
Tomi terdiam mendengar penjelasan Asti.
Ia meminum es kelapa yang ada dihadapannya, tenggorokannya mendadak terasa kering.
Tomi masih bingung mendiskripsikan kata-kata Asti.
" Apakah sebenarnya Asti takut gagal dalam menjalin sebuah hubungan?
Apakah ia pernah mengalami kegagalan dan merasa trauma untuk menjalin hubungan yang baru? "
Tomi bermonolog dalam hatinya, ia berusaha mencerna apa yang terjadi di balik kata-kata yang Asti sampaikan.
Tomi diam, menunggu apa yang akan Asti sampaikan kembali padanya.
Tomi melihat Asti juga terdiam dan sedang menikmati es kelapa mudanya.
Satu keyakinan dihati Tomi bahwa Asti juga sudah tertarik padanya, tapi sepertinya ada sesuatu yang mengganjal dihati dan fikiran Asti.
Setelah melihat Asti terdiam dan hanya mengaduk-aduk es nya, Tomi berusaha menyampaikan apa yang ada dalam fikiran nya.
" Kalau boleh saya tahu, apa sebelum ini kamu pernah menjalin sebuah hubungan, Asti? "
" Tidak, saya belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun. "
" Apa ada sesuatu yang mengganjal dihati dan fikiran mu saat ini? Atau kamu sedang tertarik pada seseorang? "
Asti diam, tidak menjawab pertanyaan Tomi.
" Apa kamu tidak percaya dengan perasaan yang aku ungkapkan padamu? Apa kamu menganggap aku tidak serius?" Tomi bertanya dengan nada sedikit kesal.
Mengapa begitu sulit bagi Asti untuk menjawab pernyataan cintanya bila kenyataannya Asti juga menyukainya.
Apa ia yang salah menilai sikap Asti terhadapnya?
Tomi mulai frustasi dalam menghadapi sikap Asti, tapi ia bertekad untuk bisa mendapatkan Asti, perempuan yang sudah membuatnya frustasi.
Ia yang telah salah mengira hubungan Asti dan Aryanto waktu itu dan membuatnya menjadi uring-uringan.
Ia tak yakin jika Asti tak pernah menjalin hubungan dengan seseorang.
Asti seorang gadis yang cantik dan menarik, wajahnya sangat babyface.
Ia saja pernah salah mengira saat pertama datang kerumah Asti untuk meminta tanda tangan, ia fikir gadis kecil yang ia temui diteras rumah merupakan adik Asti, ternyata itu adalah Asti, sang dosen yang ingin ditemuinya.
Bila ingat hal itu, Tomi merasa malu sendiri karena tidak mengenali Asti sebagai dosennya.
Asti ingat apa yang dikatakan oleh Tomi.
Memang saat pertama bertemu dengannya, Tomi salah mengenalinya dan Asti sempat marah waktu itu.
Benar kata Asti, Tomi seorang mahasiswa tapi tidak mengenali Asti yang menjadi dosennya.
__ADS_1
Semua karena wajah Asti yang masih seperti gadis belia.
" Asti, tahu ga lagu yang tadi dinyanyikan sama pengamen? " tanya Tomi memecah kesunyian diantara mereka.
" Saya tidak hapal banyak lagu. " jawab Asti singkat.
"Tapi lagu tadi benar-benar pas buat saya, seperti mewakili ungkapan perasaan saya sama kamu! " kata Tomi lagi.
Asti tersenyum mendengar kata-kata Tomi.
Tomi menyanyikan bait lagu yang tadi dinyanyikan oleh pengamen.
Ia menggenggam tangan Asti yang diletakkan diatas meja.
Asti diam dan tidak menolak saat Tomi menggenggam tangannya.
🎙🎶 Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untuk mu..
Terimalah lagu ini dari orang biasa
🎶Tapi cintaku padamu luar biasa. . 🎙
" Dengarlah dan yakinlah Asti, bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu, aku serius ingin menjadikan mun kekasih ku dan nanti akan aku halalkan untuk bisa menjadi istriku. "
Deg..
Deg..
Deg..
Dari kata-kata Tomi yang mengatakan ingin menghalalkannya, seolah-olah Tomi tengah melamarnya.
Wajah Asti bersemu malu, mengingat fikiran nya yang terlalu jauh saat membayangkan Tomi melamarnya, sedangkan sampai saat ini aja dia masih menggantungkan perasaan Tomi.
( Menggantung kaya baju yang lagi dijemur). Jangan terlalu lama menggantung perasaan Tomi, Asti!
Baju aja digantung di jemuran suka ada yang ngambil, apalagi mas Tomi yang ganteng dan mapan.
Asti ingat akan semua perlakuan Tomi padanya, perlakuan mesra Tomi.
Asti mengingat saat pertama Tomi yang tiba-tiba memeluk dan menciumnya di dapur rumah Asti.
Ingatan Asti kembali pada masa beberapa waktu yang silam, saat tak sengaja menampar Tomi karena kekesalan dalam hatinya.
Akibat dari tamparan itu, ia merasa bersalah pada Tomi, hingga tanpa ia sadari tubuhnya mengikuti gerakan tangan Tomi yang menariknya dalam pelukan.
Rasa nyaman saat berada dalam pelukan Tomi tak lantas membuatnya buru-buru melepaskan pelukan itu.
Tubuhnya menerima begitu saja perlakuan itu hingga ia pun dengan berani menyandarkan kepalanya di bahu Tomi.
__ADS_1
Kata-kata lembut yang keluar dari mulut Tomi saat itu begitu menentramkan hatinya.
" Saya tahu, kalau menampar pipi saya bisa mengendurkan kemarahan ibu, silahkan menampar pipi saya lagi, saya rela. "
Kata-kata itu seolah suatu ungkapan bahwa Tomi akan melakukan apapun agar bisa membuat Asti merasa lega, merasa nyaman dengan perlakuannya.
Hilang sudah sikap jutek dan ketusnya selama ini.
Ia berubah jadi gadis manis yang menginginkan kasih sayang, menginginkan rasa nyaman.
Setiap ucapan lembut Tomi begitu terdengar bak nyanyian indah yang terdengar ditelinga nya yang menghipnotis jiwanya untuk larut dalam rasa nyaman dan bahagia dalam dekapan Tomi.
" Untuk mata harus mengeluarkan air mata? Biarkanlah air mengalir ke laut.
Biarkanlah kehidupan berlangsung dalam penyelenggaraan Yang maha kuasa. "
Sungguh..! Kata-kata Tomi itu terngiang ditelinga nya, kata-kata yang memberi semangat dan dukungan.
Ungkapan cinta yang Tomi ucapkan belum mampu ia jawab secara nyata hingga saat ini, tapi gerak tubuh dan hatinya secara tidak langsung telah menyatakan bahwa ia juga mencintai lelaki itu.
Tapi rupanya Tomi belum menyadari itu, ia masih ragu dengan sikap yang ia perlihatkan pada Tomi.
Semua terjadi karena rasa kesal karena merasa telah dibohongi oleh Tomi mengenai status mahasiswanya yang ternyata telah menjadi seorang dokter.
Juga karena kecemburuan pada Indah yang terlihat jelas sangat menyukai Tomi.
Asti juga ingat akan kiriman bunga mawar putih yang sering Tomi kirim untuknya.
Itu menunjukkan bahwa Tomi memperhatikan dan mencari tahu apa yang menjadi kesukaannya.
Tanpa bertanya padanya, Tomi bisa tahu jika Asti menyukai bunga mawar putih.
Mengingat semua yang telah Tomi lakukan pada nya, juga rasa nyaman yang ia rasakan saat bersama Tomi, akankah ia memberi jawaban ini sekarang..?
Atau ia masih harus menunggu segala usaha yang Tomi lakukan untuk mendapatkannya.
Akankah Tomi merasa jenuh dan merasa di permainkan jika ia terus mengulur menjawab ungkapan cinta Tomi.
Asti tahu, Tomi perlu kepastian mengenai perasaannya, walaupun sikapnya pada Tomi menunjukkan bahwa ia juga memiliki perasaan yang sama.
" Asti.. Apa yang sedang kau fikirkan?
Mengapa hanya terdiam? Apakah permintaan ku begitu membebani hatimu?
Aku tak akan memaksa mu jika ini membuat mu merasa tak nyaman dan terbebani! "
Akhirnya Tomi membuka suara ketika melihat Asti terdiam dan asik dengan lamunannya.
Ia tak ingin memaksakan keinginan pada Asti walaupun ia begitu menginginkan jawaban pasti dari Asti agar ia bisa melakukan langkah selanjutnya.
Ia serius ingin menjalin hubungan dengan Asti dan ingin agar Asti bisa menjadi pendamping hidupnya.
__ADS_1