
Maryam mengernyit menahan rasa perih, ia tidak tahu jika sesekali Yudha melirik kearahnya sambil terus menyetir.
Sebelum keluar dari pekarangan rumah sakit, Maryam sudah memberitahu Yudha alamat rumahnya, hingga Yudha tidak bertanya lagi pada Maryam.
" Kenapa, terasa sakit ya? " tanya Yudha yang melihat Maryam menahan rasa sakit.
" Iya, ini mulai terasa perih, kaki saya juga mulai terasa nyut-nyutan. "
Jawab Maryam sambil sedikit meringis.
" Mungkin karena efek belum minum obat pereda nyeri, jadi sakitnya mulai terasa.
Apa kita perlu berhenti dulu untuk meminum obat? Di kursi belakang ada air mineral yang masih baru."
Melihat Maryam yang menahan rasa sakit, Yudha bermaksud menghentikan mobilnya agar Maryam bisa minum obat yang tadi dia tebus di apotik.
" Tidak perlu berhenti, minum obatnya nanti dirumah aja, sebentar lagi kita sampai. "
Maryam menolak saat Yudha akan menghentikan mobil agar ia bisa meminum obat.
Yudha melajukan mobilnya sedikit lebih kencang, ia merasa kasihan pada Maryam yang sedang meringis menahan sakit.
Tidak memakan waktu lama, mobil Yudha memasuki pekarangan rumah Maryam setelah seorang security membukakan pintu pagar.
Ibu Maryam merasa heran ketika ada mobil yang tidak dikenal memasuki pekarangan rumahnya.
Ia tengah duduk di teras bersama Marini, adik Maryam.
Ayah Maryam sendiri sedang menerima telepon tak jauh dari teras rumah.
Mobil Yudha berhenti tak jauh dari teras, Yudha keluar lalu memutar untuk membuka pintu kiri mobil.
Setelah pintu mobil terbuka, Yudha membantu Maryam keluar dari mobil, lalu dipapah oleh Yudha untuk menuju teras.
Melihat Maryam yang berjalan sambil dipapah seorang laki-laki, membuat ibu Maryam terkejut, juga Isti adik Maryam.
" Ya Allah Maryam, kamu kenapa nak?
Pah.. Papah.. Ini Maryam terluka pah.
Isti, cepat bantu kakak mu untuk masuk kerumah. "
Dengan nada sedikit panik, ibu Maryam memanggil suaminya yang tengah menelepon, juga meminta Isti untuk membantu Maryam masuk kedalam rumah.
" Sini.. sini.. bawa masuk, dudukkan dulu di sofa. "
Ibu Maryam membuka pintu lebar-lebar saat Yudha dan Isti menuntun Maryam untuk masuk, mereka mendudukkan Maryam di kursi ruang tamu.
" Bik.. bibik.. Tolong bawakan air minum buat Maryam, eh.. Kamu aja Isti, tolong ambilkan minum buat kakak mu. "
Ibu Maryam masih terlihat cemas, ia bingung saat meminta dibawakan air minum untuk Maryam.
__ADS_1
Sebelum Isti beranjak ke dapur untuk mengambil air minum, bi Iyah yang mendengar teriakan ibu langsung datang membawa segelas air mineral.
Dari luar, ayah dengan terburu-buru masuk kedalam rumah setelah menyelesaikan pembicaraannya di telepon, dia ingin tahu keadaan anak gadisnya.
Ibu memberi air minum dan akan meminumkan pada Maryam.
" Sebentar bu, ini obat yang harus diminum oleh Maryam, tadi belum sempat diminum. "
Yudha menyerahkan kantong obat pada ibu Maryam.
" Eh.. Iya, minum obatnya dulu nanti biar diantar kekamar untuk istirahat. "
Ibu menerima kantong obat dari Yudha.
Setelah membaca aturan minumnya, ibu membuka dan memberikan obat pada Maryam.
" Sebaiknya Maryam diantar ke kamar biar bisa istirahat.
Untuk sementara biar Maryam tidur di kamar tamu, tidak mungkin ia tidur di kamarnya dilantai atas. "
Ayah Maryam meminta agar Maryam tidur dikamar tamu.
Maryam dituntun ayah dan ibunya ke kamar tamu, sedangkan Yudha mengambil kruk di dalam mobil yang belum sempat ia keluarkan.
Setelah Maryam beristirahat, ayah dan ibu keluar dari kamar.
Isti diminta untuk menemani Maryam di kamarnya.
Dan, saudara ini siapa? Kok bisa saudara yang mengantarkan Maryam? "
Ayah Maryam bertanya pada Yudha yang kini tengah duduk dihadapan mereka.
Ibu Maryam hanya mendengarkan, apa yang akan disampaikan oleh Yudha.
Sebelum Yudha menjawab pertanyaan ayah Maryam, bi Iyah datang membawa makanan dan cemilan, lalu menghidangkan diatas meja tamu.
" Silahkan, den.! " bi Iyah mempersilahkan Yudha untuk minum dan mencicipi cemilan di atas meja.
" Silahkan diminum dulu airnya, agar lancar ceritanya. " pinta ibu pada Yudha.
" Terima kasih, bu. " jawab Yudha sambil mengambil gelas minumnya dan meminumnya sedikit.
Sementara ayah dan ibu Maryam meminum teh yang tadi mereka tinggalkan di teras dan dibawa masuk kembali oleh bi Iyah.
Setelah meminum tehnya, Yudha mulai menceritakan kejadian kecelakaan yang menimpa Maryam.
Yudha meminta maaf pada kedua orang tua Maryam atas kelalaiannya yang mengakibatkan Maryam mengalami kecelakaan.
" Motor Maryam besok sudah selesai diperbaiki, dan besok biar saya antarkan motornya kesini. "
Yudha mengakhiri ceritanya, juga menyampaikan keadaan motor Maryam.
__ADS_1
" Iya, saya maklum bila nak Yudha kelelahan setelah dinas dari luar kota, tapi lain kali bisa lebih berhati-hati, apalagi nak Yudha seorang polisi, tentu lebih paham aturan berkendara dijalan. "
Ayah Maryam menarik nafas sebentar, lalu melanjutkan Kata-katanya.
" Saya dan keluarga juga berterima kasih karena sudah bertanggung jawab dengan membawa Maryam berobat kerumah sakit dan mengantarkannya pulang.
Alhamdulillah Maryam juga tidak mengalami luka yang serius."
Ayah Maryam mengerti dengan keadaan Yudha yang kelelahan, tapi ia juga minta agar Yudha lebih berhati-hati kedepannya.
Ayah juga mengucapkan terima kasih atas rasa tanggung jawab Yudha pada Maryam.
Alhamdulillah.. Untung kedua orang tua Maryam mau mengerti dan memahami keadaan ku dan mau menerima permintaan maaf dariku, jika tidak mungkin sudah terjadi salah paham dan perselisihan. "
Yudha berkata dalam hati dan merasa bersyukur karena keluarga Maryam tidak menuntutnya atas peristiwa yang menimpa Maryam.
Setelahnya, orang tua Maryam dan Yudha saling bercerita dan mengobrol banyak hal.
Ayah Maryam bernama Marzuki ia seorang pengusaha dan memiliki sifat yang rendah hati.
Walaupun mereka orang berada, tapi pak Marzuki tidak memiliki sifat sombong, sehingga tidak menekan Yudha atas kesalahannya.
Pak Marzuki bisa menerima dan memaafkan kesalahan Yudha.
Begitu pula dengan ibu Maryam yang bernama Nurul Azizah, sama seperti suaminya, ia juga sangat ramah dan tidak menyalahkan Yudha atas kejadian yang menimpa Maryam.
Mereka menganggap itu sebuah kecelakaan yang memang sudah harus terjadi.
Mereka bersyukur Maryam masih selamat dan hanya mengalami luka lecet serta pergelangan kaki yang terkilir.
Setelah cukup lama mengobrol, Yudha akhirnya berpamitan pada orang tua Maryam.
" Maaf Pak.. Bu.. Sepertinya saya mau pamit pulang dulu, sudah terlalu sore.
Insya Allah besok saya kesini lagi untuk mengantarkan motor Maryam sekalian untuk melihat keadaan Maryam.
Tolong sampaikan salam saya pada Maryam. " Yudha pamit pada kedua orang tua Maryam untuk kembali ke rumahnya.
" Baiklah nak Yudha, terima kasih karena sudah bertanggung jawab dan mengurus Maryam. Untuk masalah motor, jika nak Yudha sibuk, besok motor biar diambil sama Ismail, adiknya Maryam. "
Ayah Maryam mengerti jika Yudha sudah merasa lelah dan perlu istirahat.
" Iya nak, pulang dan istirahatlah.
Hati-hati dijalan, jangan sampai lalai lagi dalam berkendara. "
Ibu Maryam pun meminta Yudha untuk pulang dan beristirahat, juga agar Yudha berhati-hati dijalan.
Setelah berpamitan, Yudha pun keluar dengan diantar oleh orang tua Maryam hingga ke teras.
Setelah mengucap salam, Yudha meninggalkan rumah Maryam untuk kembali ke rumahnya.
__ADS_1