
“Akan jadi pasien rawat inap?” tanya Dokter lelaki yang suaranya mirip dengan suara Tomi itu.
Dokter Indah hanya tersenyum sambil berjalan menghampiri Asti lagi, untuk berpamitan. Ia pamit kepada Asti dengan isyarat mata, senyuman dan tangannya yang menepuk lembut bahu pasiennya. Lalu berbisik kepadanya.
“Jangan khawatir apa pun, Nona. Anda akan ditangani dengan baik dan sesudah segala sesuatunya jelas lengkap, Anda akan dipindahkan ke ruang inap!”
“Baik Dok” jawab Asti.
“Mohon maaf saya harus pamit. Seperti yang di beritahu oleh salah satu Dokter di sini. Bahwa saya harus kembali keruangan sebelah” katanya lagi.
Dokter Indah kembali lagi keluar dari ruangan tempat Asti terbaring, yang ranjangnya hanya di tutupi sekelilingnya dengan tirai.
Mata Asti terus mengikuti langkah dokter Indah, yang luwes itu dengan perasaan iri. Alangkah enaknya memiliki kaki yang sehat dan utuh, pikirnya.
Ah, memang begitulah manusia, pikirnya lebih lanjut. Mereka baru menyadari anugerah Tuhan apabila mengalami sesuatu yang menyusahkan. Orang tidak menyadari bahwa kedua belah kaki atau anggota badan lainnya itu, sungguh merupakan suatu anugerah luar biasa dari Tuhan.
Padahal dengan tubuh itu mereka bisa melakukan banyak kegiatan. Dan sayangnya, kesadaran itu baru muncul apabila salah satu anggota badannya mengalami musibah. Seperti kaki patah, tangan patah, atau yang lainnya, yang disebabkan oleh kecelakaan seperti yang Asti alami saat ini.
“Dan tolong dilihat kemungkinan untuk di ct scan sekarang” terdengar suara Dokter Indah memberi arahan dan pendapatnya, kepada Dokter lelaki yang sedang menunggunya di dekat meja administrasi ruangan UGD.
“Oke baik, Dokter Indah. Ada baiknya kalau saya memeriksanya terlebih dahulu!”
“Baik Dok. Terserah Dokter saja. Tetapi perlu Dokter ketahui, bahwa tadi Dokter Bagio sudah memeriksanya juga. Jangan sampai membuat kesal pasiennya! Terus-menerus di periksa berulang-ulang kali dengan dokter-dokter yang berbeda pula” sahut dokter Indah sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Asti lagi.
“Dokter Indah, kamu jangan memojokkan saya lho!” suara itu lagi terdengar dengan suaranya yang rendah. Tetapi telinga Asti masih dapat menangkapnya.
“Kamu kan tahu, aku kemari ini tidak untuk mengurusi pasien gawat darurat!”
“Hei, yang penting kan kamu seorang Dokter. Teman mu ini sedang meminta bantuan kepada mu, untuk ikut memperkuat barisan depan ini!” kata Dokter Indah, sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Dari percakapan mereka sepertinya kedua dokter itu adalah sepasang sahabat. Bisa jadi waktu pendidikan dulu mereka satu anggkatan. Karena terdengar sangat akrab dan tidak ada kesenjangan antara keduanya.
“Apa kamu tega? Melihat barisan depan ini kalang kabut karena kita kekurangan Dokter?”
“Itulah kalau dokter-dokter sekarang lebih suka ikut seminar ini dan seminar itu. Loka karya itu, loka karya ini. Apalagi kalau tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan itu di tempat bergengsi dan makanannya wah. Semua berlomba-lomba untuk daftar, untuk ikut!” gerutu suara yang persis milik suara Tomi itu.
“Hush, jangan mengomel” kata dokter Indah, sambil menempelkan jari telunjuknya kebibirnya sendiri. Pertanda ia meminta lelaki itu untuk diam.
“Bagaimana saya tidak mengomel. Saya kemarikan sebenarnya karena ada urusan lain. Sekarang seorang Dokter tamu ini, malah diminta membantu ini dan itu”
“Ini saya bantu, karena di minta sama teman sendiri makanya saya mau. Dari pada saya di sebelah tadi, pasiennya repot banget” kata Dokter laki-laki itu lagi.
“Hahaha… Tumben Dok bilang saya temen” kata dokter Indah sambil tertawa. “Eh tapikan ada untungnya Dok, kamu bisa sambil melihat calon-calon Dokter yang cantik dan menawan disini”
“Beginilah keadaannya kalau sudah kedua Dokter ini bertemu, hahaha…” kata salah satu suster yang ada diruangan itu sambil tertawa.
“Maklum aja Sus! Kita memang begini dari dulu, kalau sudah di kampus tidak pernah cocok! Ada saja masalahnya hahaha! kata Dokter Indah.
“Kemarin saja saya lihat, ada yang sampai melotot matanya melihat kamu” kata Dokter Indah lagi sambil tertawa, mengejek teman sependidikanya itu. Sekarang mereka juga sering bertemu, karena tugas-tugas pekerjaan dan juga sering bertemu jika ada kegiatan-kegiatan para Dokter di area Kota Yogya dan sekitarnya.
“Ah, mereka masih bau kencur! Saya lebih suka yang sudah matang, lebih menantang hahaha…” suara seperti suara Tomi itu menjawab dan diakhiri dengan tawanya.
“Berarti yang seperti saya ya Dok?” kata salah satu suster bagian administrasi diruangan UGD menggoda Dokter lelaki itu. Lalu mereka semua sama-sama tertawa.
“Hahaha ada-ada aja kamu, Sus” kata Dokter lelaki itu.
“Eh, sudah sudah… Kita tertawa-tawa di sini sedangkan pasien kita menunggu dengan rasa sakit” kata Dokter lelaki itu lagi menghentikan semua candaan barusan.
“Iya, huff… Dimana hati nurani kita!” sambung Dokter Indah.
__ADS_1
“Di dalam dada, Nona Indah” kata suara Dokter lelaki itu lagi.
“Ehh… Kan! Dokter ini, yang suka memulai lelucon” kata salah satu suster lagi.
“Hehe… Ya sudah! Ayolah kita urusi dulu pekerjaan kita!” pemilik suara seperti suara Tomi itu menyibak tirai pembatas dimana Asti terbaring. Dan seketika orangnya muncul.
Baik Asti maupun Dokter yang baru muncul itu sama-sama kaget. Terlihat dari raut wajah dan mata mereka yang sama-sama melotot. Kedua pasang mata mereka saling bertatapan dengan pandangan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di hadapannya masing-masing.
“Bu Asti!” lelaki berjas Dokter itu berkata dengan nada yang tinggi. Karena terkejutnya sampai-sampai tangannya yang tadi menyentuh tirai pembatas pun masih pada posisinya. Dokter itu sampai lupa menurunkan tangannya.
Kaget dan khawatir masih menguasainya. “Kok di sini? Dan kenapa? Ibu kenapa? Katanya lagi sambil menurunkan tangannya dan melangkah mendekati Asti.
Asti tidak mampu menjawab. Lidahnya terasa kelu. Setitik kecil pun tidak pernah ia membayangkan akan berjumpa dengan Tomi di kota Yogya ini. Apalagi, di ruangan gawat darurat sebuah rumah sakit swasta, dengan kondisi Asti yang terbaring kesakitan dan melihatnya sebagai seorang dokter pula. Semuanya diluar nalar, seperti mimpi bagi kedua insan ini.
“Bu Asti…” Lelaki berjas Dokter yang tidak lain dan tidak bukan itu memang Tomi. Mahasiswa yang keras kepala, egois dan juga lancang tersebut.
Namun dalam situasi sekarang lelaki itu lebih mampu menguasai keadaan. Ia mendekati lebih dekat lagi, tempat Asti terbaring. “Apa yang terjadi?” kata lelaki itu lagi sambil menunduk ke arah wajah Asti.
Asti masih tidak mampu menjawab. Pikirannya terbang melayang ke masa-masa lalu sejak ia pertama kalinya mengenal Tomi. Pantaslah lelaki itu memiliki keyakinan diri yang kuat, pikirnya dengan rasa kacau.
Pantas pula setiap kali ia memarahinya, lelaki itu menatapinya dengan pandangan mata geli. Lebih-lebih ketika Asti menegurnya sebagai mahasiswa yang hanya tahu kemudahan-kemudahan yang di dapatkan dari orang tuanya. Lelaki itu seperti mendengar sesuatu pertunjukan lawak saja kelihatannya.
Terkadang lelaki itu menatapinya dengan senyum tartahan yang pernah membuat Asti ingin melemparnya dengan sepatu.
Perasaan apa yang saat ini dirasakan oleh Asti, ia juga tidak tahu. Apakah pahit, manis atau asin? Asti bingung.
(Asti kira Tomi cupu,Ternyata suhu)
Bersambung….
__ADS_1