Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia

Dikira Pembantu, Ternyata Istri Mafia
74. Metode yang Salah


__ADS_3

Arland mengupas setiap butir kelapa untuk dibagikan ke semuanya. Namun Amran dan Nabilla hanya minum satu batok kelapa dengan dipasang dua sedotan untuk mereka berdua. Kini semuanya sudah mendapatkan bagiannya masing-masing termasuk Arsen yang suka makan daging kelapanya dibantu oleh ummi Ambar.


"Air kelapanya sangat segar, mas," ucap Nabilla meresapi kelezatan air kelapa muda itu.


"Tambah segar lagi sambil menatap wajah cantik kamu, sayang. Apa lagi penembak kelapanya terlalu cantik hingga cintanya ikut meresap ke dalam air kelapa ini," puji Amran dengan wajah nakalnya menggoda sang istri.


"Sudah kebelet ya, sayang?" tembak Nabilla.


"Memang fakta kalau kamu tuh cantik sayang," puji Amran.


"Pujianmu hari ini sangat berlebihan dan aku tahu mas itu ada maunya. Iyakan?" tanya Nabilla.


"Hhhmm!" Amran mengangguk sambil menatap wajah istrinya sambil mengulum senyumnya yang samar namun terlihat makin tampan.


"Ayo. Kita pulang sekarang karena nanti malam akan ada pernikahan kedua pasangan berikutnya!" pinta kakek Abdullah.


Semuanya membereskan ransum bekas tempat makan mereka dimasukkan ke kontainer. Dan ketiga mobil itu kembali ke villa. Karena sudah memasuki pukul 12 siang, mereka bersiap untuk menunaikan sholat dhuhur berjamaah di mushola di dalam villa itu. Bertindak sebagai imam adalah kakek Abdullah.


Usai sholat, Nabilla menyusui ketiga bayinya secara bergantian sebelum di kembalikan kepada nenek-nenek mereka. Nabilla dan Amran menciumi ketiganya.


"Istirahatlah Nabilla! Nanti malam akan ada acara pernikahan Lira dan Lea," ucap bunda Riska.


"Iya bunda. Terimakasih, bunda!" pintu ditutup dan dikunci oleh Nabilla. Wanita ini ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Amran juga ikut masuk dan cumbuan didalam bathroom sana kembali terjadi dibawah pancuran air shower.


"Mas. Kita lanjutkan di kamar saja!" pinta Nabilla yang tidak kuat di udara dingin.


"Baik." Amran mengenakan jubah mandi coklat pada istrinya dan juga dirinya. Tubuh Nabilla di gendong lalu di rebahkan diatas tempat tidur.


Jubah mandi dibuka oleh Amran. Agar Nabilla tidak masuk angin, Amran mengoles tubuh istrinya dengan minyak kayu putih agar kulit wanitanya tetap dalam keadaan hangat. Amran juga memberikan pijatan-pijatan ringan dari betis, paha, bokong dan berakhir pada punggung mulus istrinya.


Kulit lembut bak kulit bayi Nabilla membuat Amran sangat betah memijat tubuh istrinya. Pijatan Amran bagi Nabilla seakan menyuruhnya untuk tidur karena terlalu nikmat bukan terkesan menggoda. Lambat laun Nabilla tidak kuat menahan rasa ngantuknya membuat Amran merasa metode pijatannya salah.

__ADS_1


"Harusnya dia terangsang, kenapa malah membuatnya tidur?" gerutu Amran yang serba salah saat ini karena tidak kuat menatap boneka porselin miliknya yang nampak indah terlihat dari belakang karena bokong putih mulus itu menggodanya untuk memasuki pusakanya ke dalam sana. Namun akal sehatnya berbisik untuk mengijinkan istrinya beristirahat.


"Baiklah Baby! Aku akan mengijinkan kamu tidur siang ini. Nanti malam jangan harap kamu akan istirahat!" bisik Amran pada kuping istrinya yang sudah terdengar dengkuran halusnya.


Amran menjadikan Nabilla sebagai bantal gulingnya untuk ia peluk. keduanya tidur dibawah selimut tebal melewati siang hari ini yang cukup melelahkan.


Sekitar pukul 3 sore, Nabilla mengerjapkan matanya. Merasakan lengan suaminya memeluk pinggangnya. Nabilla mengangkat lengan itu hendak beringsut, namun Amran sudah lebih dulu mengeratkan pelukannya.


"Kamu belum memberikan yang ku butuhkan baby. Berikan apa yang aku mau, baru aku akan membebaskanmu!" pinta Amran.


Nabilla memutarkan tubuhnya menghadap Amran. Ia menatap wajah tampan suaminya gemas dengan matanya masih terpejam malas. Namun pusaka kokoh itu lebih dulu menyundul perut rampingnya.


"Apakah tidak bisa menunggu nanti malam, sayang? kalau mandi lagi, dingin," Nabilla memberikan alasan karena malas membasahi rambutnya.


"Dia ingin ditenangkan. Manjakan dia sebentar sayang! dia menginginkan kehangatan mulutmu," nada suara Amran terdengar serak seakan sedang menahan sesuatu.


Kalau sudah seperti itu, Nabilla sudah tahu voltase suaminya dalam keadaan on yang tidak cukup dibujuk dengan ucapan manis darinya, namun tindakan untuk segera mengakhiri penderitaan Amran. Nabilla memutar tubuhnya meraih pusaka itu lalu menuntun ke dalam mulutnya. Tubuh kekar itu sesaat mengejang merasakan hangatnya mulut itu menjalar seluruh tubuhnya, membuat Amran meraup bagian sempit Nabilla itu dengan memanjakannya dengan mulutnya juga.


Keduanya saling memanjakan milik mereka dengan hisapan yang cukup kuat agar bisa melakukan pelepasan itu. Kenikmatan itu hanya bisa mereka berteriak di dalam hati karena mulut mereka tersumpal dengan senjata lawan yang perlu dilumuri dengan saliva mereka masing-masing.


Sesaat kemudian, tubuh keduanya mengejang melepaskan cairan kenikmatan itu hingga keduanya berlomba untuk mengisap tuntas hingga tak tersisa dan keduanya kompak melepaskan senjata kepemilikan mereka dengan nafas yang terdengar memburu.


Kini Nabilla menaiki pusaka kokoh itu untuk memberikan sensasi yang lebih nikmat lagi. Amran merasakan setiap himpitan yang mengurut lembut miliknya sambil melihat bagaimana liukan gerakan tubuh Nabilla yang menari erotis sambil menyeka rambutnya seakan sedang memerankan iklan sampo.


"Oh honey! do it fast because I want to let go. This is so delicious, honey," ucap Amran sambil memegang kedua paha mulus istrinya agar Nabilla lebih menggempur miliknya dengan cepat.


"Lepaskan secara bersamaan, sayang!" ajak Nabilla dan keduanya memekik keras dan tubuh Nabilla sudah terkulai lemas jatuh di atas tubuh kekar suaminya.


"Apakah sudah cukup sayang?" tanya Nabilla dengan nafas tersengal.


"Cukup untuk saat ini saja, sayang. Nanti malam akan ada lagi episode lanjutan. Bukankah pekerjaan ini adalah ibadah panjang untuk kita sebagai ajang penghapusan dosa?" ledek Amran membuat Nabilla mengigit kecil pu*ing milik Amran membuat Amran menjerit keras.

__ADS_1


"Baby ... sakit!" adu Amran pura-pura sakit. Ia tidak bisa membalas perlakuan istrinya dengan gigitan yang sama karena ada sumber makanan untuk ketiga anaknya. Jadi Amran memilih menyerang bagian biji kecil dibawah sana. Nabilla membiarkan suaminya menyusui miliknya dibawah sana untuk bayi besarnya. Amran menyedot cairan kenikmatan Nabilla yang terus keluar dari rahimnya dan terasa sangat lezat dilidahnya. Nabilla merasakan kembali kenikmatan kehangatan hisapan suaminya hingga gelombang kenikmatan itu kembali menyapanya.


"Baby! sudah cukup!" pinta Nabilla sambil meremas rambut gimbal suaminya. Amran menghentikan aksinya dan keduanya kembali berciuman mesra.


"Terimakasih, baby! ayo kita segera mandi dan sholat!" ucap Amran lalu menggendong tubuh bayi besarnya itu menuju bathroom.


Tidak lama, terdengar suara helikopter yang membawa tuan Recky dan pak penghulu juga nyonya Irene. Amran dan Nabilla mandi bersama dan saling keramas dan menyabuni tubuh mereka. Hal yang paling disukai Amran adalah memandikan istrinya karena kulit Nabilla yang terasa sangat lembut seperti bayi.


Saat malam tiba, pengantin wanita yang didandani langsung oleh ummi Ambar dan dokter Mariska yang sangat jago dengan urusan merias, kini sudah rapi mempersiapkan dua calon pengantin wanita yaitu kakak beradik Lira dan Lea. Kedua gadis itu di dampingi Nabilla dan Celia menuju pak penghulu dan ayah mereka tuan Recky.


Wira dan Devan berdecak kagum menatap wajah cantik Lira dan Lea. Tuan Recky menahan tangisnya karena akan melepaskan tanggung jawabnya sesaat lagi. Lira dan Lea duduk di tengah dan diapit oleh calon suami mereka. Ijab qobul siap diucapkan oleh Wira duluan karena usia Lira lebih tua daripada Lea.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ardita Lira Syafana Binti Recky Abdullah Al-Ghifari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Wira lantang.


Kedua saksi yaitu Amran dan Arland menyambutnya dengan jawaban kata sah. Sekarang giliran Devan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Alea Syakira Havana Binti Recky Abdullah Al-Ghifari dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Devan lugas.


Kedua saksi Reno dan tuan Abdullah menjawabnya dengan kata sah. Saat semuanya fokus pada pernikahan itu, Nabilla sedang menerima telepon lagi dari gedung putih.


"Besok pagi kami akan menjemput anda di bandara setempat!" ucap Mr. M lalu mematikan ponselnya.


"Gawat. Apa yang harus aku katakan kepada suamiku?" lirih Nabilla.


"Mau katakan apa sayang?" Amran memeluk istrinya dari balik punggung Nabilla.


Deggggg....


.....


vote dan like nya Cinta, please!

__ADS_1



Visual Amran


__ADS_2