DOSEN CANTIK YANG JUTEK

DOSEN CANTIK YANG JUTEK
Bab 39 Surat Dari Tomi.


__ADS_3

Di dalam hatinya Asti memang bermaksud akan melaksanakan apa yang dikatakannya itu. Semula, ia memang hanya mencari-cari alasan saja agar Pak Eko tidak menyusulnya ke Yogya. Tetapi lama kelamaan dari yang dikatakannya itu mengandung kebenaran yang patut dijadikan bahan pertimbangan dan di laksanakan dalam kehidupannya.


Di Yogya, ia memang mempunyai beberapa sepupu yang pasti akan gembira menerima kehadirannya disana. Di tambah mereka sudah lama sekali tidak bertemu secara langsung. Bahkan mereka memiliki group chat tetapi jarang mengobrol di situ karena kesibukan masing-masing.


“Apa yang kamu katakan itu memang benar, Dik! Sahut Pak Eko lagi. “Apalagi hal-hal semacam itu kadang-kadang luput dari pemikiran kita. Karena kesibukan yang menumpuk menjadikan kita tidak menyadari waktu yang kian berlalu cepat. Sehingga tidak ada kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga”


“Ya… Orang jawa mengatakan, hendaklah kita jangan sampai mengalami kematian obor. Maksudnya… Janganlah kita sampai kehilangan jejak, tidak tahu lagi siapa sepupu-sepupu kita, siapa kerabat kita dan keturunan-keturunan sedarah yang selanjutnya”


Begitulah sampai Asti diantar oleh Pak Eko ke rumahnya, perbincangan mereka berkisar tentang hal-hal seperti itu. Setelah Asti turun dari mobilnya lelaki itu mendapatkan kesimpulan di hatinya, bahwa sebaiknya ia tidak usah mengambil cutinya. Karena Asti sudah mempunyai rencana sendiri. Dia tidak masuk dalam hitungan di hati gadis itu, untuk masa liburan panjang kali ini.


Kembali ke rumahnya, Asti langsung masuk ke kamar. Sebagaimana biasanya jika ia pulang dari mana pun, pertama-tama yang dilakukannya adalah membersihkan wajahnya dari sisa-sisa make up yang sudah bertimpa dengan debu kota Jakarta. Setelah membersihkan wajahnya, barulah Asti pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, menggunakan air hangat kesenangannya.


Senang rasanya jika sesudah bersih dari segala macam sapuan alat kecantikan, air hangat yang menyegarkan dan sudah bebas dari segala debu maupun keringat yang meresahkan. Dengan memakai gaun (daster) rumah longgar yang enak dipakai, Asti tampak begitu segar dan cerah.


Ia mengambil hanphone dari dalam tas nya dan lanjut untuk mengisi batari ponselnya itu. Setelah itu ia bermaksud untuk rebahan di tempat tidurnya sebentar, sembari meluruskan pinggang yang rasanya sudah begitu tegang dan lelah, sambil membaca majalah.


Namun tatkala matanya menatap amplop besar berwarna coklat yang diletakkan oleh Ibu nya atau entah oleh pembantu rumah tangga, atau bibinya di atas meja kerjanya. Karena itu niat untuk rebahan diurungkannya. Begitu berada di tangannya, Asti membaca data pengirim pada sampul amplop besar yang tebal itu. Ternyata pengirimnya adalah Tomi, dari Semarang. Tanpa membukanya, Asti sudah tahu bahwa isinya adalah jawaban dari tugas yang ia diberikan kepada lelaki itu sebagai pengganti ujian.

__ADS_1


Asti lalu meletakkan majalah ke atas meja dan membawa paketan kiriman dari Tomi itu ke atas tempat tidurnya. Ada surat pengantar yang langsung dibacanya sambil berbaring-baring itu. Isinya :


"Salam hormat untuk Ibu Asti Radisya Aulia.


Ibu, disela kesibukan saya, akhirnya saya dapat menyelesaikan tugas yang Ibu berikan, dengan baik.


Mohon diterima dan dinilai oleh Ibu. Mudah-mudahan hasilnya tidak terlalu mengecewakan.


Ibu Asti yang manis dan baik, saya tinggal di kota Semarang hanya selama sepuluh hari. Sesudah itu saya bersama beberapa teman akan melanjutkan kesibukan kami ke kota lain. Namun meskipun diri saya tersita oleh segala macam kesibukan yang menghabiskan waktu dan menguras tenaga, namun saya masih mempunyai banyak waktu luang untuk merindukan Ibu, sampai jauh larut malam."


"Ibu Asti, ternyata mengalami sakit rindu dan jauh dari seseorang yang dicintai itu teramat berat rasanya. Seolah sebagian besar diri saya hilang entah ke mana."


"Nah… Ibu yang cantik, saya mohon undur diri. Selamat menyertai para mahasiswa dan mahasiswi yang saat ini mungkin sudah mulai ujian akhir semester genap. Sehat dan semangat selalu Bu.


Salam hormat,


Tomi."

__ADS_1


Asti menghela nafas dan menyimpan surat itu di dalam laci lemarinya yang paling sudut dan paling bawah. Takut terbaca oleh keluarga lain yang ada tinggal seatap rumah dengannya. Maklum saja terkadang Ibu suka masuk ke kamarnya secara tiba-tiba. Ingin sekali ia menyobek-nyobek surat itu, sebenarnya. Sebab akal sehatnya memintanya demikian untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi. Tetapi hatinya menyuruhnya menyimpan surat itu kedalam laci lemarinya dengan hati-hati dan jangan sampai rusak atau hilang. Hatinyalah yang memenangkan perdebatan batin saat ini.


Sesudah menyimpan surat itu, Asti kembali berbaring di tempat tidurnya. Tugas penulisan dari tomi yang dijilid rapi oleh lelaki itu dibukanya. Ada yang berdesir-desir membaca kalimat demi kalimat yang dirangkai oleh Tomi di dalam penulisan ilmiahnya itu. Seakan getaran semangat sedang membara di tubuhnya.


Sesungguhnyalah, lelaki itu memiliki bobot lebih. Ia mampu meringkas suatu pengertian yang jelas dan tersusun secara sistematis dari sekian banyaknya buku-buku yang dipakainya sebagai buku acuan. Dan analisanya cukup tajam dan argumentasinya kuat.


Alhasil, Asti membaca penulisan Tomi itu selama dua jam tanpa sekali pun menguap. Padahal biasanya kalau ia membaca-baca sambil berbaring-baring seperti itu, Asti selalu jatuh tertidur, sebelum yang dibacanya selesai.


Begitulah, sore hari itu Asti tidak jadi tidur. Sesudah tulisan Tomi ditutupnya kembali, ia malahan duduk termenung lama di atas tempat tidurnya. Seluruh tubuhnya terasa hangat oleh perasaan yang sulit diterjemahkan kedalam kata-kata. Yang jelas, ia merasa senang sekali bahwa ternyata Tomi mampu mengerjakan tugas yang diberikannya dengan sedemikian bagusnya. Dan ternyata pula, lelaki itu benar-benar memiliki visi yang jelas ke depannya.


Lebih dari itu, ternyata pernyataan rindu lelaki itu terhadapnya menyebarkan kemanisan-kemanisan yang tersebar bergerak bersama dengan kehangatan darahnya dan mengalir ke seluruh tubuhnya. Ah, ia pun merindukan lelaki itu!


Tiba-tiba Asti merasa malu kepada dirinya sendiri. Ia yang sebenarnya menjadi begitu semangat, sampai akhirnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Apa kata orang kalau tahu ia menaruh perasaan seperti ini kepada mahasiswanya sendiri?


Dan bagaimana ia harus menaruh mukanya menghadapi pandangan orang? Belum lagi bahwa hal itu akan mengguncangkan reputasinya sebagai seorang dosen yang telah dirintisnya setahap demi setahap dengan tidak mudah. Sanggupkah ia mempertaruhkan apa yang telah dibinanya itu hanya untuk seorang mahasiswa yang entah kapan akan menyelesaikan studinya itu?


Bukankah ia ingin hidup dengan tenang, damai dan melanjutkan cita-citanya menjadi seorang ilmuan?

__ADS_1


Berpikir seperti itu, Asti langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan cara melentikkan tubuhnya. Dengan gerakan gesit, ia meletakkan bundelan tugas Tomi tadi ke atas meja kerjanya kembali. Kemudian ia memberi nilai B plus dan menutupinya kembali. Tanpa komentar apa pun. Ia ingin melupakan Tomi dan segala berkas-berkas yang di pegangnya, termasuk penulisannya yang tadi dibacanya.


__ADS_2