
Pagi ini pukul sembilan, Asti dan Riki tengah bersiap untuk kembali ke rumah sakit.
Kali ini Asti dan Riki akan bertemu dengan dokter Atalim dan tim dokter yang menjadi korban kecelakaan speedboat.
Dokter Atalim telah menghubungi Riki dan meminta Riki dan Asti datang ke rumah sakit jam sepuluh pagi.
Tok..
Tok...
" Assalamu'alaikum teh Ara. " Riki mengetuk pintu kamar Asti dan mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam. " jawab Asti sambil membuka pintu kamarnya.
" Sudah siap, teh? " tanya Riki yang berdiri didepan pintu kamar Asti.
" Iya, teteh sudah siap, sebentar teteh ambil tas dulu. "
Asti mengatakan jika dirinya sudah siap dan meminta Riki untuk menunggu sebentar karena Asti akan mengambil tasnya yang masih berada di kamar hotel.
Riki menunggu Asti didepan pintu kamar hotel saat Asti kembali masuk ke kamarnya untuk mengambil tasnya.
Didalam kamar, Asti mengambil handphone yang sedang di charger diatas meja kecil didekat tempat tidurnya.
Setelah Asti memasukkan ponsel kedalam tas, Asti memeriksa kembali isi tasnya, takut jika ada yang tertinggal.
Setelah dompet dan ponselnya berada didalam tas, Asti menutup tas selempang yang akan dibawanya lalu berjalan keluar kamar untuk pergi ke rumah sakit bersama Riki.
" Ayo Ki, kita berangkat. " ajak Asti pada Riki setelah ia menutup dan mengunci pintu kamar hotelnya.
" Iya, teh! " kata Riki yang sudah siap untuk berangkat sejak tadi.
Asti dan Riki berjalan berdampingan menuju lif untuk turun ke lobi hotel.
" Riki sudah memesan taksi online, teh, mungkin sebentar lagi sampai. "
Kata Riki setelah mereka keluar dari lif dan berjalan menuju keluar pintu utama hotel.
" Syukur lah, jadi kita tidak lama menunggu. " kata Asti pada Riki.
Ketika mereka sampai didepan hotel, seorang driver menghampiri mereka dan bertanya,
" Dengan bapak Riki? saya driver taksi online yang bapak pesan. "
Kata sang driver pada Riki.
" Oh iya, pak, saya Riki. Jadi bapak yang akan mengantarkan kami ke rumah sakit Harapan Sehat? " tanya Riki saat driver mobil online tersebut menghampirinya.
" Benar pak! Sebentar pak, bapak tunggu di sini, saya ambil mobilnya dulu. " kata driver tersebut lalu berjalan menuju parkiran mobil untuk mengambil mobilnya.
__ADS_1
Driver tersebut telah sampai di hotel saat Asti dan Riki masih berada didalam hotel, sehingga ia memarkirkan mobilnya sebentar untuk mencari keberadaan Riki.
Setelah mobil berada dihadapan mereka, Asti dan Riki segera menaiki mobil dan mobil pun melaju menuju rumah sakit.
" Jadi kita langsung ke ruangan dokter Atalim? " tanya Asti.
" Iya teh, tadi malam dokter Atalim menelepon Riki dan meminta kita untuk langsung menuju ruangannya yang tak jauh dari ruangan dokter Hermawan kemarin. "
Riki mengatakan jika dokter Atalim meminta mereka untuk langsung ke ruangan dokter Atalim.
Setelah menempuh jarak sepuluh menit perjalanan, Asti dan Riki kembali tiba di rumah sakit Harapan Sehat.
Setelah melapor pada security yang ada di bagian depan, Asti dan Riki langsung menuju ruangan dokter Atalim karena mereka sudah mengetahui ruangan dokter Hermawan jadi Asti dan Riki bisa mencari sendiri letak ruangan dokter Atalim.
Asti dan Riki tiba didepan sebuah ruangan yang bertuliskan direktur rumah sakit dipintu yang ada dihadapan mereka.
Riki mengetuk pintu ruangan itu.
Tok..
Tok..
Tok..
Terdengar seseorang langkah seseorang dari ruangan itu, lalu pintu rungan terbuka.
Seorang perawat berdiri didekat pintu dan tersenyum pada Asti dan Riki.
" Ini dengan pak Riki dan bu Asti ya? dokter Atalim sudah menunggu didalam. Silakan masuk! "
Suster itu bertanya apakah mereka Asti dan Riki yang kedatangannya sedang ditunggu oleh dokter Atalim.
" Iya mbak, saya Riki dan Asti. Terima kasih. " Riki mengatakan pada suster itu jika benar, mereka Asti dan Riki.
Lalu berterima kasih saat mereka diminta untuk masuk kedalam ruangan dokter Atalim.
Didalam ruangan dokter Atalim, Asti dan Riki disambut oleh beberapa orang yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah mempersilakan Asti dan Riki masuk, suster itu kembali menutup pintu ruangan.
" Selamat datang mas Riki dan mbak Asti. Saya dokter Atalim. "
Seorang dokter menghampiri Asti dan Riki yang baru memasuki ruangan itu dan memperkenalkan diri sebagai dokter Atalim.
Dokter Atalim mengulurkan tangan dan disambut oleh Asti dan Riki.
" Saya Riki. " kata Riki sambil menyambut tangan dokter Atalim dan mereka berjabatan tangan.
" Asti. " kata Asti memperkenalkan diri pada dokter Atalim dan juga berjabatan tangan dengan dokter Atalim.
__ADS_1
" Kenalkan, ini dokter Tyas, dokter Siska, dokter Radit dan suster Mirah.
Mereka tim dokter yang tempo hari berangkat ke pulau. "
Dokter Atalim memperkenalkan yang ada di ruangan itu pada Asti dan Riki.
Mereka lalu saling berjabat tangan dan mengenalkan diri masing-masing.
" Silakan duduk mas Riki dan mbak Asti." kata dokter Atalim mempersilakan Asti dan Riki untuk duduk.
Semua yang ada di ruangan itu duduk di sofa yang terdapat di ruangan dokter Atalim.
" Sebelumnya saya dan semua dokter dan karyawan yang bertugas di rumah sakit ini mengucapkan turut berduka atas musibah yang menimpa dokter Tomi. "
Dokter Atalim memulai pertemuan mereka dengan menyampaikan rasa turut berduka dari semua dokter dan karyawan yang bertugas di rumah sakit itu atas musibah yang menimpa dokter Tomi.
" Kami semua tidak menyangka jika akan terjadi musibah seperti ini.
Dan lebih tidak menyangka lagi jika kami dan tim SAR tidak bisa menemukan keberadaan dokter Tomi, sementara semua penumpang speedboat yang jadi korban kecelakaan bisa diselamatkan dan dievakuasi ke atas kapal fery yang melintas dan diminta bantuannya untuk menolong para korban. "
Dokter Atalim mengatakan jika mereka semua tidak menyangka akan terjadi musibah itu, dan yang sangat disayangkan mereka tidak bisa menemukan keberadaan dokter Tomi.
Asti dan Riki menyimak apa yang disampaikan oleh dokter Atalim.
" Sebenarnya, apa yang terjadi saat itu? " tanya Riki pada mereka yang mengalami kecelakaan itu.
" Pada awalnya cuaca cerah saat kami berangkat dari sini pagi itu.
Pun saat diperjalanan menuju ke pelabuhan, cuaca masih sangat bersahabat. "
Dokter Radit yang mewakili teman-temannya yang menjadi korban kecelakaan mulai menceritakan perjalanan mereka menuju ke pulau.
" Di pelabuhan kami menaiki speedboat karena bisa lebih cepat sampai ke pulau dibandingkan dengan menggunakan kapal fery. "
" Saat itu semua penumpang termasuk kru yang ada di speedboat berjumlah empat puluh tiga orang, biasanya speedboat itu menampung empat puluh delapan orang. "
Dari pelabuhan menuju ke pulau berjalan lancar. Waktu tempuh dari pelabuhan ke pulau itu memakan waktu dua setengah jam. "
Dokter Radit menghentikan sejenak cerita yang ia sampaikan.
Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.
Seolah dokter Radit tengah mengurangi beban yang terasa menghimpit dadanya.
Yang lain masih menyimak cerita yang disampaikan oleh dokter Radit.
Tidak ada yang menyela kata-katanya.
Dokter Tyas, dokter Siska dan suster Mirah yang mengerti alur yang akan diceritakan oleh dokter Radit, juga hanya terdiam. Mereka teringat kembali apa yang mereka alami saat itu.
__ADS_1
Tidak sedikitpun mereka ingin menyela apa yang dokter Radit sampaikan karena mereka tidak mampu menceritakan kembali kejadian itu pada Asti dan Riki.
Untuk itu mereka meminta dokter Radit yang menceritakan bagaimana kejadian yang menimpa mereka pada Asti dan Riki.