
Tiga hari berlalu sejak kejadian peristiwa penembakan itu, kini Cintami sudah bisa kembali lagi berkumpul dengan keluarganya. Tubuh Cintami terlihat tetap bugar dan tidak tampak trauma di mata wanita yang berusia 26 tahun ini.
Itulah pendekar wanita sejati. Tidak mudah cengeng dan tetap tersenyum walaupun kecemasan masih melanda jiwanya. Rasa penasaran yang ingin ia ungkapkan dalang dari suatu partai politik tertentu yang ingin melenyapkan kakak iparnya yang diklaim dalangnya adalah senator Ferguson.
"Sayang. Aku harap untuk sementara ini kamu harus istirahat dan pikirkan kewajibanmu sebagai istri dan ibu bagi keempat anak kita. Aku minta tolong dengarkan aku kali ini saja!" pinta Arsen yang melihat istrinya masih berkutat dengan laptop miliknya di atas pahanya Cintami.
"Jika ini kasus menimpa orang lain, mungkin aku tidak begitu peduli. Tapi, ini masalah jiwa saudara kita, Syakira," imbuh Cintami meminta pengertian suaminya.
"Baik. Jika Kamu mementingkan nyawa orang lain, lalu bagaimana aku dan anak-anak kalau kamu yang jadi korban dalam misi penyelamatan jiwa orang lain? Bagaimana?!" teriak Arsen yang tidak lagi tolerir dengan misi gila istrinya.
"Kak Arsen. Bukankah kamu sudah tahu kalau aku ini sebenarnya sudah menerima misi itu jauh sebelum kita menikah? Dan kamu terima konsekuensinya. Sekarang kenapa kamu marah? Daddy saja tidak keberatan mommy aku masih menjadi bagian dari agen FBI sampai saat ini," protes Cintami.
"Sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Aku berhak atas dirimu, suka atau tidak suka," omel Arsen makin menjadi.
Arsen keluar dari kamarnya dengan membanting pintu itu sangat kencang membuat Cintami terperanjat. Baru kali ini Cintami melihat kemarahan Arsen yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Kenapa dia semarah itu? Padahal dua sudah tahu resiko pekerjaanku yang dari awal sudah aku tegaskan kalau profesiku seperti suami pertama bagiku dan dia setuju. Sekarang beda lagi ceritanya. Kalau aku matikan dia bisa kawin lagi seperti ayahnya," gerutu Cintami memilih untuk tidur lagi.
Malam kian larut. Rupanya Jakarta kini sudah mulai masuk musim penghujan. Cuaca dingin ini menjadi kesempatan setiap pasangan suami istri berolahraga malam untuk mencari keringat di sela-sela waktu rehat mereka.
Seperti malam ini, usai bercinta Nada langsung tepar dengan perut buncitnya yang juga mengandung bayi kembar. Sementara Ghaishan masih ingin menikmati udara segar di depan balkon sambil menikmati guyuran hujan. Sesekali ia menghisap rokoknya lebih dalam sambil melakukan peretasan untuk melihat beberapa kejahatan yang di lakukan oleh orang lain yang terekam di layar ponselnya. Kejahatan itu terjadi di belahan bumi negara lain yang tidak begitu digubrisnya karena itu urusan pihak keamanan di negara tersebut.
Bosan dengan udara di luar ia kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia mengambil kimono istrinya yang baru dan mengenakan pada ibu mil ini seperti bayi lucunya. Setelah rapi, Ghaishan mengecup bibir istrinya lalu ikut tidur dan memeluk tubuh Nada yang tiba-tiba mengigau.
"Molly...molly sayang!" sebut Nada yang sedang memimpikan molly yang saat ini sedang sakit.
__ADS_1
"Molly ...! Siapa molly?" geram Ghaishan yang mengira molly adalah pria di masa lalu istrinya.
"Emang aku tidak ada di dalam mimpi kamu, sayang? Kenapa tiba-tiba memimpikan pria lain. Andai saja mimpimu itu bisa aku lihat aku akan membunuhnya," gerutu Ghaishan.
"Nada.... Nada... sayang...! Bangun...!" Ghaishan tidak suka sama sekali Nada mengulang nama yang sama dalam tidurnya.
Nada akhirnya membuka matanya lalu merasa sangat lega jika ia hanya bermimpi saja tentang Molly. Ia lalu tertidur lagi karena matanya masih berat.
"Kok malah tidur lagi? Aku ini mau interogasi kamu dulu, sayang. Siapa Molly?" tanya Ghaishan kesal.
"Kekasihku jawab Nada tidak sadar dengan ucapannya membuat Ghaishan akhirnya marah juga.
"Besok aku akan membunuhnya. Lihat saja!" amarah Ghaishan tak tertahankan. Ia memaksa diri untuk tidur walaupun hatinya terasa ingin meledak saat ini.
Saat ini Nada dan Ghaishan menetap di apartemen lama milik Amran dulu. Jadi, keduanya leluasa melakukan apapun di apartemen itu sendiri tanpa dilibatkan pelayan kecuali di minta datang untuk membersihkan unit apartemen mereka dan mengambil baju kotor untuk di laundry.
Nada menyiapkan sarapan pagi untuk Ghaishan yang terlihat lebih banyak diam saat ini membuat Nada menjadi bingung sendiri. Sejak sholat subuh berjamaah hingga saat ini Ghaishan tidak begitu meladeni dirinya.
"Ada apa denganmu? Kok tiba-tiba manyun sama aku? awas aja kalau sampai wajah anakku jelek kayak ayahnya," omel Nada ketus.
"Apakah selama ini aku tidak berarti untukmu, kurang tampan atau aku tidak memuaskan kamu di ranjang hingga kamu berani berkhayal laki-laki lain hingga terbawa mimpi?" tutur Ghaishan sambil mengaduk-aduk sarapannya.
"Hah ..?! Emang laki-laki siapa yang sampai datang dalam mimpiku? Kalau kamu mau cemburu jangan asal nuduh. Siapa yang selingkuh. Kamu saja nggak habis," gerutu Nada membuat Ghaishan hampir tersenyum bangga tapi ia kembali ke mode marah.
"Tunjukkan alamat pria itu! Aku akan membunuhnya hari ini juga atau aku kirim ke benua Afrika yang tidak ada air agar dia mati kehausan. Oh tidak, lebih tepatnya ke gurun pasir," ucap Ghaishan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan mengantarmu ke rumah pria itu. Tapi siapa namanya? Karena aku tidak merasa berselingkuh dari kamu," tantang Nada.
"Molly."
"Hahhh ....?! pipi Nada menggelembung menahan tawa sambil menatap wajah Ghaishan yang terlihat sangat merah.
"Jadi, Kamu cemburu dengan seekor beruang?" ledek Nada yang tertawa juga melihat wajah Ghaishan berganti tercengang.
"Hah ...?! Beruang..? sejak kapan kamu jatuh cinta dengan beruang. Kenapa beruang lebih kau pikirkan daripada suamimu yang tampan ini?" geram Ghaishan dengan menyombongkan dirinya.
"Pantas daddyku sangat suka padamu. Kalian berdua itu sama-sama tukang pamer," imbuh Nada.
"Untuk mengalahkan para pria berandalan di luar sana yang ingin mendekatimu, aku harus kudu pamer karena aku yang lebih unggul dari mereka semua untuk mendapatkan bidadarimu. Dan mulai sekarang, berhentilah memikirkan molly karena aku juga cemburu padanya," pukas Ghaishan dengan mimik serius.
"Cih....! Apakah kamu juga akan cemburu tiba-tiba aku diambil Allah saat aku melahirkan bayi kembar kita?"
"Nadaaaa....!" bentak Ghaishan mendengar ucapan Nada yang asal mengoceh.
"Ghaishan. Ada apa sih dengan kamu. Jantungku mau copot mendengar teriakkan kamu barusan," balas Nada makin pusing dengan ulah suaminya.
"Berani lagi kamu ngomong tidak jelas seperti itu aku hukum kamu," omel Ghaishan.
"Iya tuan Ghaishan. Aku nggak akan mengoceh seperti itu lagi. Ampunnn...!" ucap Nada sambil memegang kedua telinganya.
Ghaishan melanjutkan sarapannya dengan hati yang tidak tenang karena ucapan nada barusan menghilangkan selera makannya.
__ADS_1
.