melakukan misi," kecam Ghaishan.
"Kenapa kamu jadi menceramahi aku? akukan hanya bertanya?" gerutu Andrew.
"Aku hanya menjelaskannya saja. Ayolah...! kamu mau kita kembali ke bumi atau bertahan di sini. Aku lebih baik memilih mati daripada pulang tidak membawa hasil. Setidaknya kita berjuang. Selebihnya serahkan semuanya pada Allah!" ucap Ghaishan tidak peduli keyakinan mereka berdua berbeda.
__ADS_1
Tiga astronot lainnya ikut membantu Andrew dan Ghaishan yang sudah lebih dulu turun ke bulan dengan membawa satelit pemancar alat komunikasi di dunia itu. Ghaishan memohon pertolongan Allah agar mereka selamat menuntaskan misi mereka saat ini.
Sekitar lima jam mereka berkutat dengan alat itu dan akhirnya berhasil. Namun saat ingin mencapai lagi pesawat, satu orang temannya Ghaishan mengalami serangan jantung.
"Lihatlah...! Ben tertinggal. Sepertinya keadaannya tidak baik saat ini," ucap Andrew saat mereka sudah mencapai pintu pesawat.
"Biar aku yang menolong Ben!" ucap Ghaishan.
"Tidak bisa Ghaishan. Tubuhnya akan menjauhi kita dan ia sebentar lagi akan terbakar. Jangan gila kamu karena kita bisa kehabisan oksigen karena persediaan oksigen kita hanya bertahan 7 jam di luar sini," ucap Andrew.
"Tapi kita datang sama-sama. Pulang juga sama-sama. Kasihan Ben! istrinya saat ini sedang hamil anak pertama mereka. Aku tidak kuat menatap wajah istrinya saat melihat kita nanti tanpa membawa suaminya bersama kita," ucap Ghaishan tidak tega melihat temannya mati sendirian di bawah sana.
"Tolonglah...! jangan keras kepala! bukankah kamu tadi bilang jika diantara kita ada yang mati toh dikenang sebagai pahlawan bukan?" sambar Andrew yang masih berdebat dengan Ghaishan yang bersikeras ingin menolong Ben.
"Biarkan kami mati bersama. Kau selamatkan dirimu sendiri saja. Masuklah kau duluan sana. Aku tidak bisa tidur tenang seumur hidupku karena dikejar rasa bersalah pada Ben. Jika aku mati memang sudah ajalku. Jika aku hidup Allah sebagai penolongku. Itulah yang diajarkan oleh agamaku. Tetap saling menolong tanpa memikirkan dia siapa kecuali orang yang memusuhi agamaku," ucap Ghaishan menghampiri Ben yang melayang di bawah sana.
Rupanya layar komputer itu tersambung dengan ruang misi antariksa di Florida yang ikut menyaksikan aksi heroik Ghaishan.
Mr. M yang sengaja bertamu di markas antariksa itu menghubungi Nabilla untuk ikut menyaksikan aksi heroik calon menantunya itu.
"Agen dua. Nyalakan televisimu karena saat ini stasiun televisi sedang menayangkan siaran langsung luar angkasa!" titah Mr. M kepada Nabilla yang langsung mencari remote televisi.
Nada yang baru pulang kerja langsung ditarik tangannya oleh Adam." Nada...! Kamu harus lihat ini...!" ucap Adam ikut bergabung dengan kedua orangtuanya di di ruang keluarga.
"Ada apa Adam?" tanya Nada tidak mengerti.
"Saksikan saja tayangan siaran langsung itu!" pinta Adam.
__ADS_1
Amran siap-siap memeluk putrinya jika Nada tidak sanggup menyaksikan adegan berbahaya yang dilakukan Ghaishan untuk menggapai tubuh Ben.
"Ghaishannnnn....!" pekik Nada sambil menempelkan tangannya ke layar televisi.
Tungkai kakinya tidak kuat lagi berdiri saat melihat Ghaishan berusaha menarik tubuh Ben untuk kembali ke pesawatnya. Amran merangkul pundak putrinya agar tidak mudah drop.
"Lebih baik aku membawa jasadmu pulang Ben agar keluargamu bisa memakamkan jenazahmu dengan layak sebagai seorang pahlawan," ucap Ghaishan sambil menarik tubuh Ben.
Sementara laporan sisa oksigennya sudah hampir habis. Ia harus mencapai pintu pesawat satu jam lagi saat ini.
"Ya Allah. Apa yang ada di langit dan di bumi semua milikMu. Maka selamatkan kami dari benda-benda langitmu di sini. Kembalikan lagi kami kepada kelurga kami dalam keadaan selamat," mohon Ghaishan dalam doanya.
Jika saat ini Ghaishan berjuang hidup dan mati, lain halnya dengan dua mobil penjahat sedang mengikuti mobil Cinta yang lagi menuju ke rumah orangtuanya karena saat ini Arsen sedang ke luar kota. Lagi pula ia sudah minta ijin pada suaminya untuk menginap di rumah kedua orangtuanya. Tapi Arsen lupa menasehati gadis ini untuk diantar oleh sopir pribadi mereka. Arsen dan Cintami memang tinggal di mansion mewah yang dibelikan Arsen untuk istrinya itu.
Cinta yang sedang menyetir mobil sendiri tampak santai melintasi jalan raya yang tampak lengang saat ini. Tidak lama kemudian, mobil sang penjahat tiba-tiba menabrak mobil Cinta untuk menarik perhatian gadis ini.
"Augghtt!" sentak Cinta saat mobilnya di tabrak. Ia kemudian menepikan mobilnya yang diikuti oleh mobil penjahat.
Cinta turun dari mobilnya dan melihat keadaan mobilnya itu dan ternyata ringsek parah. Sang penjahat ikut turun dan mendekati Cintami.
"Maaf nona! Saya tadi sedikit ngantuk hingga menabrak mobil anda. Saya akan bertanggungjawab atas kerusakan mobilnya," ucap sang penjahat sambil merogoh sesuatu dari balik jasnya.
"Tidak perlu. Cukup kamu minta maaf saja aku tidak masalah. Silahkan lanjutkan perjalanan anda tuan," ucap Cintami tanpa ekspresi.
Baru saja ia melangkah menuju pintu mobilnya tiba-tiba ujung pistol itu sudah menempel di pinggangnya.
"Masuk ke dalam mobilmu dan ikuti aku!" titah sang penjahat pada Cinta.
__ADS_1