
“Kalau memang kamu sudah ingin kembali ke Jakarta, sebaiknya kamu mengunjungi dokter terlebih dulu. Tanyakan apakah kamu sudah bisa kembali ke Jakarta dengan kondisi kaki mu yang masih terpasang gips seperti ini. Dan apakah masih perlu adanya tambahan obat atau vitamin-vitamin!” kata eyang kakung kemudian, kepada Asti cucu wanitanya.
“Ya Eyang, Asti memang sudah waktunya untuk kontrol mengenai kondisi tubuh Asti terutama kakinya ini. Semoga saja gips ini sudah bisa di buka. Dan nanti saran Eyang perihal obat dan vitamin juga akan Asti katakan kepada dokter!”
“Minta kakak mu Aryanto untuk mengantarkan kamu ke rumah sakit, Ti!” sambung eyang putri kepadanya. “Jangan kamu paksa pergi sendiri ya, Nak”
“Ya Eyang! Nanti akan Asti telepon Kak Aryanto, Eyang” jawab Asti sambil tersenyum kepada kedua eyang nya itu.
Asti merasa sedih, dalam hatinya rasa ingin menangis. Momen liburan ini sangat jarang terjadi. Pertemuan ia dengan kedua eyangnya yang sangat ia cintai juga pastinya jarang terjadi karena terhambat oleh pekerjaan Asti sebagai seorang dosen. Yang pastinya masa liburannya akan menyesuaikan dengan jadwal perkuliahan pada umumnya.
Liburan sudah mau usai dan ia harus kembali ke Jakarta lagi. Asti harus berpisah kembali dengan eyang kakung dan eyang putri. Dan karena musibah yang menimpanya saat masa liburan kali ini membuat Asti tidak fokus menghabiskan waktu bersama eyang kakung dan eyang putri, juga bersama sepupu-sepupu nya yang ada di Yogya ini.
Semua menjadi terhambat. Masih banyak planning yang jadinya tidak bisa terlaksana saat liburan kali ini. Seperti rencana yang sudah Asti buat dengan sepupunya yang lain, untuk pergi ke timpat-tempat wisata baru yang menarik untuk di kunjungi dan mencoba berbagai kuliner-kuliner di kota Yogya ini.
Cukup sedih rasanya jika di pikirkan kembali. Kedua bola mata Asti terlihat berkaca-kaca. Dan eyang kakung serta eyang putri menyadari hal itu. Mereka dapat melihat raut wajah Asti yang seketika berubah. Mereka tahu bahwa cucu wanita mereka ini, sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri. Karena eyang kakung dan eyang putri tahu kebiasaan yang di lakukan Asti, ketika ia datang berlibur ke kota Yogya, pasti banyak yang ia lakukan. Secara ia datang bukan hanya untuk berlibur tetapi sekalian mudik ke kampung halaman keluarga besarnya di sini.
Karena menyadari hal itu eyang putri memanggil pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahnya untuk membuatkan minuman hangat untuk dirinya, suaminya dan untuk Asti. Agar hati cucunya lebih tenang dan rileks.
“Mba… Mba Dina…” kata eyang putri memanggil pembantu rumah tangga nya dengan suara yang tidak terlalu keras.
“Iya Eyang…” jawab Mba Dina (pembantu rumah tangga di rumah eyang Asti), sambil berjalan dari arah dapur menuju ruang tamu tempat Asti dan kedua eyangnya mengobrol.
__ADS_1
“Mba sedang apa? Sibuk tidak?”
“Tidak kok Eyang… Mba sudah selesai merapikan isi kulkas” jelas mba Dina. “Ada apa, Eyang?”
“Bisa tolong buatkan minuman hangat? Teh hangat seperti biasa saja Mba, tiga gelas ya”
“Baik Eyang” jawab mba Dina, sambil pergi meninggalkan ruang tamu berjalan ke arah dapur.
Setelah berbincang-bincang dengan eyang putri dan eyang kakung, sambil menikmati teh hangat manis, baru kelihatan Asti agak lebih rileks, di tambah lagi makanan kesukaan Asti getuk, yang sengaja eyang putri membuatkannya utk cucu kesayangannya, Asti sangat menikmati penganan getuk itu, dan sedikit melepaskan beban fikiran yang terjadi akhir- akhir ini. Setelah selesai memakan panganan itu, Asti pun pamit masuk ke kamar untuk beristirahat. Begitu juga dengan eyang putri dan eyang kakungnya. Karena dengan kondisi kesehatan kedua eyang nya itu, mereka tidak bisa terlalu lama duduk. Harus di selingi dengan berbaring.
Demikianlah, esok harinya Asti datang ke rumah sakit dengan ditemani oleh Aryanto. Karena Aryanto tidak mempunyai mobil, mereka berdua naik taksi.
Selama di dalam taksi, berulang-ulang kali Aryanto melirik arlojinya. Asti yang bermata awas itu memperhatikannya.
“Em ya... Tetapi masih satu jam lagi kok! Santai saja” kata Aryanto menjelaskan.
“Kalau begitu kenapa waktu di suruh Eyang mengantarkan aku, hal itu tidak kamu katakan kepada mereka?”
“Em iya sudah Ti, tidak apa-apa juga. Kan masih ada waktu sejam lagi!” sahut Aryanto kepada Asti.
“Tetapi… Ya dari pada kamu tidak tenang begitu, Mas. Aku nya jadi tidak enak. Nanti sesudah aku sampai ke rumah sakit, tinggalkan saja aku di sana. Kamu pergi saja segera selesaikan urusan pribadi mu, Mas” kata Asti memutuskan.
__ADS_1
“Gampang nanti aku pulangnya bisa naik taksi lagi, sekarang pesan taksi juga sudah gampang. Lagi pula aku biasanya kemana-mana juga pergi sendirian tanpa pengawal kok Mas!”
“Tetapikan keadaanmu begini Ti, kamu tidak sedang tidak baik-baik saja seperti biasanya kondisi mu saat bepergian sendirian” kata Aryanto khawatir dengan adik sepupunya ini.
“Hei, aku bukan gadis yang cacat kakinya lho Mas. Andai kata pun cacat, jangan dikira aku tidak berani pergi sendirian kesana kemari” jawab Asti menggoda kakak sepupunya yang tampan itu.
“Ya aku percaya. Sebab kalau tidak, pasti sekarang kamu tidak pernah mengalami kecelakaan seperti ini. Dan kaki mu juga tidak akan terpasang gips seperti ini!” Aryanto menyindiri Asti. “Bayangkan saja, baru di Yogya beberapa hari saja kamu sudah kesana kemari seperti burung baru lepas dari kandangnya!”
“Ah, sialan kamu Mas! Namanya juga musibah! Siapa juga yang mau dapat musibah seperti ini!” jawab Asti judes, ia tidak terima dengan sindiran dari sang kakak sepupunya.
“Hush, jangan memaki orang tua!”
Sepanjang perjalanan, bahkan hingga tiba di persinggahan pintu utama rumah sakit, mereka berdua terus bercanda dan tertawa bersama. Aryanto memang termasuk lelaki yang tinggi selera humornya. Bersamanya, siapa pun akan merasa senang. Bahkan kalau pun sedang merasa lesu, lelucon dan cerita-ceritanya dapat membuat seseorang akan menjadi segar kembali.
Demikianlah, tatkala Asti turun dari taksi, kakak sepupunya itu masih bisa membuat Asti tertawa renyah ketika tongkatnya tersangkut. Dan itulah yang tampak oleh Tomi ketika lelaki itu juga sedang turun dari mobilnya di halaman parkir rumah sakit yang sama.
Tomi merasa sangat jengkel kepada dirinya sendiri mengapa ia bisa sedemikian cemburunya ketika melihat tawa Asti yang begitu segar. Ingin sekali ia mengalami hal semacam itu apa bila gadis itu ada bersama dengan dirinya. Sebab sungguh tidak menyenangkan apa bila hal seperti itu dibandingkan dengan sikap Asti terhadapnya yang nyaris tidak pernah ramah itu.
Tomi bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Asti bisa seperti itu jika bersama dengan lelaki yang bernama Aryanto itu.
Tiba-tiba suatu lintasan tentang beberapa kejadian di rumah orang tua Asti di Jakarta melintas di ingatan Tomi. Benarkah Asti tidak pernah sekalipun bersikap manis terhadapnya? Kalau demikian, lalu apa namanya ketika ciumannya pada bibir gadis itu mendapat sambutan yang sedemikian hangat dan mesranya?
__ADS_1
Bersambung…