
" Ini kesempatan bagi kamu Desti, untuk membantu pak Eko agar bisa melupakan bu Asti. "
Endah memberi dukungan dan semangat pada Desti untuk bisa membantu pak Eko melupakan Asti.
" Iya, mungkin ini kesempatan bagi aku, tapi pak Eko terlalu bersikap dingin padaku. Apalagi sekarang dia lagi patah hari, pasti akan lebih dingin lagi. "
Kata Desti yang merasa pesimis bisa mendekati pak Eko.
" Pak Eko kan jadi dosen pembimbing kamu, jadi manfaatkan aja waktu kamu membahas skripsi yang sedang kamu susun. Kamu coba untuk mengambil hati pak Eko. " kata Endah yang mendukung Desti untuk mendekati pak Eko.
" Iya, aku akan coba pelan-pelan untuk mendekati pak Eko, siapa tahu saat ia sedang patah hati, dia akan lebih mudah didekati. " kata Desti yang kembali bersemangat.
" Sebelum kamu bertemu pak Eko, kamu bacain dulu mantra agar pak Eko mau nurut sama kamu. " kata Endah lagi pada Desti.
" Ah, kamu mah suka menjebak aku.
Kemaren kamu bilang harus pakai pelet, ternyata meletin lidah sama nyolekin tahi ayam. Jelas aja pak Eko bakal ngejar-ngejar aku, tapi sambil bawa batu. "
Kata Desti dengan kesal saat ingat Endah yang mengerjainya untuk memelet pak Eko.
" Kali ini aku serius. " kata Endah yang berbisik pada Desti.
" Kamu dengerin ya? Mak ulam pucuk ubi, kalau kau pergi datanglah lagi. " bisik Endah pada Desti.
" Eh, itu benar mantra nya kaya gitu? "
Desti mulai penasaran dengan apa yang Endah katakan.
" Mantra nya sih benar, tapi berhasil apa tidak aku tidak tahu, karena itu mantra buatan aku. " Endah terkikik geli setelah mengatakan hal itu pada Desti.
Dengan geram, Desti mencubit tangan Endah yang ada disampingnya.
" Aww... Sakit, Des! Kamu main cubit aja. "
Kata Endah yang mengusap-usap tangannya yang dicubit oleh Desti.
" Salah sendiri, kamu selalu mempermainkan aku. Aku ga bakal percaya lagi sama kata-kata kamu. " kata Desti kesal pada Endah.
" Maaf Des, aku cuma bercanda.
Tapi tenang saja, aku akan selalu mendukung usahamu untuk mendapatkan pak Eko. " kata Endah yang kali ini berkata dengan nada yang serius.
Endah berjanji akan selalu mendukung niat baik Desti untuk menyembuhkan luka hati pak Eko akibat patah hati karena ditolak oleh bu Asti.
Endah juga mendoakan semoga semua usaha Desti akan membuahkan hasil, pak Eko bisa menerima Desti dengan segala perjuangan yang dilakukannya untuk membantu pak Eko melupakan bu Asti.
Setelah mereka selesai makan, Desti dan Endah meninggalkan tempat itu, juga Asti dan Asma pun meninggalkan tempat mereka makan.
*
__ADS_1
*
*
Sementara, di rumah sakit tempat Tomi bekerja, ia tengah mengikuti rapat di ruang rapat rumah sakit.
Dokter Atalim tengah menyampaikan bahwa mereka akan mengadakan kegiatan bakti sosial untuk menyambut hari dokter Nasional.
Kegiatan itu akan dilaksanakannya di sebuah pulau yang bernama pulau Kabaena, sebuah pulau yang terletak di Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.
Untuk menuju pulau Kabaena, dari Kendari ditempuh dengan perjalanan darat selama tiga jam menuju pelabuhan Kesipute, dari Kesipute menuju pelabuhan Sikeli ditempuh dengan menggunakan jalur laut selama dua setengah jam dengan menggunakan Speedboat.
"Jadi disana kita akan mengadakan operasi mata katarak secara gratis, penyuluhan mengenai gizi untuk anak-anak dan balita, juga pengobatan penyakit paru-paru. Kita juga akan mengadakan donor darah.
Ada beberapa orang dokter yang akan ikut melaksanakan kegiatan ini. "
Dokter Atalim menyampaikan rencana kegiatan bakti sosial untuk merayakan hari dokter nasional.
Tim dokter yang akan ikut ke Kabaena terdiri dari dokter Radit sebagai dokter spesialis mata, dokter Tyas sebagai dokter anak, dokter Siska sebagai dokter penyakit paru dan dokter Ismi sebagai dokter umum.
Dokter Tomi ditunjuk sebagai ketua tim dokter. Dokter Atalim tidak bisa mengikuti kegiatan itu, karena dokter Atalim mengikuti seminar di ibu kota.
Beberapa orang perawat juga ikut, termasuk suster Mirah.
Sesuai jadwal yang telah ditentukan, hari ini tim dokter akan berangkat menuju pelabuhan Kesipute dengan menggunakan dua mobil.
Mereka melakukan perjalanan dengan menggunakan mobil carteran, karena dari Kesipute mereka akan melanjutkan perjalanan dengan jalur laut.
Setelah menempuh tiga jam perjalanan darat, mereka tiba di pelabuhan Kesipute dan melanjutkan perjalanan dengan naik speedboat menuju Sikeli.
Siang itu cuaca sangat cerah, speedboat hampir hampir penuh dengan penumpang.
Saat mereka menempuh satu setengah jam perjalanan, tiba-tiba cuaca berubah menjadi mendung.
Angin bertiup dengan kencang dan ombak pun mulai terlihat kuat.
Speedboat yang mereka tumpangi mulai terombang-ambing dipermainkan oleh ombak.
Pengemudi speedboat berusaha mengendalikan laju speedboat, sementara penumpang mulai panik.
" Bagaimana ini, dokter Tomi? Mengapa cuaca tiba-tiba jadi berubah seperti ini? " tanya dokter Radit yang mulai terlihat cemas.
" Benar dokter, mengapa tiba-tiba cuaca berubah seperti ini, tadi saat kita mulai berangkat cuaca sangat bagus. "
Kata dokter Tomi yang berusaha tenang.
Padahal dalam hati ia juga merasakan kecemasan yang sama dengan dokter Radit.
Dokter Tomi melihat pada timnya yang duduk berdampingan, dan yang perempuan saling berpegangan tangan.
__ADS_1
Mulut mereka terlihat komat kamit, mungkin sedang berdoa memohon keselamatan.
" Dokter, bagaimana ini? " tanya suster Mirah yang duduk disebelah dokter Tyas dan dokter Siska.
" Sabar Mirah, kita berdoa saja, semoga cuaca kembali cerah dan kita sampai dengan selamat. " kata dokter Tyas menenangkan suster Mirah.
Suster Mirah sangat takut dengan keadaan ini, ia mulai meneteskan air mata.
" Jangan menangis Mirah, jangan membuat yang lain panik karena melihat mu menangis. Kita semua sama, sama-sama dalam keadaan takut.
Jangan putus untuk terus berdoa. " kata dokter Siska menguatkan Mirah.
Mereka duduk saling berpegangan tangan dengan erat.
Awak kapal yang ada disana membagikan baju pelampung kepada semua penumpang untuk mengantisipasi keadaan.
Semua penumpang dan awak speedboat telah mengenakan baju pelampung, dan semua penumpang semakin khawatir dengan keadaan ini.
Dokter Tomi mengedarkan pandangan pada tim-nya, terlihat wajah-wajah kecemasan mereka.
Tomi melihat Mirah yang menangis dan saling berpegangan tangan dengan dokter Tyas dan dokter Siska.
Tomi merasa cemas, dipikirannya mulai terbayang wajah-wajah keluarganya, mama, papa, Riki dan wajah Asti calon istrinya.
" Ya Allah, lindungi dan selamatkan kami semua dari bahaya dan bencana. "
Do'a Tomi dalam hati.
" Mama, do'akan keselamatan Tomi.
Doa mama untuk anaknya pasti dikabulkan. " pinta Tomi dalam hati pada mamanya yang berada jauh disana.
" Ara, do'akan mas, jika terjadi sesuatu pada mas, tolong ikhlaskan dan bersabarlah. " pinta Tomi memohon doa pada Asti.
Tiba-tiba ombak besar menghantam speedboat yang mereka tumpangi.
" Allahu Akbar.. Astaghfirullah.. "
Jerit penumpang dalam speedboat, sebagian wanita dan anak-anak menangis karena ketakutan.
Pengemudi dan awak speedboat mulai panik, berusaha mengendalikan speedboat agar tidak oleh terkena hantaman ombak.
Speedboat reguler dengan dua mesin yang masing-masing berdaya 200 PK itu mampu menampung penumpang sebanyak 28-43 orang penumpang.
Sedangkan saat ini jumlah penumpang ada 38 orang termasuk pengemudi dan dua orang awak.
Speedboat yang terbuat dari bahan fiberglass itu terasa ringan dan mudah terombang ambing dibawa ombak.
Pengemudi berusaha memberikan sinyal bahaya dan berkomunikasi dengan alat komunikasi yang tersedia dengan kantor pengelola speedboat, ia juga mengaktifkan GPS yang terdapat pada speedboat agar bisa terlacak.
__ADS_1