
Di rumah sakit, Dinar menemui dokter Jasmine untuk mengetahui keadaan Evren.
"Apa yang terjadi pada Evren, dokter? Mengapa dia sampai kritis?" tanya Dinar cemas.
"Pasien mengalami serangan jantung saat kami berhasil mengangkat proyektil peluru di paha kirinya," ucap dokter Jasmine.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dokter?"
"Koma."
"Astaghfirullah halaziiim. Kenapa bisa koma...? Padahal sebelum masuk ke kamar operasi dia tampak baik-baik sajakan, dokter?" tanya Dinar.
"Segala kemungkinan pasti akan terjadi saat pasien sedang menjalani operasi, nona," ucap dokter Jasmine sambil menarik nafas dalam.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan dokter?" tanya Dinar.
"Kami hanya minta persetujuan keluarganya agar menandatangani beberapa berkas supaya pasien dirawat di ruang ICU. Apakah anda walinya pasien?" tanya dokter Jasmine.
"Bukan. Saya hanya orang yang sudah menolongnya dari orang-orang yang ingin menghabisi nyawanya," tutur Dinar.
"Kalau begitu, tolong hubungi keluarganya karena kami butuh persetujuan walinya segera," pinta dokter Jasmine.
"Begini saja. Saya saja yang bertanggungjawab atas dirinya. Saat ini dia tidak percaya pada siapapun karena orang-orang terdekatnya sudah mengkhianatinya," ucap Dinar.
"Biar saya yang akan mengurus apa yang dibutuhkan oleh pasien. Dokter bisa mempercayai saya karena saya adalah salah satu agen rahasia CIA dan ini identitas saya sebagai CIA," ucap Dinar seraya menyerahkan tanda pengenal nya.
Dokter Jasmine cukup syok saat mengetahui Dinar adalah agen rahasia CIA yang sangat bergengsi di Amerika ini nampak bangga bisa bertatapan langsung dengan gadis cantik didepannya ini.
"Baiklah nona Dinar. Tolong isi data anda dan tandatangani berkas pernyataan rawat ICU!" titah dokter Jasmine seraya menyodorkan pena untuk Dinar.
"Baik."
Sekedar diketahui, Dinar adalah seorang pengacara. Ia mengikuti jejak kakek uyutnya tuan Recky. Jadi selain FBI, pekerjaannya adalah seorang pengacara.
Beberapa saat kemudian Evren sudah berada di ruang ICU itu. Dinar menemui pria malang itu. sesaat hatinya cukup sedih karena belum tahu banyak masalah yang menimpa Evren.
"Mengapa mereka menginginkan kematianmu? padahal aku mengira kamu akan segera pulih. Dan kita bisa bahas banyak hal tentang kejadian hati ini," gumam Dinar yang tiba-tiba merasa sangat sedih saat ini.
Padahal kita baru saling kenal beberapa jam yang lalu. Tapi entah mengapa aku merasa sudah sangat mengenalmu bertahun-tahun yang lalu. Aku berjanji akan mengusut tuntas kasus yang menimpamu agar hidupmu kembali aman damai.
Maaf aku harus pergi. Aku harap kamu tidak menyusahkan aku lagi. Baik-baiklah di sini Evren. Jangan lupa selalu berzikir di dalam hatimu...! Aku tahu alam bawah sadar mu masih mendengarkan perkataanku," ucap Dinar mengusap kening Evren sebagai tanda sayang.
__ADS_1
Dinar segera beranjak keluar dari ruang ICU itu karena waktu berkunjungnya hanya dibatasi 10 menit.
...----------------...
Di villa kakek Salim. Tidak perlu menunggu lama, Nabilla sudah mencari tahu siapa Evren sebenarnya. Dinar menunggu penjelasan Omanya tentang kisah hidup Evren.
"Apakah kita bisa menemukan alasan dari permasalahan yang dihadapi Evren, Oma?" tanya Dinar sambil menempelkan tubuhnya ke punggung Nabilla yang sedang melacak keberadaan kelurga Evren saat ini di layar laptop miliknya Nabilla itu.
Nabilah membalikkan tubuhnya lalu bicara dengan Dinar di tempat tidurnya. Ia menjelaskan ikatan hubungan yang sangat rumit yang dihadapi Evren dengan keluarganya yang bukan lagi hubungan satu pertalian darah.
"Sayang. Evren adalah pria yang kurang beruntung dalam kehidupan kelurganya. Dia tumbuh menjadi seorang anak yatim piatu di usia 10 tahun setelah kedua orangtuanya dibunuh oleh sekelompok orang yang tidak di kenal karena persaingan bisnis," imbuh Nabilla.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuuun," sesal Dinar terhenyak mendengar kisah pilu Evren.
"Dia diasuh oleh nenek dari ibunya karena keluarga dari mendiang ayah kandungnya sudah pada meninggal dunia. Berjalannya waktu, neneknya menikah lagi dengan seorang duda beranak satu.
Duda itu juga memiliki cucu yang usianya sama seperti Evren. Beberapa tahun kemudian, neneknya meninggal di saat Evren berusia 16 tahun. Dua tahun kemudian kakek tirinya menikah lagi dengan seorang gadis muda dan berselingkuh dengan menantunya sendiri.
Rupanya cinta segitiga ini yang memicu adanya rencana pembunuhan pada Evren agar bisa mendapatkan hartanya Evren jika mereka berhasil membunuh Evren, otomatis harta Evren akan diwariskan kepada kakek tirinya," ucap Nabilla.
"Maksudnya kalau kakek tirinya meninggal otomatis harta itu beralih pada putranya dan nenek tirinya yang masih muda itu, Oma?" tanya Dinar yang sudah bisa menarik benang merah dari permasalahan yang menimpa Evren ini.
"Iya sayang. Begitulah permainan mereka. Di sini Oma menemukan beberapa bil pembayaran transaksi saat mereka booking hotel dan villa di beberapa kota yang ada di Indonesia dan bahkan beberapa hotel dan resort yang ada di Asia," ucap Nabilla.
"Sekarang tugasmu adalah masuk ke dalam lingkaran permainan mereka sambil mengawasi gerak-gerik mereka yang ingin mengeruk harta Evren secara diam-diam.
Semoga Evren sudah siuman di saat kamu sudah menyelesaikan kekisruhan yang terjadi di dalam keluarganya itu yang seharusnya tidak perlu ada di lingkaran kehidupan Evren," ucap Nabilla.
"Bagaimana caranya aku bisa bergabung ke dalam perusahaan Evren?" tanya Dinar.
"Kamu mendatangi perusahaan itu sebagai investor yang akan menanam modal besar di perusahaan itu. Kamu mulai menawarkan saham sebesar 75 persen pada perusahaan itu.
Jika mereka mengetahui saham sebesar itu yang kamu tawarkan pada mereka, maka mereka akan senang hati menerimanya karena keuntungan yang mereka akan dapatkan lebih besar jika mereka sukses mengelola perusahaan itu selama tidak ada Evren.
Tapi, ajukan dulu pertanyaan menohok pada mereka untuk menghadirkan Evren jika mereka siap bekerja sama denganmu dalam investasi saham yang lumayan besar itu," ucap Amran yang saat ini sudah bergabung dengan istri dan cucunya.
"Apakah opa akan membantuku?" tanya Dinar.
"Tentu saja sayang."
"Evren akan berterimakasih kepadamu jika kamu bisa melindungi semua aset miliknya setelah permainan mereka berakhir. Mereka sama sekali buta akan dunia bisnis.
__ADS_1
Kerja mereka hanya menghabiskan uang perusahaan itu. Di saat perusahaan goyah kamu akan ambil alih perusahaan itu karena saham milikmu lebih besar daripada yang lainnya," ucap Amran.
"Wah hebat Opa...! Terimakasih ya Opa, Oma sudah ikut membantu permasalahan yang dihadapi Evren. Kasihan dia. Yatim piatu diusia belia dan hidup hanya di kelilingi oleh predator yang siap memangsanya kapan saja," balas Dinar sendu.
"Sekarang dia aman di rumah sakit. Opa sudah menyuruh orang-orang kita yang menjaganya dengan cara mereka," ucap Amran yang ikut turun tangan mengurus pria malang nan tampan itu.
"Alhamdulillah. Opa selalu bisa di andalkan. Semoga Evren cepat sembuh dan mengurus lagi perusahaannya sendiri. Aku akan membuat perhitungan dengan para predator itu.
Aku harus mendapatkan akses dari Evren untuk bisa menguasai perusahaannya," ucap Dinar penuh minat dengan masalah yang dihadapi Evren saat ini.
Usai membahas apapun masalah Evren, kini Dinar sudah berada di luar villa dengan mantel membalut tubuh rampingnya.
Cintami mendekati putrinya. Perhatian yang diberikan putrinya pada Evren sepertinya bukan seperti hubungan teman biasa yang ditawarkan Dinar mengingat Dinar hanya mengenal sesaat pria malang itu.
Tapi , Dinar memiliki perhatian yang cukup spesial pada Evren yang mungkin saja Dinar punya pertimbangan sendiri dalam melihat keadaan Evren yang butuh perhatian khusus darinya selain perlindungan yang dibutuhkan oleh Evren.
"Dinar. Mama ingin bicara sesuatu padamu," ucap Cintami yang sudah berdiri di balik punggung putrinya yang ada di teras villa.
Cintami mengajak putrinya masuk ke dalam kamarnya agar bisa curhat dari hati kehati.
"Ada apa mama?" tanya Dinar seraya menghenyakkan bokongnya di atas tempat tidur kedua orangtuanya.
"Mama tahu kalau saat ini Dinar dan 3 saudara Dinar sudah beranjak dewasa. Apakah saat ini, putrinya mama ini sedang jatuh cinta?" tanya Cintami penuh kelembutan pada putri sulungnya itu.
"Jatuh cinta? Sama siapa, mama?" Dinar balik bertanya pada ibunya yang menahan senyum geli pada Dinar yang terlihat gugup.
"Pada teman barumu itu yang sekarang terbaring di rumah sakit," ujar Cintami.
"Apakah semudah itu kita jatuh cinta pada orang yang kita baru kenal, mama?" tanya Cintami lagi.
"Cinta itu datang tanpa perlu memberikan kita suatu isyarat. Tergantung pada orang yang menerima dan merasakan perasaan yang luar biasa itu.
Kita akan merasakan serba salah. Sulit tidur dan bahkan merasa kenyang sekalipun kita lapar. Rasa rindu dan ingin selalu bersama. Bahkan kita di serang perasaan gila yang tiba-tiba. Bicara sendiri dan tersenyum tanpa ada yang terlihat lucu.
Seakan banyak bunga-bunga memenuhi rongga dada kita saat bahagia itu menyapa. Dan itu adalah sesuatu yang sangat lumrah yang tidak semua orang mengalaminya," ucap Cintami panjang lebar.
"Mama. Mengapa berpikiran sejauh itu? Evren saja masih terbaring koma di rumah sakit. Dia adalah pria dewasa dengan sejuta pesona. Ditunjang dengan karir yang sangat cemerlang, tidak menutup kemungkinan kalau dia pasti sudah memiliki kekasih atau tunangan.
Aku tidak mau merusak hubungan orang lain, mama," ucap Dinar yang tidak mau banyak berharap atas sesuatu yang masih belum jelas antara Evren dan dirinya karena semuanya terlalu cepat.
"Tidak apa kalau semuanya akan mengalir apa adanya. Tapi, apapun yang menjadi perasaan berharga itu kita miliki, semuanya perlu diperjuangkan.
__ADS_1
Merelakan sesuatu untuk orang lain miliki itu baik, sayang, tapi kalau dia itu memiliki keterikatan yang sah menurut hukum agama dan negara baru kita menjauh. Selama masih bebas apa salahnya diperjuangkan? Daripada hanya menunggu?" imbuh Cintami membuat putrinya tersipu malu.
"Cinta. Kalau cinta itu pada akhirnya hanya membuatku sakit. Aku begitu takut untuk mengenal cinta mama. Biarlah semuanya mengalir apa adanya agar cinta itu lebih membekas dan berarti tanpa perlu dikejar," ucap Cintami.