DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 154 Asti..Asti..Asti..


__ADS_3

Saat tiba di pembaringan si pemuda, Bella menepuk lengan pemuda itu dengan pelan, Bella membangunkan pemuda itu untuk memberinya makan.


" Bang, makan bubur dulu ya agar bisa minum obat. " kata Bella pada si pemuda saat pemuda itu membuka matanya.


Si pemuda hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan.


Ibu dan Bella berusaha membantu si pemuda agar bisa duduk dengan bersandar pada dinding rumah.


Dengan susah payah akhirnya pemuda itu bisa duduk walaupun tidak sempurna.


Bella terlebih dahulu memberi minum air hangat pada pemuda itu, lalu dengan sabar, Bella menyuapi si pemuda dengan bubur buatan ibunya.


Hanya beberapa sendok saja, pemuda itu memakan bubur yang disuapi oleh Bella, hingga ia menggelengkan kepala saat Bella kembali akan menyuapi nya.


Bella tidak memaksa, baginya pemuda itu bisa makan bubur saja itu sudah cukup.


Lalu Bella kembali memberi minum air putih.


" Sebentar lagi abang minum obat ya? biar bisa segera sembuh. " kata Bella sambil menyimpan gelas yang ia pegang keatas meja yang tidak jauh dari pembaringan pemuda itu.


" Kalau boleh tahu, nama abang siapa? " tanya Bella dengan lembut.


Pemuda itu menatap Bella, lalu ia menggeleng lemah.


" Maksudnya, apa abang tidak mau menjawab pertanyaan saya? " tanya Bella yang merasa heran karena pemuda itu menggeleng saat ia bertanya siapa namanya.


" Saya tidak tahu! " jawab pemuda itu lemah.


Bella terkejut, lalu bertanya lagi pada pemuda itu.


" Maksudnya, abang tidak tahu siapa nama abang? " tanya Bella tidak percaya.


Pemuda itu menganggukkan kepala.


Bella terdiam ketika melihat anggukan kepala pemuda itu yang menandakan jika pemuda itu tidak mengingat siapa namanya.


" Apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda ini? mengapa sampai ia tidak tahu namanya sendiri? apa ia terkena benturan di kepalanya? karena aku merasa ada benjolan di kepala bagian kanan saat aku memasang kompres dan tidak sengaja memegang bagian kepalanya. "


Melihat pemuda itu hanya terdiam setelah menganggukkan kepala, Bella jadi bertanya dalam hati tentang apa yang terjadi pada pemuda itu.


" Baiklah, sekarang abang minum obat, lalu beristirahat agar abang bisa segera pulih. " kata Bella sambil beranjak dari duduknya.


Ia mengambil obat-obatan didalam laci meja dan membawanya pada pemuda itu.


" Minum dulu obat ya, bang? " kata Bella sambil membantu memberikan obat pada pemuda itu, lalu memberikan air yang ada didalam gelas.

__ADS_1


" Sekarang abang istirahat, semoga besok abang akan lebih baik. "


Bella membantu pemuda itu membaringkan tubuhnya, lalu menyelimutinya dengan kain sarung.


" Terima kasih! " kata pemuda itu pada Bella.


Bella tersenyum dan mengangguk, menjawab ucapan terima kasih dari pemuda itu.


Karena pengaruh obat dan mungkin karena keadaan pemuda itu yang sedang sakit, tidak lama pemuda itu memejamkan mata dan tertidur.


Ayah dan Roni masuk dari ruang belakang, mereka telah membersihkan diri dan berganti pakaian.


Pak Bowo dan ibu Asnah merupakan nelayan yang tinggal di sebuah pulau terpencil.


Mereka mempunyai dua orang anak, Roni anak pertama berusia dua puluh lima tahun dan bekerja sebagai nelayan.


Anak kedua bernama Isabella, atau sering disapa Bella berprofesi sebagai seorang bidan, berusia dua puluh tiga tahun.


" Bagaimana keadaan pemuda itu, Bel?" tanya ayah yang duduk di kursi tidak jauh dari pembaringan pemuda itu.


" Sekarang dia sedang tidur ayah, semoga demamnya besok bisa turun karena Bella sudah memberinya obat penurun panas, juga obat lainnya. "


Jawab Bella yang duduk disamping ibunya, didepan ayah.


" Ayah menemukan orang ini, dimana? " tanya Bella penasaran, dimana ayah dan kakaknya menemukan orang itu.


Lalu kami menaikkannya ke atas kapal dan membawanya pulang. "


Kata ayah yang menceritakan bagaimana ayah menemukan pemuda itu.


" Apakah ia sudah bisa diajak bicara? " tanya Roni pada adiknya.


" Belum bang, dia belum bisa diajak berkomunikasi. " jawab Bella.


Bella tidak menceritakan pada keluarganya bahwa saat ia menanyakan nama pemuda itu, pemuda itu hanya menggeleng.


Bella belum memberitahu karena ia belum yakin dengan keadaan pemuda itu, mungkin besok setelah ia lebih baik, pemuda itu bisa diajak bicara lebih banyak.


" Baiklah jika demikian, biarkan dia beristirahat disini sampai dia sembuh dan bisa kembali pada keluarganya. " kata ayah pada anak dan istrinya.


" Iya, ayah. " jawab Roni dan Bella bersamaan.


Ibu hanya mengangguk mendengar apa yang ayah katakan.


" Ayah mau istirahat dulu. " kata ayah sambil berdiri dari duduknya.

__ADS_1


" Kalian juga sebaiknya istirahat, ini sudah malam. " kata ayah pada anak-anaknya.


" Tidurlah Bel, biar abang tidur disini, kalau ada apa-apa dengan pemuda itu, nanti biar abang yang mengurusnya. " kata Roni pada adiknya setelah ayah dan ibu mereka masuk ke kamar.


" Baik bang, Bella istirahat dulu ya? besok pagi Bella masih harus mengontrol kak Tari yang tadi baru melahirkan. " kata Bella pada Roni.


Bella pun berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.


Roni masih duduk di kursi yang didudukinya sambil menghisap rokok yang terselip di bibirnya.


Ia memperhatikan pemuda yang tertidur dalam keadaan gelisah, lamat-lamat ia mendengar pemuda itu seperti mengatakan sesuatu.


Roni mendekati pemuda itu dan mendekatkan telinganya pada pemuda itu untuk mendengar apa yang ia katakan.


" Asti.. Asti..Asti..! " kata pemuda itu dengan pelan. Ia menggumamkan nama itu dalam tidurnya.


" Siapa orang yang namanya disebutkan pemuda ini dalam tidurnya? apakah itu nama istri pemuda ini? " tanya Roni pada dirinya sendiri saat pemuda itu menyebutkan sebuah nama dalam tidurnya.


Setelah itu, Roni kembali ke tempat duduknya dan mencoba membaringkan tubuhnya di kursi kayu yang ada di ruangan itu.


*


*


Pagi hari, Roni terbangun saat pemuda itu berusaha untuk bangun dari tidurnya.


Suara tempat tidur yang berderit karena adanya pergerakan membuat Roni membuka mata dan melihat kearah pemuda yang kini telah duduk disisi tempat tidur.


" Ada apa? " tanya Roni yang menghampiri pemuda itu.


" Kamar mandi. " jawab pemuda itu pelan.


Roni paham, lalu membantu pemuda itu berdiri dan membawanya ke kamar mandi.


Dengan susah payah dan sedikit sempoyongan pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi, karena tidak mungkin Roni menemaninya dikamar mandi.


Roni hanya menunggu didepan pintu kamar mandi, dan membantu pemuda itu kembali ke tempat tidurnya setelah pemuda itu keluar dari dalam kamar mandi.


Setelah pemuda itu duduk, Roni memberinya minum karena bibir pemuda itu terlihat kering, mungkin karena pengaruh panas tubuhnya kemaren.


Saat Roni membantu pemuda itu, terasa jika tubuhnya tidak terlalu panas seperti saat kemaren ia membawanya dari kapal.


" Istirahatlah lagi, ini masih terlalu pagi. " kata Roni pada pemuda itu yang dijawab anggukan oleh si pemuda.


" Terima kasih! " kata pemuda itu pada Roni.

__ADS_1


" Iya, sama-sama. " kata Roni sambil tersenyum.


Setelah pemuda itu membaringkan kembali tubuhnya, Roni kembali ke tempat ia tidur dan menggerakkan badannya yang terasa pegal dan sakit-sakit karena ia tidur diatas kursi kayu.


__ADS_2