
Siang ini, setelah shalat dzuhur keluarga Asti mengadakan pengajian untuk mendoakan keselamatan, kesehatan, kemudahan serta kelancaran acara pernikahan Asti.
Ibu-ibu pengajian serta tetangga dan keluarga besar Asti telah berkumpul di ruang tengah dan di teras karena terlalu banyak yang ikut dalam pengajian sehingga tidak memungkinkan untuk diadakan didalam rumah saja.
Asti beserta para saudara sepupunya sudah duduk dan bersiap mengikuti acara pengajian.
Setelah dilulur, Asti terlihat begitu cantik dan terlihat berseri. Mungkin karena perasaan bahagia yang membuat Asti begitu terlihat cantik siang ini.
" Calon pengantinnya cantik sekali. " kata bu RT memuji kecantikan Asti.
" Iya benar, wajahnya terlihat begitu segar dan berseri-seri. " kata ibu-ibu yang duduk didepan Asti.
" Pengantinnya seperti seumuran anak anak saya yang baru tamat SMA, terlihat masih seperti remaja. " imbuh ibu-ibu yang lain.
" Terima kasih atas pujiannya, bu! " kata Asti sambil tersenyum.
" Iya, mbak Asti cantik banget, seperti abg. " kata Arum yang duduk disamping kiri Asti.
" Abg apa? abg labil atau abg tua? " tanya Fyth yang duduk disamping kanan Asti.
Asti beserta sepupu dan temannya menutup mulut untuk menahan tawa mendengar apa yang dikatakan oleh Fyth.
" Masa abg labil, mbak? itu mah sudah lewat, kan sudah jadi calon pengantin. " kata Aulina.
" Kalau begitu, abg tua, dong? " sahut Asma.
Mereka kembali terkikik mendengar gurauan Asma.
" Huss, diam! acara sudah mau dimulai." kata ibu yang memperhatikan mereka yang sedang bergurau dengan suara pelan.
Tak lama, acara pengajian pun dimulai dengan salam pembuka oleh pembawa acara. Lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran serta dzikir dan shalawat kepada nabi besar Muhammad SAW.
Acara pengajian pun berjalan dengan baik hingga menjelang ashar.
Setelah shalat ashar, Asti bersiap untuk acara siraman.
Dengan menggunakan kemben dan kalung dari rangkaian bunga melati, Asti duduk di sebuah kursi yang telah disediakan.
Ayah yang pertama melakukan siraman pada Asti. Setelah membaca basmallah dan do'a-do'a keselamatan, ayah menyiram Asti dengan air bunga-bunga yang telah disiapkan.
Setelah ayah, lalu dilanjutkan oleh ibu, lalu eyang putri, eyang kakung serta paman dan bibi Asti.
__ADS_1
Semua memberikan do'a-do'a terbaik mereka buat Asti.
Asti merasa terharu atas setiap do'a dan harapan terbaik yang diucapkan oleh kedua orang tua, eyang, serta anggota keluarga besar lainnya.
Dalam setiap untaian do'a yang mereka ucapkan terbersit harapan bahwa Asti akan hidup berbahagia dengan pasangannya.
" Kenapa memandangi Asti seperti itu? " tanya Aryanto pada Maryam yang tengah memperhatikan Asti melakukan acara siraman.
" Tidak apa-apa, hanya turut bahagia melihat Asti sudah menemukan pasangan hidupnya, tinggal selangkah ijab kabul yang akan dilaksanakan esok hari, maka Asti akan sah menjadi seorang istri. " jawab Maryam mengungkapkan rasa bahagianya melihat sahabatnya yang akan segera sah menjadi seorang istri.
" Kamu juga tidak lama lagi akan sah menjadi istriku, do'akan saja tidak sampai dua bulan ke depan kita pun akan melakukan hal yang sama dengan Asti. " kata Aryanto pada Maryam.
" Memang akan. secepat itu, mas? " tanya Maryam heran.
" Lamaran aja belum, sudah yakin akan segera menyusul Asti. " sambung Maryam lagi.
" Bukankah sudah mas bilang bahwa setelah resepsi pernikahan Asti, mas dan keluarga besar mas akan menemui kedua orang tuamu untuk melamar mu?" jawab Aryanto. mengingatkan Maryam akan rencana keluarganya setelah pesta pernikahan Asti.
" Iya mas, Rya pikir kita hanya akan bertunangan terlebih dahulu dan belum. membicarakan pernikahan. " kata Maryam pula.
" Tidak Rya, kemungkinan kita bertunangan tidak terlalu lama, hingga menunggu beberapa bulan.
" Baiklah mas, Rya dan keluarga Rya akan. menerima dengan rasa bahagia kedatangan mas dan. keluarga besar.
Kemungkinan orang tua Rya akan. menerima jika keluarga mas sudah menentukan tanggal pernikahan kita. " kata Maryam sambil tersenyum.
" Hayo..! kalian lagi ngomongin apa sih? daritadi kelihatannya kalian berbicara serius banget. " kata Asma yang mendekati Maryam dan Aryanto.
" Biasalah, membicarakan tentang masa depan. " jawab Aryanto sambil tersenyum.
" Jangan bilang kalian akan segera menyusul Asti. " selidik Asma.
" Do'akan saja bisa secepatnya dan tidak ada halangan. " imbuh Aryanto.
" Duh Maryam, jadi kamu akan. membiarkan diriku sendiri? " kata Asma berpura-pura sedih.
" Makanya jangan jadi jomblo terus, cari dong pasangan agar tidak sendirian.
Pak Eko tuh gaet, biar ga jomblo lagi. " seloroh Maryam menggoda Asma.
" Wah bahaya kalau aku menggaet pak Eko, bisa perang nanti sama si Desty. " kata Asma pula.
__ADS_1
Akhirnya merekaoun tertawa dan kembali melihat acara siraman Asti yang sudah akan berakhir.
Sementara itu, dikediaman Tomi juga sedang diadakan acara siraman.
Tomi bertelanjang dada dan hanya mengenakan kain batik yang senada dengan yang digunakan oleh keluarganya, kini sedang mendapat siraman air kembang dari papahnya.
Dengan perlahan papah menyiramkan air tersebut dikepala Tomi, lalu menyiram kedua bahunya.
Saat tiba mamah yang akan melakukan siraman, mamah menitikkan air mata.
Mamah teringat bagaimana ia dulu begitu bahagia saat kelahiran Tomi sebagai anak pertamanya.
Mamah selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan Tomi karena keadaan mereka dulu belum seperti saat ini.
Mamah dulu hanya seorang guru disebuah SMA dan akhirnya bisa diangkat menjadi kepala sekolah.
Mamah melakukan hal yang sama seperti papah, menyiram kepala Tomi dengan air bunga lalu menyiram kedua bahu dan punggungnya. Tak lupa do'a-do'a terbaik terucap didalam hati untuk anak pertamanya itu.
Dibagian penonton, ada Roni dan Sufi kekasih Roni yang memperhatikan acara siraman tersebut.
" Bang, apa kita akan melakukan hal seperti ini juga saat kita akan menikah nanti? " tanya Sufi pada Roni.
" Kita tidak akan melakukan siraman, karena dikampung kita tidak ada tradisi siraman. " jawab Roni.
" Kenapa tidak kita lakukan acara siraman sebelum pernikahan kita, bang?" tanya Sufi lagi.
" Ya aneh lah dek jika kita melakukan siraman sementara dikampung kita tidak pernah orang buat. Nanti kita dikira buat tradisi sendiri. " jawab Roni lagi.
" Iya juga, ya bang? " kata Sufi sambil tersenyum.
" Kalau acara pengajian bolehlah kita adakan sebelum pernikahan, karena itu memang sudah tradisi untuk meminta keselamatan dan kemudahan saat akan diadakan acara pernikahan. Juga sebagai bentuk rasa syukur karena Allah telah menjodohkan kita dan akan terikat dengan tali pernikahan. " imbuh Roni lagi.
" Iya bang, Sufi paham. " kata Sufi pula.
Acara siraman dirumah Tomi berlangsung meriah karena dihadiri oleh keluarga besar papah dan mamah Tomi, juga para tetangga yang ingin menyaksikan acara tersebut.
Tomi selalu tersenyum saat mengikuti setiap rangkaian acara, terlihat raut bahagia diwajah tampannya.
Semua yang mengikuti acara siraman merasa bahagia dan bersyukur karena acara berlangsung dengan khidmat dan sesuai dengan apa yang mereka rencanakan.
Baik keluarga Tomi maupun keluarga Asti tinggal menunggu acara inti esok hari yaitu acara ijab kabul. Setelahnya mereka akan melakukan resepsi pernikahan di rumah Asti dan keesokan harinya akan dilakukan resepsi di sebuah hotel yang sudah dipersiapkan oleh keluarga Tomi.
__ADS_1