
l
Dirumah mamah Laras, ibunya Tomi, mamah Laras sedang menyeduh kopi buat papah Abdi.
Siang itu papah sama mamah Tomi ingin menikmati kopi di teras belakang rumah sambil menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi yang menggerakkan daun-daun pepohonan yang ada di halaman belakang.
Setelah menyeduh dua gelas kopi, mamah Laras membawanya ke teras belakang dengan menggunakan nampan.
Mamah Laras memang selalu menyeduhkan kopi hitam tanpa gula buat papah Abdi tanpa meminta bantuan asisten rumah tangganya.
Karena bagi mamah, membuatkan kopi buat papah merupakan salah satu bentuk perhatian dan rasa sayangnya pada sang suami.
Ketika mamah Laras menaruh gelas kopi dihadapan papah Abdi, tiba-tiba gelas itu pecah menjadi dua, sehingga air kopi tumpah diatas meja dan ada sebagian tumpah mengenai paha papah Abdi yang sedang duduk disalah satu kursi.
" Astaghfirullahaladzim.., panas mah..! " kata papah yang langsung berdiri dari duduknya dan menepuk pahanya yang terasa panas terkena air kopi yang baru diseduh.
" Aduh.. maaf pah, mamah ga sengaja! " kata mamah yang ikut mengelap celana papah menggunakan tisu yang ada diatas meja.
" Ganti dulu celananya pah, sekalian itu dilihat dulu paha papah, pasti merah karena kena kopi panas. " kata mamah yang meminta papah untuk mengganti celananya yang terkena tumpahan kopi.
" Iya mah, papah ganti celana dulu. " kata papah pada mamah sambil masuk kedalam rumah.
Mamah mengambil gelas yang pecah dan membawanya kedapur untuk dimasukkan kedalam tempat sampah.
" Bi Iin, tolong bersihkan tumpahan kopi yang ada dimeja belakang." kata mamah yang meminta bi Iin asisten rumah tangga untuk membersihkan meja dan lantai yang terkena tumpahan kopi.
" Baik, bu! " kata bi Iin sambil berlalu dari dapur dengan membawa kain lap dan alat pengepel ke teras belakang.
Setelah meminta bi Iin membersihkan meja belakang, mamah menyusul papah ke kamar, ingin melihat keadaan papah yang terkena tumpahan kopi panas.
Tiba dikamar, papah baru keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit di panggang.
" Gimana pahanya pah, merah ga? " tanya mamah pada papah yang baru keluar dari kamar mandi.
" Iya nih, mah,. paha papah jadi merah dan perih. " kata papah sambil memperlihatkan pahanya yang merah.
" Sebentar pah, mamah ambil obat luka bakar dulu, biar tidak terasa perih lagi, dan tidak menggelembung kulitnya. " kata mamah sambil berjalan menuju kotak obat yang tersedia dikamar itu.
Papah Abdi duduk di tepi tempat tidur, menunggu mamah yang sedang mengambil obat luka bakar.
__ADS_1
Papah telah melepas handuknya dan hanya mengenakan boxer.
" Sini pah, mamah olesi dulu pahanya pakai salep luka bakar! " kata mamah sambil menghampiri papah yang duduk di tepi tempat tidur.
Mamah mengolesi paha papah yang terlihat merah dengan obat luka bakar.
" Rasanya dingin mah, dan ga perih lagi." kata papah pada mamah yang masih mengolesi paha papah dengan pelan.
" Jangan terlalu keatas mengolesinya mah, nanti salah oles malah ada yang bangun. " kata papah yang menggoda mamah sambil tertawa.
" Ehh, papah ganjen banget. " kata mamah sambil menepuk pelan paha papah yang tidak sakit.
" Mamah, asal pukul aja, nanti salah pukul malah paha papah tambah sakit."
kata papah pura-pura marah.
" Untung paha papah yang tidak sakit yang mamah pukul, kalau si Pedro yang mamah pukul gimana? " tanya mamah membalas godaan papah.
" Jangan atuh mah, si Pedro mah bukan untuk dipukul, tapi untuk dielus. " kata papah pula.
" Sudahlah, ini sudah selesai diobatinya, semoga tidak melepuh. " kata mamah. sambil berdiri hendak menyimpan kembali obat oles nya.
" Kalau pakai yang longgar nanti melorot dong celananya, mah? " kata papah yang masih menggoda mamah.
" Bukan yang longgar pinggangnya, papah..dasar ganjen! " kata mamah sebel.
" Kalau papah ga ganjen, ga ada Tomi sama Riki dong mah. " kata papah sambil memeluk mamah dari belakang.
" Sebentar pah, ini mau ambil celananya dulu. " kata mamah yang sedang mengambil celana pendek untuk papah dari dalam lemari.
" Sudah ga perlu pake celana, cukup kayak gini aja." kata papah yang hanya mengenakan boxer.
" Sakit-sakit masih aja ganjen. " kata mamah yang mengelus tangan papah yang melingkar di perutnya.
" Yang sakitkan paha papah mah, cuma merah sedikit.
Kalau kena tumpahan kopi panas Insya Allah tidak akan melepuh, kecuali kalau kena air panas. " kata papah pada mamah.
" Lagian si Pedro kan tidak sakit mah, gara-gara mamah elus-elus paha papah, si Pedro jadi bangun, pengen dielus juga. " kata papah sambil mencium belakang telinga mamah.
__ADS_1
Mamah hanya bisa tertawa dan mencubit punggung tangan papah yang masih melingkar diatas perutnya.
" Dasar modus! Mamah kan bukan ngelus-ngelus paha papah, tapi sedang ngasih obat. " kata mamah yang pura-pura jual mahal.
" Sama saja, mamah sudah ngelus paha papah dan bikin si Pedro bangun, jadi mamah harus tanggung jawab. " kata papah sambil menarik mamah keatas tempat tidur.
Akhirnya, acara minum kopi mereka berakhir ditempat tidur karena kesalahan mamah yang mengelus paha papah.
Selesai dengan kegiatan siang mereka, mamah yang tidur disamping papah membalikkan badannya menghadap pada papah yang tidur telentang.
Selimut masih menutupi tubuh mereka yang tanpa sehelai benang.
" Pah, mamah heran deh, mengapa gelas kopi tadi tiba-tiba pecah begitu saja? padahal tidak jatuh ataupun retak saat mamah membuat kopi tadi." kata mamah yang merasa heran dengan kejadian tadi.
" Tidak usah dipikirkan mah, mungkin memang gelasnya aja yang sudah mau pecah. " kata papah yang merasa jika itu hal yang biasa saja.
" Tapi pah, perasaan mamah juga ga enak, dari tadi dada mamah berdebar-debar terus, mamah juga ingat sama Tomi, pah. " mamah mengatakan jika perasaannya tidak enak dan teringat pada Tomi.
" Pagi tadi kan Tomi pamit mau mengadakan bakti sosial di daerah terpencil, keadaannya kan baik-baik saja. Nanti sore kalau Tomi belum memberi kabar, kita coba telepon aja. "
papah mencoba menenangkan mamah yang mengatakan jika perasaannya tidak enak dan selalu ingat pada Tomi.
" Doakan Tomi baik-baik aja disana, dimudahkan dan dilancarkan dalam menjalankan tugasnya mengabdi pada masyarakat. " kata papah yang meminta mamah mendoakan kelancaran pekerjaan Tomi.
Sebenarnya papah juga merasakan hal yang sama dengan mamah.
Entah mengapa dadanya berdebar terus, seperti ada sesuatu yang tidak baik akan terjadi.
Papah juga selalu teringat pada Tomi.
Papah sengaja tidak memberitahu mamah karena tidak ingin jika mamah bertambah cemas, karena mereka juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Tomi.
" Iya pah, nanti mamah akan coba menghubungi Tomi.
Kalau mamah hubungi sekarang, takutnya Tomi sedang dalam perjalanan, kata Tomi kan perjalanannya jauh dan harus naik speedboat. " kata mamah yang menaruh kepalanya diatas dada papah.
" Iya mah, lebih baik sekarang kita istirahat dulu, semoga saat kita bangun nanti sudah ada kabar dari Tomi. " kata papah sambil
memeluk bahu mamah.
__ADS_1
Papah dan mamah pun tertidur karena merasa lelah setelah melakukan olah raga siang mereka.